
Sila berjalan perlahan mengekori Andre yang berjalan cepat lebih dahulu. Ia tidak menuruti perkataan Andre karena merasa akan aneh sekali berdiam diri sendirian dalam keramaian.
Kembang gula itu sangat membuatnya teringat pada Andra. Tetapi sepertinya Andre tidak menyadari perasaannya saat ini. Pria itu malah berpikir kalau Sila sedang ingin makan makanan manis itu.
"Ini, kembang gula untukmu, Sila." Andre menyodorkan sebuah plastik bening dengan kembang gula berwarna pink di dalamnya. Sila menerimanya perlahan.
"Terima kasih, Kak." sahut Sila singkat.
"Aku tahu, kamu pasti sedang memikirkan Andra, kan? Maaf kalau aku mengingatkanmu padanya, Sila." Andre tampak menyesal karenanya Sila jadi teringat Andra.
"Tak apa, kak. Aku mungkin hanya butuh lebih banyak waktu lagi untuk melupakan dia." Sila mengatakan itu dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin sampai melukai perasaan Andre.
"Aku tahu, semuanya tidak akan mudah, Sila. Aku akan sabar menanti perasaanmu kembali seperti dulu. Kamu tidak perlu memaksakan diri." Andre menyadari, dirinya hanyalah pihak ketiga dalam hubungan Sila dan Andra.
"Terima kasih, Kak. Untuk sekarang, aku memang merasa kesulitan untuk melupakan segala hal yang pernah kami lewati bersama." Sila tersenyum dengan sedikit terpaksa. Ada perasaan perih yang terasa di hatinya. Ia sudah cukup berusaha, tetapi tentu saja rasa tak pernah bohong.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan jalannya. Aku ingin malam ini kamu terhibur." Andre menggandeng satu tangan Sila dan wanita itu mengikuti langkah Andre.
Baru kali ini Sila dapat merasakan sebuah kehampaan yang nyata. Di tengah keramaian dan tangan dalam.genggaman pasangannya, Sila merasa sendiri. Sebuah kesunyian yang teramat sangat sunyi menerpa jiwanya. Justru kerinduan terhadap Andra yang ia rasakan begitu menyeruak dan nyata.
Seandainya semuanya tidak terjadi begitu cepat, Sila tidak akan terjebak dalam situasi aneh ini. Malam ini ia sadar, bahwa ia tidak benar-benar menerima Andre, tetapi semata-mata hanya untuk anak-anaknya dan bayi yang di kandungnya.
__ADS_1
"Sila, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu sedang tidak enak badan? Kalau begitu, ayo kita pulang. Lain kali kita bisa melakukan kegiatan ini lagi, iya kan?" Andre yang melihat Sila murung berinisiatif membawa istrinya pulang ke hotel.
"Tidak perlu, Kak. Besok kita bukannya akan pulang ke rumah? Jadi malam ini kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan," Sila berusaha meyakinkan Andre untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Wanita itu mencoba menepis semua yang ada di pikirannya, bagaimanapun, Andre adalah suaminya saat ini. Ia tidak bisa membuat lelaki itu merasa terabaikan. Meskipun ini membuat hatinya terasa sakit.
Mereka berdua terus berjalan, melewati berbagai tempat yang menjual berbagai keperluan. Menerobos kerumunan orang-orang yang juga sedang berjalan bersama pasangan mereka.
Dalam halusinasi, Sila melihat Andra yang menggandengnya, tapi sekejap kemudian, bayangan itu hilang dan ia menyadari yang menggandengnya bukan Andra. Sila menyeka airmatanya, agar Andre tidak melihat luka kerinduan yang kini sedang menerpanya.
"Coba kamu lihat anak kecil itu, Sil. Lucu sekali, aku membayangkan nanti anak kita juga lucu seperti dia, seperti kakak-kakaknya juga." Andre tampak sangat bahagia. Tanpa sadar, Sila memegang pelan perutnya, ia tidak bisa sebahagia Andre. Ia hanya mengiyakan dan tersenyum tipis
Mereka berdua menghabiskan waktu dengan makan nasi goreng, melihat dan membeli berbagai macam barang, hingga akhirnya mereka kembali ke hotel.
