
“Pagi Minah, ayo kita olahraga
dulu,” Sila sudah siap dengan pakaian
olahraganya, bedanya, ia hanya keluar dari rumah seorang diri. Biasanya saat
ada Andra di rumah, ia selalu jogging bersama.
“Nyonya sendirian? Tuan mana
Nyonya?” Minah yang biasa melihat Sila selalu olahraga berdua dengan Andra saat
dia ada di rumah pun penasaran.
“Andra masih tidur, Minah.
Semalam dia bilang sangat lelah, jadi aku tidak membangunkannya sekarang. Nanti
kalau dia bangun, bilang saya jalan santai ya. Segera buatkan dia susu hangat,
tawari dia mau sarapan apa,” pesan Sila sebelum pergi untuk jalan santai.
“Siap laksanakan, Nya. Nanti akan
saya sampaikan ke Tuan seperti yang nyonya perintahkan.” Ujar Minah patuh.
Sila perlahan meninggalkan
halaman rumahnya. Ia berjalan sedikit lamban dari bisanya, badannya sedikit
lesu, karena semalam ia tidur larut malam karena tidak bisa cepat mmejamkan
mata. Ia masih memikirkan perubahan sikap Andra padanya. Ia memikirkan, kira-kira kesalahan apa yang
ia lakukan sehingga membuatnya berubah
sedikit dingin dan menjaga jarak seperti itu?
Perasaan selama dia tinggal, Sila
juga tidak berbuat aneh-aneh. Apalagi yang hanya dua minggu, yang sampai tiga tahun saja ia jabanin. Tapi entah
kenapa dia malah berubah seperti itu. Sila hanya berharap kalau Andra memang hanya sedang benar-benar lelah.
Sila yang berharap akan bahagia
saat Andra pulang, justru pikirannya malah menjadi berat. Ia merasa memang ada yang salah, tapi belum
ketemu salahnya di mana. Sila sedang berusaha mencerna semuanya. Mungkin ia
memang harus berusaha menerima sikap Andra yang baru. Ia menghabiskan beberapa
menit waktunya untuk mengelilingi beberapa jalan lorong di komplek rumahnya.
Setelah di rasa cukup , Sila
segera kembali ke rumahnya untuk segera mandi dan berangkat ke kantornya. Ia
sendiri tidak yakin, apakah bisa konsen ke kantor dengan pikiran kacau seperti
ini. Semoga angin yang menggoyangkan perasaan Sila segera berubah menyejukkan
hatinya.
Sila mendapati Andra telah rapi
dengan memakai kemeja warna biru muda, ia tengah duduk di ruang tamu sambil
menatap layar laptopnya. Sila segera ke atas untuk membersihkan diri. Ia
sengaja tidak menegur Andra karena suaminya itu tidak menyadari kehadirannya.
Sila segera menyiram seluruh tubuhnya dengan air shower.
Tidak sampai dua puluh menit,
Sila sudah selesai mandi. Ia keluar dengan handuk kimiononya. Rambutnya yang
basah ia bebat menggunakn handuk. Saat
__ADS_1
bersamaa dengan Sila keluar dari kamar mandi, Andra baru saja mengambil sesuatu
dari lemari yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi, hampir bertabrakan . sila yang tertabrak hampir saja jatuh
dan di tangkap oleh Andra.
Mereka berdua mengalami adegan
romantis seperti di sinetron-sinetron pada umumnya, di mana Sila dan Andra
saling bertatapan dengan romantis. Menyadari itu, setelah memastikan Sila tidak
jatuh, Andra melepaskannya cepat.
“Maaf. Aku tidak sengaja,” Andra mengesser tubuhnya menjauh. Ia cepat-cepat hendak
melangkah pergi, tapi Sila menahannya dengan meraih lengan Andra.
“Sekarang jawab aku Mas, aku
pengen tahu jawaban kamu, kenapa sebenarnya kamu menghindari aku? Kamu tidak
mau menyentuhku? Apa aku ini terlalu menjijikkan untuk kamu? Apa di luar sana
kamu sudah menemukan wanita lain, sehingga kamu mengasingkan aku?”
“Apa aku ini sudah sangat
membosankan? Kamu sudah tidak berminat lagi untuk menyentuhku? Apa alasanmu?
