
"Minah, masak apa hari ini?" Sila yang masih menggunakan baju tidur menyambangi dapur, melihat asistennya yang tengah sibuk memasak untuknya dan juga anak-anak.
"Kesukaan Nyonya, sayur lodeh. Tuan kemana? Mobilnya tidak ada di garasi," ujar Minah sambil memotong sayur yang akan ia masak.
"Semalam menginap di hotel, tadi pagi dia sudah telepon, katanya hari ini langsung terbang ke Amerika. Sedih sebenarnya, seharusnya pagi ini saya masih bisa membuatkannya secangkir teh, atau menghidangkan sarapan untuknya," Sila duduk di meja makan. Dia merasa sedih karena tidak bisa membuatkan sarapan untuk Andra pagi ini. Pamitpun hanya Via telepon.
"Pantas saja Nyonya, saya tidak melihat tuan pagi ini. Biasanya tuan olahraga kecil di depan. Mohon maaf Nyonya kalau lancang, mengapa tiba-tiba tuan pergi ke Amerika?" Minah sedikit penasaran, karena kepergian Andra terkesan tiba-tiba baginya.
"Kakak butuh bantuan, diskusi masalah pekerjaan. Kata Andra, sangat penting, jadi dia memang harus segera pergi ke sana, Minah." Sila menceritakan alasan Andra harus segera pergi sambil mengotak atik ponselnya.Ia berusaha mencari kabar terbaru suaminya.
Sebuah foto yang di ambil dari belakang Andra tengah menarik koper di bandara di kirim oleh pengawalnya. Sila merasa lega karena ia tahu suaminya dalam keadaan sehat.
"Apa tuan akan pergi lama, Nyah?" Tanyanya lagi.
"Katanya hanya pergi sebentar, Minah. Aku juga sudah bilang padanya jangan terlalu lama perginya. Aku trauma di tinggalnya pergi lama. Minah, bagaimana kabar anakmu? Kamu tidak ingin menikah lagi?" Sila balik bertanya pada pembantunya itu.
"Anak saya sehat, mulai masuk SD. Belum kepikiran Nyah, masih belum bisa melupakan Almarhum suami," Suami minah meninggal telah lama. Tapi selama ini ia belum pernah menceritakan kenapa suaminya sampai meninggal.
"Kamu setia ternyata. Tapi kamu juga berhak mencari pendamping hidup yang baru minah, kamu masih muda, Anakmu juga butuh figur seorang ayah," Sila berharap minah mau mendengarkan kata-katanya. Minah anak yang rajin dan juga cekatan, Sila merasa iba atas apa yang menimpa mama muda itu.
__ADS_1
"Masih belum kepikiran Nyah, masih betah sendiri, apalagi saya punya pekerjaan yang menyenangkan seperti ini," ungkap Minah jujur. Ia senang mengerjakan semuanya. Dia bahagia karena memiliki majikan sebaik pasangan suami istri itu. Minah selalu berdo'a yang terbaik untuk majikannya, karena ia bergantung hidup pada mereka.
"Benar juga, menikah juga harus hati-hati minah. Apalagi kamu sudah punya anak. Carilah sosok laki-laki yang mau menerima kamu dan juga anakmu. Lelaki seperti itu agak sulit di temukan. Tapi kamu harus berusaha menemukannya. Jangan sampai pernikahanmu yang kedua justru menyulitkanmu," Sila mencoba memberikan petuahnya untuk minah yang ia anggap keluarganya, bagian dari rumah tangganya.
"Itulah yang sedang saya pikirkan Nyonya, lelaki jaman sekarang itu sangat tidak bisa di percaya, terkadang manis di awal, tapi pahit saat di jalani. Tetangga saya sampai menikah lima kali karena tertipu mulit manis laki-laki. Itulah mengapa saya masih berpikir berkali-kali untuk menikah lagi. Meskipun tidak menikah, saya juga mampu menghidupi keluarga dan anak saya, terlebih diri saya sendiri. Terus terang saya takut menikah, belum tentu pria itu sebaik almarhum suami saya Nyonya,"
Bagi minah, suaminya adalah sosok lelaki yang paling mengerti dirinya, selalu menyayanginya, dan menafkahinya dengan cukup. Meskipun kehidupan mereka tidak mewah, tapi Minah sangat bahagia menjalani biduk rumah tangganya. Hingga semuanya terhenti karena garis takdir, Tuhan telah mengambil kembali suami terbaik yang di titipkan padanya.
