
"Permisi..." Suara seorang lelaki terdengar dari depan pintu rumah Febbi.
"Siapa ya.." Febbi mematung saat tahu siapa yang datang. Lelaki itu adalah Robbi, yang dia temui saat di Kafe saat itu.
"Abang... tiba-tiba kesini nggak bilang-bilang. Febbi kan belum siap-siap," Febbi yang berpakaian apa adanya dan tanpa make-up itu merasa sedikit tidak percaya diri.
"Kamu apa adanya juga cantik," sahut Robby memuji, membuat pipi Febbi sedikit memerah.
"Abang jangan suka membual, Febbi mudah baper, Bang. Ayo silahkan masuk, Bang."Febbi berjalan terlebih dahulu, di susul oleh Robby.
"Silahkan duduk, Bang. Sebentar, Febbi ambil minum dulu.." Febbi meninggalkan Robby yang duduk di ruang tamu. Lelaki itu mengamati seisi ruangan.
"Eh, ada tamu... Bukannya ini nak Robby?" Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan perut sedikit membuncit tampak baru pulang dari kantor, beliau adalah papa Febbi.
"Om Pram... Jadi Febbi anak Om?" ujar Robby sopan, tentu saja ia sangat mengenal sosok papa Febbi. Mereka sudah saling mengenal cukup lama.
"Sejak kapan kenal Febbi? Om boleh gabung?" papa Febbi duduk tidak terlalu jauh dari Robby. Om Pram tidak menyangka anaknya akan kenal dengan pria itu.
"Belum lama Om, silahkan Om..." Robby memberikan senyum manisnya.
"Bagaimana tugasmu, Rob? Semakin banyak kasus kejahatan, ya akhir-akhir ini?" Om Pram yang mengamati perkembangan kasus kriminal di koran turut prihatin atas maraknya tindak kejahatan yang terjadi.
"Benar, Om. Kebanyakan pembunuhan dengan berbagai motif. Sudah terbiasa mendalami kasus seperti itu sampai terkadang lupa, siapa korban dan siapa pelaku," tawa Robby terdengar renyah. Pada dasarnya lelaki itu memang suka bercanda..
"Eh, Papa sudah pulang..." Febbi meletakkan minuman dan kemudian mrncium tangan papanya.
__ADS_1
"Iya, Nak. Barusaja papa pulang. Kamu mengenal Nak Robby?" papa Febbi sangat antusias karena anaknya mengenal polisi tampan itu.
"Nggak sengaja, Pa. Pas kemarin jalan keluar ketemu sama Bang Robby," kata Febbi sambil menyuguhkan minuman untuk Robby.
"Silahkan di lanjut obrolan kalian, papa mau ke dalam dulu." Om pram menenteng tasnya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Abang kok bisa tahu, rumah Febbi di sini?" tanya febbi penasaran.
"Aku tanya-tanya, ternyata kamu cukup terkenal juga meskipun tidak menetap di Indonesia." ungkap Robby jujur.
"Tentu saja, Bang. Karena kadang kalau kepepet,Febbi mendampingi bidan puskesmas. Jadi mereka pasti tahu," jelas Febbi singkat.
"Aku kaget, ternyata kamu anak Om Pram, aku sudah lama mengenal ayahmu, tapi aku tidak tahu kalau beliau punya anak gadis yang cantik," Robby sedikit membual.
"Sebelum itu, aku mau jujur tentang statusku, Febbi. Aku seorang duda. Apa kamu masih mau mengenalku setelah tahu statusku yang sebenarnya?" Robby sedikit khawatir kalau Febbi tidak bisa menerimanya apa adanya.
"Abang juga manusia kan? Jadi, kenapa Febbi harus menolak Abang? Terpenting, Abang tulus mrngenal Febbi, begitu juga sebaliknya, Febbi akan tulus pada Abang." Febbi menjelaskan perasaannya dengan gamblang terhadap Robby.
"Feb..."
"Iya, Bang..."
"Kamu mau menikah denganku?" pernyataan Robby membuatnya sedikit syok. Tetapi Robby tidak sedang main-main. Ia benar-benar ingin mempersunting Febbi menjadi pendampibg hidupnya.
"Abang jangn bercanda. Pernikahan bukan bahan bercandaan, Bang." protes Febbi, ia tidak setuju jika pernyataan perasaan Robby hanya main-main.
