
Andra dan Sila pergi ke butik
sesuai dengan keinginan Andra. Mereka akan membeli gaun spesial untuk acara
makan malam mereka. Setelah berbagai masalah yang mereka lewati dua hari
belakangan ini, mereka mungkin akan mengakhiri semuanya dengan dinner romantis
ini.
Mereka berdua menyadari bahwa kekeliruan yang
terjadi harus segera di selesaikan. Mereka sama-sama sudah dewasa, mereka tentu
harus menyelesaikan masalahnya secara dewasa. Bukan saatnya lagi untuk saling
menghindar dan mencari alasan.
“kita mau ke
mana? Dulu biasanya kita pergi ke butik langganan atau...”
“Ada butik
langganan keluarga Wijaya yang kita sering kunjungi, kita ke sana saja, Mas. Kualitasnya bagus,
penjualnya juga ramah,” Sila merekomendasikan butik langganan keluarga Wijaya
pada suaminya, sebenarnya dulu mereka sering kesana, hanya saja, ingatan Andra
yang payah tentu membuat Sila harus menjelaskannya kembali.
“Baiklah, kasih
tahu aku kemana jalannya. Nanti, kamu harus memilih gaun yang paling cantik.
berpenampilan
spesial untuk acara makan malam mereka berdua.
“Baiklah,
sesuai dengan keinginanmu, Mas. Aku mau, nanti kamu yang milihin gaun untuk
aku. Aku percayakan pemilihan gaunku padamu,” karena rasa bersalahnya pada
Andra, untuk kali ini, ia akan membiarkan Andra yang memilihkan gaun untuknya.
“Setelah dari
butik, bagaimana kalau kita makan pizza topping udang?” mendengar perkataan
Andra, membuat Sila terdiam, ia merasa
sedang dejavu. Makanan yang baru di sebutkan oleh Andra, itu adalah makanan
favoritnya yang hanya di ketahui oleh Andre.
“Darimana
Mas tahu, aku suka pizza topping udang?”
Sila tentu saja sangat penasaran, bagaimana ia mengetahui makanan favoritnya
itu. Selama pernikahan mereka yang hampir lima tahun terjadi.
“Oh, itu. Mm..
kakak kasih tahu aku kalau itu makanan favorit kamu saat bersamanya, aku pikir
kamu pasti akan senang kalau aku mengajakmu makan makanan yang sudah menjadi
favoritmu.” Alasan yang di katakan Andra cukup asuk akal, bisa saja saat mereka
bersama, yang di bahas adalah Sila. Tentu saja Sila sangat senang karena
setelah sekian lama akhirnya ia akan memaka makanan favoritya. Ia jadi teringat
masalalunya bersama Andra.
Flashback on...
“Yeey! Makasih
__ADS_1
kak Andre, aku seneng banget pizza topping udang ini. Aku mau lagi dong yang
banyak,” Sila yang masih memakai baju seragam putih abu, kegirangan saat
pesanan pizza mereka tiba. Hari itu, Andre baru saja menjemputnya ke
sekolah. Karena ada tugas kelompok,
Anita tidak ikut bersama mereka.
“Kamu
benar-benar suka banget, ya, dengan pizza topping udang?” Andre menatap Sila
yang mulai mengambil potongan pizza itu dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan
sangat semangat.
“Kamu mau makan
pizza ini setiap hari?” tanyanya lagi sambil masih mengamati Sila yang begitu
lahap memakan pizzanya.
“Huum, aku mau
setiap hari makan pizza . Tapi harus yang seenak ini dengan topping yang sama,”
karena terlalu rakus, di sekitar bibir Sila jadi sedikit belepotan, membuat
Andre tersenyum.
“Suka sih suka,
tapi tidak sampai belepotan seperti ini dong, sini biar aku lap,” Andre
mengelap pelan bibir gadis itu dengan tissu. Mereka berdua berpandangan,
seperti di sonetron-sinetron. Saat itu yang Sila rasakan adalah hati yang
berbunga-bunga.
“Kalau kamu
suka pizza, nanti biar aku belajar masak, nanti aku akan kursus buat pizza,
kamu,” Andre tersenyum manis.
Sejak saat itu
Andre memang kursus memasak dan ia juga pandai membuat pizza. Saat berkunjung ke rumah Anita, Andre pasti
membuatkan pizza untuknya.
Flashback off
“Kamu kenapa
tersenyum?” Andra yang ternyata
memperhatikan Sila yang tersenyum
seorang diri, ingin mengetahui apa sebabnya. Setidaknya Andra bisa melihat Sila tersenyum
lagi.
“Aku teringat
kakak, dulu kami sering makan pizza topping udang. Karena melihat aku yang
sangat menyukainya, dia sampai rela belajar masak. Supaya, saat aku main ke
rumah kalian, dia bisa membuatkan aku pizza,” ungkap Sila jujur. Memang sejak
awal, mengenai kenangannya dengan Andre, ia selalu terbuka dengan Andra.
“Kakak sampai
seniat itu untuk membuatkanmu pizza? Wah, dia sangat luar biasa. Sedekat itu
ya, kalian dulu?” Andra kembali fokus
menatap ke depan, saat itu suasana jalanan sedang lumayan padat merayap.
__ADS_1
“Kami memang
sangat dekat, bahkan sangat dekat. Tapi
semuanya itu hanya tinggal kenangan kok, Mas. Semua yang terjadi antara aku dan
Kak Andre,itu hanya masalalu.” Bagaimanapun, Sila tentu saja tidak ingin
menyakiti Andra jika harus menceritakan kedekatannya di masalalu dengan Andre.
“Iya, aku
mengerti. Aku juga tidak keberatan kalau kalian menceritakan kenangan
kebersamaan yang telah kalian lewati bersama. Aku tidak akan cemburu buta. Lagipula itu kan hanya masa lalu,” Andra
masih tidak bergeming, ia masih menatap ke depan. Meskipun begitu, Sila dapat melihat kalau Andra
mengulas senyum di bibirnya.
“Terima kasih,
Mas. Memang banyak sekali kenangan indah bersama dengan kakak. Jujur, kami dulu
memang saling mencintai. Tapi seiring waktu, aku sudah melupakan perasaanku
padanya. Aku sudah mengalihkan seluruh perasaanku padamu.” Seiring waktu, sebuah
perasaanpun akan segera memudar seiring waktu. Sila pada akhirnya melabuhkan
perasaannya pada suaminya, Andra.
“Aku sangat
bahagia, kamu sudah memberikan hatimu padaku seutuhnya. Seiring waktu semuanya
pasti akan berubah, kan. Aku juga sangat mencintaimu, sampai aku tidak sanggup
untuk melihatmu patah hati,” bahkan jika seluruh dunia bisa bicara, mereka akan
menjadi saksi, bagaimana tulusnya perasaan Andra pada Sila.
Menjadi Sila
adalah impian dari setiap wanita. Dimana ia hadir, ada saja orang yang
mencintainya. Terutama tentu saja Si Kembar, Andra dan Andre. Rasa sayang dan
cinta mereka berdua tidak pernah berakhir. Sila adalah nama wanita yang mungkin
akan terukir di hati mereka seumur hidup mereka. Di setiap hembusan nafas
mereka, ada bayangan Sila di sana.
“Aku tahu, Mas.
Kamu sangat mencintai aku dengan sangat sempurna. Hingga tidak ada alasan lagi
untukku untuk mencintai orang lain. Aku hanya mencintai kamu, Mas.” Sila menyentuh lengan Andra lembut. Sila sadar
ia jauh dari kata sempurna, tapi ia ingin mencintai Andra dengan cara yang
sempurna.
“Suatu hari,
saat aku sudah tidak ada lagi, apa kamu masih akan tetap mencintai aku?” pertanyaan Andra menarik perhatian Sila. Secara
otomatis wanita itu menatap tajam Andra.
“Aku mungkin
akan selalu mengenangmu saja. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuka hatiku
lagi setelah kehilanganmu. Aku ingin kamu tetap hidup di dalam hatiku.”ungkap
Sila pelan dan perlahan, suatu hari, mereka memang akan di pisahkan oleh takdir
perpisahan abadi.
“Aku tetap
ingin kamu membuka hati kamu pria lain, aku ingin kamu tetap melanjutkan
__ADS_1
hidupmu. Karena memang hidup perlu untuk di lanjutkan,” Andra berpesan pada
Sila agar tetap melanjutkan hidupnya meskipun tanpa Andra di sisi.