Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Flashback 4 Chapter Sweet memories Of Perfect Husband


__ADS_3

63. Sila dan Kemanjaan


Aku sudah tidak sabar untuk menemui Andra. Rasa rindu ini sudah meletup-letup seperti kawah merapi. Hujanpun mungkin tidak akan menyegarkan hatiku yang gersang. Membayangkan wajah tampan dan senyumannya membuatku melambung dalam khayalan. Mungkin aku telah jatuh cinta untuk kedua kali padanya. Dan cinta ini lebih besar sekarang. Bahkan, sentuhannya, cara bicaranya, semua tentang dia terbayang jelas di pelupuk mataku.


"Pak, tolong agak ngebut ya, ke alamat yang saya sebutkan tadi," Perintahku pada supir taksi yang ku tumpangi. Aneh, aku merindukan Andra sampai seperti ini. Seperti sebulan tidak bertemu.


Sesampainya di kantor, aku melangkah cepat ke arah lift khusus ke ruangan Andra. Aku tidak perduli dengan komentar karyawan yang melihatku tergesa-gesa. Terpenting, aku segera bertemu Suamiku.


Melihat nomor lift pun seperti tidak berjalan, aku lesu dan kesal sendiri. Walaupun sebenarnya nggaknada yang berbeda dengan hari sbelumnya. Hanya saja perasaanku yang berbeda. Rasa rindu ini berlebihan dan sangat menggila.


"Sayang...!" Aku memanggil Andra dengan suara lantang. Berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang. Aku menjadikan bahunya sebagai topangan kepalaku.


"Cup" Aku mengecup sekilas pipi suamiku yang lembut.


"Mas, aku kangen banget tau sama kamu, sampai aku ngerasa perjalaman kesini jauh banget, loh." Celotehku. Andra tersenyum sambil menumpuk map yang ada di hadapannya, tanda ia ingin konsentrasi bicara denganku.


"Kamu memang manja, sayang. Hari ini beda, sikap manjamu itu berlebihan, sampai seperti bukan kamu. Tapi mas malah seneng banget kamu manja gini," Andra menarikku kepangkuannya, melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Syukur deh, kalau mas nggak ngerasa terganggu. Bukannya bantuin kerja, malah ganggu gini. Tapi memang pengennya deket mas terus," Aku menegakkan posisi dudukku. Memiringkan badanku sedikit agar aku bisa menikmati pemandangan wajah tampan suamiku ini.


"Kalau seperti ini, mas jadi pengen cepet-cepet pulang. Mas makin sayang sama kamu, jangan pernah tinggalin mas, ya." Andra mengelus pipi dan bibirku sekilas. Perlakuannya ku balas dengan menggigit bibirnya pelan dan sekilas karena gemas.


"Auh, sakit Sila..." Keluhnya, aku hanya tertawa.


"Dih, kenapa gitu pengen cepet pulang?" Aku menggodanya dan pura-pura tidak tahu apa yang dia inginkan.


"Pengen itu..." Andra memberiku kode. Bukan kode morse ya, kalau itu sih saat kita pramuka.


"Itu apa? Hayooo..." Aku meledek Andra, ia tersipu malu.


"Nanti, tunggu di rumah, aku langsung minta jatahku," ia menyeringai. huh, aku jadi makin gemas sama dia.


"Mas, diem dulu sebentar..." Pintaku padanya.


"Ada apa?" Andra tampak penasaran. Lalu mengikuti instruksiku untuk diam. Aku segera memanfaatkan kesempatan ini untuk ******* bibirnya yang merah alami itu. Aku tidak perduli apa pendapatnya tentangku hari ini.


Sampai beberapa menit aku tidak melepaskan *******ku. Tentu saja dia membalas perlakuanku dengan penuh *****. Sampai akhirnya aku puas melakukannya. kulepaskan *******ku perlahan.


"Sayang, kamu benar-benar nakal," Bisik Andra. Aku bisa merasakan miliknya terbangun di bawah sana. Mungkin nanti sampai di rumah, dia akan membalas kejahilanku ini.


"Maaf, mas. aku kelepasan. Habisnya kamu gemesin. imut, ganteng, huh! Sepertinya aku menggilaimu, mas," Aku salah tingkah sendiri di hadapannya. Sejak kami menikah hampir satu tahun, aku baru sekali ini bertindak agresif padanya.


"Bisa aja, istriku, pulang yuk.." Ajaknya tiba-tiba. Aku melirik kerjaannya yang masih menumpuk. pasti karena kelakuan nakalku, Andra jadi ingin pulang. Aku seketika jadi merasa bersalah.


"Aku lihat kerjaan mas masih numpuk, pulangnya nanti aja. Gimana kalai aku bantuin mas ngerjain semuanya? Aku nggak akan nakal lagi, kok." Aku mencoba bernegoisasi. Semoga Andra mau menunda niatnya untuk pulang.


"Baiklah, tapi nanti di rumah, jangan lupa jatahku ya," Godanya dengan senyuman mesum.


"Iya deh, iya. Nanti aku kasih. Sekarag, mas kerja dulu, aku bantuin, ya..." Aku mengambil beberapa berkas dan aku bawa ke mejaku. Andra diam-diam melirikku, aku pura-pura serius.


"Mas, tadi ngedatenya berhasil,loh. Sepertinya kak Andra suka sama kepribadian Vallen. Pulangnya, Dia dengan sukarela, nawarin diri buat nganter Vallen pulang," Ceritaku sambil mulai ketak-ketik di atas keyboard.


"Bagus, dong. Semoga ada perkembangan yang baik ya sayang mereka berdua," Sahut Andra yang ikutan serius ngetik.


"Aku harap juga gitu, mas. Biar kakak cepat nikah dan hidup bahagia dengan seseorang yang juga sayang sama dia," Balasku. Masih sambil serius mengetik.


