
Pagi yang cerah di hari libur, Sila tengah sibuk di dapur. Hari itu, ia ingin memasak sop ayam. Minah yang menawarkan bantuan di tolaknya dengan halus. Dia ingin merasakan makan masakannya sendiri.
"Terima kasih bantuannya, Minah. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Kalau aku butuh bantuan, aku akan memintanya padamu." Begitu jawaban Sila atas pernyataan Minah.
"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu, saya akan menyapu halaman terlebih dahulu,"
Minah meninggalkan Sila setelah wanita itu memberikan senyum dan anggukan sebagai tanda ia setuju. Di hari libur seperti ini, Sila merasa memiliki waktu luang untuk.sekedar memasak untuk dia dan anak-anak.
Allana dan alandra tengah bermain di taman bersama pengasuhnya. Kedua anaknya yang telah balita itu sekarang sangat aktif. Tingkahnya yang lucu, membuat kepenatan Sila hilang ketika pulang dari kantornya.
Mereka berdua menjadi semangat dan motivasi sila, apalagi wajah Allana yang mirip sekali dengan ayahnya. Ketika Sila menitikkan air mata di hadapan mereka, Alandra dengan polosnya memberinya sebuah tisu yang justru tidak membuat air matanya berhenti.
Sila yakin, ketika telah dewasa, Allana dan Alandra akan menjadi putra dan putri kebanggaannya. Bagaimana dengan adik mereka yang ada di perutnya? Sila tidak bisa memastikan ia sanggup untuk merawatnya.
Jika bukan karena permohonan Andre, ia dan bayi yang ada di dalam kandungannya mungkin telah hilang dari dunia ini. Sekali lagi, Andre menjadi malaikat dalam hidupnya.
"Nyonya...!"Minah tiba-tiba mengagetkan Sila. Pandangan wanita itu langsung tertuju padanya.
Minah membawa seikat bunga yang di rangkai begitu indah di dalam dekapannya. Juga sebuah kotak berwarna biru muda dengan pita biru tua di atasnya.
"Dari siapa, Minah?" Sila mematikan kompor dan menyongsong kedatangan minah.
"Dari seseorang yang menyayangimu, begitu kalimat yang tertulis di kartu ucapannya, Nyonya." Minah membaca kertas ucapan di bunga itu dengan sangat teliti. Sila hanya tersenyum sambil menerima bunga dan kado itu.
Ia sangat yakin itu pemberian Andre. Ada-ada saja tingkah lelaki itu untuk menyenangkan hatinya. Meskipun usahanya bagus, tetapi untuk saat ini Sila belum bisa membuka hatinya untuk lelaki itu.
"Terima kasih, Minah. Saya akan membawa bunga dan kado ini ke kamar, sopnya tolong di angkat,"
Selesai mengatakan itu, Sila melangkah pergi. Ia menuju kamar untuk melihat kado yang di berikan oleh Andre. Tidak tahu kenapa, Sila sangat antusias dengan sebuah kado.
__ADS_1
Sila membuka perlahan kotak itu, isinya sebuah baju. Ternyata baju hamil, bermotif bunga dengan warna merah maroon. Andre selalu saja memberikan barang-barang warna merah sejak dulu, saat ia masih remaja.
Maaf Sila, mungkin tidak sesuai dengan seleramu, tapi semoga kamu menyukainya. Jadilah bunda terbaik untuk anakku.
Tulis lelaki itu pada secarik kertas. Sila hanya tersenyum dan memandang baju itu dengan teliti. Ia bersyukur masih ada yang perduli padanya, meskipun itu semua hanya karena anak yang saat ini ada di dalam kandungannya.
"Maaf, Kak. Untuk saat ini, Kakak harus kuat hati dan perasaan, karena aku tidak bisa menjadi yang seperti Kakak inginkan. Aku belum bisa menerimamu. Semua ini terasa sangat mengejutkan. Aku bahkan masih perlu menampar diriku sendiri untuk menyadari hal ini nyata. Aku tidak percaya, harus menikahi kakak iparku sekarang."
