Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 23


__ADS_3

Sejak berpisah setelah turun dari pesawat, Febbi tidak pernah bertemu lagi dengan Andre. Karena telalu seru ngobrol dengan pria itu, membuatnya lupa meminta kontak yang bisa di hubungi. Meskipun duda, pesona Andre berhasil membuat Febbi tidak mampu melupakannya.


"Sepertinya aku sedikit tidak normal. Kenapa duda beranak dua itu selalu mengganggu pikiranku? Padahal banyak juga pria lajang dan tampan di kampusku," Omel Febbi seorang diri. Ia baru saja pulang dari supermarket yang dekat dengan tempat kosnya.


Saat Febbi akan membuka pintu kamar kosnya, Secara bersamaan ada seorang lelaki yang keluar dari ruangan sebelah kamarnya.


"Abang...!" Febbi kegirangan karena orang yang ada di pikirannya ternyata di takdirkan untuk bertemu bahkan tinggal bersebelahan dengannya.


"Eh, Febbi..Kamu tinggal di sini?"


Andre mengutuk dirinya sendiri karena harus tinggal bersebelahan dengan cewek bawel yang bahkan ia tidak ingin berjumpa kembali.


"Iya, Bang. Kita jodoh kan? Tinggal saja sampai bersebelahan gini, Bang." Febbi mulai bawel.


"Ya..ya.. bisa jadi. Kamu darimana?"Mau tidak mau Andre lagi-lagi harus berbasa-basi dengan perempuan yang ada di dekatnya itu.


"Aku habis dari supermarket. Aku beli banyak sayur dan buah. Aku juga beli daging dan lain-lain. Abang nanti makan di tempatku saja, pasti abang nggak bisa masak, kan? Tenang Abang, aku akan memasak semua makanan favoritmu, tinggal bilang saja. Setiap hari aku siap,"


Andre tepuk jidate mendengar jawaban Febbi. Menurutnya Febbi itu lebih cocok untuk menjadi sales daripada yang lainnya. Dia adalah gadis paling cerewet yang pernah di temui oleh Andre di sepanjang hidupnya.


"Terima kasih, Feb. Tapi aku sudah memasak baru saja. lagipula aku hanya sendiri dan jarang di kosan, aku sering makan di kantor," Kalimat itu sebagai penegasan kalau dirinya sedang tidak butuh tukang masak. Apalagi modelnya seperti Febbi. Masaknya pasti sangat berisik dan membuatnya tidak nyaman karena selalu mengoceh.


"Ah, baiklah. Aku tidak akan memaksa Abang. Tapi kalau abang perlu bantuanku, segera hubungi aku saja. Nomor ponselku ada di pintu," Febbi menunjuk pintunya. Di sana tertempel kontak dan namanya. Mungkin untuk jaga-jaga jika ada pasien darurat. Andre baru tahu kalau Febbi itu seorang dokter karena gelar di depan namanya.

__ADS_1


"Kamu dokter?" Tanyanya singkat. Menurut Andre, wanita itu sama sekali tidak cocok mwnjadi seorang dokter. Ia lebih mirip tukang obat atau penjual abrakan yang selalu teriak-teriak dan heboh.


"Iya, kenapa? Aku nggak cocok ya Bang jadi dokter? Nanti kalau abang sakit, Abang bilang, biar aku yang tangani Abang," Ujar Febbi heboh.


"Kalau aku sakit, lebih baik aku ke dokter lain saja. Aku takut di apa-apain sama kamu," membayangkannya saja Andre sudah geli. Jangan-jangan Febbi adalah cewek agresif seperti pacar-pacar abstraknya saat ia frustasi dulu.


"Ahahaha..menurut Abang aku cewek seperti apa? Aku hanya bibir doang yang suka nyerocos Bang, tapi untuk nyosor, belum pernah." Febbi tertawa kecil, dia tahu Andre pasti mulai takut padanya karena mengira dirinya agresif.


"Mana bisa percaya. Belum tentu juga apa yang kamu bilang itu bener, kan? Tidak ada buktinya juga," Andre tetap pada keyakinannya, bahwa Febbi kemungkinan sama saja dengan pacar-pacarnya saat itu.


"Abang perlu bukti? Ayo ke KUA, Bang..." Tantang Febbi.


