Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 30


__ADS_3

Seminggu kemudian...


“Selamat pagi, Mas.  Nyenyak tidurnya?”  Sila bergelayut manja pada Andra yang masih


tidur.


“Pagi, Sayang. Rasnya masih


sangat mengantuk. Semalam tidur terlalu larut,” keluh Andra , ia merasa sangat


lesu pagi ini.


“Mas, sih. Udah aku ingetin,


tidur Mas, sudah malam, masih aja jawab, bentar lagi, nanggung, akhirnya


kemaleman kan, tidurnya.”  omel Sila mengingat


obrolannya semalam dengan suaminya.


“Emang beneran nanggung, sayang. Semalam


itu tinggal sedikit lagi, makanya aku selesaikan sekalian. Daripada di kerjakan


sekarang, itu sama saja menunda waktu, kan?” Andra tetap  kekeh pada pendiriannya. Ia tidak ingin meunda


pekerjaannya karena hari ini merek akan mengadakan piknik ke sebuah gurun di


pinggir danau yang pernah mereka datangi saat dulu Sila masih hamil si kembar.


“Baiklah, terima kasih, Mas. Kamu


bekerja sampai larut karena akan menemani aku dan anak-anak  piknik, kan? Sudah, sana mandi,  aku sudah siapin baju kamu.  Aku mau ke luar dulu, Mas. Mau ke kamar si


kembar, sudah siap belum. Aku juga mau ke dapur, menyiapkan bekal  untuk kita piknik,” Sila sangat bersemangat


untuk melakukan piknik hari ini, dia tidak menyadari Andra menatapnya dengan


tatapan cemas. Andra takut,  akan ada


orang jahat yang menyakiti istrinya lagi.


“Kamu yakin, kali ini kita pergi?


Aku takut terjadi sesuatu lagi padamu, sayang.” Andra mengungkapkan


kekhawatirannya terhadap Sila. Ia hanya berjaga-jaga untuk hal yang tidak di


inginkan seperti di dalam kafe saat itu.


“Mas tenang saja, kali ini aku


yakin tidak akan terjadi apa-apa. jangan takut, ya.  Hari ini yang akan ada hanya rasa bahagia dan


senang. Kan, Mas yang bilang, hari ini adalah hati perayaan kepulanganku  dari rumah sakit.” Sila mencoba mengingatkan


Andra pada kalimat yang di ucapkannya  kemarin saat Sila mengajaknya pergi tamasya ke gurun.


“Eh, iya. Duh, maaf ya sayang,


jatuhnya mas seperti parnoan.  Bukannya meyakinkan


kamu kalau hari ini baik-baik saja, malah berpikir yang tidak-tidak. “ Andra


jadi berpikir yang tidak-tidak dan itu membuatnya merasa bersalah pada Sila.


“Ya, sudah. Tidak apa-apa,


Mas.  Aku  paham, kalau Mas khawatir, dan tidak bisa


tenang karena kejadian kemarin.  Aku juga


sedikit trauma,  tapi kita tidak akan


bisa menikmati hidup ini kalau memikirkan hal itu terus,”  Sila memang takut atas kejadian yang terjadi


kemarin,  tapi ia tidak mau ambil pusing


dengan seluruh keadaan yang ada.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku mandi dulu. Anak-anak


jadi pakai baju kembar yang baru saja kita beli  kemarin?” Andra teringat satu pasang baju dengan motif kelinci.


“Jadi dong, Mas. Kita kan emang


beli baju itu untuk acara hari ini, kan?”  sahut Sila semangat. Mereka kemarin belanja beberapa keperluan yang akan


mereka bawa tamasya.


Hari ini, semua penghuni rumah


akan ikut, termasuk Pak Budi dan minah. Mereka ingin semuanya merasa bahagia,


jarang-jarang juga mengadakan acara bersama saat suasana sedang bahagia seperti


ini.  Setelah tiga tahun kelabu, hari ini


adalah salah satu hari berwarna yang Sila miliki.


“Perutmu bagaimna? Bukannya kemarin


katamu masih nyeri?”  Andra ingin


memastikan keadaan Sila hari itu benar-benar sehat. Meskipun tidak sembuh


total, setidaknya sudah tidak terasa sakit lagi.


“Tenang saja, Mas. Perutku sudah


baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” Sila sedikit berbohong.  Perutnya sebenarnya belum terlalu baik, tapi


hari ini ia benar-benar ingin pergi bersama  keluarganya.


