Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 65


__ADS_3

Bang, bisa temenin aku jalan malam ini nggak?


Pesan dari Febbi masuk ke ponsel Andre, saat lelaki itu tengah menikmati secangkir kopi di balkonnya. Ia membacanya sekilas, lalu meletakkan kembali ponselnya ke meja. Ia bingung, harus menjawab apa. Ia tidak ingin menolak, tapi ia juga tidak ingin membuat Febbi semakin mengharapkannya.


Kenapa hanya di baca, Bang? Kalau tidak bisa, Febbi tidak akan memaksa abang.


Satu lagi pesan dari Febbi terbaca oleh Andre. Ia teringat, dirinya sendiri yang menjanjikan akan mengantar Febbi jalan-jalan selama di Indonesia. Mau tidak mau Andre memutuskan untuk mengiyakan ajakan Febbi. Setidaknya, ia masih bisa menyenangkan wanita itu di detik-detik terakhirnya melajang.


Langit mulai gelap. Andre berjalan gontai ke kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya sebelum bertemu dengan Febbi. Apakah malam ini bisa di sebut dengan kencan? itu adalah salah satu pertanyaan yang muncul di benak Andre. Untuk pria dewasa sepertinya, rasanya sangat aneh jika harus berkencan ala anak muda, begitu pikirnya.


Andre menatap bayangannya di cermin. Teringat saat berada di posisi itu, Vallen tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Sebentar lagi, ia akan melepas masa dudanya, sayangnya, ia bukan menikahi orang yang mencintainya.


Hal-hal manis yang seperti di lakukan Vallen, hanya akan jadi bayangan saja. Sila tidak mungkin melakukn itu padanya. Wanita itu hanya mencintai suaminya yang tidak lain adiknya sendiri.


Andre keluar kamar mandi dengan berlilitkan handuk di pinggangnya. tidak ada kotak di perut lelaki itu, tetapi tetap gagah. Kulit putihnya tampak sangat segar dengan timpaan titik-titik air.


Andre membuka lemarinya, mengambil satu buah kemeja santai untuk di pakai. Ia tidak ingin tampil secara spesial.Dia tidak ingin merubah pandangan Febbi terhadapnya.


Andre juga menyempatkan diri menelepon ke rumah Sila untuk memastikan calon istrinya baik-baik saja. Meskipun ia hanya bicara dengan Minah, tapi ia percaya asisten rumah tangga Sila itu berkata jujur.

__ADS_1


Andre bercermin sekali lagi, baginya penampilannya tidak buruk. ia menyemrotkan beberapa semprot minyak wangi ke beberapa bagian tubuhnya. Lalu bergegas pergi.


Di tempat yang sudah di sepakati, Febbi sudah menunggu. Gadis itu berdandan jauh lebih cantik dari biasanya. Ia juga memakai dres cantik untuk bertemu dengan Andre. wanita itu membuka bedaknya yang telah di lengkapi dengan cermin. Ia ingin memastikan, penampilannya di depan Andre sudah sempurna.


Kerinduan karena telah lama tidak bertemu dengan Andre mrmbuat Febbi ingin menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Andre, sebelum akhirnya ia kembali ke rutinitas awalnya di negara orang.


"Maaf menunggu lama." Entah sejak kapan Andre datang, yang jelas suara pria itu membuatnya sedikit kaget .


"Abang, bikin kaget. Jujur, abang ganteng banget," puji Febbi. Padahal menurut Andre, ia telah berdandan sesederhana mungkin. Apa mungkin karena Febbi mencintainya, jadi apapun yang ia pakai, nampak selalu bagus di mata perempuan itu?


"Kamu berlebihan. Justru kamu yang sangat cantik malam ini. Aku baru tahu, ternyata kamu bisa juga berdandan," Andre balas memuji. Memang malam ini Febbi tampak berbeda, ia sangat cantik, beda dengan hari biasanya.


"Terima kasih, Bang. Gini-gini, Febbi cewek tulen, tentu saja bisa dandan. Sebenarnya, malam ini, kita mau pergi ke suatu tempat Bang, sebelum itu.kita makan dulu, kali ini, Abang jangan menolak, Aku yang akan traktir Abang," Febbi memaksa. Kemarin-kemarin, Andre menolak untuk di traktir olehnya, kali ini, dia tidak ingin seperti itu lagi.