"Terus rencana kamu ke depan apa, sayang?" Tanya Andra. Ia sepertinya suka aku jadi mak comblang abal-abal.


"Aku cek perkembangannya dulu lewat vallen seperti apa mas, baru aku lanjutkan projek selanjutnya," Kataku lagi, sambil bergantian melirik file dan layar secara bergantian.


"Kamu yakin, Vallen itu anak baik? Cocok untuk kakakku?" Rupanya Andra masih menaruh curiga dan tidak percaya dengan pilihanku.


"Jelaslah, mas. Aku sangat mengenal Vallen. Mas tidak perlu khawatir. Soal kak Andra, serahkan saja padaku," Aku berlagak sok profesional. Andra manggut-manggut tanda setuju.


"Aku juga merasa bersalah padanya, karena sudah mengambilmu. Mau ku kembalikan, aku sudah terlanjur sayang sama kamu, jadi sulit." Andra mengakui ketidak mampuannya melepaskanku.


"Mungkin memang aku ini jodohmu, mas. Jadi nggak bisa sepenuhnya nyalahin diri kamu, dong. Kalau bukan karena kak Andra memaksamu untuk menikahiku, dia kan pasti nggak akan kehilangan aku, iya kan?" Aku membantu membesarkan hati Andra. Aku tahu sekarang, diam-diam dia juga merasa bersalah pada kakaknya.


"Kamu bener, sayang. Aku makanya harus menjaga kamu dengan baik. Aku suka sedih, kalau pas nguping pembicaraan kalian, Kak Andra sampai rela menderita asal kamu bahagia. Dari situlah muncul ide koyol yang kemarin itu, sayang," Andra Ternyata juga pernah tahu pembicaraanku dengan Andre, jadi sebenarnya secara tidak langsung, aku juga menyakiti Andra.


"Mas kalau tahu aku dan kakak, kenapa diam aja? Harusnya mas ikut nimbrung," protesku.


"Aku sengaja, kubiarkan kalian bernostalgia. Masa-masa muda kalian dulu kan banyak, dan terhenti semenjak ada aku," Celotehnya. Ternyata suamiku ini juga penug pengertian. Mereka berdua adalah lelaki yang terbaik yang pernah hadir di hidupku setelah ayah.


"Mas, aku semakin mencintaimu. Gemes deh," Kataku, Andra memelototiku yanh mulai nakal.


"Iya, aku nggak ganggu kok," Aku menutup mulutku agar suara tawaku tidak terdengar.


Beberapa saat kemudian...


Pekerjaan Andra sudah selesai.Kami segera pulang. Sepanjang koridor kantor aku memeluk lengan suamiku itu. Sehingga menghenohkan para karyawan perusahaan.Aku membalas senyum setiap mereka yang menyapa. kemesraanku dengan Andra membuat mereka semakin kepo.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat aku dan Andra sampai di rumah. Cuaca yang sedang panas, membuatku gerah. Aku segera maauk ke kamar, melempar tasku ke ranjang dan meletakkan sepatu dibtempatnya. Lalu aku melarikan siri ke kamar mandi.


"Mau kemana, yang?" Andra menegurku.


"Aku mau mandi, mas. Gerah banget nih," Keluhku sambil menghilang masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku ikut, sayang.." Andra mengikutiku ke kamar mandi dengan pakaiannya yang masih lengkap.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


64. Love Everlasting.


Seminggu kemudian, setelah melewati hari-hari yang penuh keromantisan dan seperti saling tidak ingin terpisah, Andra dan aku kembali pergi ke pantai yang dulu mereka kunjungi berempat bersama Andre dan Anita.


Ceritanya, aku yang ngotot untuk pergi ke pantai di akhir minggu dan ingin menikmati waktu berdua bersama Andra. Aku tahu dia lelah, kerjaannya numpuk sepanjang minggu ini. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol keinginanku untuk pergi berdua dengannya.


"Sayang, semingguan ini kita romantis banget ya, aku suka manjanya kamu, yang selalu maunya makan di suapin, tidur di kelonin, kemana-mana selalu berdua, bahagia banget. Sampai rasa lelahku nggak terasa sama sekali. Kayaknya aku bahagia berlebih deh," Kata Andra yang menggandeng dan menemaniku berjalan di pasir bibir pantai yang basah, sesekali menendang cangkag kerang yang sudah tidak berpenghuni.


"Aku juga nggak tau, mas. Kenapa aku jadi semaniak ini sama kamu. Rasanya nggak mau jauh sedikitpun. Untungnya kamu nggak risih dengan sikapku yang berubah seperti ini," Aku mengeratkan rangkulanku di bahu suamiku itu, semilir angin berhasil menerbangkan rambutku yang terurai.


"Buat apa risih, aku malah bersyukur, kamu sekarang bisa mencintaiku sepenuhnya. Walaupun mungkin aku jahat, tapi sebagai suamimu, terkadang aku sakit hati, melihatmu perhatian pada kak Andre," Andra mengungkapkan isi hatinya yang mungkin ia pendam selama ini. Aku juga maklum dan paham, kalau sampai kedekatanku dengan Andre menyakitinya.


"Maafkan aku ya, mas. Saat itu aku nggak peka, aku masih bimbang. Tapi sekarang aku sudah sangat yakin, untuk berada di sisi mas, selamanya. Mas suamiku, yang akan menemaniku sampai maut yang memisahkan kita," Mungkin karena terbawa perasaan, airmataku tanpa terasa meleleh. Andra menyadarinya, ia menghentikan langkah kami, menatapku dan menghapus airmataku perlahan.


"Jangan menangis, sayang. Aku nggak mau lihat kamu menangis. Aku maunya bibir ini selalu tersenyum untukku..." Andra menarik sudut bibirku dengan kedua jari telunjuknya perlahan, membentuk senyum. Perlakuannya sukses membuatku benar-benar mengembangkan senyuman.


