Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 40


__ADS_3

Karena sempat drop saat


pertamatiba di Amerika, membuat Andra harus rawat inap di sebuah rumah sakit


terdekat dari Bandara setempat. Keadaan Andra yang  sedikit lemah memang tidak di anjurkan untuk


bepergian jauh. Ia nekat pergi karena tidak ingin Sila mengetahui apa yang


terjadi pada dirinya. Ia ingin menanggung semua sakit yang ia rasakan seorang


diri. Baru setelah keluar dari rumah sakit dan menemukan sebuah hotel, ia


menghubungi kakaknya untuk bertemu.


Andra memang tidak sendiri, ia


tetap di dampingi oleh dua orang kepercayaannya. Mungkin kalau tidak ada mereka


berdua, entahlah bagaimana keadaan Andra saat ini. Mendapat pesan di mana Andra


saat ini dan bagaimana kondisinya,  Andre


memutuskan untuk membawa barang-barangnya dan tinggal bersama adiknya beberapa


waktu.


Memang berat, ia harus berpisah


dengan Febbi, seseorang yang  mulai


menorehkan warna di hidupnya, tapi ini tidak akan lama, hanya sementara,


setelah urusannya dengan Andra selesai tentang pembahasan mengenai masalah


kakek, ia akan segera kembali ke kosan itu lagi. Tapi sebelum ia memutuskan


untuk pergi menemui Andra dan tinggal bersamanya, ia terlebih dahulu harus


menemui Febbi.  Ia ingin memasak sesuatu


yang spesial dan memakannya bersama.


Karena hal itu, Andre


menghabiskan banyak waktunya untuk menyiapkan hidangan spesial yang ia bisa


hidangkan.  Tanpa sadar, ia memasak


berbagai menu dengan semangat,   bahkan


ia baru menyadarinya saat masakan itu sudah selesai ia buat.


Ia segera bergegas menghampiri


Febbi ke kamar kosnya, dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya ia mengetuk dan


memanggil nama wanita itu. Perasaan Andre sangat gembira saat mendengar sahutan


dari Febbi di dalam sana.


“Hai, Bang. Ada apa?” Febbi tidak


bisa menyembunyikan ekspresi gembiranya saat melihat wajah Andre di balik daun


pintunya.


“Mau makan malam denganku? Aku sudah


banyak masak menu, tapi kalau kamu tidak bisa, aku tidak akan memaksamu,” Andre


pasrah.  Apapun keputusan Febbi adalah


yang terbaik.


“Tentu saja Bang, Febbi mau


menemani  Abang makan malam,”


“Kalau begitu, ayo. Tidak enak


kalau sampai dingin,” tanpa sadar Andre menarik tangan Febbi untuk ikut


bersamanya.


“Bentar Bang, Febbi tutup pintu


dulu,” gadis itu memakai sebelah tangannya untuk menutup pintu dan segera


mengikuti langkah Andre.


“Ini dia semua hasil masakanku,


Feb. Aku tidak sadar masak sebanyak ini, tapi memang sengaja aku bikin momen


ini untuk kita makan berdua, ayo silahkan duduk Feb.” Andre memperlihatkan


makanan yang memenuhi meja makannya.


“Spesial banget Bang,  dalam rangka apa? Abang ulang tahun?”  Febbi  jadi


penasaran, dalam rangka apa Andre tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama.

__ADS_1


“Begitukah? Tidak, aku tidak


sedang ulang tahun,  aku membuat acara


ini karena aku akan tinggal sementara  bersama adik kembarku yang sedang sakit di


hotel tempatnya menginap. Aku mungkin tidak akan  kembali dalam beberapa hari,” Andre memberikan


penjelasan tentang tujuannya membuat acara makan malam bersama itu.


“Adik kembar? Abang punya


kembaran? Eh, sepertinya Abang sudah pernah menceritakan tentang adik kembar


Abang itu. Dia sakit apa, Bang?” Tampak sekali Febbi ikut mengkhawatirkan


keadaan Andra,


“Aku juga tidak tahu pasti, aku


hanya di beritahu kalau adikku itu sedang sakit. Aku harap sakitnya tidak


serius, sehingga aku bisa cepat  kembali


kesini. Ayo di makan Feb,”


Mereka memulai acara makan malam


mereka.


“Abang, aku pasti kangen momen


ini kalau abang lama perginya,” celetuk Febbi, membuat Andre menghentikan


suapan  makanan ke mulutnya.


