
Mereka tiba di gurun, tempat mereka akan melakukan piknik. Allana dan alandra tampak sangat senang dan menikmati saat mereka sampai di sana. Mereka berlarian saat di turunkan dari mobil. Tubuh mereka yang mungil dan menggemaskan membuat Sila dan Andra tersenyum bahagia dengan tingkah anak-anak mereka.
"Tidak terasa, anak-anak kita sudah sebesar itu ya, padahal sepertinya baru kemarin mereka lahir. Aku jadi rindu saat-saat mereka rewel, saat mereka minta asi, kadang keduanya nangis sama-sama," Sila mengenang masa-masa bayi Allana dan juga Allandra.
"Sayangnya di masa itu aku nggak ada di samping kamu. Rasanya aku sangat merasa bersalah karena itu. Tapi menyesalinya pun, tidak akan membuat semuanya kembali lagi. Aku hanya bisa berusaha untuk memperbaikinya," Andra menyilangkan tangannya, ia memandang lekat anak-anaknya yang tengah bermain dengan pengasuh mereka.
"Semuanya memang harus seperti ini, Mas. Kita harus melewati berbagai kesulitan hingga bisa mencapai kebahagiaan. Biarkan semua ini menjadi kenangan kuta berdua, ya. Suatu hari, kita akan rindu kenangan pahit ini," Sila mengatakan kebenaran. Ada kalanya kita menderita terlebih dahulu agar dapat meraih kebahagiaan yang sesuai.
"Aku bahkan rindu dengan kenangan masalaluku. Apa yang ingin aku ketahui, aku harus bertanya dulu padamu.Aku merasa seperti orang buta kalau begini." Keluh Andra yang tidak bisa menemukan lagi memorinya yang hilang.
"Tidak apa-apa kamu buta, Mas. Ada aku yang bisa menjadi tongkat untukmu melangkah. Jangan merasa berkecil hati," Sila berusaha menguatkan Andra. Ia tidak ingin suaminya itu terus terpuruk dan meratapi keadaannya.
"Terima-kasih,Sila.Kamu sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak,dan juga istri terbaik untukku. Aku merasa disisa umurku, aku akan selalu merasakan cinta yang sempurna." Andre mencium kening Sila cukup lama. Ia ingin istrinya itu dapat merasakan rasa cintanya yang begitu besar.
"Sama-sama, Mas. Semua ini sudah menjadi kewajibanku. Aku akan selalu berusaha untuk lebih baik lagi dari ini. Ayo kita ke sana, mereka sudah menata tempat duduknya." Sila menggandeng Andra untuk menghampiri hamparan tikar yang telah di bentangkan oleh Minah dan Pak Budi. Mereka.mulai menata makanan yang mereka bawa.
"Masih beres-beres, gimana kalau kita jalan-jalan dulu ke sana?" Andra menujuk tepat di tempat mereka pernah duduk-duduk berdua. Saat pertama kali mereka datang ke tempat itu.
"Ya sudah,ayo. Kamu tahu nggak, Mas, di sana itu, tempat duduk kita saat pertama kali ke sini," Sila memberitahu kenangan yang tergores di tempat yang akan mereka datangi itu.
"Jadi,kita waktu pertama kali kesini, kita berdua duduk di sini. Memandang ke danau itu, saat itu sedang musih hujan. Ada beberapa bangau yang mencari makan di sana." Sila menceritakan sekilas kenangan mereka sambil melempar sebuah kerikil kecil ke dalam danau yang mengakibatkan seekor capung yang tengah hinggap di atas bunga teratai terbang tunggang langgang karena takut.
"Saat itu, dalam rangka apa aku mengajakmu ke sini?" Andra ingin tahu, sedang dalam rangka apa mereka pergi ke tempat itu.
__ADS_1
"Seingatku, tidak ada. Yang aku ingat waktu itu, kamu mengajakku datang ke sini untuk membuat kenangan saja mungkin. Soalnya kamu mengukir nama kita di pohon itu, Mas. Tidak lama setelah itu, kecelakaan itu terjadi dan kamu hilang,"
Sedikit menyedihkan untuk Sila mengenang saat-saat terakhir sebelum Andra menghilang saat itu. Ia beberapa kali datang ke tempat itu hanya untyk mengenang Andra. Bahkan ia sempat bicara seorang diri di dekat pohon tempat nama terukir.
