
Beberapa hari kemudian...
**Feb, ada waktu? bisa ketemu?
Ada, Bang. Kebetulan aku senggang. Boleh, mau ketemu dimana?
Di kafe, tempat kita makan malam itu. Sekarang aku berangkat.
Baiklah, Bang. Aku juga bwrangkat sekarang**.
Begitulah isi percakapan antara Andre dan juga Febbi. Persiapan pernikahannya dan Sila telah hampir sempurna. Hari ini, ia menemui Febbi untuk mengantarkan surat undangan. Perasaan Andre sudah jauh lebih baik, dia sudah memupus perasaan cintanya pada Febbi. Ibarat tanaman, perasaannya pada gadis itu baru saja berkecambah, jadi masih mudah di cabut dan di binasakan.
Ia menggenggam erat kertas berwarna coklat dengan tulisan menggunakan tinta berwarna emas itu. Mengumpulkan segenap keyakinan untuk melihat wanita yang sempat mengisi kekosongan hatinya itu menangis karena di patahkan hatinya.
Di ambilnya jaket berbahan kaos dengan warna hitam yang tergantung di tembok kamarnya, lalu menyahut kunci yang ada di meja kamarnya dan segera turun untuk berangkat ke Kafe tempatnya janjian bersama Febbi.
Langit sedikit mendung, Andre menyadarinya karena sebelum maauk ke dalam mobil, ia sempat menatap ke langit sebab siang yang seharusnya panas, justru redup. Mungkin akan seredup hati Febbi nanti.
Andre meletakkan undangan itu di dekat kemudi agar ia tidak lupa membawanya masuk ke kafe nanti.Andre juga sudah menyiapkan pendengarannya jika nanti Febbi akan mengumpatnya.
Ketika Andre sampai di Kafe, Febbi belum sampai. Ini kesempatan Andre untuk menyimpan terlebih dahulu undangan pernikahan dirinya dan Sila di saku dalam jaketnya.
Ia menghela nafas berulang kali. Ending dari kisah manisnya bersama Febbi adalah berpisah. Sedikit tragis memang, belum.juga sempat ia memberitahu Febbi kalau ia menyukao gadis itu, kini justru ia datang dengan membawa secarik kertas yang akan menjadikan jurang pemisah di antara mereka.
"Abang nunggu lama, Ya? Maaf, tadi Febbi mampir ke rumah temen sebentar ada perlu." ujar gadis itu tanpa canggung sedikutpun sambil menarik kursi dan turut bergabung.
"Nggak, Feb. Aku baru saja datang, paling 5 menitan lebih dulu daripada kamu." Andre bicara fakta.
"Lumayan juga, Bang. Abang mau pesen makan? Aku udah kenyang, abang sih, nggak bilang kalau mau ngajak ketemu," Febbi menampilkan senyumnya yang ceria seperti biasa, membuat Andre jadi merasa semakin bersalah.
"Kalau begitu, biar aku pesan minuman untuk kita. Kamu mau minum apa, Feb." Andre berinisiatif menanyakan minuman yang di inginkan oleh Febbi.
__ADS_1
"Samakan aja, Bang. Aku gak pilih-pilih." sahut Febbi dengan ceria.
"Baiklah. Tunggu sebentar," Andre pergi untuk memesan minuman.
Febbi memandangi punggung lelaki itu hingga menjauh. Gadis itu bertanya-tanya, apa yang membuat Andre mendadak ingin bertemu. Febbi mengira Andre akan menyatakan perasaanya. Gadis itu jadi senyum-senyum sendiri.
"Maaf menunggu lama, ini minuman kamu." Andre menyodorkan segelas minuman dingin kepada Febbi.
"Tidak apa-apa, Bang. Aku nggak merasa lama, kok."
Ya, bagi Febbi memang tidak lama untuk menunggu seorang Andre dengan hati berbunga-bunga.Ekspresi Febbi yang begitu bahagia membuat Andre sedikit tergores perasaannya. Lelaki itu lemah, saat membayangkan orang yang telah ia sentuh hatinya akhirnya merana.
"Jadi ada apa, Bang? Kenapa tiba-tiba Abang ngajak ketemu?" Febbi memandang Andre dengan tatapan penasaran. Ia benar-benar ingin tahu apa yang akan di sampaikan Andre padanya.
