
Satu bulan kemudian...
Perlahan tapi pasti, Sila mulai membangun kembali kehidupannya dengan kedua anaknya. Di awal perjalanan hidupnya tanpa Andra memang sulit. Berulang kali ia rapuh, berulang kali pula, Sila mencoba untuk bangkit.
Seperti biasa, setelah menyempatkan bercengkrama.sebentar dengan Si Kembar, Sila bersiap untuk pergi ke kantor. Mengerjakan semua pekerjaan kantor seorang diri, karena ia menolak bantuan Andre. Mereka juga tinggal terpisah, tetapi tentu saja Andre sering datang untuk mengunjungi Allana dan Alandra.
"Kenapa perutku nggak enak ya? Padahal nggak makan aneh-aneh. Tapi kenapa mual..." Sila berkata lirih seorang diri sambil mengelus perutnya yang tidak enak.
Tanpa sengaja, ia melirik kalender jadwal haidnya dan seketika membuat Sila terpaku. Ia meraih kalender kecil itu dan menatapnya lekat-lekat. Ia tidak ingin salah melihat dan memastikan pandangannya benar.
"Aku telat datang bulan?"
"Jangan-jangan..."
Brak!
Sila melempar kalender itu kesembarang tempat. Ia ingat, masih menyimpan beberapa buah tes kehamilan di dalam laci. Ia mencari benda itu cepat dengan kepanikan. Saat menemukannya, Sila segera ke.kamar mandi untuk.melakukan pengetesan.
Sila.tidak mempunyai keberanian untuk melihat hasil tes itu. Kalau sampai positif, itu artinya ia mengandung anak Andre. Ia sangat cemas hingga jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Tangannya bergetar saat membalik alat tes untuk melihat hasilnya dan seperti perkiraannya, tanda ples yang berwarna merah. Seketika Sila syok, alat itu pun jatuh kr lantai begitu saja.
"Aku hamil?" Sila bertanya pada dirinya sendiri. Ia tidak percaya kenyataan yang ia alami saat ini. Dirinya tengah mengandung darah daging Andre karena kesalahan yang di buatnya.
Ia terhuyung-huyung dan meraih apapun yang bisa ia raih untuk pegangan. Kenyataan ini sangat memukul.perasaannya.
"Aku tidak bisa hidup seperti ini. Aku mengandung anak orang lain yang bukan suamiku. Semua salahku. Semua ini terjadi karena kesalahanku." Sila keluar dari kamarnya dan turun dengan cepat. Ia meminta supirnya untuk mengantarkannya ke kantor.
__ADS_1
Minah yang berniat membersihkan kamar Sila merasa sedikit heran dengan sikap majikannya yang menganggapnya seperti tak terlihat. Biasanya, Sila selalu menyapanya dengan ramah.
Ia kemudian mengabaikan dan menganggap Sila sedang buru-buru. Dengan santai, asisten rumah tangga itu tetap naik ke kamar, dimana Sila biasa beristirahat.
Tiga puluh menit kemudian...
Seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor, Andre selalu ke rumah Sila terlebih dahulu untuk menengok kedua anaknya, Allana dan Alandra. Andre telah menganggap mereka berdua anak sejak lama.
"Selamat pagi, Tuan." Minah yang sedang menyapu lantai menyapa Andre yang baru saja datang.
"Selamat pagi. Sila sudah pergi, Bi?" Setiap datang, Andre selalu menanyakan Sila, apakah dia baik-baik saja, sudah sarapan, dan banyak lagi pertanyaan remeh lainnya yang merupakan bentuk keperduliannya pada Sila.
"Nyonya sudah berangkat dari pagi. Sepertinya akan ke dokter kandungan terlebih dahulu, Tuan." jawab minah dengan sopan.
Mereka memang tetap bersandiwara sebagai suami istri di hadapan semuanya. Ada banyak pertimbangan yang mereka pertimbangkan untuk melakukan ini.
"Saya pikir, Tuan sudah tahu. Tadi, saya menemukan tes kehamilan Nyonya di kamar mandi." Minah bercerita dengan penuh antusias.
"Kalau begitu, saya harus menyusul Sila sekarang. Tolong bantu awasi anak-anak ya, Bi." Andre berbalik arah. Ia tidak jadi masuk ke dalam rumah Sila dan memilih kembali ke mobilnya.
