
“Pagi, Mas... ayo sarapan, “ Sila
yang sedang mengoleskan selai kacang di atas roti tawarnya langsung menyapa
suaminya yang berjalan lesu ke arah meja makan tempatnya berada.
“Pagi, Sayang. Maaf, aku telat
bangun. Mungkin karena semalam aku terlalu nyaman tidurnya. Untung hari ini libur,
jadi aku nggak perlu ke kantor.” Andra menarik kursi dan bergabung. Sila segera
menyodorkan piring berisi roti dan segelas susu hangat.
“Karena hari ini libur, sesuai
dengan rencana kita, bagaimana kalau kita berangkat ke Villa hari ini? Aku
sudah bilang sama mbak untuk jaga penuh anak-anak karena mungkin kita akan
menginap beberapa hari di sana,” Sila telah memikirkan semuanya matang-matang.
Bahkan ia sudah mempersiapkan semua yang akan mereka bawa ke Villa.
“Baiklah, aku ikut apa katamu
saja, Sayang.”Andra tampak pasrah. Tidak ada penolakan yang dia lakukan. Sekali
lagi, Andra hanya tidak ingin mengecewakan Sila. Ia telah banyak membuat hati
Sila terluka.
“Terima kasih, Mas. Sudah mau
menuruti keinginanku. Semoga setelah kita pergi ke sana, semuanya jadi lebih
baik. Saat di sana nanti, kita lupakan
pekerjaan atau apapun. Di sana nanti kita bahas, apa yang mengganggu pikiran,
Mas. Kita saling terbuka saja,” Sila meneruskan sarapannya. Itulah tujuan
utamanya mengajak Andra ke sana.
“ya, aku usahakan, aku juga ingin
segera menyelesaikan semuanya. “ memang semua bukan hanya Sila yang terbebani,
tentu saja, semuanya sangat menganggu pikiran Andra.
“Nyonya sama Tuan mau pergi?” Minah
yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan tanpa sengaja mendengar
pembicaraan mereka.
“Iya, Minah. Kami mau pergi,
untuk beberapa hari ke depan. Anggap saja ini bulan madu kami yang selalu
tertunda,”ujar Sila dengan sangat santai. Sementara Andra justru tersedak
mendengar pernyataan dari Sila.
“Mas, kamu kenapa? Makanya kalau
makan pelan-pelan. Ini, minum air putih dulu,” Sila segera memberi Andra
segelas air putih. Pria itu segera menerimanya dan meneguk beberapa kali.
Pada kenyataannya, sejak awal
menikah, mereka memang selalu gagal saat merencanakan bulan madu. Bahkan sampai sekarang, usia pernikahan mereka
hampir berjalan lima tahun, acara bulan
madu itu hanya menjadi wacana belaka.
‘Sepertinya aku terlalu
terburu-buru. Maaf,” Andra melanjutkan
__ADS_1
makannya, tanpa komentar apapun.
“Kalau begitu, selamat, Nyonya.
Semoga acara bulan madunya lancar,” Minah turut mendo’akan agarkepergian mereka
menambah harmonis rumah tangga keduanya.
“Amin, terima kasih do’anya
Minah. Saya juga ingin masalah ini segera berakhir. Tidak ada lagi salah paham
di antara kami berdua. Bagaimanapun, hal kecil bisa membuat hubungan kami jadi
berbeda.” Hal itu yang kini sedang
menghantui perasaan Sila. Ia merasa hubungannya dengan Andra sedang tidak dalam
keadaan baik.
“Minah, bisa tolong buatkan aku
telur mata sapi setengah matang?” permintaan Andra membuat Sila terkejut.
“Bisa Tuan, sebentar saya
buatkan,” Minah segera ke dapur untuk membuatkan telur mata sapi untuk Andra.
“Mas sejak kapan suka telur mata
sapi? Bukannya kamu nggak suka, ya?” Sila teringat saat dia hamil dulu, Andra bilang dia tidak suka telur mat
sapi, dan sekarang, mendadak ia mau makan telur mata sapi.
“Aku di sana sering makan telur
sama kakak, jadi aku sepertinya mulai menyukai telur mata sapi, Sayang. Apa aku
tidak boleh mulai menyukainya?” Andra berusaha sesantai mungkin melempar
pertanyaan pada Sila. Memang tidak ada
“Boleh, sangat boleh, Mas. Aku
malah seneng banget kalau akhirnya kamu menyukai telur mata sapi, Minah, aku juga mau satu,” Sila juga memesan
menu yang sama dengan yang di pesan oleh Andra.