"Aku mau kasih kamu...ini." Andre menyodorkan surat undangannya, seketika Febbi langsung mengambil dan membuka plastik undangan itu dan mendapati nama Andre dan Sila di sana.
"Bang, coba jelaskan ini." Tangan Febbi bergetar saat memegang kertas undangan itu. Mencoba memandang ulang sekali lagi, tapi apa yang dilihatnya tidak berubah.
"Dia pacar Abang? Sejak kapan? Kenapa Abang tidak jujur saja padaku kalau Abang mau nikah? Jadi, aku tidak sampai berharap." Mata Febbi berkaca-kaca. Ya, dia terluka mendapati kenyataan ini, kenyataan dimana Andre, orang yang dia cintai akan menikah dengan orang lain.
"Dia bukan pacarku, bukan juga tunanganku. Tapi aku harus menikahinya, karena aku telah membuatnya mengandung anakku," jawaban Andre semakin membuat perasaan Febbi seperti tersambar petir. Ia tidak percaya, Andre bisa melakukan itu padanya.
"Dia menggoda Abang? Dia pasti telah merayu Abang. Abang bukan tipe pria seperti itu." Tebakan Febbi sebenarnya fakta, Sila yang menggoda Andre, tapi Andre tidak akan membiarkan Sila salah di mata orang lain.
"Darimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Aku ini lelaki normal Febbi, kamu tidak tahu sisi lainku. Aku yang memaksanya melakukan itu semua. Mungkin ini karmaku, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku sendiri. Bersyukurlah, bukan kamu yang menjadi korbanku," ungkap Andre yang jelas-jelas itu adalah kebohongan. Ia menjatuhkan dirinya sejatuh mungkin di hadapan wanita itu.
"Febbi tidak percaya, Bang. Abang tidak mungkin melakukan hal itu. Abang cowok baik-baik. Febbi mengenal Abang dengan baik," Febbi tetap kekeh pada pemikirannya. Ia tidak percaya Andre menghamili seorang wanita.
"Tapi kenyataannya aku sebrengsek itu, kamu harus terima kenyataan ini. Aku bukanlah orang yang pantas untuk kamu cintai, Feb." seperti gelas pecah, begitulah perasaan Andre saat mengatakan kalimat ini.
"Febbi tidak perduli seberapa brengseknya Abang. Febbi sayang sama Abang. Setiap hari, Febbi selalu berdo'a agar Abang menjadi jodoh Febbi. Kenyataan ini membuat hati Febbi hancur, Bang. Febbi tidak tahu harus berkata apalagi untuk mengungkapkan kehancuran yang terjadi di dalam hati Febbi saat ini." air mata Febbi menitik. Hal itu akhirnya dilihat oleh Andre.
__ADS_1
Keperihan itu sebenarnya bukan hanya milik Febbi, tapi juga Andre. Ia juga merasakan sakit hati yang mendalam. Tapi sekali lagi, ia tidak akan pernah meninggalkan Sila begitu saja. Dia memang memiliki rasa terhadap Febbi, tapi perasaannya terhadap Sila dan calon anak mereka lebih besar.
"Maafkan aku Febbi. Aku sebenarnya jga sayang sama kamu, tapi aku tidak lari dari kenyataan ini. Aku harus memilih, siapa yang akan aku prioritaskan. Suatu saat, kamu akan mendapatkan seseorang yang terbaik untuk hidup kamu.Terima kasih, sudah pernah hadir di dalam hidupku, Feb." Andre menggenggam erat tangan Febbi, gadis itu tidak menolak. Rasa cintanya yang besar terhadap Andre, membuatnya tidak bisa membenci lelaki itu.
"Baiklah, Febbi terima semuanya, Bang. Febbi ikhlas Abang menikah. Semoga Abang bahagia. Satu yang Febbi inginkan sekarang, semoga Abang mau mengabulkan permintaan terakhirku sebelum kita pisah, Bang. " Febbi menatap Andre dengan serius. Dia sangat berharap, pria itu mau mengabulkan permintaannya.