Pikiran Andre tidak tenang. Ia senang, karena Sila mengandung anaknya, tapi, ia juga sedih. Wanita itu tidak akan bahagia menerima kenyataan ini. Bahkan, bisa saja ia berniat mengakhiri hidupnya.
Saat ini, Sila.pasti sedang ada di kantornya dengan tidak tenang. Entah apa yang akan di lakukan oleh wanita itu selanjutnya, Andre tidak tahu. Saat ini, yang pria itu ingin lakukan adalah, meminta Sila agar menjaga kandungannya. Ia akan bertanggung jawab.
Sesampainya di kantor Sila, keadaan di sana sedang kacau. Karyawan tengah berteriak-teriak sambil.memandang ke atap gedung. Tatapan Andra langsung tertuju ke sana dan mendapati Sila yang siap terjun.
__ADS_1
Andre segera berlari masuk ke dalam kantor dan menyusul Sila. Sekuat tenaga ia berlari bahkan nekat melewati tangga darurat. Ia ingin segera sampai dan berharap dapat menyelamatkan dua jiwa yang ia sayangi.
Berkali-kali lelaki itu terjatuh, ia selalu berusaha bangkit. Nafasnya yang tidak beraturan dan keringat yang bercucuran ia abaikan. Dia terus berusaha sekuat tenaga agar segera sampai di tempat dimana Sila berada saat ini.
Sesampainya di atap, Andre bersimpuh di belakang Sila. Ia berusaha tetap kuat dengan kekuatannya yang masih tersisa. Ia harus berhasil meminta wanita itu untuk mempertahankan hidupnya.
"Sila, aku mohon jangan lakukan itu." Andre mulai berinteraksi dengan Sila perlahan.
"Kenapa Kak? Aku melakukan kesalahan besar hingga semua ini terjadi. Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak sanggup menahan beban ini. Aku sudah menodai pernikahanku sendiri." ujar Sila parau. Suaranya terputus-putus karena isak tangisnya yang menjadi.
"Sila, aku mohon. Maaf jika aku egois, tapi tolong... selamatkan bayiku. Aku ingin anak itu lahir, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu. Aku janji, aku tidak akan pernah mengungkit siapa yang salah. Anggap aku yang salah, aku yang menodaimu. Bencilah aku, tapi jangan dia. Aku mohon selamatkan bayiku, jaga dia sampai lahir. Tolong..." Andre memohon dengan sangat, sampai dahinya menyentuh atap gedung seperti orang yang sedang bersujud. Ia sangat berharap, Sila mau mempertimbangkan permintaannya.
"Maaf Kak, aku tidak bisa mempertimbangkannya. Aku akan tetap memilih mengakhiri semuanya. Biarkan aku dan anak ini pergi dengan tenang," Sila tetap bersikeras untuk mengakhiti hidupnya. Membuat Andre semakin trenyuh. Ia tidak bisa kehilangan keduanya. Mereka sama-sama penting untuk hidupnya, sementara keduanya todak terpisahkan.
"Kalau kamu mau mengakhiri hidupmu dan juga calon anakku, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kita bertiga mati bersama. Bagaimana? Kamu setuju?" Andre tidak tahu harus berkata apalagi untuk menghalangi Sila.
Batin Sila tersentak. Ia merasa Andre tidak pernah berubah, sejak awal.mereka berdua saling mengenal, lelaki itu telah banyak berbuat baik padanya. Sila mengurungkan niatnya, ia mundur beberapa langkah. Ia terduduk di sana dan menangis tersedu menyesali hidupnya.
Andre mendekat perlahan, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Di kecupnya berulang ubun-ubun Sila. Air mata bahagia lelaki itu tertumpah begitu saja.
"Maafkan aku, Sila. Aku membuatmu berada dalam situasi serumit ini. Aku mencintaimu bahkan sebelum kau menyadarinya hingga saat ini tidak pernah berubah. Aku akan menjagamu sebaik mungkin. Menikahlah denganku." Andre mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam. Hari ini, ia akan meyakinkan Sila untuk menikah dengannya.
"Baiklah. Untuk anak ini, aku mau.menikah denganmu, Kak. Tapi setelah dia lahir, aku mau kakak membawanya pergi dari hidupku." Kata-kata Sila menampar Andre seketika. Tetapi, tidak ada pilihan lain selain menyetujui kesepakatan itu. Setidaknya, ia bisa menyelamatkan keduanya.
"Baiklah. Aku terima persyaratan darimu,"
__ADS_1