Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 19


__ADS_3

Andra dan Sila terbangun saat


sinar matahari menyilaukan mata mereka. Rupanya mereka berdua tertidur di taman


belakang semalaman.  Sila masih mendekap


Andra. Mereka berdua saling tersenyum dan memandang satu sama lain. Mereka


merasa konyol karena sampai tidur sepanjang malam di tengah taman seperti itu.


“Apa malammu terlewati dengan


indah dan romantis sayangku?” Andra kembali membenarkan letak rambut wanita yang


masih ada di dalam dekapannya itu.


“Tentu saja sangat indah dan


romantis karena aku lalui bersama dengan orang yang sangat aku cintai, aku


berharap malam tidak berakhir begitu saja. Aku masih ingin melaluinya


bersamamu, Mas,”  Sila tersenyum manis


menatap mata Andra yang menunjukkan kantong mata yang tebal karena kurang


tidur.


“Sayang,  kapan kita akan program adik untuk Si


Kembar?”  Pernyataan Andra membuat bola


mata Sila membulat. Tentu saja saat ini, ia belum memikirkan untuk memiliki


anak lagi. Ia masih ingin menikmati masa menjadi ibu  kembar mereka.


“Mas, saat ini aku belum


kepikiran untuk mempunyai bayi lagi. Alana dan Alandra juga masih terlalu kecil


untuk memiliki adik.” Sila menjawab pertanyaan Andra dengan sedikit takut. Ia


tidak ingin pria itu merasa di tolak.


“Tidak perlu takut begitu, Mas


Cuma bertanya, bukan mengajak, jadi tidak perlu panik. Benar apa yang kamu


bilang, Alana dan juga Alandra masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik,


kita masih butuh waktu beberapa tahun untuk program kembali,” Andra mengecup


pipi istrinya sekilas, ia ingin wanita itu tenang dan tidak berpikir kalau apa


yang di katakannya adalah serius.


“Mas, pagi-pagi memberikanku


pertanyaan yang membuat detak jantungku berpacu lebih cepat,” Sila mengulangi


kembali tingkahnya semalam, mengelus pipi Andra pelan dan teratur.


Andra menarik kepala Sila lebih


dekat dengannya, hingga hidung mereka beradu. Mereka saling merasakan hembusan


nafas masing-masing. Sebelah tangan Andra memegang sebelah pipi Sila. Perlahan

__ADS_1


Andra mendaratkan ciumannya pada bibir wanita itu. Sepertinya mereka berdua


tengah di selimuti oleh buih-buih asmara yang  membuat pagi mereka sangat manis, membuat siapapun iri saat melihatnya,


“Sayang, berikan aku banyak


kesempatan untuk mencintai kamu. Bila perlu sampai kesempatan itu tidak mampu


aku habiskan. Aku ingin terus bersamamu, bidadariku yang paling cantik,” Bisik


Andra di telingan Sila, menyisakan geli yang membuat bulu kuduknya meremang.


“Selalu, Mas. Kesempatanku


untukmu tidk terbatas. Aku akan selalu memberikanmu kesempatan untuk terus


mencintai aku. Ayo kita masuk ke dalam, aku rindu Si Kembar.” Sila mengingatkan


Andra untuk kembali ke rumah, supaya tidak terlalu lama di alam bebas seperti


itu.


“Baiklah, ayo. Tapi, syaratnya


mandi bersama, bagaimana?”  Andra


mengajukan permintaan mesum sebagai penawaran. Wajar saja, mereka sudah menikah


.  Apapun, yang mereka lakukan itu


sah-sah saja, kan?


“Ingatan Mas belum kembali, tapi


kemesuman kamu sudah kembali, ya. “


“Aku lelaki normal, Sila. Tentu saja


memasang wajah sok imut berharap Sila mau mengabulkan permintaannya.


“Karena Mas udah bahagiain aku,


nyenengin hati aku, baiklah, permintaan di terima, ayo...” Sila berjalan


terlebih dahulu dengan langkah pelan.


Grepp..


Andra memeluk Sila secara tiba-tiba


dari belakang sambil setengah menubruk. Sila sedikit terkejut, tapi ia kemudian


tersenyum tipis sambil menggeleng heran, semalaman sudah bermesraan, pagi ini


dia masih saja selalu menempel.


“Mas, bisa nggak di tahan dulu


keinginan romantisannya? Kita lagi di luar rumah, kalau ada yang lihat gimana?”


Sila memprotes perlakuan Andra terhadapnya.


“Memangnya kalau ada yang lihat


kenapa? Toh, kita kan pasangan suami-istri, aku sih cuek aja. Paling mereka


bakalan iri saja dengan kemesraan kita, iya kan?” Sahut  Andra dengan santainya. Ia tidak memperdulikan

__ADS_1


siapapun yang  akan melihat  kegiatan asmara pagi mereka.


“Terserahmu lah, Mas. Tapi sekarang


lepasin dulu, gimana aku bisa jalan, kalau kamu dekap aku seperti ini terus?”


Sila mencoba melepaskan  lingkaran tangan


Andra di perutnya, tapi si pemilik tangan justru mengeratkan dekapannya.


“Coba jalan kalau bisa,” Bisik


Andra pelan di telinga Sila, membuat bulu kuduk ibu dua anak itu meremang.


“Arrggh!” Teriak Andra kesakitan,


Sila menggigit bahu suaminya itu. Andra spontan melepaskan pelukannya terhadap Sila,


wanita itu segera kabur, berlari meninggalkan Andra sambil tersenyum licik ke


arah prianya yang masih meringis kesakitan.


“Rupanya kamu mau min


kejar-kejaran, ya...” Andra segera mengejar Sila yang telah jauh


meninggalkannya.


Tanpa sengaja, minah melihat


kedua ajikannya yang tengah berkejaran, wanita itu tersenyum dan bahagia karena


melihat senyum nyonyanya yang telah kembali setelah sekian lama lebih banyak


diam dan jarang tersenyum. Bahkan, saat itu ia sampai tidak berani menegur


majikannya yang terlihat sangat dingin.


“Semoga saja kebahagiaan tuan dan


nyonya selalu langgeng. Bahagia sekali melihat senyum nyonya yang lama hilang,


terukir kembali. Memang mereka berdua pasangan yang cocok,” Minah melanjutkan


menyapu halaman.


Sila dan Andra sudah sampai di kamar


mereka. Keduanya mengatur napas mereka yang terengah-engah.


“Konyol banget, kita. Lari-larian


sudah seperti anak-anak.” Andra tertawa geli melihat tingkah mereka berdua.


“Sekalian olahraga, tadi sakit


nggak bahunya. Maaf, ya. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu, Mas,” Sila


mengaku salah karena telah menggigit bahu suaminya terlalu kuat.


“Cuma sakit begini saja, tidak


berpengaruh bagiku.paling penting bagiku adalah membuat kamu tersenyum, Sayang.”


Andra tidak perduli sesakit apa luka yang ada di bahunya. Ia tidak perduli,


bahkan jika harus merasakan sakit sepuluh kali lipat dari itu, ia siap.

__ADS_1


“Kamu bisa aja, Mas. Ayo...” Sila


menarik tangan Andra menuju kamar mandi.


__ADS_2