Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 79


__ADS_3

"Sayang, aku minta maaf, aku harus pergi sebentar bertemu seseorang. Ada urusan pekerjaan yang harus aku urus. Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" Andre terpaksa harus menemui seorang rekan kerja di malam pengantinnya.


"Tidak masalah, Kak. Hati-hati. Aku menunggumu kembali," Sila menampilkan senyum manisnya.


Andre meninggalkan Sila. Wanita itu memandang keluar melalui jendela yang sengaja ia buka lebar. Udara lumayan dingin karena hari telah malam membuatnya sedikit kedinginan.


Kesunyian itu mengingatkan Sila pada Andra. Meskipun lelaki itu telah tiada, tetapi ia masih menyimpan rasa untuknya. Mengingat telah banyak hari ia lalui bersama Andra. Terlebih lagi ada kedua anak yang sangat mirip dengan ayahnya.


Berbagai macam rasa bergejolak di dalam jiwa Sila. Ada rasa sedih, senang, suka dan juga duka. Semua perasaan itu campur aduk mengoyak perasaannya. Ia telah melangkahkan kakinya memasuki gerbang pernikahan bersama Andre tetapi tidak bisa di pungkiri, ia juga masih dalam fase penyesuaian atas kematian Andra.


"Aku merasa telah cukup adil untuk mereka berdua sekarang. Aku telah membagi perasaanku untuk mereka. Meskipun sulit dan sedikit menyakitkan, tetapi perasaan ini juga bukan hanya aku yang rasakan. Baik Andre ataupun Andra, mereka berdua pernah merasakan sakit yang sama." celotehnya pelan seorang diri.


"Terjebak dalam lingkaran cinta segitiga bukanlah hal yang menyenangkan. Bagaimana selama ini aku berusaha untuk tidak menyakiti keduanya, akhirnya tetap sama, kami bertiga sama-sama sakit hati."


"Untuk itu, sekarang adalah saatnya aku membalas perasaan Andre, sebagai balasan atas perasaan cintanya padaku. Seperti mereka berdua yang mencintaiku, aku pun harus mengakui kalau aku juga mencintai mereka berdua. Kisah cinta ini begitu rumit, bahkan susah untuk di cerna. Aku juga tidak yakin dengan apa yang aku alami saat ini."


Sila merasa, apa yang ia lakukan saat ini memang sudah seharusnya. Ia telah di kutuk berada dalam lingkaran cinta segitiga. Wanita itu teringat pada mimpinya, bahwa akhirnya ia memang menjadi satu dengan Andre dalam ikatan pernikahan. Apakah memang Andre cinta sejatinya?


Sila melangkahkan kakinya keluar dari hotel. Ia ingin menghirup udara segar. Kisah hidup dan percintaan wanita itu begitu rumit, hingga terkadang sulit di pahami.


Ia tidak akan pernah lupa, seberapa besarnya perasaan Andra baginya. Cinta dan ketulusannya masih sangat terasa di hatinya. Tidak ada yang bisa seperti dia. Meskipun mereka kembar, Andra dan Andre adalah sosok yang berbeda.


Hanya saja, saat ini Sila tidak memiliki pilihan lain selain menikahi lelaki itu. Lagipula, ia juga ingin menjadikan ini sebagai balas budi dan pengobatan rasa sakit dan pengorbanan Andre untuknya.


Sila sampai di lobby hotel, ia terus melangkah keluar, membuka pintu yang terbuat dari kaca transparan lalu mengarahkan langkahnya pada taman mini yang terletak tidak terlalu jauh dari halaman hotel.

__ADS_1


Ia berdiri termangu. Memandangi lampu-lampu yang bersinar gemerlap di sana-sini. Beberapa kendaraan masih lalu-lalang. Sila tersenyum kecut, dalam kesunyian itu, kepahitan hidupnya datang menggoda.


Ia menangkap seseorang yang tengah berjalan menuju mobil. Dia adalah Affandi dan seorang wanita berambut panjang kurus terurai. Mereka seperti akan pergi ke suatu tempat.


"Fan!" Sila mencoba memanggil lelaki yang pernah menyukainya itu.


