
Seminggu kemudian...
“Selamat pagi, Mas. Nyenyak tidurnya?” Sila bergelayut manja pada Andra yang masih
tidur.
“Pagi, Sayang. Rasnya masih
sangat mengantuk. Semalam tidur terlalu larut,” keluh Andra , ia merasa sangat
lesu pagi ini.
“Mas, sih. Udah aku ingetin,
tidur Mas, sudah malam, masih aja jawab, bentar lagi, nanggung, akhirnya
kemaleman kan, tidurnya.” omel Sila mengingat
obrolannya semalam dengan suaminya.
“Emang beneran nanggung, sayang. Semalam
itu tinggal sedikit lagi, makanya aku selesaikan sekalian. Daripada di kerjakan
sekarang, itu sama saja menunda waktu, kan?” Andra tetap kekeh pada pendiriannya. Ia tidak ingin meunda
pekerjaannya karena hari ini merek akan mengadakan piknik ke sebuah gurun di
pinggir danau yang pernah mereka datangi saat dulu Sila masih hamil si kembar.
“Baiklah, terima kasih, Mas. Kamu
bekerja sampai larut karena akan menemani aku dan anak-anak piknik, kan? Sudah, sana mandi, aku sudah siapin baju kamu. Aku mau ke luar dulu, Mas. Mau ke kamar si
kembar, sudah siap belum. Aku juga mau ke dapur, menyiapkan bekal untuk kita piknik,” Sila sangat bersemangat
untuk melakukan piknik hari ini, dia tidak menyadari Andra menatapnya dengan
tatapan cemas. Andra takut, akan ada
orang jahat yang menyakiti istrinya lagi.
“Kamu yakin, kali ini kita pergi?
Aku takut terjadi sesuatu lagi padamu, sayang.” Andra mengungkapkan
kekhawatirannya terhadap Sila. Ia hanya berjaga-jaga untuk hal yang tidak di
inginkan seperti di dalam kafe saat itu.
“Mas tenang saja, kali ini aku
yakin tidak akan terjadi apa-apa. jangan takut, ya. Hari ini yang akan ada hanya rasa bahagia dan
senang. Kan, Mas yang bilang, hari ini adalah hati perayaan kepulanganku dari rumah sakit.” Sila mencoba mengingatkan
Andra pada kalimat yang di ucapkannya kemarin saat Sila mengajaknya pergi tamasya ke gurun.
“Eh, iya. Duh, maaf ya sayang,
jatuhnya mas seperti parnoan. Bukannya meyakinkan
kamu kalau hari ini baik-baik saja, malah berpikir yang tidak-tidak. “ Andra
jadi berpikir yang tidak-tidak dan itu membuatnya merasa bersalah pada Sila.
“Ya, sudah. Tidak apa-apa,
Mas. Aku paham, kalau Mas khawatir, dan tidak bisa
tenang karena kejadian kemarin. Aku juga
sedikit trauma, tapi kita tidak akan
bisa menikmati hidup ini kalau memikirkan hal itu terus,” Sila memang takut atas kejadian yang terjadi
kemarin, tapi ia tidak mau ambil pusing
dengan seluruh keadaan yang ada.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku mandi dulu. Anak-anak
jadi pakai baju kembar yang baru saja kita beli kemarin?” Andra teringat satu pasang baju dengan motif kelinci.
“Jadi dong, Mas. Kita kan emang
beli baju itu untuk acara hari ini, kan?” sahut Sila semangat. Mereka kemarin belanja beberapa keperluan yang akan
mereka bawa tamasya.
Hari ini, semua penghuni rumah
akan ikut, termasuk Pak Budi dan minah. Mereka ingin semuanya merasa bahagia,
jarang-jarang juga mengadakan acara bersama saat suasana sedang bahagia seperti
ini. Setelah tiga tahun kelabu, hari ini
adalah salah satu hari berwarna yang Sila miliki.
“Perutmu bagaimna? Bukannya kemarin
katamu masih nyeri?” Andra ingin
memastikan keadaan Sila hari itu benar-benar sehat. Meskipun tidak sembuh
total, setidaknya sudah tidak terasa sakit lagi.
“Tenang saja, Mas. Perutku sudah
baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” Sila sedikit berbohong. Perutnya sebenarnya belum terlalu baik, tapi
hari ini ia benar-benar ingin pergi bersama keluarganya.
