Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 61


__ADS_3

Keesokan harinya, Andre mengunjungi rumah orangtuanya. Ia akan mengatakan semuanya, termasuk minta izin untuk menikahi Sila. Semuanya tidak akan mudah,tapi Andre akan memperjuangkannya.


Di perjalanan, perasaan campur aduk memenuhi ralung hati Andre. Ia tahu, segala hal pasti ada resikonya. Ia siapa apapun komentar dan reaksi papa dan juga mamanya dengan semua hal yang terjadi.


Cepat atau lambat, semuanya memang harus di bomgkar. Ia tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan ini. Kenyataan Andra telah tiada dan Andre yang akan menikahi Sila.


Andre memasuki area rumah keluarga Wijaya. Sial, ia sedikit gemetar. Papanya tidak banyak bicara, tapi ia tidak segan kasar saat emosinya memuncak. Tapi Andre bukan lelaki pengecut, ia akan tetap berjuang untuk anak dan calon istrinya.


Ia keluar dari mobilnya, sedikit merapikan bajunya agar tampak rapi di depan keluarganya. Dia masih memakai dandanan Andra seperti biasa.


Saat ia masuk ke dalam rumah, mereka semua tengah sarapan. Mereka berdua dengan kompak memandang ke arah Andre dan tersenyum.


"Andra, ayo ikut sarapan," Mamanya mengajak Andra untuk sarapan bersama.


"Ayo, Ndra. Sudah lama kita tidak pernah sarapan bersama, bukan?" sahut papanya ramah. Andre tahu, semuanya akan berubah setelah ini. Tidak ada senyum yang akan mereka berikan lagi aetelah ia mengatakan semuanya.


Terima kasih, Pa, Ma." Andre memutuskan untuk bergabung dengan mereka berdua. Setidaknya, sebelum semuanya berubah kacau, ia masih bisa bercengkrama dengan kedua orangtuanya dengan baik.


"Ada apa? tumben sekali anak papa datang pagi-pagi begini," Karena jarang ke rumah orang tua, pasti ketara sekali saat ada sesuatu datang. Andre harus menahan dulu. Tidak bisa membahas masalah serius sambil makan.


"Setelah sarapan, aku akan membicarakannya pada Papa dan Mama." Andre lebih memilih mengambil nasi dan lauk pauk lalu memakannya. Kedua orang tuanya pun melanjutkan sarapan tanpa merasa terganggu.


Mereka bertiga sarapan dengan diiringi bahasan ringan, seperti seputar pertanyaan remeh-temeh papanya tentang pekerjaan. Sejauh ini, Andre masih merasa sedikit tenang. Semuanya berubah tegang saat mereka pindah ke ruang tamu.

__ADS_1


Detak jantung Andre tidak beraturan, mungkin wajahnya kini terlihat pucat karena terlalu tegang.Itu adalah kenyataan yang harus ia hadapi saat ini. Berulang kali lelaki itu menarik dan membuang nafas. Berharap, semuanya akan membuatnya sedikit tenang.


"Jadi, apa yang ingin kamu bahas? kenapa tampak sangat gusar sekali?" Papanya mulai menaruh curiga dan itu membuat Andre semakin gugup.


"Pa, Ma. Sebenarnya... Andra telah meninggal. Aku adalah Andre dan aku meminta restu Papa dan Mama untuk menikahi Sila, karena aku telah menghamilinya" pernyataan Andre di sambut dengan keheningan beberapa saat. Andre lemas, ia sudah siap apapun resiko yang akan dia terima saat ini.


"Andra meninggal dan kamu menyembunyikannya dari kami?! Kau kakak macam apa Andre?!"Bentak papanya, beliau naik darah saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya terjadi.


"Mama tidak menyangka, kamu setega itu. Baru saja saudaramu itu meninggal dan kamu mengambil.alih istrinya?!" Mamanya ikut marah. Jelas saja, apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan besar.


"Aku khilaf Ma, Pa, Aku memanfaatkan keadaan saat di beri amanah untuk berpura-pura menjadi Andra, hingga membuat Sila hamil. Maafkan aku." Andre mengakui semuanya adalah kesalahannya, bukan Sila. Ia tidak ingin wanita itu di salahkan. Ia cukup kuat untuk menerima semua konsekuensinya.


