Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 8


__ADS_3

Sila akhirnya sampai ke Resto tempat dia dan Dewa mengadakan janji bertemu. Dari kejauhan sila melihat Dewa telah menunggunya dengan kemeja putih dan celana senada. Cara berpakaian Dewa mengingatkan momen maternitynya dulu bersama Andra.


"Hai, Aku di sini," Lelaki itu melambaikan tangannya pada Sila. Dewa tampak bahagia sekali bertemu dengan Sila siang itu.


"Hai, Dewa. Kamu sudah menungguku lama, ya?" Sila segera mengatur duduknya, tanpa sengaja mereka berdua berhadapan. Dewa menatap Sila hampir tak berkedip. Ia benar-benar terpesona pada wanita yang ada di hadapannya itu.


"Ada yang salah dengan dandananku?" Kalimat ini akhirnya menyadarkan Dewa yang terpesona pada Sila. Lelaki itu jadi sedikit salah tingkah.


"Maaf, maaf. Sekali lagi maaf kalau aku terkesan tidak sopan padamu, Sila," Dewa gugup. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dia merasa sedikit malu karena tingkahnya terciduk oleh Sila.


"Santai saja, Dewa. Aku tidak masalah, kok. Kamu sudah sejak tadi di sini?" Sila mencoba berbasa-basi agar Dewa tidak canggung lagi.


"Baru saja kok, sekitar sepuluh menit yang lalu. Aku sudah memesankan makanan untuk kita, semoga kamu menyukainya. Anakmu dengan siapa di rumah?" Karena pertemuan santai, bahasan mereka pun santai.


"Dengan pengasuhnya, aku belum berani membawa mereka pergi, karena usianya masih kecil, Baru tiga tahun." Jelas Sila sambil menyedot pelan minuman yang terhidang di hadapannya.


"Siapa nama anakmu?" Dewa juga menyeruput minumannya.


"Alana dan Alandra," Jawab Sila singkat.


"Alana dan Alandra?" Tiba-tiba saja Dewa seperti mengingat sesuatu. Ia terbayang tangisan bayi, dia juga teringat bahwa dia pernah menyebutkan nama itu. Kepalanya sedikit sakit, hingga tanpa sadar Dewa memegangi kepalanya.


"Ada apa, Dewa? Kamu sakit kepala? Perlu ke dokter?" Sila panik melihat Dewa yang seperti itu.


"Tidak. Tidak perlu, aku sudah terbiasa dengan sakit kepala yang datang dengan tiba-tiba. Aku hanya terlalu stress." Dewa menemukan satu keping puzzle. Dia sangat yakin, nama kedua anak Sila ada hubungannya dengan dia, tapi entah apa. Dewa belum bisa menyimpulkannya sekarang.


"Baiklah, kalau begitu minum ini," Thella menyodorkan sebotol air mineral yang sengaja selalu ia bawa di dalam tasnya. Dewa menerima air itu dan meminumnya.

__ADS_1


"Terima kasih. Anak-anakmu pasti sedang lucu-lucunya. Kapan-kapan, aku ingin bertemu dengan mereka. Apa kamu mengizinkan?" Sila merasa tersentuh saat Dewa menginginkan bertemu dengan anak-anaknya. Kalau benar firasatnya, Dewa adalah Andra, tentu saja nanti mereka akan memiliki ikatan batin antara ayah dan anak.


"Tentu saja, jika ada waktu luang berkunjung ke rumah. Kamu suka pada anak-anak?" Sila ingin tahu lebih jauh, kenapa Dewa ingin bertemu dengan anak-anaknya.


"Aku pecinta anak-anak. Jadi aku penasaran pada anakmu, Aku sudah membayangkan mereka pasti sangat lucu." Jawaban Dewa Sedikit memupus harapan Sila. Tapi setidaknya ia menyukai anak-anak, itu nilai plus di mata Sila.


"Dewa, aku boleh tanya sesuatu?" Sila ingin mengetahui sesuatu yang ingin ia ketahui dari Dewa.


"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan? Sekarang kan bukan pertemuan kerja, jadi bebas," Dewa memberikan ruang untuk Sila bertanya seputar kehidupannya.


"Bekas luka di pipimu, itu karena apa?" Sila sejak awal memang tertarik pada bekas luka yang ada di pipi Dewa.