"Mas... kamu terlalu sweet..." Aku berhambur ke dalam pelukannya yang hangat, hingga rasa dingin udara pantai memudar. Andra membalas pelukanku dengan hangat. Aku sangat mencintainya, Bukan, tapi terlalu cinta.


"Dengar ya, Sayang. Aku sejak menikah denganmu sudah menutup hatiku untuk wanita lain. Aku sama sekali tidak pernah menyentuh wanita lain selain kamu, semua yang terjadi kemarin hanya sandiwara. Aku sudah mencintaimu sepenuh hatiku, saat pertama kita bertemu di kafe itu," Andra merapikan rambutku yang berantakan sambil terus menatapku penuh arti. Waktu seperti berhenti berputar dan hanya ada kami berdua disana. Refleks ku kecup bibir suamiku itu beberapa detik, lalu melepasnya setelah sadar kami di alam terbuka.


"Aku tau, mas. Walaupun seluruh dunia tidak percaya, aku tetap mempercayaimu. Mas, yuk kita ke penginapan. Aku suka lepas kontrol sekarang saat dekat kamu, bahaya kalau di alam terbuka terus, " Aku menggandeng Andra dan menariknya pulang ke penginapan, dia hanya pasrah dan mengikuti apa mauku.


"Sayang, nggak usah lari-larian, Lumayan jauh penginapan dari sini, nanti sampai sana kamu tepar, gimana?" Andra menasehatiku yangterus mengajaknya berlarian. Aku tahu, sikapku kekanakan sekarang. Aku manja, bahkan kelewat manja.


"Aku mau cepat sampai sana, mas. Kangen tidur di pelukanmu..." Kataku manja, sambil berlari dalam posisi terbalik. Lalu kembali ke posisi biasa, Andra hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkahku yang sedikit konyol.

__ADS_1


Seandainya seluruh manusia di bumi ini memandangku sebagai orang aneh, aku bahkan tidak perduli. Aku ingin menikmati hari-hariku dengan bebas. Mencurahkan semua perasaan sayang dan cintaku dengannya. Melakukan segala yang belum pernah kulakukan untuknya.


Aku segera membuka pintu kamar dan mengajaknya masuk. Lalu menjatuhkan tubuhku ke kasur yang empuk dengan posisi terlentang. Aku meleebarkan kedua tanganku, dan memejamkan mata. Bibirku tersenyum, saat teringat semua kelakuan nakalku seminggu ini pada Andra.


Berawal dari saat di kantor saat itu, hingga berakhir di tempat tidur, aku juga menggodanya di balkon saat ia sedang membaca majalahnya, hingga kancing bajunya terbuka, di ruang keluarga saat sedang menonton tv, Bahkan di meja makanpun, aku membuatnya makan dengan gelisah. Pokoknya aku sangat nakal akhir-akhir ini.


Andra yang dulunya sangat agresif di dekatku, sekarang lebih membiarkan aku yang menguasainya. Ia hanya pasrah menerima perlakuan nakalku dan tidak pernah sekalipun menolak.


"Sampai kapan mau terpejam seperti itu? Sampai semuanya berhasil terlepas?" Entah sejak kapan, Andra sudah berada di atasku dengan bertelanjang dada. Kancing bajuku telah terlepas beberapa. Ternyata kali ini aku kalah cepat.


"Mas... sejak kapan?" Aku membuka mataku lebar-lebar, Andra menyeringai, membuat bulu kudukku merinding. Membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku sekarang.


"Mas dari tadi, disini. Lihat kamu mejem dengan bibir senyum-senyum aneh, kenapa sih? Apa yang lagi kamu bayangin, hayo..." Ledeknya, aku tersenyum geli. Dia todak sadar sepanjang aku terpejam sedang membayangkan kenakalanku dan ekspresinya yang pasrah menerimanya.


"Aku lagi flashback, mas. Betapa nakalnya aku akhir-akhir ini. Aku selalu menggodamu dimana saja, sampai kamu makan pun tak luput dari godaanku."


Celotehku, Andra hanya memandangiku dengan tatapan Aneh.


"Aku benar-benar kewalahan, sayang. Pagi, siang, sore sampai malam pun kamu terus menggodaku," Keluhnya dengan senyum merekah.


"Tapi, mas suka kan?" Ledekku, sambil menoel hidungnya.


"Sangat suka, jadi sekarang kita mau apa?" Kerlingnya nakal. Sekarang dia malah berbalik menggodaku.


"Mau apa ya..?" Aku pura-pura berpikir. Andra menunggu apa yang ingin aku ucapkan. Aakhirnya aku berhasil menjatuhkannya dan melarikan diri darinya.


"Aku mandi dulu, mas!" Teriakku dari dalam kamar mandi. Pasti saat ini Andra sangat kesal dengan tingkah jahilku.


"Sayang, buka pintu!" Andra mengetuk pintu berulang kali, aku berusaha mengabaikannya.


"Sayang, ayolah, buka pintunya. Biasanya juga kita mandi bersama kan?" Katanya lagi. Lama-lama mendengarnya terus memelas membuatku kasihan. Akhirnya ku bukakan pintu kamar mandi untuknya dan kami berendam bersama dalam air hangat.


Aku ingin terus seperti ini, romantis setiap saat. Baru sekarang aku bisa merasakan kehangatan rumah tangga yang sebenarnya. Tidak ada beban, hanya di jalani berdua saja tanpa ada siapapun yang mengganggu.


Semoga kisah cinta kami dapat terukir sebagai cinta abadi, yang akan terus ada sampai kapanpun. Meskipun banyak badai yang menghadang hubungan kami, akhirnya kami dapat merasakan manisnya cinta dan aku adalah wanita yang paling bahagia dapat memiliki suami sepertinya.


