Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 28


__ADS_3

Di markas Rose, ia dan beberapa


anak buahnya tengah merayakan keberhasilan mereka mencelakai Sila. Memang


target  sejak awal penyerangan adalah


Sila. Rose sangat menginginkan wanita itu meninggal dunia agar dapat merebut


Dewa alias Andra dan menjadikannya seorang Suami.


Rasa cintanya pada lelaki itu


membuat otak sehat Rose rusak. Ia akan melakukan berbagai cara untuk merebut


kembali Dewa. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa lelaki itu memang


seharusnya kembali pada keluarganya.


“Aku tahu, cepat atau lambat,


pihak kepolisian pasti akan mulai mencari kita. Tapi aku cukup senang Rey,


setidaknya kita berhasil mencelakai Sila. Kamu yakin, dia kritis saat ini? Aku


harap wanita itu segera di kirim ke alam baka. Dengan begitu, aku bisa kembali


memiliki Dewa.”  Ujar Rose dengan


senyuman puas. Ia akan melakukan apapun untuk merebut Andra kembali meskipun ia


harus turun tangan sendiri.


“kau memang gila Rose, seperti


tidak ada lelaki lain lagi selain Andre. Padahal lelaki itu biasa saja, apa


yang kamu lihat dari dia?” Rey sedikit heran denganRose yang begitu


tergila-gila dengan Andra.


“Itu kan menurutmu, beda dengan


pandanganku sebagai seorang perempuan, dia lelaki yang tampan dan juga cerdas.


Dia juga sangat mempesona, daya tariknya luar biasa, aku sangat mengaguminya.”  Rose benar-benar telah tertutupi oleh


cintanya yang buta terhadap Andra.


“Dia lelaki orang, suami orang


Rose, padahal yang lajang juga banyak. Kenapa harus dia?” Protes Rey, ia tidak


terlalu etuju dengan perasaa Rose, ia berharap Rose bisa memandangnya yang


jelas-jelas ada di hadapannya.


“Memangnya kenapa kalau dia suami


orang? Selagi masih bisa di rebut itu sah-sah saja, kenapa kamu tiba-tiba


begitu? Perasaan kamu saat kita menyusun rencana, setuju-setuju saja aku


merebut Dewa kembali dari istrinya,” Rose sedikit kesal karena Rey berbalik


menentang keingiannya untuk memiliki Andra.


“Ya, nggak papa sih, alangkah


baiknya kalau masih ada yang lajang, carilah dulu yang lajang, baru embat suami


orang,” Rey sedikit menyindir Rose. Meskipun ia setuju, tapi merebut suami


orang juga bukan sebuah kebenaran.


“Sejak kapan kamu jadi sok bijak


begini, Rey? Kita ini bukan orang baik-baik, jadi buat apa memikirkan baik atau

__ADS_1


tidak, boleh apa tidak. Apa yang kita suka, dia bisa menjadi milik kita


apapun  caranya.” Rose tetap dalam


keputusannya, ia tetap ingin memiliki Andra.


“Ya, terserahmu sajalah, aku


sudah pusing memikirkan pemikiranmu yang hampir sama liciknya dengan kakek tua


itu,  kalian berdua sama-sama


menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kalian.  Meskipun kaian tahu, itu tidak benar.” Rey


mendadak uring-uringan karena sikap Rose. Dia memang sangat sulit di ikuti atau


di suruh mengikuti arahan orang lain. Rose lebih suka mengikuti jalan


perasaannya sendiri.


“Jangan bilang kau menyukaiku,


Rey.”  Tebak Rose, ,membuat lelaki yang


tengah  meminum minuman soda itu hampir


saja tersedak. Ia tidak menyangka Rose akan menebak perasaannya setepat itu, ia


jadi sedikit salah tingkah. Entah sejak kapan, tapi memang perasaannya telah


berubah pada wanita berambut pendek itu.


“Mana mungkin aku menyukaimu,


bukankah kita berteman sudah cukup lama? Kalau memang aku mencintaimu, harusnya


sejak dulu,” Rey benci harus menjadi pecundang untu perasaannya sendiri.   Ia yang bisa menghabisi seseorang tanpa ampun,


tapi tidak berdaya hanya karena di hadapkan pada perasaannya sendiri.


