Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 47


__ADS_3

Andra dan Sila pergi ke butik


sesuai dengan keinginan Andra. Mereka akan membeli gaun spesial untuk acara


makan malam mereka. Setelah berbagai masalah yang mereka lewati dua hari


belakangan ini, mereka mungkin akan mengakhiri semuanya dengan dinner romantis


ini.


 Mereka berdua menyadari bahwa kekeliruan yang


terjadi harus segera di selesaikan. Mereka sama-sama sudah dewasa, mereka tentu


harus menyelesaikan masalahnya secara dewasa. Bukan saatnya lagi untuk saling


menghindar dan mencari alasan.


“kita mau ke


mana? Dulu biasanya kita pergi ke butik langganan atau...”


“Ada butik


langganan keluarga Wijaya yang kita sering kunjungi,   kita ke sana saja, Mas. Kualitasnya bagus,


penjualnya juga ramah,” Sila merekomendasikan butik langganan keluarga Wijaya


pada suaminya, sebenarnya dulu mereka sering kesana, hanya saja, ingatan Andra


yang payah tentu membuat Sila harus menjelaskannya kembali.


“Baiklah, kasih


tahu aku kemana jalannya. Nanti, kamu harus memilih gaun yang paling cantik.


berpenampilan


spesial untuk acara makan malam mereka berdua.


“Baiklah,


sesuai dengan keinginanmu, Mas. Aku mau, nanti kamu yang milihin gaun untuk


aku. Aku percayakan pemilihan gaunku padamu,” karena rasa bersalahnya pada


Andra, untuk kali ini, ia akan membiarkan Andra yang memilihkan gaun untuknya.


“Setelah dari


butik, bagaimana kalau kita makan pizza topping udang?” mendengar perkataan


Andra, membuat Sila  terdiam, ia merasa


sedang dejavu. Makanan yang baru di sebutkan oleh Andra, itu adalah makanan


favoritnya yang hanya di ketahui oleh Andre.


“Darimana


Mas  tahu, aku suka pizza topping udang?”


Sila tentu saja sangat penasaran, bagaimana ia mengetahui makanan favoritnya


itu. Selama pernikahan mereka yang hampir lima tahun terjadi.


“Oh, itu. Mm..


kakak kasih tahu aku kalau itu makanan favorit kamu saat bersamanya, aku pikir


kamu pasti akan senang kalau aku mengajakmu makan makanan yang sudah menjadi


favoritmu.” Alasan yang di katakan Andra cukup asuk akal, bisa saja saat mereka


bersama, yang di bahas adalah Sila. Tentu saja Sila sangat senang karena


setelah sekian lama akhirnya ia akan memaka makanan favoritya. Ia jadi teringat


masalalunya bersama Andra.


Flashback on...


“Yeey! Makasih

__ADS_1


kak Andre, aku seneng banget pizza topping udang ini. Aku mau lagi dong yang


banyak,” Sila yang masih memakai baju seragam putih abu, kegirangan saat


pesanan pizza mereka tiba. Hari itu, Andre baru saja menjemputnya ke


sekolah.  Karena ada tugas kelompok,


Anita tidak ikut bersama mereka.


“Kamu


benar-benar suka banget, ya, dengan pizza topping udang?” Andre menatap Sila


yang mulai mengambil potongan pizza itu dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan


sangat semangat.


“Kamu mau makan


pizza ini setiap hari?” tanyanya lagi sambil masih mengamati Sila yang begitu


lahap memakan pizzanya.


“Huum, aku mau


setiap hari makan pizza . Tapi harus yang seenak ini dengan topping yang sama,”


karena terlalu rakus, di sekitar bibir Sila jadi sedikit belepotan, membuat


Andre tersenyum.


“Suka sih suka,


tapi tidak sampai belepotan seperti ini dong, sini biar aku lap,” Andre


mengelap pelan bibir gadis itu dengan tissu. Mereka berdua berpandangan,


seperti di sonetron-sinetron. Saat itu yang Sila rasakan adalah hati yang


berbunga-bunga.


“Kalau kamu


suka pizza, nanti biar aku belajar masak, nanti aku akan kursus buat pizza,


kamu,” Andre tersenyum manis.


Sejak saat itu


Andre memang kursus memasak dan ia juga pandai membuat pizza.  Saat berkunjung ke rumah Anita, Andre pasti


membuatkan pizza untuknya.