Percayalah, cinta seseorang yang tulus padamu akan berbeda dengan cinta yang datang dari orang yang melihat kelebihanmu saja. Karena cinta yang tulus akan menerimamu dalam keadaan apapun, meski cacat sekalipun.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


90.Selamanya kita....


Ketika seseorang jatuh cinta, segalanya akan terlihat sempurna. Apapun yang ada, apapun yang terjadi, apapun yang terkisah, saat bersama orang yang di cintai semuanya akan terasa sangat indah.


Ketika seseorang jatuh cinta, semua akan terasa manis. Apapun kalimat yang terucap dari sang pujaaan hati, semuanya indah, meskipun hanya sekedar ucapan 'selamat pagi'. Jangan tersenyum, sebab jika kalian tersenyum, pasti kalian pernah merasakan hal seperti ini.


Tanpa terasa, usia kandunganku sudah mencapai lima bulan. Andra tidak mengizinkan aku terlalu lelah. Ke kantor hanya boleh dua kali seminggu. Sisanya hanya di rumah. Melakukan gerakan ringan senam hamil.


Sebenarnya, aku belum merasa kepayahan saat melakukan berbagai hal, hanya saja Andra terlalu protektif padaku. Banyak hal yang aku tidak boleh lakukan. Sebentar-sebentar di Selalu konsultasi dengan dokter kandungan langganan kami. Dia tipe ayah super siaga. Terkadang aku harus berdebat dengannya, karena aku tidak boleh melakukan ini dan itu.


"Sayang, minum dulu susunya, mas udah buatin susu ini dengan penuh cinta. Harus di minum, kalau nggak, mas akan sedih," Andra membawakanku segelas susu hamil. Dia sudah beberapa hari rutin membuatkanku. Dia selalu merayuku untuk mau meminumnya dengan berbagai cara. Membuatku enggan menolaknya.


Aku mengambil susu yang masih sedikit hangat itu dari tangannya dan segera meminumnya sampai kosong. Melihatku yang penurut, ia pun tersenyum senang. Sebentar lagi dia berangkat ke kantor, di berikan senyuman adalah hal yang sangat istimewa.


Aku bangun, merapikan baju dan memakaikan dasi pada leher Andra. Jika wanita hamil biasanya mual saat bau parfum tercium. Tapi, aku malah suka mengendus baju bagian dada Andra.Setelah itu, seharian wanginya akan tetap tercium olehku.


"Mas, hari ini sibuk?" Tanyaku, saat Andra menyisir rambutnya di depan cermin.


" Belum tahu, Sayang. Kenapa?" Sahut Andra lembut.


"Kalau mas nggak sibuk, cepat pulang ya," Aku memeluk Andra dari belakang dengan manja. Andra diam dan memandang bayanganku di cermin. Sejurus kemudian ia tersenyum manis dan berbalik menghadapku.


"Mas, teruslah seperti ini, jangan pernah berubah, ya.." Kataku padanya penuh arti. Andra kembali meletakkan kedua tangannya di pipiku, menatapku dalam-dalam dengan penuh.


"Dengar baik-baik, mas tidak akan pernah berubah. Selamanya, mas akan tetap seperti ini sama kamu, sayang.." Andra mengecup keningku lembut. Aku dapat merasakan betapa besar rasa cintanya padaku.


"Terimakasih, Mas. Ayo kita turun, aku mau temani mas sarapan," Aku memeluk lengan Andra sambil tanganku yang satunya menenteng tas kerjanya. Suamiku itu hanya menuruti apa yang menjadi keinginanku.


Ia menyiapkan kursi untukku duduk, Aku sudah meletakkan tas kerja Andra di meja ruang tamu. Segera aku menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Andra. Dia mangamati setiap apa yang aku lakukan. Tampak sangat kagum padaku. Padahal aku hanya menyiapkan makanan untuknya.


"Mas, kenapa sih. Ngamatin kegiatanku seperti itu?" Selidikku. Andra meresponku dengan senyum manisnya.


"Bahagia punya istri kamu, Sayang. Perhatian banget. Setiap hari, rasa sayangku bertambah terus sama kamu," Ujar Andra, sambil memulai suapan pertamanya.


"Ini sudah kewajibanku, Mas. Sudah seharusnya aku melayanimu dalam segala hal," Aku mengisi piringku sendiri dengan makanan. Porsi makananku sangat banyak sekarang, dua kali lipat dari biasanya. Mungkin karena kehamilanku mulai membesar.


"Terimakasih, Sayang. Untuk semua yang telah kamu kerjakan setiap hari, apa jadinya aku, tanpa istri sebaik dirimu," Andra terus menghujani pagiku dengan kata-kata manis. Membuat senyum di bibirku tidak berhenti mengembang.


"Berhentilah berbicara manis, Mas. Aku jadi ingin tersenyum tanpa henti. Sebenarnya, aku ingin bisa ikut ke kantor seperti biasanya. Bosen di rumah sendirian. nggak ada yang di ajak ngobrol, mas." Keluhku. Memang aku kesepian kalau di tinggal Andra ke Kantor. Di rumah sebesar itu, hanya ada aku dan Minah. Sedangkan Asistenku itu selalu sibuk mengerjakan sesuatu dan tidak sempat untuk menemaniku.


"Biar nanti aku telepon mama. Mama kan sedang libur di rumah, tidak mengawal papa dinas. Dia pasti senang jika aku memintanya untuk menemanimu," Andra memberiku usulan. Aku suka kalau mama mertua mau datang kemari. Beliau sangat menyayangiku. Sejak orangtuaku masih ada, tidak pernah di bedakan antara aku dan Anita. Kami diperlakukan sama.


"Baiklah, Mas. Aku setuju kalau mama kesini. Kangen juga kan, aku udah lama nggak ngobrol secara pribadi sama mama," Semenjak menikah dengan Andra, aku memang tidak sedekat dulu lagi dengan mama. Mungkin karena aku lebih sering asyik sendiri dengan Andra, jadi mama juga sedikit sungkan untuk dekat denganku seperti dulu.