"Sungguh, tidak ada apapun yang harus di jelaskan, Kak. Semuanya baik-baik saja. Mungkin emosiku saja yang sedang tidak stabil." Sila sengaja berkilah. Ia dan Andre baru saja menikah, Sila tidak ingin merusak momen mereka.
"Aku harap, kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tidak ingin hanya aku yang bahagia di hari pernikahan kita, tetapi juga kamu. Sekarang kamu adalah istriku, Sila. Aku ingin kamu hanya memikirkan aku." ujar Andre tegas.
Sila sedikit terkejut karena Andre tampak egois, tetapi memang benar, dia adalah suami Sila saat ini. Sudah sepatutnya, Sila hanya memikirkan Andre, bukan lelaki lain.
"Maafkan aku kalau sikapku membuat Kakak merasa tidak nyaman. Aku akan berusaha lebih perhatian padamu, Kak." Sila menunduk, ia merasa bersalah. Selama ini, Sila tidak pernah melihat Andre sampai berkata seperti ini. Dia tidak pernah seegois ini sebelumnya.
__ADS_1
"Oh, jadi ini, seorang saudara kembar yang tega merampas istri adiknya sendiri?!" Seorang lelaki dengan postur tubuh tidak asing, mengenakan topi hitam, baju serba hitam dan berkacamata hitam menghadang mereka.
"Siapa kamu?! Apa maksudmu berbicara seperti itu?" Andre merasa kesal karena pria berkumis dan misterius di hadapannya itu tiba-tiba saja menghujat dirinya.
"Anda yakin tidak melakukan apapun, saudara Andre? Atau, sebenarnya kamu sedang bingung menyiapkan alasan apa yang akan kamu gunakan untuk menutupi kebenaran ini?" lelaki itu berbicara serius. Sila hanya kebingungan dan penasaran, siapa lelaki itu dan apa hubungannya dengan Andre.
"Jaga bicaramu! Kalimatmu, bisa saja menghancurkan kebahagiaanku. Jangan coba-coba mempengaruhi Sila." Andre tampak emosi dengan sikap yang di tunjukkan oleh orang asing itu.
"Aku bicara fakta, lagipula, kebahagiaan yang di bangun dengan kebohongan tidak akan berjalan mulus. Pada akhirnya, semuanya akan berakhir sia-sia." kata orang itu lagi. Sila semakin bingung di buatnya.
"Kamu sebenarnya siapa? Apa yang kalian bahas? Aku tidak mengerti, apa masalah di antara kalian?" Sila berusaha mencari jawaban atas perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.
"Apa aku perlu memperkenalkan diriku padamu, Cantik? Apa kamu sudah melupakanku?" jawaban pria asing itu justru membuat Sila semakin bingung.
"Cukup basa-basinya. Kami harus segera kembali ke hotel. Tidak ada waktu untuk berdebat dengan orang aneh sepertimu!" Andre coba melewati lelaki itu seraya terus menggandeng Sila. Tapi, lelaki itu mencengkeram bahu Andre kuat.
"Masalah kita belum selesai. Aku harus membuka penyamaranku terlebih dahulu, agar kamu tahu, siapa yang mengajakmu bicara!"
Pria itu membuka topinya, kacamata dan juga kumis palsunya. Andre menatap nanar kepada pemilik wajah yang hanya beberapa jengkal di depan matanya itu. Ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kamu..." ucapnya, tak mampu menambahkan kalimat lebih panjang lagi. Lidahnya kelu.
__ADS_1
"Sekarang kamu tahu siapa aku? Coba kamu jelaskan, apa ini?! Apa yang aku lihat di depan mataku ini adalah kebenaran?! Jawab aku!!" Pria itu meremas kerah baju Andre dengan penuh emosi, matanya memerah, begitu pula dengan wajahnya. Sorot mata lelaki itu penuh dengan kekecewaan.
Sila terduduk dengan air mata yang terurai. Sungguh, ia tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun.