Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 43


__ADS_3

Jam makan malam, Andra masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya, sangat serius sampai tidak mendengar ketukan pintu dari Sila. Kedua matanya fokus ke layar, tangannnya memegang pena, sambil menuliskan sesuatu di sebuah kertas.


"Mas, kamu aku ketuk-ketuk dari luar, kenapa nggak nyahut, sih?" gerutu Sila, sambil merangkul.Andra dari belakang. Ia telah menyiapkan makan malam yang akan mereka santap.


"Maaf, sayang. Aku terlalu fokus, jadi aku tidak mendengarnya. ada apa?" Andra segera menutup laptop dan membereskan berkasnya yang berantakan.


"Ayo, kita makan. Aku sudah siapkan makan malam favorit untukmu, selama mas di sana pasti kangen kan dengan masakanku?"tebak Sila dengan suara lembut dan pelan.


"Kamu benar, Sayang. Aku selalu merindukan hasil masakan kamu. Kan , masakan kamu paling enak. kalau begitu, ayo kita makan." Andra bangun dari duduknya lalu menggandeng Sila untuk sama-sama kr bawah dan makan malam.


"Mas di sana siapa yang masakin?" Sila penasaran bagaimana suaminya bisa makan saat ada di luar sana.


"Tentu saja juru masak di rumah kakek. Memangnya kenapa?" Andre penasaran kenapa Sila.menanyakan hal itu.


"Hanya ingin bertanya, Mas. Aku lupa kalian tinggal di rumah kakek, beliau baik kan sama kamu?" Sila sedikit khawatir karena memang huhungan Andra dan juga kakek tidak sedang dalam kedaan baik.


"Tentu saja, baik. Kan ada kak Andre menemaniku di sana. Kalau aku hanya sendiri, bisa lain ceritanya ," Sahut Andra dengam santai.


"Mas, perasaanku atau gimana, ya. Kamu itu berubah sedikit dingin. Apa aku ini mengganggu kamu? Kamu nggak nyaman?" Setidaknya, itu adalah hal yang Sila rasakan sejak tadi siang, saat mereka pertama kali bertemu."

__ADS_1


"Kamu bicara apa, Sila. Kamu sama sekali tidak mengganggu. Hanya saja, pikiranku sedang tidak menentu. Maaf kalau kesannya aku jadi seperti sedang mengabaikan kamu. Seiring waktu, aku pasti seperti biasa lagi," Andra mencoba menenangkan Sila yang sedang protes dengan keadaannya yang di rasa sedikit mengacuhkannya.


"Iya juga, Mas. Proyek perusahaan kakek pasti sanvat besar, wajar saja kalau kamu jadi sedikit stress. Kalau begitu nanti aku akan atur waktu buat kita supaya bisa liburan berdua. Cuma aku dan Mas aja, tidak usah bersama anak-anak," Sila merasa itu normal karena stress berkepanjangan. Saat itu juga Andra pernah mengabaikannya karena kasus yang sama, pekerjaan.


"Terima kasih, Sila. Aku setuju dengan usulanmu. Lain waktu kita pergi ke mana yang kamu sukai untuk liburan berdua. Sekarang senyumlah, jangan cemberut seperti itu," Andra mencubit ringan pipi Sila. Membuat wanita itu tersenyum manis.


Mereka sampai di ruang makan. Andra menarikkan kursi untuk Sila, lalu untuknya sendiri. Seperti biasa, Sila menyiapkan makanan yang akan Andra makan, juga menuangkan air untuknya minum.


"Makanlah, Mas. Kalau ada yang kurang, bisa bilang sama aku. Aku ambilkan lagi untukmu." ujar Sila, sambil mengambil makanan yang akan ia makan sendiri.


"Terima kasih. Sepertinya, cukup. Kamu menyiapkan semua ini untuk kepulanganku? Terlalu istimewa, aku senang, kamu sangat perhatian, sayang." Andra merasa semua hidangan yang tertata rapi di meja terlalu banyak.


