
Seminggu kemudian, Sila yang telah beberapa hari pulang dari rumah sakit telah kembali pulih. Andra membawanya ke pantai, hanya berdua saja. Kali ini mereka menyewa sebuah kapal untuk melakukan perjalanan ke sebuah pulau kecil yang terkenal di sana.
Sila berdiri di dekat pagar kapal. Memandang keindahan lautan luas dengan warna kebiruan yang seperti tidak bertepi. Ia menghirup dan menghembuskan nafasnya berulang kali.
"Sayang..." Andra memeluk perlahan Sila dari belakang. Ia melingkarkan tangannya perlahan ke perut wanita itu.
"Mas... Mengagetkan saja. Terima kasih untuk hari ini, Mas. Aku tidak menyangka, dapat kembali melewati hari yang manis ini bersamamu." ungkap Sila perlahan. Ia menatap wajah Andra yang membuat wajah mereka jadi begitu dekat.
"Aku juga. Kupikir, nyawaku akan selesai dan tidak pernah bisa bertemu denganmu lagi. Aku sangat bahagia, dapat berada di sisimu lagi sekarang." ungkap Andra perlahan. Mereka sama-sama memandang lautan luas dengan melawan terpaan angin yang menghampiri mereka.
"Mas, maafkan aku dengan apa yang terjadi. Sekarang di rahimku tumbuh janin orang lain. Aku tahu, Mas pasti sangat kecewa padaku." Sila mengeluarkan isi hatinya. Saat ini, ia masih merasa bersalah pada Andra.
"Semuanya terjadi karena kesalahanku, Sila. Aku kecewa tetapi kecewa pada diriku sendiri. Kita harus menjaga bayi yang ada di dalam kandunganmu dengan baik. Aku juga tidak keberatan untuk merawatnya saat ia telah lahir nanti." perkataan Andra menenangkan Sila. Setidaknya, suaminya itu mau menerima keadaannya sekarang dengan baik.
"Terima kasih, Mas. Kamu adalah lelaki terbaik yang hadir di dalam kehidupanku. Terima kasih atas segala cinta dan kasih sayang yang sudah Mas berikan padaku selama ini." Sila berbalik dan memegang kedua pipi Andra lembut. Air matanya menetes perlahan membasahi pipi.
"Aku mau ini yang terakhir kalinya kita terpisah, Mas. Jangan tinggalkan aku lagi. Kita berdua harus merawat Allana dan juga Alandra sampai mereka dewasa. Aku sayang sekali sama kamu, Mas." ungkap Sila tulus dan memeluk suaminya erat.
Andra membalas pelukan Sila. Ia juga tidak ingin perpisahan ini terjadi lagi di antara mereka berdua. Cukup sudah drama uang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Andra ingin hidup dengan tenang dengan keluarga kecilnya.
"Maafkan, Mas yang belum bisa membahagiakan kamu dan membuat hatimu terluka. Izinkan mas untuk membayar semuanya." Andra mengelus rambut Sila yang sedikit berantakan dengan lembut.
"Tidak, Mas. Aku yang sudah membuat kekacauan di dalam rumah tangga kita. Aku yang paling bersalah di sini. Maafkan aku, Mas." Sila masih merasa sangat bersalah dengan semua hal yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Dengerin, Mas. Semuanya berawal dari kesalahan yang mas berbuat sendiri. Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Semua ini salah mas, kamu tidak salah apapun. Disini, kamu adalah korban, Sayang." Andra memegang kedua pundak Sila lembut dan menatap dalam ke dalam kedua bola.mata wanita itu.
"Apa yang Kakak lakukan, semua semata-mata karena ingin melindungimu sesuai dengan apa yang aku perintahkan. Aku juga sudah tidak menyalahkan dia. Aku seharusnya berterima kasih atas semua kebaikan yang telah dia berikan pada keluarga kecil kita." kata Andra perlahan. Segala emosi dan kekesalannya terhadap kakaknya telah memudar. Ia lebih kr intropeksi diri saat ini.
"Tapi, Mas... aku sekarang harus...."
"Tidak apa-apa. Bayi kamu, bayi mas juga. Mas tidak perduli siapa ayahnya. Sudah, jangan menyesali semuanya lagi. Kita lanjutkan perjalanan hidup kita sebaik mungkin. Kita syukuri dan jaga apa yang sudah kita miliki sekarang." Andra kembali memeluk Sila.
