
Sesuai kesepakatan, Andra menemui seseorang yang mengirim pesan misterius padanya di sebuah Bar. Andra menemuinya tidak sendiri, tapi di dampingi oleh orang kepercayaannya. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin menghadiri undangan itu, tapi Andra merasa, ia tidak bisa menghindar dari masalah. Ia tidak ingin ada yang mengancam Sila dan kedua anaknya.
Siapapun yang akan di temuinya ini, Andra yakin dia bukanlah orang baik. Akan ada resiko yang akan di terimanya. Ia hanya bisa berharap semoga semuanya tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Kakak, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," Seseorang mengulurkan tangannya, dia adalah Rey, lelaki itu srlama ini mengaku sebagai adik Andra, saat namanya di ganti menjadi Dewa.
"Rey, ada apa? Sudahlah, tidak perlu berbasa-basi. Aku tahu, kamu bukanlah adikku. Tidak perlu berpura-pura lagi. Sebutkan apa maumu," Andra langsung pada poinnya, Rey pasti ada hubungannya dengan Rose yang sempat mengaku sebagai tunangannya.
"Kakak masih ingat Rose? Dia ingin kakak kembali, dia mau kakak menikahinya." ujar Rey dengan gamblang. Sesuai dengan perintah Rose tentunya.
"Aku sudah kembali pada istriku, Rey. Tolong sampaikan maafku pada Rose, aku tidak dapat melakukan apa yang ia inginkan." Andra tentu saja menolak untuk melakukan itu, ia sangat mencintai Sila. Dia tidak akan pernah menikahi wanita asing seperti Rose.
" Kenapa kakak menolaknya? Bukankah seharusnya kakak senang? Ada seorang wanita yang sangat menginginkan kakak meskipun kakak sudah beristri dan juga beranak?" Rey tersenyum kecut, ia cukup iri, karena pesonanya kalah dengan seorang Andra.
"Aku sudah merasa sangat cukup hanya dengan satu istri. Aku tidak perlu lagi istri lain selain Sila. Dia wanita yang sangat luar biasa. Sehingga aku tidak mampu untuk berpaling darinya." Andra jujur dengan perasaannya saat ini, kelebihan Sila sangatlah tidak sebanding jika di bandingkan dengan Rose, Wanita itu tidak ada seujung kuku pun lebih unggulnya dari Sila.
"Baguslah, kakak sangat setia dengan istri kakak. Aku juga sempat mengatakan pada Rose untuk tidak mengejar kakak, karena ada aku yang mencintainya, tapi dia sama sekali tidak memandangku," Rose memang tidak pernah memandang Rey dengan pandangan yang lebih dari seorang teman. Baginya lelaki itu hanyalah sahabatnya sejak lama.
"Berjuanglah, untuk meraih cinta Rose. Dia juga manusia biasa, seiring waktu pasti akan luluh juga. Jangan menyerah. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan pesanku pada Rose," Andra berbalik untuk segera mengakhiri pertemuan itu, ia ingin kembali ke rumahnya segera, sebelum akhirnya berangkat ke Amerika keesokan harinya. Segalanya memang sudah di siapkan di mobilnya agar tidak terburu-buru saat pergi nanti.
Beberapa langkah saat ia akan keluar dari Bar, seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Dewa, aku merindukanmu." ungkap Rose lembut. ia sangat merindukan sosok Dewa yang selalu ia lihat selama bertahun-tahun, terutama selama ia koma.
"Rose, aku harap kamu paham dan mengerti, aku.sudah punya istri dan juga anak, aku tidak akan meninggalkan mereka, atau menduakan Sila. Dia adalah wanita yang setia dan rela menungguku sampai bertahun lamanya.Carilah pria lain, sadarilah, ada orang lain yang mencintaimu, daripada mengejarku." Andra tetap pada pendiriannya, ia tidak akan menghianati Sila untuk perempuan seperti Rose.
"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan Dewa? Apa semua kebaikanku selama ini tidak membuatmu mempertimbangkan perasaanku?" Rose mengingatkan Andra tentang semua kebaikan wanita itu selama ini. Dia memang orang yang berjasa saat itu.