"Mas berangkat dulu, Sayang. Nanti mas telepon mama untuk datang kesini. Jaga diri baik-baik, ya. Tunggu mas pulang, jangan kangen," Andra mengelus rambutku pelan, lalu meninggalkan meja makan dan berangkat ke kantor. Aku melambaikan tanganku dari depan pintu. Ia membalasnya dan menghilang ke dalam mobil tanpa melepas senyumnya.


Aku masuk kembali ke dalam rumah. Aku melihat Minah sedang membereskan piring-piring yang habis kami pakai. Aku duduk di ruang tamu. Kembali membaca buku tentang kehamilan dan mengurus anak. Aku ingin belajar bagaimana cara mengurus bayi dan anak Karena aku ingin mengasuh anakku sendiri nanti. meskipun mereka kembar, aku yakin aku pasti mampu melakukannya.


Aku tahu, mengurus satu anak itu sudah sangat repot, apalagi kalau dua anak sekaligus. Tapi mungkin akan ada sensasi tersendiri saat bisa mengasuh anak secara mandiri.


Kehilangan anak pertamaku, membuatku sedikit was-was. Aku takut kehilangan mereka lagi. Rasanya sangat berat jika harus kehilangan lagi. Aku hanya sedikit lega karena kehamilanku kali ini termasuk kuat. Meskipun aku melakukan aktivitas berat, mereka tetap baik-baik saja. Semoga terus seperti ini sampai mereka lahir.


"Sila..." Aku menatap ke sumber suara. Mama telah datang. Aku berdiri dan menyongsong mama. Aku memeluk beliau erat.


"Duduk, Ma.." Aku mempersilahkan mama duduk di sofa ruang tamu. Ku minta Minah menyiapkan minuman dan makanan kecil untuknya.


"Aku senang mama datang, sudah lama rasanya tidak pernah ngobrol lagi smaa mama," Kataku dengan gembira. Mama tersenyum ramah. Beberapa bagian wajah beliau sangat mrip dengan si kembar. Mungkin mitos tentang anak cowok lebih mirip mamanya adalah benar.


"Kebetulan, mama juga ingin banyak bertanya padamu, tentang Andre. Apa kamu keberatan?" Mama tampak takut saat mengatakan kalimatnya ini.


"Tidak, Ma. Silahkan tanyakan sebanyak mungkin, Sila akan coba menjawab." Aku mencoba bersikap terbuka agar mama jadi lebih nyaman umtuk berbicara padaku.


"Sila, mama ingin kamu jawab dengan sejujurnya, apakah kamu masih mencintai Andre? Mama janji, ini rahasia kita berdua," Aku yakin mataku saat ini membulat mendengar pertanyaan mama. Untuk apa lagi mama tahu tentang perasaanku pada Andre?


"Seperti yang mama tahu, aku dan kakak bisa di bilang besar bersama. Kami melewati banyak momen bersama.Untuk perasaan cinta, tentu saja itu masih ada ma, tapi tidak sebesar dulu. Aku sudah mencintai Andra sekarang, Ma. Memangnya, buat apa mama ingin tahu tentang ini?" Aku balik bertanya pada mama. Aku juga ingin tahu mengapa mama menanyakan hal ini.


"Hanya ikatan cinta sejati yang biasanya terikat Sila. Apa sebelum Andra kecelakaan, kamu ada firasat?" Aku mencoba mengingat-ingat.


"Lebih tepatnya, sesaat sebelum aku mendapat kabar dari Vallen, aku merasa hatiku sakit dan dadaku sesak, Ma."Itu memang yang aku rasakan sesaat sebelum kabar Andre kecelakaan terdengar.


"Lalu saat itu, saat Andre sudah di nyatakan meninggal, kamu memeluknya dan dia kembali, betul?" Mama mengingatkanku saat mengerikan itu.


"Iya, Ma. Aku memeluk kakak, dan dia tiba-tiba sadar kembali," Aku membenarkan kata-kata mama.


"Percaya atau tidak. Itu adalah ikatan cinta sejati,Nak. Kamu ingat, di saat Andre sakit, kamu selalu berhasil membantunya untuk sembuh, itu artinya batin kalian benar-benar terikat. Suatu saat kalian akan bersatu," Aku tidak mengerti apa yang di ucapkan Mama. Mengapa mama bilang seperti itu? bukankan aku ini istri Andra, anaknya juga?


"Mengapa mama bilang seperti itu? Mama , aku ini istri Andra, aku tidak mungkin kembali pada Andre. Dia juga sudah menikah dengan Vallen," Protesku. Tapi Mama justru beranjak dari duduknya. Tersenyum kepadaku dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah.

__ADS_1


"Ma..! Mama...!" Aku memanggilnya kuat. Tapi mama hanya mengabaikanku.


"Nyonya..Nya...Nyaa...! bangun nya..!" Aku mendengar panggilan Minah. Aku membuka mataku. Memandang sekeliling sambil merasa bingung.


"Mana mama? tadi mama kesini kan?" Aku menanyakan keberadaan mama pada Minah. Pembantuku itu hanya melongo.


" Nyonya besar belum kesini, Nya. Tadi nyonya baca buku dan tertidur di sini. Saya biarkan karena takut ganggu. Eh, Nyonya malah teriak-teriak.. Ma.. ma.. ma.. gitu,"Cerita Minah membuatku bertanya-tanya. Tadi itu benar-benar mama kok.


"Tapi tadi ada mama disini, Minah. Tadi aku suruh kamu buat minum, Ko," Ku tetap ngeyel.


"Tidak Nya, coba anda lihat, tidak ada makanan dan minuman di sini. Hanya ada buah-buahan, yang dari tadi pagi memang ada di situ," Minah menunjukkan sekeranjang buah yag terletak di meja. Dia benar, tidak ada makanan dan minuman di sana. Jadi, aku hanya mimpi? Apa arti mimpi itu?


"Tin...Tiin..." Klakson mobil di depan. Itu pasti mama. Benar saja, beberapa menit kemudian mama masuk ke dalam rumah. Baju mama tidak sama dengan yang tadi ada di dalam mimpiku.


"Mama baru datang?" Aku masih terpengaruh efek mimpi itu. Aku berusaha menata kesadaranku. Mimpi itu terlalu nyata.


"Iya, Sila. Tadinya mama mau datang lebih cepat, tapi di jalan, ban mobilnya tiba-tiba kempes. Jadi keaininya terlambat, deh," Cerita mama dengan wajah ceria.


"Papa mana ma?" Tanyaku, saat mendapati papa tidak ikut masuk ke dalam rumah.


"Papamu ada proyek sama Andre. Jadi nggak bisa ikut ke sini, bagaimana kandungan kamu, Sayang?" Mama mengelus perutku yang sudah sedikit membuncit.


"Baik, Ma. Mereka berdua sehat. Aku sebentar-sebentar konsultasi. Mas Andra sedikit lebay," Kataku mengadu pada mama sambil tertawa.


"Itu tandanya, Andra suami dan ayah yang siaga. Dia mungkin tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. apalagi yang ini hamilnya kembar, iya kan?" Apa yang mama katakan benar. Andra protektif padaku karena dia takut kehilangan buah hati lagi seperti saat itu.


"Iya, Ma. Sila tahu, kalau niat Andra itu baik. Makanya, aku nurut aja dia mau ngomong apa. Sampai-sampai aku nggak boleh ke kantor lagi, Ma. Padahal kan aku pengen jadi wanita karir, bisa selalu jaga Andra dari wanita-wanita penggoda," Sungutku, dengan wajah ditekuk. Sejujurnya ia hanya ingin memprotes keputusan Andra.


"Mana ada di kantor wanita penggoda, sayang. Berani Andra begitukan kamu, mama akan gantung dia di pohon bayem," Mama terkekeh dengan candaam garingnya.


"Ma, aku tadi abis mimpi Aneh.. Mama mau dengar ceritanya?" Kataku. Suasana seketika hening.


"Mimpi apa? coba ceritakan pada mama. Siapa tahu ada hubungannya dengan sesuatu," Mama pasang telinga. Aku mulai menceritakan kisahku pada mama. Ia memperjelas detailnya di setiap adegan mimpiku itu.


"Jadi seperti itu? Dan mimpi itu benar-benar nyata.? tapi semua jawaban yang kamu jawab itu benar-benar fakta?" Mama meragukan kebenaran ceritaku. Tapi semuanya memang fakta.


"Benar, Ma. Mimpi itu benar-benar nyata. Kalau mama menanyakan hal yang sama, pasti aku juga akan jawab dengan jawaban yang sama," Aku meyakinkan mama. Beliau tampak berpikir. lalu seperti akan mengatakan sesuatu, lalu ia mengurungkan niatnya untuk berbicara. Membuat aku curiga. Ada sesuatu yang mama sembunyikan dariku.


"Itu hanya bunga tidur. Lain kali jangan tidur terlalu pagi, itu tidak bagus untuk kesehatan." Mama mengomeliku. Tapi tetap saja aku tidak menpercayai, Ada sesuatu yang di sembunyikan mama dariku.


"Mama nggak bohong? mama ntidak sedang menyembunyikan seduatu kan dariku?" Aku menyelidik, aku belum yakin dengan apa yang ku dengar.


"Sekarang mama tanya, Apa kamu bahagia bersama Andra? Apa kamu mencintainya?"Mama tampak serius bertanya padaku. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku takut.


"Iya, aku bahagia dan mencintai Anda, Bahkan aku sangat mencintainya, Ma." Curharku. Mama mencoba tersenyum meskipun tampak terpaksa. Aku tidak pernah melihat mama seperti ini sebelumnya.


"Itu artinya, ikatan cinta sejati tidak akan berlaku, karena kamu mencintai orang lain. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Sekarang fokus untuk kehamilanmu saja, Sayang." Aku masih merasa ada yang di sembunyikan dari mama. Sepertinya mimpi ini bukan mimpi biasa. Aku takut, aku tidak ingin merusak semuanya lagi.


Aku sudah berusaha selam Ini. Menciptakan hubungan normal di antara kami bertiga. Aku ingin kami semua bahagia. Menemukan cinta masing-masing. Sampai aku berusaha mencarikan seseorang yang tepat untuk Andre, tujuanku adalah membiarkan dia bahagia dan menemukan cinta.


Apa itu ikatan cinta sejati? Aku tidak perduli. Aku sudah bahagia bersama Andra, sebaliknya dia juga sudah bahagia bersama Vallen. Memang aku masih memiliki sedikit cinta, tapi perasaan itu sudah tidak sama lagi dengan dulu.


"Mama, jangan bilang apapun pada Mas, aku mau ini jadi rahasiaku dan Mama. Aku tidak akan perduli apa itu ikatan cinta sejati. Apa yang aku lakukan untuk kakak semata-mata karena aku sudah menganggapnya kakak. Aku sudah sangat bahagia bersama Mas, dan selamanya itu tidak akan berubah," Aku mencoba meyakinkan mama. Aku ingin mama tahu, kalau aku sangat mencintai Andra.


"Iya, Sayang. Mama tahu, Sila anak yang baik dan manis. Tidak mungkin Silanya mama ini akan berbuat sesuatu yang salah. Jaga rumah tangga kalian baik-baik ya, meskipun mama ini jarang berkunjung, tapi mama juga memikirkan kalian, bagaimanapun juga, Andra juga anak mama." Mama merangkulku. Mendekapku erat. Dekapan mama sama hangatnya dengan dekapan ibu. Aku tidak akan mengecewakannya.


