Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 44


__ADS_3

“Pagi Minah, ayo kita olahraga


dulu,”  Sila sudah siap dengan pakaian


olahraganya, bedanya, ia hanya keluar dari rumah seorang diri. Biasanya saat


ada Andra di rumah, ia selalu jogging bersama.


“Nyonya sendirian? Tuan mana


Nyonya?” Minah yang biasa melihat Sila selalu olahraga berdua dengan Andra saat


dia ada di rumah pun penasaran.


“Andra masih tidur, Minah.


Semalam dia bilang sangat lelah, jadi aku tidak membangunkannya sekarang. Nanti


kalau dia bangun, bilang saya jalan santai ya. Segera buatkan dia susu hangat,


tawari dia mau sarapan apa,” pesan Sila sebelum pergi untuk jalan santai.


“Siap laksanakan, Nya. Nanti akan


saya sampaikan ke Tuan seperti yang nyonya perintahkan.” Ujar Minah patuh.


Sila perlahan meninggalkan


halaman rumahnya. Ia berjalan sedikit lamban dari bisanya, badannya sedikit


lesu, karena semalam ia tidur larut malam karena tidak bisa cepat mmejamkan


mata. Ia masih memikirkan perubahan sikap Andra padanya.  Ia memikirkan, kira-kira kesalahan apa yang


ia lakukan sehingga  membuatnya berubah


sedikit dingin dan menjaga jarak seperti itu?


Perasaan selama dia tinggal, Sila


juga tidak berbuat aneh-aneh. Apalagi yang hanya dua minggu, yang  sampai tiga tahun saja ia jabanin. Tapi entah


kenapa dia malah berubah seperti itu. Sila hanya berharap kalau  Andra memang hanya sedang benar-benar lelah.


Sila yang berharap akan bahagia


saat Andra pulang, justru pikirannya malah menjadi berat.  Ia merasa memang ada yang salah, tapi belum


ketemu salahnya di mana. Sila sedang berusaha mencerna semuanya. Mungkin ia


memang harus berusaha menerima sikap Andra yang baru. Ia menghabiskan beberapa


menit waktunya untuk mengelilingi beberapa jalan lorong di komplek rumahnya.


Setelah di rasa cukup , Sila


segera kembali ke rumahnya untuk segera mandi dan berangkat ke kantornya. Ia


sendiri tidak yakin, apakah bisa konsen ke kantor dengan pikiran kacau seperti


ini. Semoga angin yang menggoyangkan perasaan Sila segera berubah menyejukkan


hatinya.


Sila mendapati Andra telah rapi


dengan memakai kemeja warna biru muda, ia tengah duduk di ruang tamu sambil


menatap layar laptopnya. Sila segera ke atas untuk membersihkan diri. Ia


sengaja tidak menegur Andra karena suaminya itu tidak menyadari kehadirannya.


Sila segera menyiram seluruh tubuhnya dengan air shower.


Tidak sampai dua puluh menit,


Sila sudah selesai mandi. Ia keluar dengan handuk kimiononya. Rambutnya yang


basah ia bebat menggunakn handuk.  Saat

__ADS_1


bersamaa dengan Sila keluar dari kamar mandi, Andra baru saja mengambil sesuatu


dari lemari yang letaknya tidak jauh dari  kamar mandi, hampir bertabrakan . sila yang tertabrak hampir saja jatuh


dan di tangkap oleh Andra.


Mereka berdua mengalami adegan


romantis seperti di sinetron-sinetron pada umumnya, di mana Sila dan Andra


saling bertatapan dengan romantis. Menyadari itu, setelah memastikan Sila tidak


jatuh, Andra melepaskannya cepat.


“Maaf. Aku tidak sengaja,”  Andra mengesser  tubuhnya menjauh. Ia cepat-cepat hendak


melangkah pergi, tapi Sila menahannya dengan meraih lengan Andra.


“Sekarang jawab aku Mas, aku


pengen tahu jawaban kamu, kenapa sebenarnya kamu menghindari aku? Kamu tidak


mau menyentuhku? Apa aku ini terlalu menjijikkan untuk kamu? Apa di luar sana


kamu sudah menemukan wanita lain, sehingga kamu mengasingkan aku?”


“Apa aku ini sudah sangat


membosankan? Kamu sudah tidak berminat lagi untuk menyentuhku? Apa alasanmu?


