Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 50


__ADS_3

“Pagi, Mas... ayo sarapan, “ Sila


yang sedang mengoleskan selai kacang di atas roti tawarnya langsung menyapa


suaminya yang berjalan lesu ke arah meja makan tempatnya berada.


“Pagi, Sayang. Maaf, aku telat


bangun. Mungkin karena semalam aku terlalu nyaman tidurnya. Untung hari ini libur,


jadi aku nggak perlu ke kantor.” Andra menarik kursi dan bergabung. Sila segera


menyodorkan piring berisi roti dan segelas susu hangat.


“Karena hari ini libur, sesuai


dengan rencana kita, bagaimana kalau kita berangkat ke Villa hari ini? Aku


sudah bilang sama mbak untuk jaga penuh anak-anak karena mungkin kita akan


menginap beberapa hari di sana,” Sila telah memikirkan semuanya matang-matang.


Bahkan ia sudah mempersiapkan semua yang akan mereka bawa ke Villa.


“Baiklah, aku ikut apa katamu


saja, Sayang.”Andra tampak pasrah. Tidak ada penolakan yang dia lakukan. Sekali


lagi, Andra hanya tidak ingin mengecewakan Sila. Ia telah banyak membuat hati


Sila terluka.


“Terima kasih, Mas. Sudah mau


menuruti keinginanku. Semoga setelah kita pergi ke sana, semuanya jadi lebih


baik. Saat di sana nanti,  kita lupakan


pekerjaan atau apapun. Di sana nanti kita bahas, apa yang mengganggu pikiran,


Mas. Kita saling terbuka saja,” Sila meneruskan sarapannya. Itulah tujuan


utamanya mengajak Andra ke sana.


“ya, aku usahakan, aku juga ingin


segera menyelesaikan semuanya. “ memang semua bukan hanya Sila yang terbebani,


tentu saja, semuanya sangat menganggu pikiran Andra.


“Nyonya sama Tuan mau pergi?” Minah


yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan tanpa sengaja mendengar


pembicaraan mereka.


“Iya, Minah. Kami mau pergi,


untuk beberapa hari ke depan. Anggap saja ini bulan madu kami yang selalu


tertunda,”ujar Sila dengan sangat santai. Sementara Andra justru tersedak


mendengar pernyataan dari Sila.


“Mas, kamu kenapa? Makanya kalau


makan pelan-pelan. Ini, minum air putih dulu,” Sila segera memberi Andra


segelas air putih. Pria itu segera menerimanya dan meneguk beberapa kali.


Pada kenyataannya, sejak awal


menikah, mereka memang selalu gagal saat merencanakan bulan madu.  Bahkan sampai sekarang, usia pernikahan mereka


hampir  berjalan lima tahun, acara bulan


madu itu hanya menjadi wacana belaka.


‘Sepertinya aku terlalu


terburu-buru. Maaf,”  Andra melanjutkan

__ADS_1


makannya, tanpa komentar apapun.


“Kalau begitu, selamat, Nyonya.


Semoga acara bulan madunya lancar,” Minah turut mendo’akan agarkepergian mereka


menambah harmonis rumah tangga keduanya.


“Amin, terima kasih do’anya


Minah. Saya juga ingin masalah ini segera berakhir. Tidak ada lagi salah paham


di antara kami berdua. Bagaimanapun, hal kecil bisa membuat hubungan kami jadi


berbeda.”   Hal itu yang kini sedang


menghantui perasaan Sila. Ia merasa hubungannya dengan Andra sedang tidak dalam


keadaan baik.


“Minah, bisa tolong buatkan aku


telur mata sapi setengah matang?” permintaan Andra membuat Sila terkejut.


“Bisa Tuan, sebentar saya


buatkan,” Minah segera ke dapur untuk membuatkan telur mata sapi untuk Andra.


“Mas sejak kapan suka telur mata


sapi? Bukannya kamu nggak suka, ya?”  Sila teringat saat dia hamil dulu, Andra bilang dia tidak suka telur mat


sapi, dan sekarang, mendadak ia mau makan telur mata sapi.


“Aku di sana sering makan telur


sama kakak, jadi aku sepertinya mulai menyukai telur mata sapi, Sayang. Apa aku


tidak boleh mulai menyukainya?” Andra berusaha sesantai mungkin melempar


pertanyaan pada Sila.  Memang tidak ada


“Boleh, sangat boleh, Mas. Aku


malah seneng banget kalau akhirnya kamu menyukai telur mata sapi,  Minah, aku juga mau satu,” Sila juga memesan


menu yang sama dengan yang di pesan oleh Andra.