Begitulah cinta, terkadang bisa


sakit, seseorang yang semangat jadi terpuruk bahkan orang yang hidup pun


jiwanya akan terasa mati.


“Aku sudah tahu itu, bukankah


kamu selalu bilang kalau kamu tidak menyukai wanita tomboy sepertiku? Tenang


saja, nanti aku akan mengenalkanmu kepada temanku. Kamu tahu kan, temanku


cantik-cantik,” Rose menyunggingkan sedikit senyumnya, dia dan rey memang sudah


lama saling mengenal, ia paham betul bagaiman selera pria itu.


“Boy, kamu ada kontak Memey


tidak?” Tanya Rose pada salah satu pengawalnya.


“Ada bos, buat apa? Dia kan bukan


penjahat seperti kita,” sahut Boy


“Bukan  untuk jadi bagian dari kita, tapi untuk di


jadikan pacar sama Rey. Kasian Bos kalian , jomblo akut!”  Rose mentertawakan Rey, sementara Rey hanya


tersenyum mendengar candaan Rose. Dia hanya bisa berharap Wanita tomboy itu


peka dengan perasaannya tapi, dia sendiri yang tidak bisa mengungkapkannya.


“Bos, ada kabar buruk!” Anton,


salah satu anggota geng Rose tampak tergesa-gesa mendatangi wanita itu.


“Ada apa? Cepat katakan! “ Rose

__ADS_1


sangat penasaran dengan kabar baru yang di bawa oleh Anton.


“Sila tidak meninggal, Bos. Dia


bahkan sudah melewati masa kritisnya.” Lapor Anton,  ia sangat paham, laporan ini pasti tidak akan


membuat bosnya menjadi senang.


“Sial! Kenapa wnita itu harus


selamat! Seharusnya dia mati.  Kalau


begini, bagaimana bisa aku mengambil alih Dewa! Baiklah, terima kasih infonya,”


Rose duduk dengan kekesalan tergambar jelas di wajahnya. Mau tidak mau dia


harus memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Sila atau yang lebih baik, cara


merebut Andra.


Anton segera menjauh dari Rose


dan bergabung dengan yang lain. Ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan


Rose.terkadang wanita itu bisa marah tanpa alasan yang jelas apabila


perasaannya sedang tidak bagus.


“Rey, apa kamu punya masukan


untuk hal ini? Ayolah, aku butuh ide cemerlang darimu.” Rose memang sangat


mengandalkan Rey, tapi saat ini sepertinya perasaan pria itu sedikit tidak bisa


tertebak.


“Aku akan memikirkannya untukmu,


Rose. Tapi bisakah hari ini kita tidak uah membahas masalah ini dulu? Aku ingin


hari ini kita santai. Pikiranku sedang tidak bersahabat untuk berpikir, aku


harap kamu bisa mengerti.”  Rey mencoba


memberikan Rose pengertian, kondisi pikirannya memang sedang tidak bisa di ajak


untuk memikirkan sebuah ide.


“Baiklah, sepertinya aku tahu


sekarang. Pria di hadapanku ini sedang galau. Ayolah Rey, ini bukan kamu! Sejak


kapan seorang Rey menye-menye. Mana sikap garangmu itu. Ck!” Rose mengeluhkan


sikap Rey yang payah hari itu. Tapi, dia memang tidak bisa memaksa, apalagi


kalau sahhabatnya itu sudah bilang tidk, itu artinya tidak.


“Entahlah, Rose. Aku tidak bisa


berpikir saat ini. Eh, hari ini kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi


makan,  anggap saja ini adalah perayaan


karena misi berhasil dengan baik, meskipun hasil akhirnya kurang memuaskan,”


Rey mencoba mencari alasan yang tepat agar Rose tidak menolak ajakannya.


“Baiklah, aku mau pergi makan


denganmu, tapi aku yang menentukan, di mana kita bisa makan.” Rose


menyunggingkan senyum manisnya, membuat Rey sedikit terbius.


“Ah, tentu saja Rose, kau adalah


nyonya di sini, bagaimana aku bisa menolak keinginanmu? “ Rey tersenyum lebar,

__ADS_1


ia  sangat senang karena Rose tidak


menolak keinginannya untuk makan bersama.


__ADS_2