“Baiklah, aku percaya. Aku harap
kamu tidak sedang membohongiku, ya sudah, aku mandi dulu, kamu cek anak-anak
dan makanan,” Andra segera ke kamar mandi sambi membawa handuknya untuk mandi.
Sila segera menghampiri kamar Allana
susu sambil bermain. Alandra sibuk dengan mobil-mobilannya dan Allana sedang
memainkan boneka kelinci kesayangannya.
“Bunda...” mereka bedua menyadari
kehadiran bundanya dan menyerbu Sila.
“Sayang... anak-anak mama, sudah
makan sayang?”
“Sudah,” jawab keduanya singkat,
hampir bersamaan.
“Pinter anak bunda dan ayah,
bunda mau siapin makanan dulu ya sayang, di sini sama mbak, jangan nakal ya, nak...” Sila mencium pipi kedua anaknya gemas.
“Iya...” lagi-lagi mereka hanya
menjawab singkat dan hampir bersamaan.
Sila turun ke bawah meninggalkan
anak-anaknya yang kembali sinbuk dengan
mainannya masing-masing. Sesampainya di
ruang makan, telah terhidang banyak sekali menu, sesuai dengan pesanannya.
“Minah, lauknya sama nasi di
pisah ya, kita bawa dengan rantang yang berbeda, jangan lupa bawa peralatan
makan, kue yang kemarin juga di bawa ya, terus minumannya juga,” Pesa Sila
__ADS_1
dengan sangat antusias. Ia ingin piknik kali ini sukses.
“Baik Nyonya, buahnya mau di bawa
juga, Nyah?” kemarin, sila memang
membeli banyak sekali buah.
“Ah, itu minah, boleh juga, bawa juga tidak apa-apa, kemarin
memang sengaja beli banyak. Bagaimana dengan puding pesenan aku? Jadi buat kan?”
kemarin, Sila juga menyuruh Minah untuk membuat puding khusus untuk acara hari
ini. Sepertinya, nanti acara piknik akan berubah menjadi wisata kuliner.
“Sudah siap, Nyonya. Puding sesuai dengan permintaan Nyonya sudah
tersedia. Wah, saya senang sekali, setelah sekian lama, akhirnya Nyonya kembali
ceria seperti ini. Tampaknya Nyonyaku sedang sangat bahagia. Semoga setelah
ini, tidak ada lagi yang mengganggu tuan dan nyonya, sehingga kalian selalu
bahagia seperti ini,” Sebagai asisten rumah tangga yang telah lama ikut keluarga
mereka berdua, Minah merasa sangat sedih ketika keluarga majikannya sedang tertimpa musibah.
“Amin. Semua ini akan menjadi hal
yang tidak terlupakan di dalam perjalanan hidupku, Minah. Mungkin kalau di
filmkan akan sangat menarik, karena penuh drama dan lika-liku. Terima kasih,
karena kamu sudah mu menjadi bagian dari perjalanan hidupku, Minah.” Sila patut berterima kasih pada Minah yang
telah setia menemaninya semenjak ia datang ke rumah itu.
“Saya sangat senang karena bisa
bekerja bersama Tuan dan Nyonya yang baik seperti Tuan Andra dan Nyonya Sila. Saya
ingin mengabdi lebih lama lagi di sini, Nyah..”
“Wah, dengan senang hati, Minah.
Mau bekerja di sini selamanya juga boleh,” tentu saja Sila tidak akan keberatan
dengan permintaan Minah, karena dia sangat menyukai hasil pekerjaan asistennya
itu.
“Sayang, udah siap belum? Ayo
kita berangkat,” Andra ternyata sudah menyiapkan mobil untuk pergi mereka
berdua.
“Makan dulu , Mas. Aku udah
siapin sarapan buat kamu, ayo kita makan dulu,” Sila sudah menyiapkan makanan
untuk sarapan Andra dan juga dirinya. Pria itu langsung menghampiri dan duduk
di kursinya.
“Kamu sudah sarapan Minah?
Sarapan dulu, tempat piknik agak jauh, nanti kita makannya siang,” Sila
mengingatkan Minah untuk sarapan terlebih dahulu.
“Terima kasih, Nyonya. Sebentar
lagi saya akan sarapan,” Minah kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan yang
belum sempat masuk ke dalam wadah.
Setelah semua sarapan dan siap,
__ADS_1
mereka pun berangkat ke area piknik.