
"Hai, Nona Cantik. Maukah kau berkencan denganku (dalam bahasa asing)?" Seorang lelaki dengan tampilan semrawut mendekati Febbi yang tengah menunggu bus yang mengarah kr kampusnya.
"Maaf, saya sudah memiliki pacar (dalam bahasa asing)." Febbi menyahut dengan nada datar. Ia sama sekali tidak berminat melanjutkan obrolan dengan pria aneh itu.
"Lupakan saja pacarmu itu, aku lebih romantis darinya, kamu akan bahagia jika menjadi kekasihku (dalam bahasa asing)." Lelaki itu terus saja menggoda Febbi. Wanita itu jadi sedikit khawatir, bagaimana ia bisa lolos dari lelaki berandalan itu. Ia berharap ada keajaiban yang datang padanya.
"Tapi anda tidak mengenal pacar saya, bagaimana anda bisa beranggapan bahwa anda lebih romantis darinya (dalam bahasa asing)!" Febbi sedikit sewot menanggapi lelaki itu. Ia sangat kesal. Rasanga ingin menampol mulut lelaki itu agar tidak bisa bicara lagi. Tapi ia teringat, dimana saat ini ia berada. ia tidak bisa berbuat seenaknya.
"Aku tidak perduli dengan pacarmu itu, ayo ikut aku sekarang (dalam bahasa asing)!" Pria itu menarik kasar tangan Febbi, wanita itu ketakutan setengah mati. Ia berdo'a dalam hati, berharap ada seseorang yang datang dan menolongnya saat ini. Siapapun.
"Tidak, aku tidak mau ikut denganmu (dalam bahasa asing)!" Wanita itu meronta dan berusaha melepaskan tangannya dari tarikan pria garang yang memaksanya ikut.
Bugh!
Seseorang menghantam wajah pria yang memaksa Febbi untuk mengikutinya. Seketika pegangannya terhadap wanita itu terlepas dan jatuh tersungkur.
"Hei! Siapa kau! Kenapa ikut campur urusanku dengan pacarku (dalam bahasa asing)!" Lelaki yang terkena pukulan itu tampak sangat murka. Ia marah, karena ada orang asing yang datang dan menggagalkan rencananya.
"Siapa yang kau bilang pacar? Dia calon istriku (dalam bahasa asing)!" Pernyataan lelaki ini membuat si penjahat itu sedikit ketakutan, ia lalu bangkit dan kabur.
__ADS_1
"Abang, terima kasih sudah membantuku. Kalau abang tidak datang, entah bagaimana nasibku," Febbi terisak, ia masih sangat ketakutan karena kejadian yang baru saja terjadi.
"Mungkin memang sudah di takdirkan, aku yang menjadi penolongmu hari ini, Feb. Tenanglah, jangan takut lagi, ada aku di sini," Lelaki yang ternyata adalah Andre itu menarik Febbi ke dalam dekapannya. Ia sangat paham wanita itu butuh seseorang yang bisa menenangkannya.
"Kakak sudah tidak marah lagi denganku?" Febbi teringat pertengkaran kecil yang terjadi diantara mereka beberapa hari yang lalu. Ia berpikir lelaki itu masih marah padanya dan tidak ingin bicara.
"Aku tidak pernah marah. Aku pikir, justru kamu yang menghindar dariku, karena saat itu aku gedor pintumu, kamu tidak mau menjawabku," Andre sangat ingat bagaimana ia mencoba menggedor pintu kos Febbi, tapi dokter muda itu tidak mau memperdulikannya.
"Saat itu, aku sedang sakit perut dan buru-buru ke kamar mandi, mungkin aku tidak mendengar karena bunyi air keran di kamar mandi cukup keras,ngomong-ngomong, bisakah Abang lepaskan pelukan Abang?" Febbi mendongak seraya menatap Andre dengan tatapan setulus kucing.
"Maaf, maaf. Aku hanya bermaksud menenangkanmu, maaf kalau ini membuatmu tidak nyaman," Andre buru-buru melepaskan dekapannya terhadap Febbi.
