
Karena sempat drop saat
pertamatiba di Amerika, membuat Andra harus rawat inap di sebuah rumah sakit
terdekat dari Bandara setempat. Keadaan Andra yang sedikit lemah memang tidak di anjurkan untuk
bepergian jauh. Ia nekat pergi karena tidak ingin Sila mengetahui apa yang
terjadi pada dirinya. Ia ingin menanggung semua sakit yang ia rasakan seorang
diri. Baru setelah keluar dari rumah sakit dan menemukan sebuah hotel, ia
menghubungi kakaknya untuk bertemu.
Andra memang tidak sendiri, ia
tetap di dampingi oleh dua orang kepercayaannya. Mungkin kalau tidak ada mereka
berdua, entahlah bagaimana keadaan Andra saat ini. Mendapat pesan di mana Andra
saat ini dan bagaimana kondisinya, Andre
memutuskan untuk membawa barang-barangnya dan tinggal bersama adiknya beberapa
waktu.
Memang berat, ia harus berpisah
dengan Febbi, seseorang yang mulai
menorehkan warna di hidupnya, tapi ini tidak akan lama, hanya sementara,
setelah urusannya dengan Andra selesai tentang pembahasan mengenai masalah
kakek, ia akan segera kembali ke kosan itu lagi. Tapi sebelum ia memutuskan
untuk pergi menemui Andra dan tinggal bersamanya, ia terlebih dahulu harus
menemui Febbi. Ia ingin memasak sesuatu
yang spesial dan memakannya bersama.
Karena hal itu, Andre
menghabiskan banyak waktunya untuk menyiapkan hidangan spesial yang ia bisa
hidangkan. Tanpa sadar, ia memasak
berbagai menu dengan semangat, bahkan
ia baru menyadarinya saat masakan itu sudah selesai ia buat.
Ia segera bergegas menghampiri
Febbi ke kamar kosnya, dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya ia mengetuk dan
memanggil nama wanita itu. Perasaan Andre sangat gembira saat mendengar sahutan
dari Febbi di dalam sana.
“Hai, Bang. Ada apa?” Febbi tidak
bisa menyembunyikan ekspresi gembiranya saat melihat wajah Andre di balik daun
pintunya.
“Mau makan malam denganku? Aku sudah
banyak masak menu, tapi kalau kamu tidak bisa, aku tidak akan memaksamu,” Andre
pasrah. Apapun keputusan Febbi adalah
yang terbaik.
“Tentu saja Bang, Febbi mau
menemani Abang makan malam,”
“Kalau begitu, ayo. Tidak enak
kalau sampai dingin,” tanpa sadar Andre menarik tangan Febbi untuk ikut
bersamanya.
“Bentar Bang, Febbi tutup pintu
dulu,” gadis itu memakai sebelah tangannya untuk menutup pintu dan segera
mengikuti langkah Andre.
“Ini dia semua hasil masakanku,
Feb. Aku tidak sadar masak sebanyak ini, tapi memang sengaja aku bikin momen
ini untuk kita makan berdua, ayo silahkan duduk Feb.” Andre memperlihatkan
makanan yang memenuhi meja makannya.
“Spesial banget Bang, dalam rangka apa? Abang ulang tahun?” Febbi jadi
penasaran, dalam rangka apa Andre tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama.
__ADS_1
“Begitukah? Tidak, aku tidak
sedang ulang tahun, aku membuat acara
ini karena aku akan tinggal sementara bersama adik kembarku yang sedang sakit di
hotel tempatnya menginap. Aku mungkin tidak akan kembali dalam beberapa hari,” Andre memberikan
penjelasan tentang tujuannya membuat acara makan malam bersama itu.
“Adik kembar? Abang punya
kembaran? Eh, sepertinya Abang sudah pernah menceritakan tentang adik kembar
Abang itu. Dia sakit apa, Bang?” Tampak sekali Febbi ikut mengkhawatirkan
keadaan Andra,
“Aku juga tidak tahu pasti, aku
hanya di beritahu kalau adikku itu sedang sakit. Aku harap sakitnya tidak
serius, sehingga aku bisa cepat kembali
kesini. Ayo di makan Feb,”
Mereka memulai acara makan malam
mereka.
“Abang, aku pasti kangen momen
ini kalau abang lama perginya,” celetuk Febbi, membuat Andre menghentikan
suapan makanan ke mulutnya.
