
Di markas Rose, ia dan beberapa
anak buahnya tengah merayakan keberhasilan mereka mencelakai Sila. Memang
target sejak awal penyerangan adalah
Sila. Rose sangat menginginkan wanita itu meninggal dunia agar dapat merebut
Dewa alias Andra dan menjadikannya seorang Suami.
Rasa cintanya pada lelaki itu
membuat otak sehat Rose rusak. Ia akan melakukan berbagai cara untuk merebut
kembali Dewa. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa lelaki itu memang
seharusnya kembali pada keluarganya.
“Aku tahu, cepat atau lambat,
pihak kepolisian pasti akan mulai mencari kita. Tapi aku cukup senang Rey,
setidaknya kita berhasil mencelakai Sila. Kamu yakin, dia kritis saat ini? Aku
harap wanita itu segera di kirim ke alam baka. Dengan begitu, aku bisa kembali
memiliki Dewa.” Ujar Rose dengan
senyuman puas. Ia akan melakukan apapun untuk merebut Andra kembali meskipun ia
harus turun tangan sendiri.
“kau memang gila Rose, seperti
tidak ada lelaki lain lagi selain Andre. Padahal lelaki itu biasa saja, apa
yang kamu lihat dari dia?” Rey sedikit heran denganRose yang begitu
tergila-gila dengan Andra.
“Itu kan menurutmu, beda dengan
pandanganku sebagai seorang perempuan, dia lelaki yang tampan dan juga cerdas.
Dia juga sangat mempesona, daya tariknya luar biasa, aku sangat mengaguminya.” Rose benar-benar telah tertutupi oleh
cintanya yang buta terhadap Andra.
“Dia lelaki orang, suami orang
Rose, padahal yang lajang juga banyak. Kenapa harus dia?” Protes Rey, ia tidak
terlalu etuju dengan perasaa Rose, ia berharap Rose bisa memandangnya yang
jelas-jelas ada di hadapannya.
“Memangnya kenapa kalau dia suami
orang? Selagi masih bisa di rebut itu sah-sah saja, kenapa kamu tiba-tiba
begitu? Perasaan kamu saat kita menyusun rencana, setuju-setuju saja aku
merebut Dewa kembali dari istrinya,” Rose sedikit kesal karena Rey berbalik
menentang keingiannya untuk memiliki Andra.
“Ya, nggak papa sih, alangkah
baiknya kalau masih ada yang lajang, carilah dulu yang lajang, baru embat suami
orang,” Rey sedikit menyindir Rose. Meskipun ia setuju, tapi merebut suami
orang juga bukan sebuah kebenaran.
“Sejak kapan kamu jadi sok bijak
begini, Rey? Kita ini bukan orang baik-baik, jadi buat apa memikirkan baik atau
__ADS_1
tidak, boleh apa tidak. Apa yang kita suka, dia bisa menjadi milik kita
apapun caranya.” Rose tetap dalam
keputusannya, ia tetap ingin memiliki Andra.
“Ya, terserahmu sajalah, aku
sudah pusing memikirkan pemikiranmu yang hampir sama liciknya dengan kakek tua
itu, kalian berdua sama-sama
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kalian. Meskipun kaian tahu, itu tidak benar.” Rey
mendadak uring-uringan karena sikap Rose. Dia memang sangat sulit di ikuti atau
di suruh mengikuti arahan orang lain. Rose lebih suka mengikuti jalan
perasaannya sendiri.
“Jangan bilang kau menyukaiku,
Rey.” Tebak Rose, ,membuat lelaki yang
tengah meminum minuman soda itu hampir
saja tersedak. Ia tidak menyangka Rose akan menebak perasaannya setepat itu, ia
jadi sedikit salah tingkah. Entah sejak kapan, tapi memang perasaannya telah
berubah pada wanita berambut pendek itu.
“Mana mungkin aku menyukaimu,
bukankah kita berteman sudah cukup lama? Kalau memang aku mencintaimu, harusnya
sejak dulu,” Rey benci harus menjadi pecundang untu perasaannya sendiri. Ia yang bisa menghabisi seseorang tanpa ampun,
tapi tidak berdaya hanya karena di hadapkan pada perasaannya sendiri.
