
Sila sengaja pergi ke kantor
seorang diri, hari itu ia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Pikirannya sedang sangat kacau, amburadul tidak karuan. Kalau saja Andre ada di
Indonesia, mungkin ia bisa tukar pikiran dengannya tentang sikap Andra yang tiba-tiba
berubah seperti sekarang ini.
Sila sudah membayangkan
pertemuannya kembali dengan Andra akan membuat mereka jadi lebih dekat dan
romantis, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semua yang ia persiapkan untuk
menyambut Andra jatuhnya jadi sebuah kesia-siaan. Ia sudah menyiapkannya
semuanya dengan cukup sempurna, tapi hasil yang ia dapatkan justru kecewa.
Tanpa sadar, wanita itu melajukan
mobilnya dengan sangat cepat. Pikirannya yang kacau membuat ia tidak perduli
kemana arah kendaraannya melaju. Suara klakson yang bersautan dan orang-orang
yang mengumpat karena kecerobohannya, tidak ia perdulikan.
Semuanya terjadi hingga puluhan
menit lamanya. Ia akhirnya sadar saat ada sebuah mobil polisi yang membunyikan
klakson berulang. Ia mendapat kode untuk
menepi. Sila menepuk jidatnya sendiri karena merasa telah ceroboh di jalanan.
Ia segera menepi, seseorang keluar dari mobil tersebut dan mengetuk kaca mobil
Sila.
Sila membuka kaca mobilnya, orang
yang ada di luar sana adalah Robby, setelah beberapa saat ternyata ia bisa di
pertemukan kembali dengan lelaki itu. Tetapi sayangnya, mereka bertemu di saat
yang mengejutkan bagi Sila.
“Robby...”
“Sila... kamu, kamu kenapa
ugal-ugalan di jalan seperti ini? Apakah kamu paham, kalau perbuatanmu itu justru membahayakan dirimu sendiri? Ada
apa denganmu?” Robby merasa ada yang tidak beres dengan psikologis Sila.
“Maaf, Robby, aku benar-benar
tidak sadar, kalau keadaanya seperti ini. Pikiranku sedang kacau, seharusnya aku pergi dengan supirku. Kejadian seperti
ini tidak akan terjadi, “ Sila menyandarkan kepalanya ke kemudi. Tubuhnya
sedikit gemetar karena panik.
“Kamu butuh teman bicara? Aku
akan menjadi supirmu. Kamu tidak bisa menyetir dengan kondisi seperti ini,
sepertinya badanmu juga gemetar. Sebentar, ya..” Sila hanya mengangguk, Robby
mendatangi mobilnya, bicara sesuatu pada temannya, lalu mobil itu
meninggalkannya pergi. Robby berbalik arah dan bertukar tempat dengan Sila
untuk menyetirkan mobilnya.
“Antarkan aku ke kafe terdekat,
__ADS_1
Robb. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau mentraktirmu minum sebagai tanda
terima kasihku,” Sila berkata dengan
sangat pelan, badannya masih gemetar. Kalau nasibnya tidak baik, dia bisa saja
menabrak siapapun yang ada di hadapannya.
“Baiklah, tapi biar aku saja yang
traktir. Coba cerita padaku, apa yang terjadi, sampai kamu jadi seperti ini?
Apa suamimu menyakitimu?” sebenarnya
Robby tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain, tapi, ia iba
dengan keadaan Sila yang sepertinya terpukul itu.
“Suamiku berubah Rbby, aku juga
tidak tahu apa yang membuat dia jadi seperti ini. Sebelum ia pergi ke Amerika,
dia baik-baik saja, tapi setelah dia kembali, sikapnya padaku berubah total,
Rob. Dia seperti orang asing. Aku tidak bisa mengenalinya sebagai suamiku, dia
seperti orang asing yang berwajah suamiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa,
agar dia bisa kembali seperti dulu,” Sila menumpahkan air matanya. Sejak tadi ia ingin melakukan ini, tapi ia
belum menemukan saat yang tepat.