“Mas, setelah sarapan, kita
segera berangkat ke Villa. Supaya kita
tidak terlalu sore sampai di sana,” usul
Sila, ia memang ingin segera berangkat ke Villa agar tidak terlalu sore dan
sempat pergi ke air terjun.
“Siap, bos bawel. Kita akan
segera berangkat setelah ini, mandi dulu tapi,” Andra tertawa kecil, ia merasa terheran, karena terlalu semangat,
Sila sampai lupa kalau dirinya belum mandi.
“Aku lupa, Mas, kalau aku belum mandi, makasih sudah mengingatkan,” Sila
menjadi sedikit tersipu . sikap Andra
yang renyah mengingatkannya pada sosok Andre. Tapi itu tak jadi masalah, ia
senang dengan perubahan-perubahan positif yang terjadi pada Andra.
Mereka segera menyelesaikan sarapan,
lalu mempersiapkan diri untuk keberangkatan mereka. Keduanya memakai baju
santai. Tanpa segaja warn baju mereka sama, kemeja putih dan di padukan dengan
celana jeans warna hitam. Sebelum mereka
pergi, keduanya menemui Si Kembar terlebih dahulu di kamarnya.
__ADS_1
Mereka berdua menuruni tangga
setelah puas bercengkrama dengan si kecil. Andra menenteng koper yang berisi pakaian yang akan mereka gunakan
selama beberapa hari di Villa. Awalnya Andra berjalan terlebih dahulu, hingga
Sila menyadari itu lalu mengejar dan merangkul lengan pria itu. Andra sempat melambatkan langkahnya dan melirik Sila
beberapa saat, namun itu tidak berlangsung lama, mereka melanjutkan langkah
mereka hingga ke mobil.
Sila yang telah biasa di manjakan
oleh Andra, tidak bisa untuk bersikap biasa saja, ia selalu ingin berada di
sisi lelaki itu di setiap kesempatan. Begitulah cinta, saat kita telah
menemukan seseorang yang cocok, ibarat kata, kita menyandarkan seluruh keluh
kesah yang ada padanya dan hanya bersamanya, semuanya terasa begitu nyaman.
Sila tidak tahu, berapa lama lagi
ia bisa mendmpingi Andra, yang dia iginkan adalah menjaga keharmonisan mereka
berdua. Sila ingin menjalai kisah cintanya dengan Andra sebaik-baiknya di sisa
waktu yang dia punya. Apa yang telah terjadi di masalalu, Sila sudah
melupakannya. Ia ingin mengukir krnangan yang baru, di lembar yang baru.
Kisah cinta memang tidak selalu
menyenangkan. Tidak selamanya sesuai dengan apa yag di inginkan. Adakalanya
cinta hinggap di hati yang salah, hingga menimbulkan patah hati, tapi ada
kalanya pula, cinta menyatukan dua hati
yang saling memahami satu sama lain. Hingga sebuah kisah manis pun terukir.
Ketika kisah cinta berujung pahit, itu bukanlah akhir, karena setiap
kepahitan, ada rasa manis yang menanti. Tetap jalani dan nikmati, suatu hari,
kepahitan itu akan hilang berangsur dan berganti dengan rasa manis yang tak
terduga.
“Mas...”
“Yaa...”
“Bolehkah aku hanya mencintaimu
saja seumur hidupku?” Sila tahu ini
adalah pertanyaan bodoh, tapi ia sungguh ingin tahu, apa jawaban Andra.
“Tidak, aku tidak mengizinkanmu
hanya mencintaiku. Ketika aku sudah tiada, kamu harus menemukan hati yang baru,
yang bisa menjaga kamu, aku tidak ingin kamu kesepian,”
“Kalau aku tidak mau?”
“Aku tidak akan pernah tenang di
sana,” jawab Andra asal.
“Tapi, kemungkinan, aku akan
sulit untuk jatuh cinta lagi setelah ini,” tentu saja, Sila hanya bisa jujur, bahwa
kenyataannya, mungkin ia akan susah untuk jatuh cinta lagi karena ia bukan tipe
wanita yang seperti itu. Jika memang ia berniat melupakan Andra, dalam waktu
tiga tahun, ia tidak akan mungkin tetap setia menantinya kembali.
__ADS_1