Dalam pikiranku, semua ingatan yang pernah aku lalui bersama Andre terbayang. Dia memang seperti bergantung padaku. Tapi setelah ia menikah dengan Vallen, aku harap dia bisa bergantung pada sahabatku itu sekarang.


"Ma, apa mama tahu, tentang perasaan kakak selama ini?" Aku mencoba menanyakan tentang Andre lagi pada mama.


"Yang mama tahu, dia sangat mencintai kamu. Hampir setiap hari, dia selalu menulis untukmu, Nak. Tentang rindunya, rasa kecewanya, cemburunya, rasa sayangnya, semuanya. Mama selalu datang ke kamarnya, saat Andre tidak ada, atau saat malam hari, dia telah terlelap. Mama sebenarnya merasa perih melihatnya seperti itu. Tapi takdir memang sudah memisahkan kalian berdua. Ada di satu lembar, mama membaca.. saat Andra baru pulang dati amerika dan membawa Sesilia. Kamu dan Andre berdua di atas gedung, dan kamu mengajaknya menikah, dia bahkan tau kamu hanya menganggapnya sebagai pelarian, tapi dia menuliskan kalau, dia rela. Dia mau melakukan apapun, asalkan kamu bahagia, Sila." Mama menangis mengenang masalah Andre yang ini. Mataku juga berkaca-kaca. Aku merasa beruntung karena di cintai dengan sepenuh hati olehnya.


"Maafkan aku, Ma. Aku tidak berniat untuk menyakiti kakak. Aku hanya merasa kakak satu-satunya orang yang bisa membuatku tenang saat itu. satu-satunya lelaki yang bisa untukku bersandar. Maafkan aku, Ma." Aku sudah selayaknya meminta maaf pada mama. Aku yang sudah membuat dua putra mama mencintaiku.


"Sayang, mama mengerti. Ini semua bukan maumu. Mama tahu, saat kamu bingung, Andre sendiri yang menawarkan untuk berbuat baik padamu, kan? jadi itu bukan salahmu, Nak. Hanya saja, di antara kalian bertiga ada ikatan yang rumit, akhirnya terjadilah salah paham. Sekarang mama sudah sedikit tenang. Tadi pagi Vallen menelepon mama, katanya semalam mereka sudah mulai tidur bersama. Andre juga bilang pada Vallen, kalau ia mulai mencintainya," Curhat Mama. Aku ikut senang mendengarnya. Aku bahagia akhirnya kakak mau membuka hati untuk Vallen.


"Aku bahagia, ma. Akhirnya, kakak mau membuka hatinya. Semoga dia dapat mencintai Vallen sepenuh hatinya," Aku mengeratkan pelukanku pada mama. Aku ingin selamanya kami seperti ini.


Jika kamu mencintai dua orang dalam satu waktu, pilihlah orang yang kedua, namun saat kamu benar-benar mencintai orang yang pertama, kamu tidak akan mampu jatuh cinta pada orang yang kedua.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


104. Perfect Daddy


Aku senang melihat antusias Andra sebagai ayah baru. Ia sengaja cuti untuk membantu mama mengurus bayi kembar kami, Alana dan Alandra. Semalaman ia rela duduk di samping box bayi untuk menunggu si kembar jika sewaktu-waktu terbangun.


"Tidurlah, aku bisa kok menjaga Alana dan alandra. Ini udah malem. Besok kan mas harus kerja nanti mas bisa ketiduran di kantor," Aku khawatir pada Andra yang yang nekat begadang untuk menjaga si kembar.


"Tenang, Mas besok masih cuti beberapa hari untuk membantu Mama mengurusi kembar. Supaya nanti Mas sudah terbiasa kalau mama sewaktu-waktu harus ada keperluan," Jawab Andra sambil memandangi wajah kedua bayi kami yang tengah terlelap. Hampir sepanjang malam Andra tersenyum sambil mengamati dua bayi mungil itu.


"Kamu tidak perlu melakukan itu Mas. Aku kan juga bisa mengurus si kembar, nanti kamu capek, loh. Katanya pekerjaanmu lagi banyak, yakin nggak apa-apa ditinggal cuti untuk mengurusi kembar?" Dua hari lalu sebelum aku lahiran, Andra sempat bilang kalau pekerjaan di kantornya sedang menumpuk. Banyak berkas yang belum dikerjakan. Belum lagi banyqk pertemuan penting. Tapi hari ini dia malah memutuskan untuk cuti, hanya karena ingin mengurus Si Kembar.


"Keluarga adalah prioritasku, apalagi kamu baru aja melahirkan kembar. Kamu butuh waktu istirahat lebih banyak. Biar nanti sementara Alana sama Alandra biar aku dan mama yang mengurus. Kecuali, saat mereka minta ASI itu baru tugasmu," Jawaban Andra membuatku merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita. Memang setelah melahirkan badanku rasanya tidak karuan. Mungkin butuh waktu beberapa hari untuk menjadi normal kembali.


"Terima kasih Mas kamu selalu berusaha yang terbaik untuk kami. Kamu tidak hanya menjadi seorang suami yang baik, tapi kamu juga seorang ayah yang perhatian dan penuh kasih sayang. Alana sama Alandra pasti bangga banget, punya ayah yang seperti Mas. Terutama Alandra, dia pasti akan mencontoh Mas menjadi panutannya untuk menjadi seorang pria sejati," Pujiku pada suamiku. Aku sangat mengaguminya sebagai seorang suami. Dia bisa dibilang terlalu baik. Ketika banyak suami diluar sana yang tidak peduli pada istri anaknya, bahkan menelantarkan mereka, tapi aku memiliki Andra. Yang sangat bertanggung jawab dan sayang pada kami bertiga.