"Aku mau pergi ke kantor kakekku. Waktunya agak senggang, bagaimana kalau aku mengantarmu ke kampus dulu? Aku tidak tenang membiarkan kamu pergi seorang diri." Entah mengapa Andre sangat simpati dengan wanita yang ada di hadapannya itu. Diam-diam, dokter muda itu menyusup ke dalam ingatannya, bahkan wajahnya pernah menghantui saat ia akan tidur.
"Abang mengkhawatirkanku?" Mata Febbi memancarkan kegembiraan, saat ia tahu lelaki di hadapannya itu simpati terhadapnya.
"Bisa di bilang seperti itu, jadi, kamu bersedia atau tidak?" Andre mengulang penawarannya, sep3rti sedikit memaksa, ia sungguh-sungguh berniat untuk menghantarkan Febbi sampai ke kampusnya.
"Tentu saja aku mau Bang. Kapan lagi, aku bisa ke kampus di antar oleh Abang duren. Seandainya yang abang ucapin ke preman itu beneran, aku bahagia banget abang..." Febbi yang memang sudah naksir pada Andre, berharap lelaki itu meliriknya sebagai seorang yang pantas mendampinginya.
__ADS_1
"Kita jalani saja seperti ini. Seiring waktu, kita akan tahu perjalanan kita berhenti kemana. Aku tidak ingin terikat sebuah hubungan Febbi. Aku masih ingin sendiri. Aku harap kamu mengerti,"Andre sendiri tidak paham dengan perasaannya.Telah banyak waktu ia habiskan sendirian, tapi itu tidak membuatnya ingin segera mengakhiri status jomblonya.
"Aku paham Bang. Aku sangat menghargai keputusan abang. Perasaan memang tidak dapat di paksakan. Abang pasti punya alasan sendiri untuk memutuskan kapan Abang akan membuka hati. Nah, itu busnya sudah datang, ayo kita naik Bang,"Febbi segera naik ke dalam bus diikuti oleh Andre. Ia benar-benar tidak bisa begitu saja membiarkan Febbi pergi ke kampus seorang diri.
Seperti yang ia katakan, mungkin ia bisa membuka hati untuk Febbi, tapi tidak dengan menjalin hubungan di waktu dekat ini. Andre masih teringat lamarannya pada Sila yang tertolak otomatis serelah kepulangan Andra. Bodohnya, ia masih berharap akan memiliki wanita itu suatu saat nanti. Meskipun Sila nantinya akan menua, ia tidak perduli, cintanya terhadap wanita itu sudah mendarah daging, sangat sulit untuk melepaskannya. Itulah yang menjadi alasan, mengapa Andre betah menduda selama ini.
Andre merasakan ponselnya bergetar, pesan masuk dari seseorang kepercayaannya di Indonesia. Meskipun ia tidak ada di samping Sila, tapi Andre sudah mengutus seseorang untuk memantau keamanan Sila, Andra dan kedua anak mereka.
Bos, ada kabar duka. Sila tertembak oleh orang yang tidak di kenal. Wanita itu tidak meninggal, tetapi keadaannya sangat kritis.Kami sedang mencari tahu, siapa yang melakukan semuanya.
"Brengsek! Siapa yang berani menyakiti Sila!" Tanpa sadar, Andre mengumpat orang yang telah mencelakai Sila, membuat Febbi sedikit heran.
"Abang kenapa? Siapa Sila?" Tanya wanita itu kemudian. Ia sangat ingin tahu, siapa yang di umpat lelaki itu dan siapa wanita bernama Sila.
"Ada seseorang yang mencelakai Sila. Dia adik iparku (Sekaligus orang yang aku cintai, imbuhnya dalam hati)." Wajahnya masih menampakkan kekesalan. Tangannnya mengepal, ingin rasanya ia turun tangan dan mencari sendiri penjahat itu.
"Aku turut bersedih, Bang. Semoga adik abang cepat sembuh. Ada-ada saja ulah orang-orang jahat di bumi ini." Keluh Febbi, mengingat ia juga baru saja di ganggu oleh orang jahat.
"Terima kasih, Feb. Aku juga tidak habis pikir, kenapa banyak sekali manusia jahat di bumi ini. Sungguh memuakkan!" Andre tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya, Febbi hanya bisa maklum. Ia juga tidak berani berkata apa-apa lagi, ia takut akan menyinggung perasaan Andre.
__ADS_1