
"Rey! Ngapain sih. Akhir-akhir ini suka melamun? Kamu lagi mikirin apa? Kalau ada masalah biasanya cerita, kenapa sih?" Rose mencoba mencari tahu penyebab Rey yang menurutnya berubah. Pria itu tidak seperti biasanya dan lebih suka diam dan menyendiri.
"Eh, kamu Rose. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya terlalu lelah. Maaf kalau aku tampak tidak sebaik biasanya," Rey tidak bergeming dari tempat duduknya. Benar-benar, cinta telah menguasai hidupnya hingga menjadi sedikit kacau.
"Tidak apa-apa Rey, aku paham kalau kamu kelelahan. Kemarin kamu sudah bekerja keras. Aku.ingin membahas langkah selanjutnya untuk rencanaku merebut Dewa kembali. Kamu mau tahu apa ideku?"
Rey tidak mungkin menolak, dia adalah sahabat Rose, ia juga telah lama banyak saling membantu denga wanita itu. Tapi entah kenapa baru sekarang perasaannya hadir atau mungkin dia yang baru menyadarimya?
Rey ingin menolak, tapi dia tidak punya pilihan untuk menolak. Mau tidak mau, suka dan tidak suka, dia harus menerimanya, suka tidak suka, mau tidak mau.
"Jadi apa rencanamu?" Rey akhirnya buka suara setelah lama terdiam.Dia sebenarnya sudah malas mendengar nama Andra atau Dewa. Tapi sementara ini ia hanya bisa diam. Karena, saat wanita sedang jatuh cinta, tidak akan mudah di pengaruhi pikirannya untuk menjauhi orang yang di cintainya.
"..." Rose membisikkan rencananya di telinga Rey, hingga tidak ada yang bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu yakin mau pakai rencana ini? Bagaimana kalau ternyata Andra tidak bisa memenuhi permintaanmu?" Rey meragukan keberhasilan rencana Rose. Dia biasanya banyak ide, tapi entah mengapa kali ini ide di otaknya seperti membeku dan tidak bisa berpikir.
"Apa salahnya kita coba dulu, Rey. Aku yakin sepertinya akan berhasil. Lagipula kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mencobanya." apa yang di katakan oleh Rose memang benar. Segala sesuatu harus di coba dulu untuk mengetahui bagaimana hasilnya saat telah di mulai.
"Baiklah. Aku akan membantumu untuk merebut Dewa. Tapi kali ini yang terakhir, Rose. Aku tidak akan membantu lagi jika kali ini gagal." Rey menegaskan pada Rose kalau ia tidak akan membantunya lagi untuk melakukan trik jahat perebutan Andra.
"Kalau kali ini gagal, aku tidak akan.melibatkanmu lagi, aku janji. Sebelumnya terima kasih, Rey, kamu selalu membantu setiap masalahku, kamu sahabatku yang luar biasa." Rose sangat terbantu dengan adanya Rey di dalam hidupnya. Pria itu telah banyak membantunya.
"Kita berteman sangat lama, tidak perlu sungkan, aku pasti akan selalu membantumu. Tapi untuk kasus Andra, aku akan menyerah kalau sampai kali ini tidak berhasil juga." Rey menyerah bukan karena apa, tapi ia tidak nyaman dengan perasaannya sendiri. Mungkin Rey hanya merasa sedikit cemburu.
"Rose, apa menurutmu cinta itu benar-benar buta?" Entah apa yang membuat Rey bertanya pertanyaan receh seperti itu, kalimat yang ia ucapkan meluncur begitu saja. Semuanya keluar tanpa kontrol.