Melihat tatapan polosnya, Andre jadi berpikir, apakah ia akan tega melihat wanita itu menangis nanti. Ia akan mematahkan hatinya tanpa rasa belas kasihan. pria itu tahu, Febbi sangat tulus padanya.


Memang ada rasa menyesal, ia tidak dapat menikah dengan Febbi karena tragedi ini, tetapi sebagai pria dewasa, Andre juga tidak akan lari dari tanggung jawabnya, terlepas dari siapa yang salah, toh, Sila mengandung anaknya.


"Gitu dong. Jadi, abang mau makan apa? Biar Febbi yang pesan, Abang cukup duduk manis di sini." ujar gadis itu ceria. Ia sangat senang dapat mengisi malam ini berdua dengan Andre.

__ADS_1


"Menuku samain sama kamu. Aku suka makan apa saja." jawabnya santai. Andre bukan tipe pemilih. Makanan apapun, ia pasti memakannya, asal tidak berbahaya.


"Baiklah, tunggu sebentar, Bang. Aku pesankan makanannya. Menunya kita samakan semua." gadis itu beranjak dari duduknya menuju ke tempat pemesanan makanan.


Andre menuruti apa yang di katakan oleh Febbi dan memilih duduk diam menunggu pesanan mereka datang. Semoga saja, suatu saat Febbi mendapatkan seorang lelaki yang baik, sama seperti sikapnya yang baik, agar gadis itu bahagia. Itu harapan Andre. Ia menyadari, sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa membahagiakan dokter muda itu.


"Makanan siap, silahkan." Febbi bergerak lincah layaknya pramu saji, menurunkan makanan dari atas baki yang ia bawa.


Makanan-makanan yang di hidangkan menggugah selera. Membuat siapaun yang melihatnya tergoda dan lapar. tanpa menunggu lama, mereka berdua menyantap makanan yang telah tersedia.


Mereka tidak saling bicara selama makan. Keduanya sibuk menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Suatu hari, momen ini akan di rindukan oleh keduanya. Meskipun hanya hal kecil, akan terasa besar saat semuanya hanya tinggal kenangan.


"Feb, setelah ini, kamu mau mengajakku ke mana?" Andre penasaran, kemana berikutnya Febbi akan mengajaknya pergi.


"Melihat bintang dari atap gedung ini. Aku sering melakukannya saat aku pulang ke Indonesia, meskipun aku hanya sendiri. Kali ini, aku mau menunjukkan pada Abang, tempat favorit aku saat berada di kota ini," Febbi menjelaskannya dengan wajah yang tidak dapat menyembunyikan rona kebahagiaan.


"Benarkah? Apa mungkin dari sana memandang bintang menjadi sangat indah?" Andre merasa dejavu, dulu, saat Sila masih remaja, mereka berdua sering melihat bintang bersama, saat ada bintang jatuh, Sila meminta Andre menyatakan permohonan. Dari waktu ke waktu, permintaan Andre tetap sama, menjadi teman hidup Sila suatu hari. Meskipun tidak terwujud dengan sempurna, setidaknya harapannya akan segera terkabul.


Sangat indah, Bang. Abang akan merasakan sensasi yang berbeda nanti. Ayo kita selesaikan makannya. Lalu ke atas untuk melihatnya," Febbi mempercepat makannya, begitu pula dengan Andre. Melihat antusias gadis itu, ada rasa bersalah yang menghujam hatinya.

__ADS_1


Waktu tidak dapat di putar kembali, ia hanya bisa mencoba menikmati setiap alur yang ada. Melawanpun tiada guna, ia telah di takfdirkan menghabiskan sisa hidupnya bersama Sila.


Keduanya menatap langit, beralaskan matras yang di sediakan oleh pemilik cafe itu. Febbi selalu memandang wajah Andre saat lelaki itu fokus menatap langit. Ia berharap, suatu hari ia dapat bersatu dengan duda itu.


__ADS_2