__ADS_1
"Seperti yang kamu bilang, pernikahan bukan untuk bercandaan, aku serius ingin menikahimu, Febbi..." Robby menatap Febbi serius. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa seyakin sekarang, tapi perasaannya mengatakan bahwa, Febbi tidak akan menolaknya begitu saja.
"Kalau Abang memang serius mau menikahi aku, bagaimana kalau minggu depan Abang dan keluarga Abang datang untuk bertemu dengan orangtua Febbi?" Ini adalah pertimbangan pribadi Febbi terhadap Robby. Jika dia benar-benar datang, maka Febbi akan berudaha mencintai Robbi. sesungguhnya wanita itu masih trauma terhadap pria karena kisahnya dengan Andre.
"Apa itu berarti kamu mau menerima aku?" Robby perlu jawaban yang bisa membuatnya yakin bahwa apa yang Febbi ucapkan bukan hanya harapan hampa.
"Buktikan dulu keseriusan Abang sesuai dengan permintaanku, Febbi akan mempertimbangkan perasaan Abang." Febbi memberikan ketegasan. Cinta bisa datang kapan saja, yang terpenting untuk Febbi sekarang, adalah sebuah kepastian. Ia tidak ingi menanti sesuatu yang belum pasti bisa ia miliki.
"Baik, minggu depan aku akan datang untuk menemui orangtuamu dengan membawa orangtuaku. Aku tidak ingin main-main Febbi. Telah lama menyendiri, aku tidak ingin berbasa basi seperti anak muda," Robby mencoba meyakinkan Febbi dengan kalimatnya. Meskipun ia tahu, belum tentu Febbi akan mempercayai perkataannya.
"Baiklah, Bang.Febbi akan menunggu. Maaf, bukan aku meragukan Abang, tapi Febbi hanya tidak ingin sebuah kesia-siaan. Karena sebelumnya, Feebi pernah berharap dan sia-sia Bang. Febbi tidak ingin semuanya terulang. Abang paham kan, apa maksud Febbi?" Febbi juga memberikan pengertian kepada Robbi tentang apa yang ia rasakan.
Meskipun mereka baru saja bertemu, Febbi juga merasa nyaman dengan Robby. Tentu saja, kali ini ia berusaha untuk lebih hati-hati. Ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama.Dia tidak ingin terluka lagi seperti saat mengharapkan Andre yang ternyata justru menikahi orang lain.
"Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu, Febbi. Aku juga pernah jatuh cinta pada orang yang salah. Orang yang telah memiliki pasangan. Aku sendiri yang sebenarnya salah, mudah terpesona. Aku harap, aku tidak kehilanganmu sama seperti saat aku kehilangannya..."
Patah hati, dua kata yang tidak pernah di inginkan oleh siapapun. Tetapi nyatanya, dia datang secara tiba-tiba tanpa di harapkan. Rasa sakit yang di timbulkan cukup dahsyat, hingga dokter tidak sanggup untuk mengobatinya. Begitulah cinta, harus ada sebuah kesakitan ketika kita telah jatuh hati, karena setiap cinta sejatinya menyakitkan, hanya waktu dan caranya yang berbeda. Itulah mengapa jalan cinya tidak bisa selalu mulus.
"Maafkan Febbi, Bang Robbi. Febbi tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan Abang. Jujur, Febbi juga merasa nyaman saat mengenal Abang. Waktu akan menjawab semuanya, Bang. Febbi tunggu pinangan Abang," gadis itu pasrah, lelaki seperti apalagi yang ia cari, menurutnya Robby juga cukup baik. Buktinya, Andre yang ia pikir tidak akan pernah meninggalkannya justru tak di sangka ia pergi begitu saja.
"Aku paham, Feb. Tidak semua kata-kata bisa di Percaya, ada kalanya, sebuah perbuatan adalah satu-satunya bukti yang bisa di perhitungkan. Tunggu kedatanganku, Feb..." kalimat yang di ucapkan oleh Robby seolah ia memang benar-benar ingin memastikan kalau dia tidak bermaksud untuk mengecewakan Febbi sedikitpun.
Semoga Febbi dan Robby berjodoh ya...
untuk next episode, silahkan di tunggu...
__ADS_1