Begitulah cinta, terkadang bisa
sakit, seseorang yang semangat jadi terpuruk bahkan orang yang hidup pun
jiwanya akan terasa mati.
“Aku sudah tahu itu, bukankah
kamu selalu bilang kalau kamu tidak menyukai wanita tomboy sepertiku? Tenang
saja, nanti aku akan mengenalkanmu kepada temanku. Kamu tahu kan, temanku
cantik-cantik,” Rose menyunggingkan sedikit senyumnya, dia dan rey memang sudah
lama saling mengenal, ia paham betul bagaiman selera pria itu.
“Boy, kamu ada kontak Memey
tidak?” Tanya Rose pada salah satu pengawalnya.
“Ada bos, buat apa? Dia kan bukan
penjahat seperti kita,” sahut Boy
“Bukan untuk jadi bagian dari kita, tapi untuk di
jadikan pacar sama Rey. Kasian Bos kalian , jomblo akut!” Rose mentertawakan Rey, sementara Rey hanya
tersenyum mendengar candaan Rose. Dia hanya bisa berharap Wanita tomboy itu
peka dengan perasaannya tapi, dia sendiri yang tidak bisa mengungkapkannya.
“Bos, ada kabar buruk!” Anton,
salah satu anggota geng Rose tampak tergesa-gesa mendatangi wanita itu.
“Ada apa? Cepat katakan! “ Rose
__ADS_1
sangat penasaran dengan kabar baru yang di bawa oleh Anton.
“Sila tidak meninggal, Bos. Dia
bahkan sudah melewati masa kritisnya.” Lapor Anton, ia sangat paham, laporan ini pasti tidak akan
membuat bosnya menjadi senang.
“Sial! Kenapa wnita itu harus
selamat! Seharusnya dia mati. Kalau
begini, bagaimana bisa aku mengambil alih Dewa! Baiklah, terima kasih infonya,”
Rose duduk dengan kekesalan tergambar jelas di wajahnya. Mau tidak mau dia
harus memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Sila atau yang lebih baik, cara
merebut Andra.
Anton segera menjauh dari Rose
dan bergabung dengan yang lain. Ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan
Rose.terkadang wanita itu bisa marah tanpa alasan yang jelas apabila
perasaannya sedang tidak bagus.
“Rey, apa kamu punya masukan
untuk hal ini? Ayolah, aku butuh ide cemerlang darimu.” Rose memang sangat
mengandalkan Rey, tapi saat ini sepertinya perasaan pria itu sedikit tidak bisa
tertebak.
“Aku akan memikirkannya untukmu,
Rose. Tapi bisakah hari ini kita tidak uah membahas masalah ini dulu? Aku ingin
hari ini kita santai. Pikiranku sedang tidak bersahabat untuk berpikir, aku
harap kamu bisa mengerti.” Rey mencoba
memberikan Rose pengertian, kondisi pikirannya memang sedang tidak bisa di ajak
untuk memikirkan sebuah ide.
“Baiklah, sepertinya aku tahu
sekarang. Pria di hadapanku ini sedang galau. Ayolah Rey, ini bukan kamu! Sejak
kapan seorang Rey menye-menye. Mana sikap garangmu itu. Ck!” Rose mengeluhkan
sikap Rey yang payah hari itu. Tapi, dia memang tidak bisa memaksa, apalagi
kalau sahhabatnya itu sudah bilang tidk, itu artinya tidak.
“Entahlah, Rose. Aku tidak bisa
berpikir saat ini. Eh, hari ini kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi
makan, anggap saja ini adalah perayaan
karena misi berhasil dengan baik, meskipun hasil akhirnya kurang memuaskan,”
Rey mencoba mencari alasan yang tepat agar Rose tidak menolak ajakannya.
“Baiklah, aku mau pergi makan
denganmu, tapi aku yang menentukan, di mana kita bisa makan.” Rose
menyunggingkan senyum manisnya, membuat Rey sedikit terbius.
“Ah, tentu saja Rose, kau adalah
nyonya di sini, bagaimana aku bisa menolak keinginanmu? “ Rey tersenyum lebar,
__ADS_1
ia sangat senang karena Rose tidak
menolak keinginannya untuk makan bersama.