
“Mas ngapain tiba-tiba ngajakin aku
ke taman belakang?” Sila penasaran saat Andra tiba-tiba mengajaknya ke taman
belakang. Mereka berdua memakai baju favorit mereka saat akan tidur. Sila
dengan piyama pendek sepaha dan Andra menggunakan kaos oblong putih polos dan celana panjang santainya.
“Nanti juga kamu tahu. Malam ini, Mas mau lihat Bintang sama kamu, berdua saja, “Andra
menggandeng mesra tangan Sila. Begitu erat, seperti enggan melepaskannya. Hatinya
yang bergetar setiap dekat dengan wanita itu menggambarkan betapa dalam
perasaannya pada Sila di masalalu.
Mereka berdua telah sampai di taman belakang. Andra udah
menyiapkan sebuah karpet dengan hiasan lilin merah yang mengelilingi karpet itu
dengan bentuk love. Tidak jauh dari lokasi itu, ada deretan lilin putih yang
berbentuk kata ‘I Love U’. Sila terharu melihat semua itu, ia menutup mulutnya
yang menganga karena takjub dengan apa yang Andra persiapkan untuknya.
Andra menuntun tubuh Sila agar berhadapan dengannya. Ia menangkup
kedua pipi wanita itu dengan kedua belah tangannya, menatap dalam ke kedua bola
mata istrinya. Andra juga merapikan rambut Sila yang sedikit menutupi wajah
cantiknya.
“Sila, meskipun kisah kita di masalalu aku sudah tidak ingat
lagi, hari ini, izinkan aku mengungkapkan perasaanku saat ini. Aku jatuh cinta
lagi padamu. Aku sayang kamu, jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah jadi
bidadari di dalam hidupku,” Andra mengecup kening Sila lembut dan lama. Wanita itu
menerima cium kening dari suaminya dengan memejamkan matanya. Ia merasakan
kedamaian yang tidak biasa di dalam hatinya. Sebuah kebahagiaan baginya, dalam
keadaan lupa ingatanpun Andra tetap mencintainya.
“Mas, kamu tahu, aku bahagia banget mendapatkan kejutan ini
darimu. Aku juga mencintai kamu dan menyayangi kamu selalu. Aku bahagia,
setelah penantianku sekian lama akhirnya aku bisa kembali bersama kamu, Mas.” Sila
memandang lekat wajah Andra, lalu berhambur ke pelukan lelaki itu. Ia memeluknya
erat seperti enggan untuk melepaskannya lagi.
Masih tergambar jelas dalam ingatan Sila, bagaimana ia harus
__ADS_1
kehilangan Andra saat itu. Ia menjadi orang tua tunggal untuk kedua buah hati
mereka, ia juga harus pontang-panting mengurus perusahaan dan juga panti,
sampai kewalahan. Belum lagi kesepian
setiap harinya, tanpa ada yang bisa ia ajak bicara dari hati ke hati, kecuali
foto-foto suaminya itu.
“Aku sengaja, mungkin ini tidak semanis kenangan kita dulu,
tapi aku harapemua ini bisa membuat kamu bahagia. Aku ingin menebus semua
waktuku yang telah hilang selama tiga tahun tanpa menemanimu. Aku ingin selalu
bisa memberikan sebuah kejuta n-kejutan kecil untukmu. Kamu bidadari hatiku,
Sila. Aku sangat mencintaimu, “ Sekali lagi Andra menatap mata Sila dengan
tatapan dalam. Kedua bola mata indah itu selalu berhasil menghipnotisnya.
Cupp..
Sebuah kecupan yang dalam ia daratkan di bibir Sila. Keduanya
memejamkan mata. Mengabaikan berbagai suara yang terdengar. Hanya hembusan
angin malam yang berani mengusik mereka. Hawa dingin yang berhembus tidak mampu
membekukan rasa cinta keduanya yang tengah membara.
mencintai dan menyayangi satu sama lain. Mereka ingin menunjukkan pada dunia,
seberapa besar dan kuatnya ikatan cinta di antara mereka berdua. Dengan ikatan
yang kuat mereka tidak akan mudah tergoyahkan. Takdir yang telah mempertemukan
dan mempersatukan mereka.
Mereka berdua membuka mata. Saling melempar senyum satu sama
lain. Andra melepaskan kecupannya perlahan. Andra menggamit pinggul Sila dan
mengajak wanita itu untuk berjalan menuju karpet. Seperti yang dia bilang malam
ini Andra ingin melihat bintang.
Keduanya berbaring terlentang menghadap langit. Kepala mereka
berdekatan, sangat dekat, hingga rambut
mereka saling bersentuhan. Mata mereka tertuju pada bintang-bintang yang berada
di atas sana, seolah tengah memandang dan menyaksikan keromantisan mereka
berdua.
“Coba lihat, Sila. Di sana ada bintang yang paling terang,
__ADS_1
sangat indah. Pancaran sinanya sama dengan pancaran sinar matamu yang mampu
membuat aku terpana,” Andra menunjuk sebuah bintang yang paling terang ,
membuat Sila memandng bintang yang sama dengannya.
“Ayo ulurkan tanganmu, bentuk jari kamu seperti ini, Mas.”
Mereka berdua menyatukan ujung jari telunjuk dan ibu jari
mereka sehingga membentuk simbol love yang tampak mengitari bintang paling
terang itu. Keduanya saling pandang dan tersenyum sesaat setelah itu keduanya kembali menatap bintang yang sama.
Setelah lumayan lama, mereka berdua menurunkan tangan dan
tidur miring saling berhadapan. Pandangan mereka beradu satu sama lain. Kebahagiaan
tengah menghampiri mereka berdua, mereka kasmaran, layaknya pasangan remaja.
“Mas, kamu ingat, masa-masa manja saat aku mengandung si
kembar?”
“Aku tidak mengingatnya, sayang. Maukah kamu menceritakan padaku?”
“Tentu saja, Mas. Saat
aku hamil Alana dan Alandra, bawaannya aku selalu manja sama kamu. Setiap hari
pengennya selalu nempel kamu, seperti
perangko. Bahkan aku pernah sampai menyusulmu ke kantor karena terlalu kangen,”
Sila menceritakan itu sambil mengelus pipi Andra pelan dan penuh perasaan.
“Manja banget sih, kamu. Aku bisa bayangin saat itu pasti
kamu selalu nempel terus kan sama aku? Pasti
setiap detik, kamu selalu memelukku erat-erat, dan bilang ‘Mas, kangen.’ “
Andra terkekeh mendeskripsikan khayalannya. Sila mencubit lengan suaminya
lumayan kencang.
“Kok, Mas bisa tahu, sih?”
“Jadi tebakanku benar?”
“Memang seperti itulah aku saat hamil si kembar, sangat
manja,”
“Aku membayangkan, masalalu kita sangat indah. Sila,
mendekatlah padaku...”
Sila menuruti keinginan Andra. Ia mendekap erat tubuh istrinya.
__ADS_1
Mereka tenggelam dalam kemesraan di selimuti oleh dinginnya angin malam.