“Aku juga pasti kangen, Feb. Doakan saja aku tidak akan lama di sana. Supaya
nanti kita bisa jalan pagi bersanma lagi, makan bersama lagi. Aku bakalan sering kabarin kamu kok, tenang saja”
karena sudah saling bertukar nomor telepon, itu memudahkan mereka untuk
berkomunikasi.
“Tentu saja, Bang. Aku doakan
Adikmu segera sembuh dari sakitnya. Semoga rasa sakitnya bisa di angkat oleh
Tuhan,” ucap Febbi dengan begitu tulus.
“Amin...”
“Bang, tadi pagi ada seorang
bukannya terharu atau senang, aku malah merasa kejadian tadi itu sangat kocak,”
Febbi sengaja mencari bahan obroln lain.
“Wah, asik tuh, siapa yang nembak
kamu? Kamu terima?”
“Jelas enggak dong, Bang,”
“Loh, kenapa gitu, Feb?” tanya
Andre penasaran.
“Itu dokter senior Bang, udah
tua, ada kali umurnya lima puluhan. Istrinya belum lama meninggal. Iya kali,
aku harus menerimanya, Bang?”
“Ahahaha, tua-tua keladi dong ya,
ada-ada saja. Tapi baguslah, kalau kamu
menikah dengan itu dokter, aku akan merasa kehilangan Feb,” canda Andre.
“Nggak bakalan aku menikah dengan
dia, Bang. Kalau Abang yang ngajak
nikah, pasti langsung aku iyain tanpa nanti-nanti,” ceplos Febbi.
“Kenapa bisa begitu, Feb?”
“Karena aku emang suka sama
Abang, kan Bang Andre udah tahu itu,”
“Ah, iya. Aku lupa
kalau kamu menyukaiku,” Andre sudah biasa saja saat Febbi mengatakan rasa sukanya
padanya. Justru respon Andre jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia sama sekali
tidak merasa terganggu.
‘Abang mah
__ADS_1
gitu, selalu melupakan segala hal tentangku. Nanti kalau Abang sudah ketemu
dengan Adik Abang, jangan lupa untuk mengirimiku pesan tiga kali sehari.” Pesan
dari Febbi membuat Andre tersenyum geli.
“Seperti makan
obat saja, sampai harus tiga kali sehari.”
“Harus, dong
Abang. Apa aku kekanakan bang?”
“Sama sekali
tidak, siapa yang bilang kamu begitu?”
“Aku sangat
tidak bisa mengontrol diriku, maafkan aku, ya, Bang. Aku takutnya abang merasa
terganggu padaku.” Febbi cukup hati-hati
saat bicara. Ia takut kalau sampai menyinggung perasaan Andre.
“Santai saja,
Feb. Aku kan sudah bilang, aku sudah terbiasa dengan cara bicaramu yang seperti
itu. Jadi kamu tidak perlu minta maaf berulang lagi,” Andre mengingatkan pada
Febbi untuk tidak meminta maaf lagi padanya.
“Terima kasih,
Abang. Abang memang paling baik. Pertahankan sikap abang, ya.”
“Memang aku baik Feb dari dulu juga, masa kamu baru bisa rasain
kalau aku baik sekarang? Jadi aku dulu jahat, gitu?”Omel Andre. Ia pura-pura
ngambek karena tidak di akui
kebaikannya.
“Bukan gitu,
maksudku Abang. Aku tahu abang baik dari
dulu, kok. Maaf, aku ....”
“Sttt... aku
tahu, kamu hanya asal bicara, aku juga asal bicara kok, tidak serius sama
sekali.” Andre terkekeh.
“Jadi dari
tadi abang ngerjain aku? Astaga Abang.”Febbi merasa sedikit kesal.
“Maaf, Feb,,,”
“Ahahaha,
nggak apa-apa bang. Aku maucuci piring dulu,” Febbi lengsung mengangkat
piringnya dan juga piring Andre lalu mencucinya.
“Kalau gitu
aku pulang ya, Bang andre? Kan acara makannya sudah selesai.” Febbi hendak meninggalkan ruang kos Andra
yang lebih besar dari ruangan yang ia miliki.
“Feb...” Andre
memegang tangan Febbi, menahan gadis itu pulang.
“Ada apa,
bang?” Febbi menghentikan langkahnya.
Grep!
Andre memeluk
Febbi dari belakang. Semakin berat
baginya untuk berpisah dari gadis itu.
“Aku akan
selalu merindukanmu, Febb..”
“Febbi juga
bang. Kalau abang merasa memelukku bisa membuat rindu abang terobati, peluklahh
aku selama yang abang butuhkan,”
__ADS_1
“Sudah, Feb. Terima
kasih,”