"Kamu benar Minah. Ketika kita sudah menemukan seorang lelaki yang baik, kita pasti akan meragukan yang lain, mencari tahu apakah dia bisa lebih baik dari yang pernah kita miliki atau tidak. Tidak hanya kamu, akupun merasa begitu." Sila setuju dengan pendapat Minah. Pernikahan kedua adalah tantangan terberat bagi seorang wanita.Ketakutan memilih pasangan adalah hal yang terbesar di rasakan. Apalagi ketika ia telah memiliki anak.
"Saya percaya, suatu hari nanti akan ada lelaki baik seperti itu yang akan menerima saya apa adanya, Nyonya. Dia akan datang manjemput saya, dan menerima Riani dengan baik.Omong-omong, Nyonya hari ini tidak ke kantor?" Minah menghidangkan sayur lodehnya di meja, hingga harumnya tersebar begitu saja.
"Mau mandi air hangat Nyonya? biar saya siapkan," Minah simpati dengan keadaan Sila yang sedikit tidak enak badan. Sepertinya ia akan terserang flu.
"Tidak perlu Minah. Di atas juga ada air hangat. Nanti aku minta tolong pijitkan kakiku. Aku hanya kelelahan mungkin,"
"Baik Nyonya. Nanti biar Minah pijit kaki Nyonya. Memang sebaiknya Nyonya beristirahat dengan baik."Minah mengerti, Sila wanita yang sibuk. Meskipun di rumah ia tidak mengasuh anak atau mengurus kerjaan rumah, tapi di luar rumah pekerjaannya menumpuk.
"Terima kasih Minah. Aku mau berendam dulu. Jangan lupa, nanti kalau sudah beres-beres ke kamarku. Aku tunggu di sana," Sila bangkit dari duduknya, ia melangkah dengan cukup lesu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Baik Nyonya. Jangan lupa minum obat. Semoga Nyonya lekas sembuh," Minah memperhatikan Sila yang mulai menjauh dari pandangannya dan naik ke atas menuju kamarnya. Ia merasa iba dengan majikannya itu. Hidupnya di penuhi dengan berbagai masalah yang berat.
Minah kembali menyelesaikan pekerjaannya. Ia ingin segera menemui majikannya, takut Nyonya kesayangannya itu semakin parah.
Sementara itu, di rumah Anita.
"Abi, Ami mau bawa Kaira ke rumah kak Sila, Abi mau ikut?" Anita berbicara pada Bian yang sedang mengerjakan berkas di meja kerjanya.
"Tumben, Ami mau main ke sana. Kangen ya? Kalau gitu, Abi ikut ke rumah kakak. Kangen juga tatapan galak kak Andra," Bian yang sering kena celetukan pedas dari Andra merindukan hal itu. Biasanya saat bersama dengan kakak iparnya, dia selalu dapat komentar pedas.
"Abi jangan gitu. Kakak begitu karena sayang sama umi. Dia tidak mau umi salah punya suami, kak Andra mau Abi jadi yang terbaik," Anita membela kakaknya, di iringi senyumannya yang khas.
"Abi juga ngerti Umi, kalau kakak itu sayang banget sama Umi. Makanya Abi nggak berani macam-macam sama umi," Bian tersenyum kecil sambil membereskan berkas-berkasnya yang berserakan.
"Seru juga ya Bi, panggilan baru kita. Jadi lebih romantis ya, Bi," Anita memakaikan popok baru pada Kaira. Anak mereka yang berusia dua tahun.
"Benar, Umi. Abi suka panggilan baru kita. Kalau begitu, Abi mandi dulu ya. Nanti gantian Abi yang jagain dedek Kaira,"
"Silahkan Abi,"
__ADS_1