
Andre mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin mendengar tangisan di kembar yang menggema di telinganya. Dia menghapus airmatanya sekilas dengan lengan kemejanya. Tidak perduli orang lain mengatakam bahwa dia cengeng.
Bugh!
"Awwh!" Keluh seorang gafis yang tanpa sengaja tertabrak oleh Andre.
"Sori, aku nggak sengaja (dalam bahasa asing)" Andre cepat-cepat minta maaf pada wanita itu.
"Nggak apa-apa, aku juga orang Indonesia. Abang dari daerah mana?" Cewek berambut pirang itu ternyata bukan bule.
"Wah, tertipu. Wajahmu sama sekali bukan orang Indonesia. Aku dari kota A," Andre mencoba untuk ramah pada wanita itu.
"Aku blasteran Bang. Mau ke mana? Kenalin, nama aku Febbi, nama Abang siapa?" Mereka berjalan beriringab menuju ke dalam bandara.
"Pantesan, mukanya bule banget. Aku Andre. Salam kenal," Setelah itu, Andre.mengacuhkan wanita yang ada di sampingnya.Ia tidak berniat untyk melanjutkan percakapan.
"Sudah menikah?" Pertanyaan Febbi sontak membuat Andre menengok ke perempuan yang masih berjalan sejajar di sampingnya itu.
"Sudah pernah," Jawab Andre singkat.
"Maksudnya?" Febbi butuh penjelasan lebih.
"Istriku sudah meninggal.Sekarang aku sendiri." Ekspresi Andre biasa saja, bahkan terkesan datar. Febbi menatap wajah tampan lelaki itu. Benar-benar duda yang memepesona, Ungkap batinnya.
__ADS_1
"Wah, abang duda. Istilahnya duren, duda keren. Turut berduka atas kematian istri Abang,"Febbi sedikit merasa tidak enak karena telah bertanya status Andre. Tapi baginya sebuah status dalam perkenalan itu sangat penting.
"Kamu bisa saja, aku sama sekali tidak keren. Terima kasih atas simpati kamu, istriku sudah lama meninggal, hampir empat tahun yang lalu," Mau tidak mau Andre harus menceritakan sejak kapan istrinya meninggal.
"Lama sekali Abang menduda, tidak kepikiran menikah lagi?"Entah mengapa Febbi ingin tahu tentang itu.Dia menyesal dan takut, bisa saja Andre merasa tidak nyaman, karena mereka baru saja bertemu.
"Menikah?" Andre tertawa kecil.
"Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta.Untuk mencintai istriku saja, aku butuh beberapa waktu,"Sambungnya.
Ungkapan Andre membuat jiwa Febbi bergejolak. Ia merasa tertantang untuk mendapatkan hati lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Wah, abang tipe setia rupanya. Abang mau pergi ke mana?" lagi-lagi Febbi ingin tahu tentang Andre.
"Aku mau ke Amerika? Kamu sendiri?" Dari nada bicaranya, nampak sekali Andre hanya basa-basi.
" Aku sudah datang beberapa kali, aku mau datang ke kota B dan sementara waktu tinggal di mansion kakek." Di dalam hatinya, Andre sedikit kesal karena Febbi sangat cerewet.
"Bisa kebetulan begini. Aku juga mau ke kota B, Bang. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi di sana ya bang. Aku seneng banget kenal sama Abang," Febbi heboh, sementara Andre hanya cuek dan sok.dingin.
"Semoga saja. Kita pasti akan bertemu lagi jika di takdirkan," Versi asli di pikiran Andre mengatakan, ia tidak ingin bertemu Febbi lagi.
"Wah, Abang Duren baik hati, semakin kagum sama abang,"
__ADS_1
Mereka berdua berbincang sampai masuk ke dalam pesawat. Seperti tidak di dukung alam, tempat duduk Febbi ada di samping Andre.
Info, Febbi adalah anak dari Rekan bisnis papa Andre. Jelas saja Andre belum tahu itu. Dia berusia 25 tahun. Seorang Dokter muda, sama seperti Affandi.Dia kembali ke Amerika untuk melanjutkan Studynya.Status lajang, belum pernah menikah, alias perawan ting-ting.
"Kamu sudah menikah, Feb?" Andre iseng saja, menanyakan status wanita yang ada di sampingnya.
"Febbi masih perawan, Bang. Belum pernah menikah atau melakukan hubungan yang tidak sah," Febbi tertawa karena merasa lucu dengan jawabannya sendiri.
"Rupanya kamu masih gadis," Sahut Andre singkat tanpa ada tujuan apapun.
"Barangkali abang mau cari istri baru, aku mau bang," Goda Febbi. Ia hanya berani omongan saja, sebenarnya dia tidak semudah itu.
"Kalau kamu bisa merebut hatiku, aku akan menjadikanmu istriku," Ucap Andre asal.
"Abang serius? Kalau aku bisa rebut hati Abang gimana? Janji ya, Abang nikahin aku," Febbi menanggapi perkataan Andre dengan candaannya. Tentu sajaia tidak serius. Baru bertemu, mana mungkin ia bisa jatuh cinta pada duda itu.
"Kalau bisa, aku akan menikahimu tentu saja. Karena saat itu aku pasti sudah jatuh cinta. Tapi aku tidak yakin, kamu bisa melakukannya."Andre terkekeh. Ia yakin, setelah ini, ia tidak akan bertemu lagi dengan cewek konyol yang ada di sampingnya itu.
"Pasti bisa, kalau ada takdir yang mendukung. Abang sudah punya anak?" Pertanyaan Febbi membuat Andre teringat pada Alana dan Alandra. Anak asuhnya selama tiga tahun terakhir.
"Aku punya dua anak, kembar. Buang jauh-jauh keinginanmu mengambil hatiku, Feb. Aku ini duda beranak dua, kamu masih lajang kan? Banyak laki-laki di luar sana yg juga lajang sepertimu,"Andre sengaja mengklaim dirinya sudah beranak dua, agar Febbi tidak terus-terusan mencecarnya.
"Aku tidak perduli. Abang mau beranak empat, aku juga tidak akan mundur, aku akan memperjuangkanmu, Bang." Febbi tertawa geli, mungkin candaannya sedikit berlebihan.
__ADS_1
"Dasar keras kepala, terserah padamu saja lah, aku menyerah,"
Andre memilih diam, sementara Febbi diam-diam melirik tajam ke arah lelaki itu. Pesona duda Andre, membuat jiwanya bergejolak.