“Aku juga pasti kangen, Feb.  Doakan saja aku tidak akan lama di sana. Supaya


nanti kita bisa jalan pagi bersanma lagi, makan bersama lagi. Aku  bakalan sering kabarin kamu kok, tenang saja”


karena sudah saling bertukar nomor telepon, itu memudahkan mereka untuk


berkomunikasi.


“Tentu saja, Bang. Aku doakan


Adikmu segera sembuh dari sakitnya. Semoga rasa sakitnya bisa di angkat oleh


Tuhan,” ucap Febbi dengan begitu tulus.


“Amin...”


“Bang, tadi pagi ada seorang


bukannya terharu atau senang, aku malah merasa kejadian tadi itu sangat kocak,”


Febbi sengaja mencari bahan obroln lain.


“Wah, asik tuh, siapa yang nembak


kamu? Kamu terima?”


“Jelas enggak dong, Bang,”


“Loh, kenapa gitu, Feb?” tanya


Andre penasaran.


“Itu dokter senior Bang, udah


tua, ada kali umurnya lima puluhan. Istrinya belum lama meninggal. Iya kali,


aku harus menerimanya, Bang?”


“Ahahaha, tua-tua keladi dong ya,


ada-ada saja.  Tapi baguslah, kalau kamu


menikah dengan itu dokter, aku akan merasa kehilangan Feb,” canda Andre.


“Nggak bakalan aku menikah dengan


dia, Bang.  Kalau Abang yang ngajak


nikah, pasti langsung aku iyain tanpa nanti-nanti,” ceplos Febbi.


“Kenapa bisa begitu, Feb?”


“Karena aku emang suka sama


Abang, kan Bang Andre udah tahu itu,”


“Ah, iya. Aku lupa


kalau kamu menyukaiku,” Andre sudah biasa saja saat Febbi mengatakan rasa sukanya


padanya. Justru respon Andre jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia sama sekali


tidak merasa terganggu.


‘Abang mah

__ADS_1


gitu, selalu melupakan segala hal tentangku. Nanti kalau Abang sudah ketemu


dengan Adik Abang, jangan lupa untuk mengirimiku pesan tiga kali sehari.” Pesan


dari Febbi membuat Andre tersenyum geli.


“Seperti makan


obat saja, sampai harus tiga kali sehari.”


“Harus, dong


Abang. Apa aku kekanakan bang?”


“Sama sekali


tidak, siapa yang bilang kamu begitu?”


“Aku sangat


tidak bisa mengontrol diriku, maafkan aku, ya, Bang. Aku takutnya abang merasa


terganggu padaku.”  Febbi cukup hati-hati


saat bicara. Ia takut kalau sampai menyinggung perasaan Andre.


“Santai saja,


Feb. Aku kan sudah bilang, aku sudah terbiasa dengan cara bicaramu yang seperti


itu. Jadi kamu tidak perlu minta maaf berulang lagi,” Andre mengingatkan pada


Febbi untuk tidak  meminta maaf lagi padanya.


“Terima kasih,


Abang. Abang memang paling baik. Pertahankan sikap abang, ya.”


“Memang aku  baik Feb dari dulu juga, masa kamu baru bisa rasain


kalau aku baik sekarang? Jadi aku dulu jahat, gitu?”Omel Andre. Ia pura-pura


ngambek karena  tidak di akui


kebaikannya.


“Bukan gitu,


maksudku Abang.  Aku tahu abang baik dari


dulu, kok. Maaf, aku ....”


“Sttt... aku


tahu, kamu hanya asal bicara, aku juga asal bicara kok, tidak serius sama


sekali.” Andre terkekeh.


“Jadi dari


tadi abang ngerjain aku? Astaga Abang.”Febbi merasa sedikit kesal.


“Maaf, Feb,,,”


“Ahahaha,


nggak apa-apa bang. Aku maucuci piring dulu,” Febbi lengsung mengangkat


piringnya dan juga piring Andre lalu mencucinya.


“Kalau gitu


aku pulang ya, Bang andre? Kan acara makannya sudah selesai.”  Febbi hendak meninggalkan ruang kos Andra


yang lebih besar dari ruangan yang ia miliki.


“Feb...” Andre


memegang tangan Febbi, menahan gadis itu pulang.


“Ada apa,


bang?” Febbi menghentikan langkahnya.


Grep!


Andre memeluk


Febbi dari belakang.  Semakin berat


baginya untuk berpisah dari gadis itu.


“Aku akan


selalu merindukanmu, Febb..”


“Febbi juga


bang. Kalau abang merasa memelukku bisa membuat rindu abang terobati, peluklahh


aku selama yang abang butuhkan,”

__ADS_1


“Sudah, Feb. Terima


kasih,”


__ADS_2