Aku mau dengar. Kamu pikir aku percaya dengan alasan anehmu itu? Kita sudah
lama menikah, dan baru kali ini kamu berubah seperti ini? Aku harus bagaimana
supaya kamu kembali seperti biasa? Kamu pikir ini tidak menyakitiku?”
“Kalau kamu memang sudah
menemukan yang lain aku bisa terima, Andra. Hanya saja, kamu harus bicarakan
semuanya dengan jujur padaku, tidak perlu bersandiwara seperti ini. Aku tahu
untukmu, mungkin salah satu pelangganmu, iya kan? Ayo jawab!”
Andra tidak
menjawab perkataan Sila. Ia hanya menarik Sila ke dalam pelukannya, lalu
mencium lembut bibirnya. Sila sadar, ia salah, mungkin pernyataannya
menyakitkan hati Andra, tapi dia tidak
bisa menahannya lagi untuk tidak mengatakan semuanya. Hatinya terlalu sakit dan
lelah, menahan semua prasangka-prasangka yang sampai membuatnya hampir tidak
tidur semalaman.
“Aku minta
maaf, Sila. Aku mohon jangan salah paham, aku hanya mencintai kamu, selamanya
aku akan tetap mencintai kamu. Tidak ada wanita lain yang lebih baik dari kamu.
Jangan pernah merasa aku mengabaikan kamu atau apa, aku punya alasan tersendiri
untuk itu, plis, percaya padaku,” Andra ingin Sila percaya kalau dirinya
memang sedang ada alasan tersendiri untuk itu.
“Aku tidak
percaya padamu, Mas! Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun. Tidak mungkin
kamu berubah seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang ganjil. Kalau kamu mau
aku percaya, jelaskan apa alasannya? Kenapa kamu seperti takut berdekatan
denganku?” Sila tetap berada dalam pengaruh amarahnya. Baginya, di acuhkan oleh
__ADS_1
Andra adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
“Apa yang
harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku ini tidak seperti yang kamu
tuduhkan?” Andra pun bingung, apa yang harus ia lakukan agar Sila berhenti
menduganya yang tidak-tidak.
“Kalau memang
kamu tidak berubah, sentuh aku sekarang!” tantang Sila, ia ingin memastikan
kalau apa yang ada di pikirannya tentang Andra itu tidak benar. Ia butuh
kepastian saat ini juga.
“Tapi, kita
akan ke kantor, ini bukan saat yang
tepat untuk melakukan itu, Sila. Tidak adakah cara yang lain? Aku bahkan sudah
menciummu, tapi kamu tetap tidak yakin padaku?” Andra memegang kedua pipi Sila
untuk meyakinkannya, ia menatap kedua bola mata Sila dengan tatapan mendalam.
Sila menepis
tangan Andra, baginya jawaban Andra tetap menyimpan sesuatu yang terselubung.
Ia melepaskan diri dari Andra, berjalan
cepat menuju lemari pakaiannya.
“Sudahlah, aku
lelah. Aku bahkan tidak bisa mengenali
dirimu lagi, Mas. Hanya setengah bulan saja, ternyata bisa merubahmu jadi
seperti ini, Mas.” Sila segera bersiap, ia tidak perduli lagi pada Andra.
Pikirannya kacau.
“Sila,
dengarkan aku dulu. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan.” Andra menarik tangan
Sila, saat wanita itu akan pergi keluar dari kamarnya. Secepat kilat, Sila
menepis tangan Andra.
“Sudahlah, aku
lelah. Banyak kerjaan yang harus aku kerjakan, Mas. Kita bicara lain waktu.
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara. Silahkan Mas bicara pada diri
sendiri saja,” Sila keluar dari kamarnya dan mengacuhkan Andra.
Brakk!!
Sila
membanting daun pintu dengan cukup keras. Andra duduk di ranjang sambil menarik
rambutnya sendiri. Semuanya menjadi salah paham yang berkepanjangan.
Hubungannya dengan Sila sepertinya semakin memburuk.
Sepertinya
memang bukan saat yang tepat untuk membahas semuanya, Andra memutuskan untuk
pergi ke kantor. Karena pertengkaran itu, ia dan Sila ke kantor dengan mobil
terpisah.
__ADS_1
NB: yang belum baca My Workaholic Husband, cuss baca. Terima kasih