"Kamu juga dong,Sayang. Kamu adalah ibu yang terbaik untuk Alana dan Alandra. Mereka juga pasti akan bangga karena mamanya tidak hanya cantik, tapi juga baik penuh perhatian. Mereka akan mengagumimu suatu hari nanti. Karena kamu adalah ibu yang pantas untuk mereka idolakan. Pertama kali sebelum mereka mengidolakan orang lain," Kata Andra dengan sangat manis. Aku tidak menyangka Jika dia memandangku seperti itu. Aku hanya selalu berusaha yang terbaik untuk suamiku dan sekarang juga untuk kedua buah hatiku.


"Jangan pernah berubah, ya. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan. Kalau tidak memiliki suami sebaik, Mas. Kamu selalu tidak pernah bosan memanjakan aku, coba memahami aku, meskipun terkadang aku tidak memahami Mas. Aku selalu merasa menang sendiri dan banyak lagi kesalahan ku. Kamu selalu menerima aku apa adanya. Disaat orang lain hanya menilai kecantikanku, kebaikanku, tapi mas bisa menerima aku beserta keburukanku aku dan kejahatanku. Hanya Mas yang bisa seperti itu. Jangan pernah tinggalin aku dan kedua anak kita, jangan pernah, Mas harus janji," Tanpa terasa air mataku menetes, Saat aku mengucapkan kalimat-kalimat itu. Entah kenapa aku begitu takut kehilangan dia, suamiku yang menurutku sangat sempurna. Aku takut suatu hari, aku tidak bisa lagi melihat senyumannya, melihat ketampanannya, merasakan pelukannya yang penuh kehangatan. Aku sangat takut tidak tahu kenapa.


"Sayang, Mas tidak bisa berjanji apapun padamu. Tapi selagi aku mampu, aku akan berusaha menjadi suamimu yang terbaik. Menjadi ayah yang terbaik untuk Alandra dan Alana. Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada kalian. Kalian menempati seluruh bagian di dalam hatiku, selamanya," Andra memelukku dan dihapusnya air mataku yang meleleh membasahi pipi


"Kamu sudah mau jadi yang terbaik mas. Dimataku kamu tidak ada kekurangan. Kamu yang paling terbaik diantara yang paling baik, aku sangat bahagia Bisa memiliki suami sepertimu. Kamu sangat luar biasa," Aku memeluk lengan Andra erat.


Tiba-tiba saja si kembar terbangun dan menangis secara bersamaan. Aku dan Andra menyudahi moment romantis kami berdua dan buru-buru mendatangi tempat tidur mereka.


"Anak-anak Ayah kenapa? Minta ditemenin ya sama ayah? Ayah sama bundanya malah berduaan, kalian ngiri cup cup cup," Chandra mencoba mengajak mereka berdua bicara dan ajaibnya mereka berdua langsung diam.


"Tuh kan, Alana sama Alandra manja. Baru juga Ayah mau manjain Bunda kalian" Ujarnya lagi, sambil tersenyum manis. aku melihat Alandra tersenyum seolah sudah tahu kalau ayahnya sedang berbicara padanya.


"Lihat Mas, Alandra merespon, loh. sebegitu kuatnya ikatan batin antara kamu dan dia," Aku ikut duduk di kursi yang ada di samping Andra. Agar aku juga bisa melihat kedua buah hati kami yang kini terbangun dari tidurnya.


"Alandra tahu, ya. Kalau ayah tersenyum sama kamu? Besok kamu harus jadi jagoan yang tangguh, biar bisa jagain Bunda. Biar Bunda sama Alana punya dua bodyguard yang keren dan juga tampan seperti kita ya sayang," Andra mengelus pipi Alandra dengan lembut, nampak sekali ia sangat menyayangi bayi mungil itu.


" Alana juga jangan mau kalah ya, besok. Alana harus jadi anak yang baik, pintar, dan pandai memasak. Biar dua jagoan kita jadi semakin betah di rumah," aku membalas perkataan Andra pada Alandra. Bayi mungil perempuanku ini sepertinya kembali tertidur.


"Mas, jangan berisik Alana sepertinya bobok lagi," aku memperingatkan Andra untuk tidak Berisik.


"Iya Sayang, Mas tahu, tuh. Alandra juga mau tidur. Gemes, ya. Mereka pengennya tidur di samping kita. Gimana kalau mereka tidur seranjang aja sama kita?" Andra memberi usul untuk membawa Alandra dan Alana tidur bersama kami.


"Biarkan saja mereka tidur di situ,Mas. Nanti mereka juga terbiasa kok. Lagi pula, kita tidak bisa selamanya tidur bersama mereka, kan?" Aku tidak menyetujui usulan Andra, karena menurutku Alana dan Alandra butuh tempat yang luas. Jika tidur bersama kami takutnya mereka akan tidak bisa bergerak dengan bebas.


"Bilang aja kamu mau berduaan sama Mas,iya kan? Ayo ngaku," Andra meledekku karena mengira aku tidak menyetujuinya karena ingin selalu berduaan dengannya.


"Mulai deh Mas, mesum. Aku baru melahirkan loh, kamu harus puasa dulu. Aku tidak setuju karena Alandra dan Alana butuh tempat yang luas untuk bergerak. Sementara ranjang kita tidak begitu besar itu maksudku. Sekarang, Mas paham?" Aku berusaha memberikan penjelasan kepada Anda apa yang menjadi alasan ku untuk tidak mengijinkan Alana dan Alandra tidur bersama kami.


"Sebenarnya, mas juga tahu tapi mas cuman pura-pura enggak tahu. Kan kalau lihat kamu seperti ini, gemes jadi pengen cium," Andra semakin meledek ku karena sikapku yang menurutnya sangat menggemaskan.

__ADS_1


" Awas ya Mas lain kali aku balas," Aku mencubit pipi Andra dengan gemas tanpa perlawanan.


Episode-episode ini bikin senyum kalau di baca. Ini versi Author. Kalau menurut kalian yang mana aja yang bikin baper?


__ADS_2