Flashback off


“Kamu kenapa


tersenyum?” Andra  yang ternyata


memperhatikan Sila yang  tersenyum


seorang diri, ingin mengetahui apa sebabnya.  Setidaknya Andra bisa melihat Sila tersenyum


lagi.


“Aku teringat


kakak, dulu kami sering makan pizza topping udang. Karena melihat aku yang


sangat menyukainya, dia sampai rela belajar masak. Supaya, saat aku main ke


rumah kalian, dia bisa membuatkan aku pizza,” ungkap Sila jujur. Memang sejak


awal, mengenai kenangannya dengan Andre, ia selalu terbuka dengan Andra.


“Kakak sampai


seniat itu untuk membuatkanmu pizza? Wah, dia sangat luar biasa. Sedekat itu


ya, kalian dulu?”  Andra kembali fokus


menatap ke depan, saat itu suasana jalanan sedang lumayan padat merayap.

__ADS_1


“Kami memang


sangat dekat,  bahkan sangat dekat. Tapi


semuanya itu hanya tinggal kenangan kok, Mas. Semua yang terjadi antara aku dan


Kak Andre,itu hanya masalalu.” Bagaimanapun, Sila tentu saja tidak ingin


menyakiti Andra jika harus menceritakan kedekatannya di masalalu dengan Andre.


“Iya, aku


mengerti. Aku juga tidak keberatan kalau kalian menceritakan kenangan


kebersamaan yang telah kalian lewati bersama. Aku tidak akan cemburu buta.  Lagipula itu kan hanya masa lalu,” Andra


masih tidak bergeming, ia masih menatap ke depan. Meskipun  begitu, Sila dapat melihat kalau Andra


mengulas senyum di bibirnya.


“Terima kasih,


Mas. Memang banyak sekali kenangan indah bersama dengan kakak. Jujur, kami dulu


memang saling mencintai. Tapi seiring waktu, aku sudah melupakan perasaanku


padanya. Aku sudah mengalihkan seluruh perasaanku padamu.” Seiring waktu, sebuah


perasaanpun akan segera memudar seiring waktu. Sila pada akhirnya melabuhkan


perasaannya pada suaminya, Andra.


“Aku sangat


bahagia, kamu sudah memberikan hatimu padaku seutuhnya. Seiring waktu semuanya


pasti akan berubah, kan. Aku juga sangat mencintaimu, sampai aku tidak sanggup


untuk melihatmu patah hati,” bahkan jika seluruh dunia bisa bicara, mereka akan


menjadi saksi, bagaimana tulusnya perasaan Andra pada Sila.


Menjadi Sila


adalah impian dari setiap wanita. Dimana ia hadir, ada saja orang yang


mencintainya. Terutama tentu saja Si Kembar, Andra dan Andre. Rasa sayang dan


cinta mereka berdua tidak pernah berakhir. Sila adalah nama wanita yang mungkin


akan terukir di hati mereka seumur hidup mereka. Di setiap hembusan nafas


mereka, ada bayangan Sila di sana.


“Aku tahu, Mas.


Kamu sangat mencintai aku dengan sangat sempurna. Hingga tidak ada alasan lagi


untukku untuk mencintai orang lain. Aku hanya mencintai kamu, Mas.”  Sila menyentuh lengan Andra lembut. Sila sadar


ia jauh dari kata sempurna, tapi ia ingin mencintai Andra dengan cara yang


sempurna.


“Suatu hari,


saat aku sudah tidak ada lagi, apa kamu masih akan tetap mencintai aku?”  pertanyaan Andra menarik perhatian Sila. Secara


otomatis wanita itu menatap tajam Andra.


“Aku mungkin


akan selalu mengenangmu saja. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuka hatiku


lagi setelah kehilanganmu. Aku ingin kamu tetap hidup di dalam hatiku.”ungkap


Sila pelan dan perlahan, suatu hari, mereka memang akan di pisahkan oleh takdir


perpisahan abadi.


“Aku tetap


ingin kamu membuka hati kamu pria lain, aku ingin kamu tetap melanjutkan

__ADS_1


hidupmu. Karena memang hidup perlu untuk di lanjutkan,” Andra berpesan pada


Sila agar tetap melanjutkan hidupnya meskipun tanpa Andra di sisi.


__ADS_2