Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 84 (Epilog)


__ADS_3

Kehidupan Andra dan Sila kembali harmonis dan manis seperti sedia kala. Mereka berdua kompak menjaga kandungan Sila sampai saat bersalin tiba. Sila melahirkan bayi laki-laki yang di beri nama Revand.


Andre dan Febbi yang sepakat tidak memiliki momongan dulu sejak awal pernikahan mereka mengambil alih hak asuh Revand dan mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.


Sila dan juga Febbi berkolaborasi membuka butik dan di kelola bersama. Mereka sangat kompak dan bersahabat. Keduanya saling bahu-membahu satu sama lain, hingga butik yang mereka kelola maju pesat saat itu.


Setelah kejadian yang mereka alami, Andra dan Andre semakin kompak. Mereka berdua membangun sebuah perusahaan sebagai bentuk persaudaraan mereka yang mengerat. Tidak ada lagi perbedaan atau perselisihan.


Andre telah hidup bahagia bersama Febbi dan telah mencintai wanita itu sepenuh hati. Tidak ada persaingan cinta lagi di antara dirinya dan Andra.


Sebuah perasaan cinta memang tidak dapat di paksakan, cinta juga tidak dapat memilih kepada siapa ia akan jatuh, yang bisa di lakukan adalah bagaimana cara mengendalikannya agar tidak menyesal di kemudian hari.


Cinta juga terkadang membuat orang menjadi bodoh dan egois, tidak dapat melihat orang lain yang mencintai kita selain orang yang kita inginkan. Hingga suatu hari, rasa itu perlahan memudar dan berpindah tanpa di sadari.


Sebagai saudara, bersaing dalam hal cinta adalah hal yang biasa, tetapi harus tetap di ingat, bahwa persaudaraan seharusnya tidak dapat di putus begitu saja hanya karena kesalah pahaman dalam percintaan.


Di rumah Andra-Sila


"Sayang, kangen sama Revand. Besok kita ke rumah kakak, yuk." rengek Sila saat mereka hendak tidur. Ia tengah tiduran berdua sambil memeluk Andra.


"Mas juga kangen sama Revand. Padahal tadi kita baru saja melihat video kiriman dari kakak. Lucu ya, jadi terbayang Allana Alandra saat bayi, pasti lucu seperti itu." Andra membayangkan masa bayi kedua anaknya yang terlewatkan olehnya.


"Mas kepikiran buat punya bayi lagi, nggak?" Sila sengaja menatap Andra saat menanyakan itu.

__ADS_1


"Kepikiran sih, gimana kalau kita pergi bulan madu dan program kehamilan lagi?" ungkap Andra kemudian.


"Boleh. Sepertinya itu ide bagus,"


"Ayah... Bunda..." tiba-tiba Allana dan Alandra masuk ke dalam kamar mereka.


"Sayang, sini nak.." Sila bangkit dari tidurnya dan menyambut kedatangan anak-anak.


"Mau tidur sama Bunda..." Rengek Allana dan Alandra hampir bersamaan.


"Ayo sini naik," Andra dan Sila mengangkat tubuh kedua bocah itu. Andra mengangkat Allana dan Sila mengangkat Alandra. Malam itu mereka tidur berempat.


Di rumah Andre-Febbi


"Bang, Revand bangun..." Febbi segera bangkit dari duduknya.


"Kamu cek dia, aku bikin susu dulu sebentar. Sepertinya dia haus." Andre ikutan berdiri.


"Baik, Bang." Febbi segera bergegas ke kamarnya.


Dengan hati-hati Febbi mengangkat tubuh Revan dan menggendongnya lalu di bawanya duduk di pinggir ranjang.


"Mama di sini sayang...cup cup..." Febbi mengayun-ayun tubuh Revand agar bayi mungil itu diam dan benar saja, ia tampak tenang berada dalam gendongan Febbi.

__ADS_1


"Ini sayang susunya. Di gendong kamu langsung diam ya. Anak manis," Andre mengelus lembut wajah Revand. Febbi segera meminumkan susu yang baru di buat Andre pada Revand. Sepertinya bayi itu benar-benar lapar.


"Terima kasih, Feb. Kamu sudah menyayangi Revand seperti anak kamu sendiri. Dia juga sudah nyaman dekat kamu." Andre mencium pelipis Febbi sebagai bentuk rasa sayangnya.


"Abang ngomong apa, sih? Revand kan anak kita. Jangan bedakan dia hanya karena bukan lahir dari rahimku, Bang. Aku sayang sama Revand, tidak perduli dia lahir dari rahim siapa." ungkap Febbi tulus. Dia memang sangat menyayangi Revand. Baginya, anak itu sangat berarti meskipun bukan dia yang melahirkannya.


"Aku sangat beruntung memiliki wanita sebaik kamu, Feb. Terima kasih untuk segalanya." Andre memeluk Febbi perlahan. Mereka bertiga tampak sangat berbahagia.


Andre bahagia dan bersyukur menemukan Febbi yang mampu menumbuhkan perasaan cinta di hatinya. Di dalam hatinya ia berjanji untuk menjaga Febbi sebaik mungkin.


Percayalah, jodoh tak kan kemana. Seperti kata pepatah "Takkan lari gunung di kejar" Begitulah dengan jodoh. Ia tak akan pernah lari, meskipun ada badai menerjang. Sebaliknya jika dia bukan jodoh, meskipun menanti seribu tahun, ia tak akan di dapatkan.


Begitu pula dengan Akhir cinta segitiga, manis sekali bukan?


 


NB: Sekuel Perfect Husband akan rilis bulan juni. Jangan lupa mampir ke novel Author yang lain. Cek di profil. Terima kasih.


 


❤END❤


 

__ADS_1


__ADS_2