"Di sini mana ada KUA, lagian mau ngapain ke sana?" Andre tersenyum tipis. Dia berpoikir kalau otak Febbi sedikit konslet. Buat apa ke KUA, Andre juga tidak ada niat untuk menikah dengannya.


"Nikah, terus buktiin, kalau Febbi masih ori," Febbi terkekeh dengan kata-katanya sendiri.Dia senang menggoda duda yang ada di hadapannya itu. Wajah tampannya sangat menggoda, kalau saja ia berhak meminta, Febbi akan meminta Andre untuk menikahinya.Pada dasarnya Febbi tahu kalau Andre orang baik-baik, makanya dia berani berkata sembarangan pada duda itu.


"Ceraikan saja aku, Bang. Setidaknya aku bangga, pernah punya suami keren, meskipun duda," Febbi tertawa ngakak tanpa merasa berdosa.


"Feb, sepertinya otakmu sedikit geser,deh." Andre menggelengkan kepala heran terhadap sikap Febbi yang menurutnya sangat tidak jelas. Ia seperti dengan sengaja menggodanya, padahal sedikitpun Andre tidak tertarik padanya.


Walaupun Andre mengakui kalau Febbi cantik, dia juga dokter, masih gadis, tapi pesonanya itu tidak bisa mengalahkan dua orang yang pernah ia cintai, yaitu Sila dan Vallen. Tentunya terutama Sila. Ia sangat susah mengontrol perasaannya jika sudah membahas tentang wanita itu.


"Tak apalah, Bang. Otakku geser karenamu. Entah mengapa, aku suka sekali menggoda Abang," Febbi mengakui kegiatan favoritnya menggoda Andre.

__ADS_1


"Carilah hobi lain, Feb. Aku merasa terganggu dengan tingkahmu yang seperti itu," Ujar Andre serius. Kali ini ia sudah tidak ingin berbasa-basi. Ia ingin mengakhiri sandiwaranya berbaik-baik pada wanita halu seperti Febbi.


"Abang marah? Febbi hanya bercanda Bang..." Wanita itu coba memberi Andre pengertian. Meskipun pria itu cuek saja.


"Aku tidak nyaman dengan candaanmu, Feb. Untung saja kamu bertemu denganku, kalau orang lain, mungkin kamu sudah selesai," Andre mendengus kesal. Ia menyesal kenapa harus bertemu dengan Febbi lagi.


"Padahal Febbi niatnya bercanda, Abang malah baperan. Lagipula Febbi berani seperti ini juga karena orang itu Abang. Abang boleh kok nyangka Febbi cewek gampangan.Bebas, Bang. Asal abang tahu ya, jangan selalu berpikir tentang apa yang hanya abang pandang, karena Abang tidak akan tahu, apa kebenaran yang ada di dalamnya. Sudahlah, kalau begitu Febbi masuk dulu. Febbi nggak akan ganggu Abang lagi. Terima kasih, udah mau ngobrol sama Febbi selama ini."


Cklek...Bam!


Febbi sedikit membanting pintunya, Ia kesal karena pemikiran negatif Andre terhadap dirinya. Padahal apa yang ada di pikiran Andre semuanya tidak benar.


Di luar, Andre di kuasai rasa bersalah karena baru saja ia sadar kalau caranya menegur Febbi sangat kasar dan tidak beretika. Ia ingin segera minta maaf terhadap Febbi.


Beberapa kali Andre mencoba mengetuk pintu kos Febbi dan memanggil nama wanita itu, tapi tidak ada sahutan. Sepertinya dokter cantik itu benar-benar marah padanya.


"Terserah, kamu mau dengar atau tidak, Feb. Aku minta maaf atas perlakuanku. Perkataanku mungkin terlalu jahat padamu. Aku harap kamu mau menerima pernyataan maafku ini."


"..." Tidak ada sahutan dari Febbi. Hanya hening.


"Feb, kamu dengerin aku nggak, sih?"


"..." Gadis itu tidak menyahut juga.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin menjawabnya, aku mau pergi,"


Karena tidak ada jawaban juga, akhirnya Andre memutuskan untuk benar-benar pergi, karena ia ada janji dengan seseorang.


__ADS_2