Aku mau dengar. Kamu pikir aku percaya dengan alasan anehmu itu? Kita sudah


lama menikah, dan baru kali ini kamu berubah seperti ini? Aku harus bagaimana


supaya kamu kembali seperti biasa? Kamu pikir ini tidak menyakitiku?”


“Kalau kamu memang sudah


menemukan yang lain aku bisa terima, Andra. Hanya saja, kamu harus bicarakan


semuanya dengan jujur padaku, tidak perlu bersandiwara seperti ini. Aku tahu


untukmu, mungkin salah satu pelangganmu, iya kan? Ayo jawab!”


Andra tidak


menjawab perkataan Sila. Ia hanya menarik Sila ke dalam pelukannya, lalu


mencium lembut bibirnya. Sila sadar, ia salah, mungkin pernyataannya


menyakitkan hati  Andra, tapi dia tidak


bisa menahannya lagi untuk tidak mengatakan semuanya. Hatinya terlalu sakit dan


lelah, menahan semua prasangka-prasangka yang sampai membuatnya hampir tidak


tidur semalaman.


“Aku minta


maaf, Sila. Aku mohon jangan salah paham, aku hanya mencintai kamu, selamanya


aku akan tetap mencintai kamu. Tidak ada wanita lain yang lebih baik dari kamu.


Jangan pernah merasa aku mengabaikan kamu atau apa, aku punya alasan tersendiri


untuk itu, plis, percaya padaku,” Andra ingin Sila percaya kalau dirinya


memang  sedang  ada alasan tersendiri untuk itu.


“Aku tidak


percaya padamu, Mas! Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun. Tidak mungkin


kamu berubah seperti ini kalau tidak ada sesuatu yang ganjil. Kalau kamu mau


aku percaya, jelaskan apa alasannya? Kenapa kamu seperti takut berdekatan


denganku?” Sila tetap berada dalam pengaruh amarahnya. Baginya, di acuhkan oleh

__ADS_1


Andra adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


“Apa yang


harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku ini tidak seperti yang kamu


tuduhkan?” Andra pun bingung, apa yang harus ia lakukan agar Sila berhenti


menduganya yang tidak-tidak.


“Kalau memang


kamu tidak berubah, sentuh aku sekarang!” tantang Sila, ia ingin memastikan


kalau apa yang ada di pikirannya tentang Andra itu tidak benar. Ia butuh


kepastian saat ini juga.


“Tapi, kita


akan ke kantor,  ini bukan saat yang


tepat untuk melakukan itu, Sila. Tidak adakah cara yang lain? Aku bahkan sudah


menciummu, tapi kamu tetap tidak yakin padaku?” Andra memegang kedua pipi Sila


untuk meyakinkannya, ia menatap kedua bola mata Sila dengan tatapan mendalam.


Sila menepis


tangan Andra, baginya jawaban Andra tetap menyimpan sesuatu yang terselubung.


Ia melepaskan diri  dari Andra, berjalan


cepat menuju lemari pakaiannya.


“Sudahlah, aku


lelah.  Aku bahkan tidak bisa mengenali


dirimu lagi, Mas. Hanya setengah bulan saja, ternyata bisa merubahmu jadi


seperti ini, Mas.” Sila segera bersiap, ia tidak perduli lagi pada Andra.


Pikirannya kacau.


“Sila,


dengarkan aku dulu. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan.” Andra menarik tangan


Sila, saat wanita itu akan pergi keluar dari kamarnya. Secepat kilat, Sila


menepis tangan Andra.


“Sudahlah, aku


lelah. Banyak kerjaan yang harus aku kerjakan, Mas. Kita bicara lain waktu.


Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara. Silahkan Mas bicara pada diri


sendiri saja,” Sila keluar dari kamarnya dan mengacuhkan Andra.


Brakk!!


Sila


membanting daun pintu dengan cukup keras. Andra duduk di ranjang sambil menarik


rambutnya sendiri. Semuanya menjadi salah paham yang berkepanjangan.


Hubungannya dengan Sila sepertinya semakin memburuk.


Sepertinya


memang bukan saat yang tepat untuk membahas semuanya, Andra memutuskan untuk


pergi ke kantor. Karena pertengkaran itu, ia dan Sila ke kantor dengan mobil


terpisah.

__ADS_1


NB: yang belum baca My Workaholic Husband, cuss baca. Terima kasih


__ADS_2