"Tentu saja semua ini untukmu, Mas. Kamu kan perginya lumayan lama, aku pengen saat kamu pulang, aku menyambutnya dengan spesial." Sila sambil mrnikmati makanan yang ada di piringnya.


Hingga acara makan malam berakhir, mereka bwrdua tidak ada yang saling berbicara. Hanya suara sendok terantuk dengan piring yang sesekali terdengar. Selama menikah, baru kali ini Sila merasakan suasana yang kaku seperti saat ini.Berada dalam satu meja, tapi tidak saling bicara.


"Biar aku cuci, Mas. Silahkan kalau mau bersantai di ruang keluarga Aku akan menyusul nanti, Mas." Sila bergegas membawa piring kotor yang telah mereka gunakan ke tempat cuci piring. Andra menuruti kata-kata Sila, dan menunggunya sambil menonton berita di televisi


Seperti biasa, Sila berhambur ke dalam dekapan Andra, menjadikan bahu lelaki itu sebagai bantal. Andra tampak sangat serius melihat acara televisi saat itu. Ia tidak sadar kalau Sila.mengamati wajahnya.

__ADS_1


"Mas, kalau kamu lelah, ayo kita tidur saja."


"Sebentar lagi, Sila."


"Baiklah," Sila tidak benar-benar menonton acara televisi, yang ia lakukan hanyalah menemani Andra sampai ia bosan dan lelah.


Bebebrapa saat kemudian, Andra mulai bosan menonton televisi dan mengajak Sila ke kamar mereka. Pikiran Andra saat itu benar-benar lelah. Ia membutuhkan waktu istirahat yang panjang.


Mereka berdua tiduran.Keduanya sama-sama menatap langit-langit. Isi otak Sila di penuhi banyak sekali pertannyaan yang menyeruak. Ia merasa suaminya sangat mengasingkannya. Bahkan sejak awal bertemu, ia sudah tampak begitu berbeda. Ada apa dengan suaminya?


Ia memalingkan wajahnya pada Andra, pria itu belum tidur, tapi Sila tahu, kondisi pikirannya sedang tidak bagus. Ada raut gelisah di sana. Meskipun Sila tidak yakin apa itu.


"Sila, saat kita ada waktu luang, kita bawa anak-anak kr pantai. Mereka pasti akan gembira saat melihat deburan ombak di tepi pantai yang mereka sering kunjungi.


"Baik, Mas. Nanti aku akan mengatur jadwal terbaik untuk liburan kita berempat. Rencana pertamanya, kita harus liburan berdua. Aku tahu, mas butuh liburan untuk mengurangi stress yang menimpa mas sekarang ini." Sila memiringkan badannya agar bisa menghadap Andra secara jelas.Mereka berdua saling memandang.


"Hari ini kamu sangat cantik. tampak fresh, wangi, aku suka semuanya. Kamu menyambutku dengan sangat baik. Aku tahu, kamu merasa aku sangat kaku, dan mungkin kamu tidak merasa nyaman dengan sikapku ini." Sebenarnya Andra juga menyadari keanehan di dalam dirinya akan di sadari oleh Sila. Sejujurnya ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membalas Sila dengan keromantisan juga.


"Aku tidak masalah kok. Aku tahu, Mas pasti masih lelah karena baru sampai.Oh, ya. Mas, kamu tidak merindukanku? Apa kita akan.melewatkan malam ini begitu saja?" Ungkap Sila tiba-tiba, membuat jantung Andra berdegup dengan kencang.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku hari ini benar-benar lelah. Mungkin lain waktu kita akan melewati malam yang romantis. Kamu tidak apa-apa kan?" Andra menatap lekat-lekat kedua bola mata Sila. Sebenarnya ia menemukan kekecewaan di sana. Tapi hari itu ia sangat lelah untuk melakukan aktivitas lain.


"Tenang saja, Mas. Aku tidak apa-apa kok. Itu adalah sebagian dari sambutanku atas kedatanganmu. Sebaiknya sekarang mas istirahat saja, aku tidak akan mengganggumu," Sila menyelimuti tubuh Andra dan ia memilih untuk tidur berjauhan.


__ADS_2