Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 81


__ADS_3

"Maafkan aku Andra. Aku terpaksa melakukan ini.Semuanya tidak akan terjadi kalau semuanya sesuai dengan misi kita. Dengan keadaanmu yang koma, aku tidak bisa membiarkan Sila menjalani kehamilannya sendiri. Apalagi yang ada dalam kandungannya adalah anakku." Andre menjelaskan semuanya. Andra, adiknya memang masih hidup. Selama ini ia mengalami koma karena pengaruh racun itu.


Sebuah makam yang ia tunjukkan pada Sila, sebenarnya hanya makam kosong. Hanya Nisan Andra yang ada di sana, tetapi di dalamnya tidak ada jasad apapun yang terpendam.


"Kalian menghianatiku? Kenapa Sila sampai hamil? Kalian menusukku dari belakang?! Aku tidak percaya ini!"Andra kesal mendapati kenyataan, istrimya kini mengandung bayi kakaknya.


"Andra, dengarkan aku dulu. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Ini hanya salah paham, tolong mengertilah, aku akan jelaskan semuanya." Andre mencoba menenangkan Andra yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Apa yang harus di jelaskan? Kalian berdua berjalan bersama dengan romantis, Sila mengandung anakmu, cih! aku tidak butuh penjelasan kalian!" Andra tetap tidak dapat menerima penjelasan apapun. Apa yang dia lihat sudah menjadi fakta yang jelas.


"Stop! Stop....!" Sila berteriak melerai dua lelaki itu. Saat ini ia merasa bersalah, terkhianati, terbohongi, rindu dan segala perasaannya yang campur aduk.


Perutnya terasa kram. Wanita itu mengalami pendarahan karena stress dan akhirnya tidak sadarkan diri. Kedua lelaki itu panik dan mencoba untuk membangunkan Sila.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang keselamatan Sila dan anakku lebih penting. Maaf, aku harus membawa Sila pergi kr rumah sakit." Andre mengangkat tubuh Sila yang lemah lalu membawanya dan mencari sebuah taksi.


"Sial!" Andra menendang sebuah kaleng untuk melampiaskan rasa kesalnya.

__ADS_1


Sila, Andra dan Andre terpaksa berada dalam satu mobil yang sama. Andre sudah lebih siap jika keadaan ini terjadi, hanya saja ia tidak menyangka akan secepat ini. Tapi Andre sadar, ia tidak bisa egois, karena Sila memang tidak dapat ia miliki. Meski raganya di sisinya, tapi hatinya tetap tidak berpaling dari adiknya.


Sementara Andra, ia tidak hanya sembuh dari komanya tetapi ia juga mendapatkan kembali ingatannya. Ia cukup kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi entah mengapa, saat melihat Sila tidak berdaya seperti ini, ia tetap percaya kalau wanita itu masih menjaga hatinya untuknya.


Keduanya diam dan membuang pandangan mereka ke luar. Andra masih kesal dan menunggu penjelasan Andre, sebaliknya, Andre sedang khawatir pada keadaan Sila dan janin yang di kandungnya.


"Semuanya terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan Andra. Aku menuruti semua perjanjian kita dengan baik. Tapi saat itu, mungkin karena Sila terlalu rindu padamu dan selalu menerima penolakan dariku, dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman kami.Aku tidak sadar saat melakukannya. Percayalah padaku." Andre berusaha menjelaskan semuanya dengan rinci. Berharap Andra mau mengerti dengan apa yang terjadi.


"Lalu, kenapa kakak mengatakan aku meninggal dan menikahi Sila?" kali ini Andra menatap saudaral kembarnya tajam. Ia butuh alasan baru untuk ini.


"Saat ini keselamatan Sila adalah yang terpenting. Pembicaraan kita belum selesai. Kita akan membicarakannya lagi nanti. Aku hanya menegaskan pada Kakak, Kakak sendiri yang sudah menyerahkan Sila padaku, dan apapun yang sudah di berikan pada orang lain, itu pantang untuk di ambil kembali. Kecuali aku telah tiada di dunia ini." Andra masih menunjukkan emosinya. Semua yang terjadi membuat pikurannya kacau.


Ia sangat terkejut saat menemui orang tuanya. Hingga harus berdebat, karena mereka tidak percaya dirinya masih hidup. Andra juga marah karena kedua orangtuanya memberi restu pada pernikahan Sila dan Andre.


Andre sendiri bingung. Ia ingin menemui Febbi. Bagaimana kalau Febbi tidak mau menerimanya lagi? Perasaannya pun menjadi campur aduk dan kacau. Sungguh sandiwara ini membuat hidupnya seperti di putar-putar tanpa arah. Lelaki itu mengambil nafas perlahan. Semuanya akan ia perbaiki, kembali mulai dari 0.


"Andra, sekali lagi, maafkan kelancanganku." ungkapnya lirih. Andra tidak menjawab, pria itu hanya diam dan terpaku. Ia sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, tidak ada yang salong bicara lagi. Semua membisu. Hanya rintik-rintik hujan yang tiba-tiba saja turun. Mewakili kerinduan dan kehancuran yang tercipta di hati mereka masing-masing.


Untungnya hujan tidak terlalu lama berlangsung. Ketika sampai di rumah sakit, cuaca kembali cerah, hanya menyisakan genangan-genangan air di sana sini.


Bayi dalam kandungan Sila selamat, hanya saja perlu bedrest beberapa hari. Karena kondisi Sila yang belum stabil, kedua suaminya itu hanya berdiam diri di ruang tunggu. Andre senang, bayinya selamat. Andra juga senang Sila selamat.


"Terlepas dari siapa suami siapa, mari kita jaga Sila bersama-sama. Sementara ini, jangan sampai kita bertikai. Aku minta maaf kak, aku sudah membahayakan anakmu." perlahan Andra berusaha menahan egonya. Andre berhak atas anaknya, itu adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Meskipun sebenarnya ia juga kecewa, mengapa harus di rahim Sila anak itu berada.


"Terima kasih atas kebijakanmu. Aku tahu, suami manapun tidak akan menerima keadaan ini sebaik dirimu. Kamu luar biasa, Andra." Andre sangat kagum dengan sikap lapang dada yang di tunjukkan oleh adiknya.


"Persaudaraan bagiku penting, Kak.Kalau bukan karena ide konyolku, Kakak tidak akan terjebak dalam situasi aneh ini. asal mula kesalahan ini adalah aku. Tidak sepantasnya aku menyalahkan Kakak untuk ini." Andra mundur ke belakang dan melihat idenya yang menjadi awal dari kekacauan ini.


"Kita semua salah. Mari kita perbaiki semuanya. Oh, ya... selamat karena telah melewati semua masa kritismu. Aku senang kamu selamat, Ndra." Andre dapat bernafas sedikit lega karena Andra telah memahami semuanya. Meskipun, masih ada sebongkah rasa bersalah yang tersimpan di lubuk hatinya.


"Terima kasih, Kak. Aku juga tidak menyangka, setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Meskipun dalam situasi yang sedikit aneh." Andra tertawa kecil. Tidak menyangka akan mengalami kejadian konyol seperti ini di sepanjang hidupnya.


Bagaimana reaksi Sila saat bertemu dengan mereka berdua? Apakah masih ada kesempatan untuk Andre dari Febbi? See you next time...

__ADS_1


__ADS_2