__ADS_1
"Terima kasih Rose, untuk semua kebaikanmu. Tapi jika aku harus membalas kebaikanmu dengan cintaku, maaf, aku tidak bisa Rose."Andra berjalan menjauh dari Rose setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan wanita itu.
"Andra, tunggu!" Rose menahannya. Andra terpaksa menghentikan langkahnya.Rose segera menyusul Andra.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka yang lain pun tidak berhak memilikimu!"
Jlleb!
Rose menusuk punggung Andra dengan sebilah pisau.
"Argh! Kau gila Rose..." Andra menahan rasa sakitnya, ia tetap berusaha berjalan ke luar, beberapa orang berteriak-teriak karena ketakutan dengan tragedi.
Salah satu dari pengawal Andra meringkus Rose yang terduduk karena menyesal, satu lagi berusaha segera menolong Andra yang mulai lemah dan terhuyung-huyung.
"Maafkan kami bos, kami kurang memperhatikan gerakcgerik wanita itu," pengawal Andra merasa sangat menyesal karena meremehkan Rose.
"Sudahlah, itu tidak penting. Bawa saya ke rumah sakit. Jangan ada satupun diantara kalian yang memberi kabar ke rumah. Argh.. Sakit sekali..." Andra hampir terjatuh, untung Si Pengawal dengan sigap menangkap tubuh bosnya.
"Jangan membantahku. Kamu tidak mau mendengarkanku?"Andra berusaha tetap tegas dalam keadaan yang lumayan mengenaskan.
"B-baik bos!" pengawal itu segera membawa bosnya ke mobil. Ia segera tancap gas melihat kondisi bosnya yang sudah pucat pasi.
Ia segera menghubungi rekannya untuk merahasiakan kejadian ini dari bos wanitanya, sesuai dengan permintaan Andra.
Beberapa jam kemudian...
Andra sudah siuman. Meskipun kondisinya blm terlalu baik.
__ADS_1
"Bos sudah sadar.Butuh sesuatu, Bos?" pengawal itu berusaha sigap dan mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh Andra.
"Aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya ingin kau pesankan aku tiket untuk ke amerika besok, jangan tawar waktunya, aku yakin besok bisa terbang," Andra bersikeras untuk tetap berangkat ke Amerika, meskipun kondisi badannya belum pulih. Bahkan lukanya masih sangat sakit.
"Tapi, Bos. Kata dokter lukamu..."
"Sudahlah, jangan khawatirkan lukaku, aku ingin terbang besok,"
"Bukan itu, Bos.. tapi.."
"Apa kamu menungguku marah, baru akan patuh?" Andra menatap tajam pengawalnya itu, hingga lawan bicaranya menunduk.
"Baiklah, Saya akqn segera pesan tiketnya," pengawal itu mengeluarkan ponselnya dan segera reservasi tiket.
"Satu lagi, kirim pesan pada istriku, kalau aku menginap di hotel malam ini," Andre memutuskan untuk menyembunyikan rasa sakitnya dan juga musibah yang menimpanya dari Sila.
"Baik, Bos." pengawal pun segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh bosnya. Sebenarnya ia ingin membocorkannya, tapi ia teringat sumpahnya untuk selalu patuh dan menjaga kerahasiaan.
Di rumahnya, Sila yang tengah mondar-mandir menanti kepulangan Andra, sedikit tenang setelah membaca pesan masuk dari si pengawal. Ia pun memutuskan untuk tidur, meskipun matanya enggan terpejam.
Aku merasa ada hal yang di sembunyikan dari Andra, tapi apa? Setidaknya aku belajar mempercayainya dan melupakan rasa trauma ini.
Sila terus berusaha menutup matanya dengan tenang. Meskipun suara-suara malam terdengar. Lama-lama semuanya kabur dan sayup-sayup. Sila pun terlelap. Ia berhasil.
Segala macam pikiran yang mengganggunya telah berhasil terusir perlahan. Ia hanya berharap, esok hari lebih baik dari hari ini.
@@@
__ADS_1
**Hai, pembaca setia Perfect Husband, bagi kalian yang pakai aplikasi Noveltoon, Silahkan tekan gabung grup chat, di sana kita bisa cuap-cuap manja.
Jika aplikasi noveltoon kalian tidak tampil fitur gabung chat di tiap novelku, di update dulu, terima kasih 😁**