"Kamu mau apa? Sebutkan. Kalau aku sanggup, aku akan melakukannya untukmu, Feb." ujar Andre mantap. Dia ingin mrnjadikan perpisahannya dengan Febbi menjadi semanis mungkin.
"Febbi mau, Abang jadi pacar Febbi beberapa jam kedepan. Febbi mau mengajak Abang ke suatu tempat, Febbi yakin, Abang akan menyukainya. Itupun, kalau Abang mau mengabulkan permintaan Febbi," Febbi tampak memelas, dia sangat berharap Andre mau mengabulkan permintaannya.
"Baik. Permintaan kamu aku kabulkan, mari kita buat perpisahan kita menjadi perpisahan yang manis. Setelah ini, kita tidak perlu saling melupakan. Kita jadi saudara, ok?" Andre memberanikan diri menatap Febbi. Mencoba menghapus kepahitan yang tengah ia rasakan saat ini.
"Terima kasih, Bang. Abang sudah mau mengabulkan permintaan Febbi. Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini, Bang. Aku mau jalan-jalan sama Abang," Febbi mengajak Andre beranjak dari tempat itu.
"Oke, ayo.kita pergi sekarang," Andre mengeluakan satu lembar pecahan seratus ribu dan meletakkannya di meja sebagai pembayaran minuman mereka yang bahkan belum sempat mereka minum.
Andre membukakan pintu Febbi layaknya seorang kekasih sesungguhnya. kemudian ia menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi. Sebelum melajukan mobilnya, Andre melihat ke arah Febbi terlebih dahulu. Wanita itu juga menatapnya dengan tatapan penuh arti. Kenyataan benar-benar mrnjadi jurang pemisah untuk mereka berdua.
Beberapa detik kemudian, Andre melajukan mobilnya. Hari ini ia akan menghabiskannya denga Febbi, ia ingin membahagiakan gadis itu selagi masih ada waktu untuknya membuat dia bahagia.
"Abang, kenapa Abang memutuskan untuk mengabulkan permintaan Febbi?" tanya gadis itu penasaran, ia ingin tahu alasan apa yang membuat Andre akhirnya mengabulkan permintaannya.
"Ini semua karena aku juga merasakan apa yang kamu rasakan Febbi. Jujur, aku memang telah jatuh hati padamu, tapi kenyataan ini membuat kita menjadi harus terpisah. Sekali lagi, Aku minta maaf." Andre serius msngakui perasaannya. Saat ini tidak akan terulang, dia ingin Febbi mengetahui perasaannya yang sesungguhnya.
"Febbi sudah tahu itu, meskipun Febbi tidak pernah mendengarnya dari mulut Abang. Febbi menyadari, perpisahan kita mungkin memang sudah takdir. Kita mungkin tidak akan menjadi pasangan yang baik di masa drpan, makanya Tuhan memisahkan kita." perkataan yang keluar dari mulut Febbi tampak sangat dewasa menurut Andre.
"Terima kasoh, Feb. Kamu bersikap dewasa dan tidak egois menghadapi semua ini. Kamu benar-benar wanita yang sangat baik. Suatu hari, akan ada lelaki beruntung yang akan hadir di dalam hidupmu. Aku sedih, lelaki itu bukan aku." Andre tersenyum.kecut, menutupi kegetiran yang saat ini ia rasakan.
"Kenyataan hidup yang pernah Febbi lewati bahkan jauh lebih menyakitkan di bandingkan ini, Bang. Jadi, Febbi tidak merasa terlalu sakit. Semuanya hanya manusia yang bisa berencana, tapi tetap tangan Tuhan yang mengatur segalanya. Perpisahan kita adalah yang terbaik untuk semuanya, baik untuk Abang, juga baik untuk aku." Febbi memandang langit-langit mobil saat mengungkapkan pernyataannya itu. Ia tidak sanggup menatap Andre. Febbi sedikit menutupi kesakitan hatinya saat ini.
"Mungkin kamu benar, Feb. Kita di pertemukan mungkin bukan untuk bersama. Sedih ya, kita hanya berakhir saling menguatkan. Maafkan aku, Feb..." hanya itu yang dapat Andre ucapkan.
__ADS_1
Mau tidak mau, suka tidak suka, keduanya memang harus saling melupakan perasaan cinta di hati mereka masing-masing.