"Kau! Papa kecewa sama kamu!" Papanya menarik kerah baju Andre hingga ia bangkit dari duduknya.


Bugh!


Bugh!


"Papa tidak habis pikir, kenapa kamu setega itu! Bagaimana keadaan Sila? Apa dia tidak syok melihat kenyataan ini?" papa Andre teringat akan menantu kesayangannya yang telah ia anggap sebagai anak itu.


"Sila hampir bunuh diri, Pa, Ma. Aku tahu ini.salahku, aku akan berusaha memperbaiki semuanya, meskipun aku tahu ini sulit." Andre menundukkan kepalanya. Ia menunjukkan pada kedua orang tuanya bahwa ia adalah yang paling bersalah dalam kejadian ini.


"Kalau sampai terjadi sesuatu yang sama seperti pada Andra, papa juga akan membunuhmu! Dimana Andra di kuburkan?!" papanya ingin tahu dimana Andra di makamkan.

__ADS_1


"Kasih tahu kami, Ndre. Kami ingin mendatangi makam Andra." Mamanya berusaha tetap sabar, meskipun tangisannya tidak terbendung. Ibu itu sangat terpukul, salah satu anak kesayangannya meninggal dunia.


"Di Amerika, Ma, Pa. Aku bisa mengantarkan kalian nanti." ujar Andre pelan. Dia seperti tidak punya muka untuk menatap mereka berdua.


"Tidak perlu. Kamu harus jaga dan kuatkan Sila. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya dan juga bayinya. Kamu hanya perlu memberi kami alamat, biarkan kami yang mencarinya sendiri." Papa Andre terduduk lesu. Kepalanya sakit memikirkan masalah ini. Ia todak tahu harus berbuat apa. Nasi sudah menjadi bubur, jika ia tidak merestui pernikahan Andre dan Sila, maka kasihan Sila yang terpuruk. Dia adalah korban.


"Baiklah, Pa. Terima kasih."


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sila, papa tidak segan-segan untuk memberi pelajaran berharga untukmu." ancam papanya tanpa menatap Andre. Lelaki itu masih cukup kecewa pada anaknya. Ia tidak habis pikir, kenapa Andre bisa berbuat seperti itu.


"Baik, Pa. Aku akan menjaga Sila dengan baik. Bagaimanapun, Sila adalah orang yang aku cintai sejak dulu." Andre tidak segan-segan lagi bicara pada kedua orang tuanya bahwa ia sangat mencintai Sila.


"Bagus. Jaga dia dengan baik. Dia bukan hanya sekedar menantu bagi kami, dia juga sudah seperti anak. Tanpa papa jelaskan lagi, kamu pasti paham, karena kalian tumbuh bersama." ujar papanya dengan nada dingin. Ia belum bisa memaafkan m47 yang telah Andre lakukan.


"Andre paham, Pa."


"Mama juga ingin kamu jaga dia. Jaga juga anak-anak. Meskipun mereka bukan darah dagingmu, kamu harus tetap menjaga mereka." pesan mamanya. Si Kembar adalah poin penting yang tidak bisa di lupakan begitu saja.


"Tentu saja, Ma. Sejak Andra menghilang saat itu aku sudah menganggap mereka berdua sebagai uu. Nantinya, aku tidak akan membedakan keduanya. Semuanya adalah anakku, aku akan adil dengan mereka." Andre berkata dengan serius. Kali ini ia memberanikan diri menatap papa dan mamanya.


"Baik. Mama percaya kamu. Tolong jangan hancurkan kepercayaan kami lagi. Kalau hal itu sampai terjadi, Mama juga akan menghilangkanmu dalam ingatan Mama." mamanya ikut mengancam. Hidup Andre seperti berada di ujung tanduk.


Hubungannya dan Febbi harus di usaikan, Sila yang tidak mencintainya, orang tua yang membencinya. Tapi tak apa, Andre akan tetap melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


Badai akan berlalu, asal dia tidak tumbang, semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2