"Maaf, kalau mengenang itu membuat kamu menjadi sedih. Sekarang kita kembali saja ke sana. Sepertinya sudah selesai persiapan mereka." Andra memperhatikan dari jauh, Minah dan Pak Budi tengah duduk santai. Anak-anak masih saja asyik bermain.
"Baiklah, ayo, Mas. Sebenarnya bukan menyedihkan, tapi aku selalu gimana gitu, saat mengingat momen terakhir sebelum akhirnya kamu menghilang. Aku jadi sedikit trauma setiap mengingatnya," Sila mengungkapkan apa yang ada di perasaannya saat ini.
"Baiklah, Mas paham apa yang kamu rasakan sekarang. Sudah lupakan saja kalau begitu. Anggaplah mulai sekarang kita tidak lagi terpisah selamanya. Kita akan terus bersama-sama sampai tua," Andra merangkul Sila seraya berjalan menuju tempat di mana mereka mengadakan piknik.
"Hari ini aku senang, bisa pergi bersama seperti ini dengan Mas dan juga anak-anak. Rasanya sangat menyenangkan. Melihat mereka tersenyum ceria seperti itu, membuat aku ingin sering-sering meluangkan waktu untuk mereka," Sila menatap kedua anaknya yang tampak sangat menikmati acara piknik mereka, tidak rewel sama sekali.
"Benar, Sayang. Kita selama ini terlalu sibuk bekerja, sampai tidak ada waktu buat mereka. Sepertinya setiap akhir pekan kita harus selalu mengajak mereka kemana, taman bermain, kebun binatang, atau kolam renang balita," Andra Sadar, selama ini mereka berdua sama-sama sibuk dan kurang memperhatikan mereka.
"Bunda, ada sapi!" Teriak Alandra dengan suara cemprengnya.
"Iya Bunda ada sapi, itu sapinya!" Allana ikutan berteriak heboh sambil menunjuk beberapa ekor sapi yang tengah makan di gurun agak jauh dari tempat mereka berkumpul.
Sila segera mendatangi mereka dan memeluk kedua bocah mungil itu.
"Mana sayang sapinya?" Sila pura-pura belum melihat sapi-sapi yang mereka hebohkan.
"Itu bunda, di sana..." Mereka berdua kompak menunjuk ke arah sapi-sapi yang mereka maksud.
__ADS_1
"Jadi kalian hanya mau sama Bunda? Nggak mau sama ayah?"Andra ikut jongkok di samping mereka. Peka dengan kehadiran ayahnya kedua bocah itu beralih memeluk ayahnya.
"Sayang ayah," Bisik Allana, membuat Andra sedikit terharu dan tidak menyangka anaknya akan mengucapkan itu kepadanya.
"Ayah juga sayang Allana, Ayah sayang kalian berdua," Andra memeluk erat kedua anaknya.
"Abang Alandra, harus jaga adiknya, ya. Abang kan kakak, jadi harus kuat, oke?" Andra mencoba berkomunikasi dengan Alandra, Sila ikut memperhatikan apa.yang mereka bicarakan.
"Baik, Ayah. Alandla akan jaga dedek allana," Alandra yang masih cadel tidak bisa mengucap huruf R dengan benar.
"Bagus, itu baru jagoan ayah. Tos!" Mereka berdua melakukan tindakan yang merupakan bentuk sepakat itu.
"Alana, sering bantu Bunda masak, ya. Buat dua jagoan kita," Sila tidak mau kalah dengen Andra, ia mengajak putrinya berbincang.
"Siap, Bunda. Kita masak sama-sama," Sahut Alana dengan gembira.
"Ih, Bunda gemes, boleh cium nggak?"
"Kejal dulu Alana Bunda..."
"Siapa takut, Sayang, Bunda akan mengejarmu, Nak,"
Alana dan Sila kejar-kejaran mengelilingi Andra dan Alandra, mereka berempat tertawa bersama.
__ADS_1