"Benar sekali, Rey. Cinta itu memang buta. Kita tidak bisa melihat cinta selain dia, dia yang paling bersinar. Apapun penghalangnya, kita pasti mempunyai kekuatan untuk merebutnya. Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu? Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta, ayo cerita, siapa gadis beruntung yang mendapatkan cintamu itu?" Rose memang belum pernah melihat Rey selebay hari ini. Kelakuannya sangat aneh sejak tadi. Rose curiga dan coba membaca-baca perasaan Rey.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, tapi aku tidak yakin. Aku hanya merasakan perasaan yang begitu asing pada seseorang. Sayangnya dia sudah memiliki kekasih dan aku tidak mungkin bisa menggapainya begitu saja. Dia terlalu jauh dari jangkauanku, ibarat bumi dan langit, sejauh itu. Mungkin aku memutuskan untuk memendamnya saja, sampai kapanpun," Rey sedikit lega karena sudah mengungkapkan apa yang ada di dalam perasaannya. Meskipun Rose tidak akan menyadari jika yang di maksud adalah dirinya, setidaknya Rey merasa sedikit lebih tenang.
"Tuh, kan. Benar dugaanku. Ternyata sahabatku ini tengah jatuh cinta. Kenapa nggak cerita dari tadi? Kenapa kamu bilang begitu jauh? Wanita yang kau sukai itu seorang anak walikota? " Rose menggoda sahabatnya. berulang kali jatuh cinta, menurut Rose ini adalah hal terlebayal yang pernah ia lihat dari sosok Rey.
"Bukan, Rose. Tapi dia lebih sempurna daripada itu. Ia jauh lebih berkuasa. Setiap dekat dengannya, sekarang jantungku jadi berdetak tak menentu. Bahkan menatapnya juga terara kikuk," ungkap Rey yang di sambut gelak tawa oleh Sila. Ia merasa Rey yang di depannya bukanlah sahabatnya, tapi orang lain drngan wajah yang sama.
"Rey, sejak kapan kamu menjadi mahluk bumi yang bucin seperti ini. Aku rasanya ingin tertawa sepuasnya. Lihatlah dirimu, kamu sangat berubah karena cintamu itu, " Tanpa sadar Rose mengungkapkan kalimat yang seharusnya tertuju padanya.
"Aku aneh? Itu hanya perasaanmu.saja, Bukannya kamu sama sepertiku juga? Berubah jadi aneh dan tak terarah hanya karena cinta. Baiklah, ambil garis tengahnya saja, kita sana sama lemah karena cinta ," Sama dengannya yang tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut akan di tolak oleh Rose. Ia lebih memilih untuk menjadi kekasih bayangan saja. Kalaupun bisa dekat seperti ini, bukan perasaanlah yang sedang di bahas, tetapi hal lain.
"Ya, aku juga sama Rey. Kita berdua sama-sama di mauk cinta. Mari berjuang kalau begitu Rey, kamu untuk cintamu dan aku untuk cintaku"Benar dengan perkiraan Rey, Rose tidak bisa tergoyahkan begitu saja. Ia akan mempertahankan perasaannya terutama pada sosok yang bisa menarik perhatiannya.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan memperjuangkannya Rose. Biarlah aku mengaguminya saja. Semuanya sudah cukup menyenangkan. Jika aku bisa memilikinya, belum tentu dia seperhatian ini padaku." Perkataan Rey sedikit ngelantur. Dia sendiri jadi benci dengan perasaannya yang bergelora itu. Bagaimana mungkin,ia akan memiliki Rose, kalau di hatinya yakin, Rose tidak akan memperdulikannya ketika ia sudah menyimpan nama Rose di dalam pikiranmya.
__ADS_1
"Ayolah, Rey. Perjuangkan cintamu. Jangan menyerah, kamu harus terus berjuang apapun yang terjadi. Mencelakai orang saja kamu sanggup, masa memperjuangkan perasaan sendiri kanu tidak sanggup?" Kalimat yang di ucapkan Rose memang memotivasi. Tapi bagaimana caranya, meperjuangkan orang yang sedang memperjuangkan orang lain? Itu cukup sulit bukan?
"Aku tidak cukup baik untuknya, Rose. Jadi lebih baik aku memendam perasaanku saja," Rey tidak punya pilihan, ia memendam rasa, berharap Rose akan menyadarinya suatu hari.