“Kapan suamimu kembali? Mungkin
dia hanya sedang kelelahan, jangan berpikir negatif dulu. Perjalanan jauh
biasanya membuat orang terlalu lelah dan stres. Kamu seharusnya bisa sedikit
memahami suamimu, jangan berprasangka buruk,” Robby mencoba jadi penengah dalam permasalahan yang sedang dialami oleh
Sila. Dia juga tidak tahu bagaimana kronologis sebenarnya, takut salah memberi
“Baru kemarin, sih. Tapi aku
sangat mengenal suamiku, meskipun dia lelah atau apa, dia tidak akan seperti
ini. Dia pasti bisa membuat aku tetap merasa nyaman saat di dekatnya. Aku malah berpikir, dia sudah memiliki
kekasih di luar sana, Rob.” Curhat Sila lagi. Mungkin saat ini ia hanya bisa
menumpahkan isi hatinya pada Robby, setidaknya lelaki itu juga pernah
membantunya saat itu.
“Sabar, Sila. Segala sesuatu
bisa di bicarakan. Hanya perlu kepala
yang dingin untuk melakukan itu. Kalau pikiranmu panas, semuanya tidak akan
bisa di selesaikan. Yang ada, salah paham di antara kalian akan meluas dan
semakin rumit.” Robby terus memberi
masukan. Dia tahu, karena perasaan Sila yang begitu dalam pada suaminya, itu
membuat ia merasa tertekan jika terjadi perubahan padanya sedikit saja.
“kamu benar, Robby. Aku mungkin
harus membicarakannya lagi dengannya di saat yang tepat. Rasanya, bila aku
bicara dengannya di saat pikiran kacau begini justru membuat jadi semakin salah
paham. Terima kasih sudah memberiku saran, Rob.”
“Sama-sama, Sila. Itu gunanya
__ADS_1
teman, tidak perlu sungkan. Aku akan
membantu jika ada yang bisa di bantu. Kalau tidak bisa membantu, aku hanya akan
jadi pendengar yang baik. Kalau kamu
memendamnya seorang diri, justru tidak akan baik hasilnya.”
“Orang yang biasa jadi tempatku
berkeluh kesah tidak ada lagi di sini, Rob. Untung ada kamu yang mau
mendengarkan ocehanku. Maaf kalau
curhatanku membuatmu jadi tidak nyaman,” Sila sedikit segan menceritakan masalah hidupnya pada Robby. Tapi
keterbukaan lelaki itu membuatnya merasa di hargai saat menceritakan
masalahnya.
“Kamu bisa mejadikanku
penggantinya sebagai teman curhat, Sil. Aku malah senang jika ada yang mau
membagi masalahnya denganku. Aku merasa sebagai orang yang bisa di percaya.
Meskipun aku memang tidak selalu bisa di andalkan untuk masalah hati,” salah satu alasan Robby tidak kunjung
menemukan pengganti istrinya ialah, dia agak payah mengerti hati wanita. Bisa di bilang sedikit kurang peka.
“Terima kasih, Rob. Aku merasa
beruntung mengenalmu. Tanpa sengaja malah bisa jadi teman, ya.” Sila tersenyum
tipis. Sebenarnya curhat dengan Robby bukanlah solusi yang paling tepat, tapi
sudahlah, semuanya sudah terjadi.
“Betul juga, kita hanya bertemu
secara kebetulan di jembatan itu, memang
banyak hal-hal yang tidak terduga yang terjadi karena ketidak sengajaan.
Sekarang, perasaanmu apakah jauh lebih baik?” Robby memandang wajah Sila dengan
sedikit teliti, sepertinya beban pikirannya sedikit berkurang. Beda saat
pertama kali mereka bertemu beberapa menit yang lalu.
“Ya, perasaanku sudah jauh lebih
baik di bandingkan tad i. Aku jauh lebih tenang karena bebanku
berkurang sedikit. Sekali lagi terima kasih. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kisah asmaramu? Apakah kamu
sudah menemukan sosok yang menggantikan istrimu?” Sila memandang ke arah luar mobil, hujan
gerimis mengguyur tanah.
“Kisah asmaraku? Masih
begini saja, Sila. Tidak ada hal spesial
yang menghampiri dan mampir ke ruang hatiku yang kosong. Aku sedang mencari,
belum ada seseorang yang tepat dan pas di hati.” Robby masih konsen menyetir. Pandangannya lurus ke depan. Gerimis yang
turun seolah mewakili perasaan Sila yang sedang sendu.
“Aku do’akan semoga kamu segera
menemukan seseorang yang mengisi hatimu, Rob.”
“Terima kasih, Sila.”
Mereka berdua meneruskan
__ADS_1
perjalanan mereka sambil terus berbincang banyak hal. Mereka bertukar
pengalaman tentang kisah hidup mereka masing-masing.