"Mas, kamu terlalu baik. Bagaimana aku bisa melupakan dengan mudah, suami sebaik kamu. Kamu adalah My Perfect Husband. Tidak ada satupun yang sanggup menjadi seperti kamu. I love you so much, baby." Sila merengkuh wajah pria yang telah beberapa tahun menjadi suaminya itu dan mendaratkan ciuman romantisnya di bibir pria itu.
"Kamu juga wanita terbaik dalam hidupku, Sila. Aku rela menukar apapun yang ku miliki untuk kebahagiaanmu. Tidak ada yang boleh membuatmu menangis.Kamu adalah prioritas bagiku." Andra melepaskan dekapannya pada Sila dan berjalan ke sisi lain kapal. Ia menatap jauh seakan mencari tepi dari lautan yang tengah mereka arungi.
Sila menyusulnya dan balas memeluk Andra dari belakang. Mereka berdua akan melakukan makan malam romantis di pulau kecil yang akan mereka kunjungi. Meskipun hanya sebuah pulau kecil, tetapi di sana sangat ramai dan terkenal dengan tempat romantisnya.
Selain berbaikan dengan kakaknya, Andra juga memaafkan papa dan mamanya. Semuanya bukan salah mereka. Dia yang telah melakukan kesalahan dan memngacaukan rumah tangganya sendiri.
"Anak-anak sedang apa ya, Mas? Sepulang dari sini, sepertinya kita harus membawa mereka jalan-jalan ke beberapa tempat. Aku juga sebenarnya kangen jalan berempat bersama mereka karena kita jarang melakukannya." ungkap Sila yang merindukam kedua buah hatinya. Andra memegang kedua tangan Sila yang melingkar di perutnya.
"Mas juga kangen sama mereka. Setelah ini kita juga akan jalan bersama mereka. Mas akan antar kemanapun kalian ingin pergi." ujar Andra pasti. Setelah sekian lama berpisah dengan istri dan anaknya, pria itu tentu sangat ingin memanjakan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju pulau itu, mereka membicarakan banyak hal manis yang pernah mereka lewati. Keduanya saling tersenyum dan tertawa. Sila merasa tenang dapat berada di dalam pelukan Andra lagi, begitulah sebaliknya.
"Kebahagiaan yang mas rasakan hari ini, rasanya seperti mimpi yang sangat manis, Sayang. Kamu adalah sumber kebahagiaanku sayang. Saat bersamamu, meskipun dalam masa sulit, semuanya terasa mudah."Andra merasa sangat beruntung karena telah memiliki istri sebaik Sila yang selalu mencintainya dalam keadaan apapun.
__ADS_1
"Sama, Mas. Aku pikir semua ini tidak akan ada lagi. Aku tidak menyangka masih bisa merasakan hari bahagia seperti ini. Jika waktu dapat di putar kembali, aku hanya mau Mas dalam hidupku." Sila juga merasakan hal yang sama. Ia merasa sangat beruntung karena hanya Andra yang mampu mengertinya dengan kasih sayang yang seperti tanpa batas.
"Sayang. Kakak kan sudah menikah dengan Febbi, menurutmu, Febbi itu seperti apa? Aku lihat mereka serasi sekali. Hari ini mereka berangkat bulan madu juga ke Bangkok." Andra ingin Sila memberi pendapat tentang Febbi yang telah menjadi istri Andre.
"Dia tulus, Mas. Buktinya dia mau menikah ala kadarnya dengan kakak. Aku harap mereka bisa bahagia juga seperti kita. Aku tahu, kakak juga sangat mencintai istrinya." Sila tersenyum manis, masih memeluk Andra.
"Amin."
Note:
satu episode lagi PH 2 tamat. Untuk sekuel kemungkinan akan di rilis awal juni. Terima kasih untuk kalian yang sudah setia support PH, dari awal sampai sekarang. Untuk info selanjutnya, nanti akan di infokan di sini.
Jangan lupa mampir ke novelku yang on going:
Handsome Ghost My Love
Rahasia Mr. H
Suami Sombong Jatuh Cinta (Segera on Going)
My Playboy Boyfriend (Chat Story)
Terima kasih.
__ADS_1