"Karena kecelakaan. Kata keluargaku, aku juga nggak tahu tepatnya kecelakaan apa. Kata mereka tiga tahun aku mengalami koma." Cerita Dewa menarik perhatian Sila.


"Kamu koma tiga tahun?" Sila mengulang kata itu. Berharap ada jawaban yang mengarah pada Andra. Sila kembali optimis.


"Maksudmu, keluargamu asing? Kamu tidak di perlakukan seperti keluarga?" Sila semakin tertarik untuk mengorek keterangan dari Dewa tentang kisah yang ia ceritakan. Sepertinya, Dewa adalah pasien amnesia parah menurut pandangan Sila.


"Betul. Mereka tampak kaku. Apalagi Rose, meskipun dia di bilang, dia tunanganku, tapi aku sama sekali tidak ada perasaan terhadapnya. Aku hanya mencoba untuk menghargainya. Aku takut menyakitinya kalau dia benar-benar tunanganku." Raut wajah Dewa tampak kebingungan. Dia seperti sedang mencari jati dirinya. Ia merasa hidupnya tidak normal.


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Dewa. Mungkin saja, kamu butuh proses untuk mengingatnya, kan?" Sila mencoba memberikan saran terbaiknya untuk Dewa. Bagaimanapun juga ia tidak bisa terlalu berharap kalau itu Andra.


Mereka terus berbincang sampai tanpa terasa hari mulai malam. Tepat pukul delapan malam mereka keluar dari Resto itu. Dewa kemudian mengajak Sila untuk pergi ke Bar. Mereka berdua sama-sama ingin menghibur diri.


"Kamu pernah minum?" Dewa memberikan pertanyaan itu terlebih dahulu. Menurut pandangan Dewa, Sila adalah wanita baik-baik, tidak seperti Rose.


"Belum pernah, Dewa. Tapi aku ingin mencobanya malam ini." Tepat seperti dugaan Dewa, Sila bukan wanita sembarangan.

__ADS_1


"Sila, sebaiknya tidak usah, lebih baik kamu pulang saja. Biar aku pulang sendiri, nanti." Dewa meminta Sila untuk pulang saja.


"Tidak Dewa, aku ingin menemanimu. Sekaligus aku ingin melepaskan penatku sejenak. Bersamamu, aku merasa lebih aman," Sila tetap memaksa untuk ikut bersama Dewa.


"Baiklah, satu gelas saja. Untuk pemula, tidak boleh minum terlalu banyak," Dewa mengingatkan pada Sila untuk tidak terlalu banyak minum.


"Siap, Bos!" Sila mematuhi peraturan Dewa.


Mereka berdua pun minum. Hanya satu gelas saja, rasanya Sila sudah sedikit pusing dan kepalanya berat. Ia memutuskan untuk menyudahi kegiatan minumnya, ia hanya menemani Dewa saja. Mereka minum sambil berkaraoke, hingga larut malam.


Dewa hampir tidak sadarkan diri. Sila bingung harus membawanya kemana. Ia memutuskan minta bantuan untuk memasukkan Dewa ke mobil dan membawanya pulang ke rumahnya.


Meski sedikit pusing, untung saja Sila masih mampu menyetir mobilnya sampai ke rumah. Ia minta bantuan pak Budi untuk membawa Dewa ke kamar tamu.


"Dia, siapa Nyonya? Kenapa mirip sekali dengan tuan Andra?" Pak Budi penasaran dengan laki-laki yang di bawa oleh majikannya. Ternyata pak Budi juga merasakan kesamaan Dewa dengan Andra.


"Dia, temen saya pak. Saya tidak tahu di mana rumahnya, makanya saya bawa ke sini. Jangan beritahu yang lain ya, pak. Kalau saya membawa laki-laki ke rumah ini." Sila percaya pak Budi bisa menjaga rahasia.


"Tenang saja, semuanya aman." pak Budi membawa Dewa ke kamar tamu dan menidurkan pria itu di sana.


"Terima kasih, pak." Sila membenarkan letak tidur Dewa.


"..." Pak Budi tidak membalas perkataan Sila,


hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sila menatap Dewa lekat-lekat. Kemiripan antara dirinya dan Andra semakin terlihat nyata. Sila memberanikan diri menyentuh pipi lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2