"Hei, Sila. Kamu ngapain disini?" Fandi mengajak pasangannya mendekat ke tempat Sila berdiri.


"Aku lagi iseng aja disini. Ini istri kamu?" Sila coba menebak. Affandi malah tertawa.


"Bukan. Ini adikku. Memangnya kamu nggak bisa lihat kemiripan di antara kami? " ujarnya, masih sambil tertawa.


"Jangan bohong deh, aku bisa lihat keromantisan kalian dari atas sini," Sila tetap yakin pada penglihatannya, yang ada di samping Fandi sekarang adalah istrinya. Wanita itu tidak mengklarifikasi apapun, hanya tersenyum saja.


"Kalian sedang bulan madu?" selidik Sila, mereka berdua saling pandang lalu tersenyum misterius.


"Bukan, kami hanya sedang menginap saja. Masa iya Sil, kita bulan madu di dalam kota?" Affandi tersenyum lebar karenanya.


"Memangnya kenapa? Sama aja kan? Kapan-kapan reunian yuk. Aku udah bicarakan juga sama Anita." Mendadak Sila kepikiran untuk mengadakan reuni bersama teman-teman sekolahnya. Terutama yang paling dekat.


"Boleh. Kontak aku saja. Aku akan usahakan hadir bersama istriku ini." Affandi menoel hidung Santi sebagai reaksinya yang gemas.


"Kayaknya bakalan sulit, nih buat pengantin baru. Nanti kapan pastinya, aku akan kabari segera. Nomormu masih sama kan?" Sila sedikit meledek.


"Masih dong, dari dulu aku tidak pernah ganti nomor. Aku kan setia," Kalimat Affandi membuat Sila tertawa kecil.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku mau pergi dulu, Sil. Awas ada penculik." Affandi meninggalkan Sila yang memandang mereka dengan rona bahagia. Ia ikut melihat kebahagiaan yang sedang menghampuri sahabatnya itu.


"Siapa yang mau culik emak-emak beranak dua," balasnya sambil tertawa kecil. Sila menggelengkan kepala, Affandi banyak berubah. Ia sangat ceria sekarang.


"Aku yang akan menculikmu. Ayo ikut aku sekarang." Andre yang tiba-tiba datang menarik tangan Sila perlahan.


"Kamu nggak jadi pergi, Kak?" Sila menatap heran ke arah Andre.


"Acaranya dibatalkan. Di undur jadi besok. Mau jalan-jalan sebentar?" Andre menawarkan diri untuk membawanya jalan-jalan.


"Kemana?" Sila penasaran, kemana Andre akan membawanya pergi.


"Jalan ke pusat perbelanjaan situ, mungkin kita bisa beli sesuatu atau makan sesuatu?" Andra menunjuk deretan supermarket yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Boleh juga. Ayo Kak," Sila menunjukkan antusiasnya untuk pergi bersama Andre. Lelaki itu lantas menggenggam tangan Sila dan membawanya berlalu dari tempat awal mereka bertemu.


Suasana malam yang sejuk dengan semilir angin yang berhembus membuat perjalanan mereka menyenangkan. Meski harus menembus kerumunan pengunjung yang lain.


Sampai detik ini, masih ada ruang hampa yang ada di hati Sila. Entah sampai kapan, ia pun tak tahu. Semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cinta adalah soal hati dan segala misterinya.


"Ini memang hal sederhana, tapi aku pernah memimpikannya, Sila. Hari ini, semuanya seperti mimpi. Aku tidak menyangka, bisa berdiri di sampingmu sebagai pasanganmu," perkataan Andre tidak begitu di hiraukan oleh Sila. Mata wanita itu memandang ke arah penjual kembang gula. Ia teringat saat itu Andra pernah membelikannya kembang gula.


Andre menyusuri arah mata Sila memandang. Ia mengerti, mungkin kembang gula itu mengingatkan Sila pada sesuatu.


"Kamu ingin makan kembang gula? Biar aku belikan." Andre pura-pura tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Sila. Pria itu paham, masih ada jejak adiknya di hati Sang Istri.

__ADS_1


__ADS_2