Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 18


__ADS_3

“Mas ngapain tiba-tiba ngajakin aku


ke taman belakang?” Sila penasaran saat Andra tiba-tiba mengajaknya ke taman


belakang. Mereka berdua memakai baju favorit mereka saat akan tidur. Sila


dengan piyama pendek sepaha dan Andra menggunakan kaos oblong  putih polos dan celana panjang santainya.


“Nanti juga kamu tahu.  Malam ini, Mas mau lihat Bintang sama kamu, berdua saja, “Andra


menggandeng mesra tangan Sila. Begitu erat, seperti enggan melepaskannya. Hatinya


yang bergetar setiap dekat dengan wanita itu menggambarkan betapa dalam


perasaannya pada Sila di masalalu.


Mereka berdua telah sampai di taman belakang. Andra udah


menyiapkan sebuah karpet dengan hiasan lilin merah yang mengelilingi karpet itu


dengan bentuk love. Tidak jauh dari lokasi itu, ada deretan lilin putih yang


berbentuk kata ‘I Love U’. Sila terharu melihat semua itu, ia menutup mulutnya


yang menganga karena takjub dengan apa yang Andra persiapkan untuknya.


Andra menuntun tubuh Sila agar berhadapan dengannya. Ia menangkup


kedua pipi wanita itu dengan kedua belah tangannya, menatap dalam ke kedua bola


mata istrinya. Andra juga merapikan rambut Sila yang sedikit menutupi wajah


cantiknya.


“Sila, meskipun kisah kita di masalalu aku sudah tidak ingat


lagi, hari ini, izinkan aku mengungkapkan perasaanku saat ini. Aku jatuh cinta


lagi padamu. Aku sayang kamu, jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah jadi


bidadari di dalam hidupku,” Andra mengecup kening Sila lembut dan lama. Wanita itu


menerima cium kening dari suaminya dengan memejamkan matanya. Ia merasakan


kedamaian yang tidak biasa di dalam hatinya. Sebuah kebahagiaan baginya, dalam


keadaan lupa ingatanpun Andra tetap mencintainya.


“Mas, kamu tahu, aku bahagia banget mendapatkan kejutan ini


darimu. Aku juga mencintai kamu dan menyayangi kamu selalu. Aku bahagia,


setelah penantianku sekian lama akhirnya aku bisa kembali bersama kamu, Mas.” Sila


memandang lekat wajah Andra, lalu berhambur ke pelukan lelaki itu. Ia memeluknya


erat seperti enggan untuk melepaskannya lagi.


Masih tergambar jelas dalam ingatan Sila, bagaimana ia harus

__ADS_1


kehilangan Andra saat itu. Ia menjadi orang tua tunggal untuk kedua buah hati


mereka, ia juga harus pontang-panting mengurus perusahaan dan juga panti,


sampai kewalahan.  Belum lagi kesepian


setiap harinya, tanpa ada yang bisa ia ajak bicara dari hati ke hati, kecuali


foto-foto suaminya itu.


“Aku sengaja, mungkin ini tidak semanis kenangan kita dulu,


tapi aku harapemua ini bisa membuat kamu bahagia. Aku ingin menebus semua


waktuku yang telah hilang selama tiga tahun tanpa menemanimu. Aku ingin selalu


bisa memberikan sebuah kejuta n-kejutan kecil untukmu. Kamu bidadari hatiku,


Sila. Aku sangat mencintaimu, “ Sekali lagi Andra menatap mata Sila dengan


tatapan dalam. Kedua bola mata indah itu selalu berhasil menghipnotisnya.


Cupp..


Sebuah kecupan yang dalam ia daratkan di bibir Sila. Keduanya


memejamkan mata. Mengabaikan berbagai suara yang terdengar. Hanya hembusan


angin malam yang berani mengusik mereka. Hawa dingin yang berhembus tidak mampu


membekukan rasa cinta keduanya yang tengah membara.


mencintai dan menyayangi satu sama lain. Mereka ingin menunjukkan pada dunia,


seberapa besar dan kuatnya ikatan cinta di antara mereka berdua. Dengan ikatan


yang kuat mereka tidak akan mudah tergoyahkan. Takdir yang telah mempertemukan


dan mempersatukan mereka.


Mereka berdua membuka mata. Saling melempar senyum satu sama


lain. Andra melepaskan kecupannya perlahan. Andra menggamit pinggul Sila dan


mengajak wanita itu untuk berjalan menuju karpet. Seperti yang dia bilang malam


ini Andra ingin melihat bintang.


Keduanya berbaring terlentang menghadap langit. Kepala mereka


berdekatan,  sangat dekat, hingga rambut


mereka saling bersentuhan. Mata mereka tertuju pada bintang-bintang yang berada


di atas sana, seolah tengah memandang dan menyaksikan keromantisan mereka


berdua.


“Coba lihat, Sila. Di sana ada bintang yang paling terang,

__ADS_1


sangat indah. Pancaran sinanya sama dengan pancaran sinar matamu yang mampu


membuat aku terpana,” Andra menunjuk sebuah bintang yang paling terang ,


membuat Sila memandng bintang yang sama dengannya.


“Ayo ulurkan tanganmu, bentuk jari kamu seperti ini, Mas.”


Mereka berdua menyatukan ujung jari telunjuk dan ibu jari


mereka sehingga membentuk simbol love yang tampak mengitari bintang paling


terang itu. Keduanya saling pandang dan tersenyum sesaat setelah itu keduanya kembali  menatap bintang yang sama.


Setelah lumayan lama, mereka berdua menurunkan tangan dan


tidur miring saling berhadapan. Pandangan mereka beradu satu sama lain. Kebahagiaan


tengah menghampiri mereka berdua, mereka kasmaran, layaknya pasangan remaja.


“Mas, kamu ingat, masa-masa manja saat aku mengandung si


kembar?”


“Aku tidak mengingatnya, sayang.  Maukah kamu menceritakan padaku?”


“Tentu saja, Mas.  Saat


aku hamil Alana dan Alandra, bawaannya aku selalu manja sama kamu. Setiap hari


pengennya selalu nempel  kamu, seperti


perangko. Bahkan aku pernah sampai menyusulmu ke kantor karena terlalu kangen,”


Sila menceritakan itu sambil mengelus pipi Andra pelan dan penuh perasaan.


“Manja banget sih, kamu. Aku bisa bayangin saat itu pasti


kamu selalu nempel terus kan sama aku?  Pasti


setiap detik, kamu selalu memelukku erat-erat, dan bilang ‘Mas, kangen.’ “


Andra terkekeh mendeskripsikan khayalannya. Sila mencubit lengan suaminya


lumayan kencang.


“Kok, Mas bisa tahu, sih?”


“Jadi tebakanku benar?”


“Memang seperti itulah aku saat hamil si kembar, sangat


manja,”


“Aku membayangkan, masalalu kita sangat indah. Sila,


mendekatlah padaku...”


Sila menuruti keinginan Andra. Ia mendekap erat tubuh istrinya.

__ADS_1


Mereka tenggelam dalam kemesraan di selimuti oleh dinginnya angin malam.


__ADS_2