Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 75


__ADS_3

Sila gelisah, matanya enggan terpejam, meskipun malam mulai sedikit larut. Ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, tapi perasaannya sedang tidak menentu, sejenis rasa gelisah yang tidak beralasan.


Letak kamar Sila dan Andre bersebelahan. Itu sengaja Andre lakukan agar jika terjadi sesuatu dengan Sila sewaktu-waktu ia bisa segera memberikan pertolongan.


Sila bermaksud keluar dari kamarnya untuk menghirup udara di beranda penginapan yang terhubung ke area taman bermain di pasir pantai. Ketika ia keluar dari kamarmya ternyata di saat yang bersamaan Andre juga keluar.


"Sila, kamu belum tidur?" Andre menatap Sila dengan tatapan menyelidik. Ia takut ada yang mengganggu perasaan Sila.


"Aku hanya belum bisa tidur, Kak. Ingin menghirup udara malam sebentar. Boleh?" tanyanya kemudian, Sila paham, udara malam tidak baik untuk ibu hamil sepertinya, apalagi ia tengah hamil muda.


"Bagaimana kalau aku temani? Aku juga belum bisa tidur dan ingin melihat ke luar sebentar," Andre menawarkan diri untuk menemani Sila. Wanita itu tentu saja tidak menolak niat baik calon suaminya.


Andre langsung menggandeng Sila tanpa menunggu persetujuan perempuan itu. Mungkin ia tampak sedikit lancang, tetapi setiap bersamanya, Andre ingin selalu menggenggam tangannya erat.


Sila membiarkan Andre menggamit tangannya dan mengisi sela-sela jemarinya dengan jari-jari besarnya. Entah mengapa, ia merasa sangat aman saat berada di samping lelaki yang sebentar lagi akan menikahinya itu.


"Sila, kamu senang bisa pergi bersamaku lagi seperti ini? Jujur aku merasa seperti sedang mengulang masalalu kita yang indah dulu," Andre menatap wajah sila sekilas, sambil berjalam dan terus menggenggam tangan Sila. Pria itu juga memasukkan salah satu tangannya ke saku celana untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa.

__ADS_1


"Aku juga senang, Kak. Dulu kita sering begini juga kan, malam-malam janjian keluar berdua, duduk di ayunan itu, menikmati angin sepoi-sepoi sambil mengobrol kesana-kemari," Sila tersenyum, mengingat saat-saat itu, saat mereka masih sering curi-curi waktu untuk pergi berdua.


"Aku ingat saat itu Sila, kita berdua memang sudah saling nyaman. Hanya saja aku kurang gesit untum mengungkapkan perasaanku padamu. Setiap keluarga kita mengadakan acara bersama, aku selalu mencuri waktu untuk berdua bersamamu," Andre memang melakukan itu. Andre selalu membantu pekerjaan Sila, hanya untuk membuat jarak di antara mereka berdua terkikis.


"Mungkin kita memang sudah di takdirkan seperti ini, Kak. Kita harus melalui perjalanan panjang sebelum akhirnya kita bersama sekarang." Sila memandang ke arah depan, membiarkan semilir angin menerpa wajahnya.


"Kamu benar, jodoh siapa yang akan tahu. Tapi, mungkin kalau bukan karena anakku yang ada di.kandunganmu, kamu akan menolak menikah denganku, iya kan?" tebak Andre. Ia berpikir kalau Sila mau menikah dengannya hanya karena anaknya.


"Awalnya memang iya, Kak. Tapi sekarang, alasanku menerimamu banyak. Tetutama perasaanku yang mulai menetima kamu lagi. Meskipun terlihat egois, tapi aku dan anak-anak memang butuh sosok suami dan ayah seperti kamu, Kak." Sila balas menayap Andrre sekilas, lalu kembali mengedarkan pandamgannya ke wilayah sekitar.


Langkah Andre menuntunnya menuju bangku yang terbuat dari campuran semen dan pasir yang di bangun sedemikian rupa dengan ornamen yang berbentuk jamur sebagai atap dari bangku itu.


Andre terpenjara dalam perasaannya selama bertahun-tahun sampai ia hampir gila. Menjadi lelaki dingin, sampai playboy, semua telah ia lewati, tapi semua itu tidak lantas menghapuskan perasaannya pada wanita itu.


Setiap ia mencoba menghapus, tetapi perasaannya semakin melekat. Rasanya semakin lama semakin erat dan tak terpisahkan. Meresap ke dalam pori-pori hatinya hingga tak memungkinkan untuknya menghilangkan rasa itu.


Bertahun lamanya Andre merasakan perasaan cinta yang tak terbalaskan. Semua berawal dari kesalahannya sendiri yang berujung penyesalan tiada akhir baginya. Mencoba mengubur perasaannya namun selalu saja timbul kembali ke permukaan.

__ADS_1


"Aku tahu, perasaan Kakak tidak pernah berubah, tapi aku telah di hadapkan oleh sebuah pilihan, Kak. Jika saat itu Kakak tidak menjodohkan aku dengan Andra, kemungkinan kita akan bersama dari awal. Tapi sudahlah, semua telah berlalu. Terpenting sekarang aku dan Kakak bisa saling memiliki. Semoga semuanya indah sesuai dengan apa yang kita inginkan, Kak."


Apa yang Sila katakan benar adanya. Mereka hanya perlu melanjutkan langkah mereka saat ini. Apa yang telah mereka lalui hanya perlu mereka anggap sebagai pelajaran di masa yang akan datang.


"Sila..." Pria itu mengeratkan genggamannya seraya menghentikan langkahnya. Sila secara otomatis berhenti dan tanpa sengaja wajah mereka sangat berdekatan. Mata mereka saling menatap.


"Ya..." Sahut wanita itu sedikit gugup. Ia belum membiasakan diri sedekat ini dengan Andre sebagai Andre.


"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah lagi menutupi perasaanku padamu. Aku akan umumkan pada semua orang kalau aku mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu. Aku juga tidak akan mengizinkan siapapun menggantikanku untuk menjadi pendamping hidupmu. Sila... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kamu dengar?" ini adalah penegasan cinta dari Andre pada Sila. Ia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Wanita itu harus tahu seberapa dalam perasaannya.


Sila memberanikan diri mengulurkan kedua tangannya untuk memegang kedua pipi pria tampan di hadapannya itu. Air matanya terjatuh begitu saja. Ia merasa bersalah karena telah membuat Andre mencintainya sedalam itu. Ia dapat merasakan bagaimana lelaki itu tersiksa selama bertahun-tahun.


Kedua bola matanya yang berair memandangi kedua mata Andre dengan seksama. Ia mencari ke dalam sana, di mana bayang wajahnya selalu berada. Andre menghapus air mata Sila dengan kedua ibu jarinya lembut.


"Kak, biarkan aku menebus rasa bersalahku karena telah menyiksa perasaanmu selama bertahun-tahun. Aku juga akan berusaha untuk mencurahkan rasa sayangku padamu, aku akan berusaha mencintaimu lagi seperti dulu. Maafkan aku, Kak..." air mata wanita itu semakin deras menetes. Andre segera menariknya perlahan kedalam pelukannya.


"Cukup Sila. Jangan lagi menangis. Satu titik air matamu sangat berharga bagiku. Saat bersamaku kamu hanya boleh tersenyum. Kamu harus bahagia, biarkan aku membahagiakanmu dengan segenap jiwa dan perasaanku." Andre mengeratkan pelukannya, ia ingin membuat wanitanya itu merasa nyaman. Sedikitpun, Andre tidak akan pernah melepaskannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Aku bahagia memiliki Kakak yang mau menerimaku apa adanya. Aku juga mencintaimu, Kak." Sila memejamkan matanya sejenak, pelukan lelaki itu masih nyaman seperti dulu.


__ADS_2