“Mas, setelah sarapan, kita


segera berangkat ke Villa.  Supaya kita


tidak terlalu sore sampai di sana,”  usul


Sila, ia memang ingin segera berangkat ke Villa agar tidak terlalu sore dan


sempat pergi ke air terjun.


“Siap, bos bawel. Kita akan


segera berangkat setelah ini, mandi dulu tapi,” Andra tertawa kecil,  ia merasa terheran, karena terlalu semangat,


Sila sampai lupa kalau dirinya belum mandi.


“Aku lupa, Mas, kalau aku belum mandi,  makasih sudah mengingatkan,” Sila


menjadi  sedikit tersipu . sikap Andra


yang renyah mengingatkannya pada sosok Andre. Tapi itu tak jadi masalah, ia


senang dengan perubahan-perubahan positif yang terjadi pada Andra.


Mereka segera menyelesaikan sarapan,


lalu mempersiapkan diri untuk keberangkatan mereka. Keduanya memakai baju


santai. Tanpa segaja warn baju mereka sama, kemeja putih dan di padukan dengan


celana jeans warna hitam.  Sebelum mereka


pergi, keduanya menemui Si Kembar terlebih dahulu di kamarnya.

__ADS_1


Mereka berdua menuruni tangga


setelah puas bercengkrama dengan si kecil.  Andra menenteng koper yang berisi pakaian yang akan mereka gunakan


selama beberapa hari di Villa. Awalnya Andra berjalan terlebih dahulu, hingga


Sila menyadari itu lalu mengejar dan merangkul lengan pria  itu. Andra sempat  melambatkan langkahnya dan melirik Sila


beberapa saat, namun itu tidak berlangsung lama, mereka melanjutkan langkah


mereka hingga ke mobil.


Sila yang telah biasa di manjakan


oleh Andra, tidak bisa untuk bersikap biasa saja, ia selalu ingin berada di


sisi lelaki itu di setiap kesempatan. Begitulah cinta, saat kita telah


menemukan seseorang yang cocok, ibarat kata, kita menyandarkan seluruh keluh


kesah yang ada padanya dan hanya bersamanya, semuanya terasa begitu nyaman.


Sila tidak tahu, berapa lama lagi


ia bisa mendmpingi Andra, yang dia iginkan adalah menjaga keharmonisan mereka


berdua. Sila ingin menjalai kisah cintanya dengan Andra sebaik-baiknya di sisa


waktu yang dia punya. Apa yang telah terjadi di masalalu, Sila sudah


melupakannya. Ia ingin mengukir krnangan yang baru, di lembar yang baru.


Kisah cinta memang tidak selalu


menyenangkan. Tidak selamanya sesuai dengan apa yag di inginkan. Adakalanya


cinta hinggap di hati yang salah, hingga menimbulkan patah hati, tapi ada


kalanya pula,  cinta menyatukan dua hati


yang saling memahami satu sama lain. Hingga sebuah kisah manis pun terukir.


Ketika kisah cinta berujung  pahit, itu bukanlah akhir, karena setiap


kepahitan, ada rasa manis yang menanti. Tetap jalani dan nikmati, suatu hari,


kepahitan itu akan hilang berangsur dan berganti dengan rasa manis yang tak


terduga.


“Mas...”


“Yaa...”


“Bolehkah aku hanya mencintaimu


saja seumur hidupku?”  Sila tahu ini


adalah pertanyaan bodoh, tapi ia sungguh ingin tahu, apa jawaban Andra.


“Tidak, aku tidak mengizinkanmu


hanya mencintaiku. Ketika aku sudah tiada, kamu harus menemukan hati yang baru,


yang bisa menjaga kamu, aku tidak ingin kamu kesepian,”


“Kalau aku tidak mau?”


“Aku tidak akan pernah tenang di


sana,” jawab Andra asal.


“Tapi, kemungkinan, aku akan


sulit untuk jatuh cinta lagi setelah ini,”  tentu saja, Sila hanya bisa jujur, bahwa


kenyataannya, mungkin ia akan susah untuk jatuh cinta lagi karena ia bukan tipe


wanita yang seperti itu. Jika memang ia berniat melupakan Andra, dalam waktu


tiga tahun, ia tidak akan mungkin tetap setia menantinya kembali.

__ADS_1


__ADS_2