Sila menujukan kalimat itu pada dirinya sendiri. Ia tidak tentu saja masih butuh banyak waktu untuk dapat menerima Andre sebagai suaminya. Meskipun wajah mereka sama, tapi tentu saja perlakuan mereka beda. Andre lebih perhatian, tapi Andra juga sudah cukup baik bagi Sila.
Ia melangkah ke kamar anak-anak. Melihat Allana dan Alandra yang sedang bermain puzzle khusus anak-anak. Rupanya kedua anak itu telah di mandika oleh pengasuhnya. Sila mendekati mereka berdua.
"Anak-anak bunda lagi main apa?" Sapa Sila pada kedua anaknya.
"Main ini bunda," Sahut Allana sambil menunjukkan potongan puzzle pada Sila.
"Boleh, ayo kita main..." Sila mengikuti ajakan Alandra.
"Main masak-masak, Bunda..." Rengek Allana. Anak-anak memang suka saling cemburu kalau ada bundanya di sekitar mereka.
"Sini-sini, kita main bareng ya, Nak."
Supaya adil, Sila meminta Allana mendekat agar bisa sama-sama bermain bersamanya.
"Ayah mana?" Pertanyaan Alandra membuat Sila diam. Bocah polos itu tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal dan menganggap Andre sebagai ayahnya.
"Ayah kerja, Nak. Cari apa?" Sila tetap berusaha tegar di depan mereka. Saat ini, meski di beritahu, mereka tidak akan paham tentang apa yang terjadi.
"Uang," sahut Alandra polos.
__ADS_1
"Kalau ayah punya uang, buat apa?" tanya Sila lagi.
"Beli jajan," sahut Allana malu-malu.
"Anak-anak bunda pinter. Kita do'akan ayah, biar kerjaan ayah lancar ya, Nak. Biar nanti, bisa beliin Allana sama Alandra mainan yang banyak," Sila mengelus kepala kedua bocah itu.
Sila hanya bisa menampakkan senyuman di depan anak-anaknya dan memilih mengubur dalam kesedihan di hatinya. Suatu saat, mereka akan paham yang sebenarnya sedang terjadi di antara mereka, siapa Andre dan di mana ayah mereka yang sesungguhnya.
Sila menyempatkan waktunya beberapa saat untuk menemani anak-aanaknya bermain. Selain hari libur, tidak akan tercipta keromantisan aeperti sekarang ini.
"Permisi, Nyonya. Ada Nyonya besar di bawah, ingin bertemu dengan Nyonya," Minah datang ke kamar anak-anak untuk memberitahukan kedatangan mama mertuanya.
Minah segera turun di ikuti oleh Sila. Mamanya telah menunggu di ruang tamu. Penampilan perempuan itu selalu anggun, hingga kecantikannya tidak kikis termakan usia, meskipun Sila telah mengenalnya belasan tahun.
Mereka berdua saling peluk. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya merwka di pertemukan kembali. Sila paham, kedatangan mamanya pasti untuk membahas tentang pernikahannya dengan Andre.
"Sayang, kamu apa kabar?"
"Sehat, Ma. Tumben mama kemari. Maaf ya, Ma. Sila jarang berkunjung ke rumah Mama." Sila mengungkapkan penyesalannya.
"Tidak apa-apa, Sila. Mama tahu, kamu sangat sibuk. Mama tidak menyalahkan kamu. Kandunganmu sehat, Nak?"
Tebakan Sila benar, mamanya telah tahu semua masalah yang terjadi. Antara dia, Andre dan juga Andra.
"Sehat, Ma. Do'akan selamat sampai lahir. Mama sudah tahu semuanya?" tanya Sila memastikan.
"Ya. Mama sudah tahu semuanya. Andre sudah mengakui semua kesalahannya pada Mama dan Papa. Papamu sampai kalap dan memukuli Andre. Dia hanya diam dan tidak melawan." tanpa sadar, mamanya menceritakan perjuangan Andre untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
"Tapi Andre tidak cerita apapun, Ma. Pantesan, aku sempat melihat wajahnya lebam. Katanya ia ikut latihan tinju. Jadi sebenarnya Kakak di pukul Papa?"Sila mencoba mengorek keterangan dari mamanya. Wanita itu jadi merasa sedikit iba.
__ADS_1