“Baiklah, aku percaya. Aku harap


kamu tidak sedang membohongiku, ya sudah, aku mandi dulu, kamu cek anak-anak


dan makanan,” Andra segera ke kamar mandi sambi membawa handuknya untuk mandi.


Sila segera menghampiri kamar Allana


susu sambil bermain. Alandra sibuk dengan mobil-mobilannya dan Allana sedang


memainkan boneka kelinci kesayangannya.


“Bunda...” mereka bedua menyadari


kehadiran bundanya dan menyerbu Sila.


“Sayang... anak-anak mama, sudah


makan sayang?”


“Sudah,” jawab keduanya singkat,


hampir bersamaan.


“Pinter anak bunda dan ayah,


bunda mau siapin makanan dulu ya sayang, di sini sama mbak,  jangan nakal ya, nak...”  Sila mencium pipi kedua anaknya gemas.


“Iya...” lagi-lagi mereka hanya


menjawab singkat dan hampir bersamaan.


Sila turun ke bawah meninggalkan


anak-anaknya yang kembali  sinbuk dengan


mainannya masing-masing.  Sesampainya di


ruang makan, telah terhidang banyak sekali menu, sesuai dengan pesanannya.


“Minah, lauknya sama nasi di


pisah ya, kita bawa dengan rantang yang berbeda, jangan lupa bawa peralatan


makan, kue yang kemarin juga di bawa ya, terus minumannya juga,” Pesa Sila

__ADS_1


dengan sangat antusias. Ia ingin piknik kali ini sukses.


“Baik Nyonya, buahnya mau di bawa


juga, Nyah?”  kemarin, sila memang


membeli banyak sekali buah.


“Ah, itu minah,  boleh juga, bawa juga tidak apa-apa, kemarin


memang sengaja beli banyak. Bagaimana dengan puding pesenan aku? Jadi buat kan?”


kemarin, Sila juga menyuruh Minah untuk membuat puding khusus untuk acara hari


ini. Sepertinya, nanti acara piknik akan berubah menjadi wisata kuliner.


“Sudah siap, Nyonya.  Puding sesuai dengan permintaan Nyonya sudah


tersedia. Wah, saya senang sekali, setelah sekian lama, akhirnya Nyonya kembali


ceria seperti ini. Tampaknya Nyonyaku sedang sangat bahagia. Semoga setelah


ini, tidak ada lagi yang mengganggu tuan dan nyonya, sehingga kalian selalu


bahagia seperti ini,” Sebagai asisten rumah tangga yang telah lama ikut keluarga


mereka berdua, Minah merasa sangat sedih ketika keluarga majikannya sedang  tertimpa musibah.


“Amin. Semua ini akan menjadi hal


yang tidak terlupakan di dalam perjalanan hidupku, Minah. Mungkin kalau di


filmkan akan sangat menarik, karena penuh drama dan lika-liku. Terima kasih,


karena kamu sudah mu menjadi bagian dari perjalanan hidupku, Minah.”  Sila patut berterima kasih pada Minah yang


telah setia menemaninya semenjak ia datang ke rumah itu.


“Saya sangat senang karena bisa


bekerja bersama Tuan dan Nyonya yang baik seperti Tuan Andra dan Nyonya Sila. Saya


ingin mengabdi lebih lama lagi di sini, Nyah..”


“Wah, dengan senang hati, Minah.


Mau bekerja di sini selamanya juga boleh,” tentu saja Sila tidak akan keberatan


dengan permintaan Minah, karena dia sangat menyukai hasil pekerjaan asistennya


itu.


“Sayang, udah siap belum? Ayo


kita berangkat,” Andra ternyata sudah menyiapkan mobil untuk pergi mereka


berdua.


“Makan dulu , Mas. Aku udah


siapin sarapan buat kamu, ayo kita makan dulu,” Sila sudah menyiapkan makanan


untuk sarapan Andra dan juga dirinya. Pria itu langsung menghampiri dan duduk


di kursinya.


“Kamu sudah sarapan Minah?


Sarapan dulu, tempat piknik agak jauh, nanti kita makannya siang,” Sila


mengingatkan Minah untuk sarapan terlebih dahulu.


“Terima kasih, Nyonya. Sebentar


lagi saya akan sarapan,” Minah kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan yang


belum sempat masuk ke dalam wadah.


Setelah semua sarapan dan siap,

__ADS_1


mereka pun berangkat ke area piknik.


__ADS_2