Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 45


__ADS_3

Sila sengaja pergi ke kantor


seorang diri, hari itu ia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Pikirannya sedang sangat kacau, amburadul tidak karuan. Kalau saja Andre ada di


Indonesia, mungkin ia bisa tukar pikiran dengannya tentang sikap Andra yang tiba-tiba


berubah seperti sekarang ini.


Sila sudah membayangkan


pertemuannya kembali dengan Andra akan membuat mereka jadi lebih dekat dan


romantis, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semua yang ia persiapkan untuk


menyambut Andra jatuhnya jadi sebuah kesia-siaan. Ia sudah menyiapkannya


semuanya dengan cukup sempurna, tapi hasil yang ia dapatkan justru kecewa.


Tanpa sadar, wanita itu melajukan


mobilnya dengan sangat cepat. Pikirannya yang kacau membuat ia tidak perduli


kemana arah kendaraannya melaju. Suara klakson yang bersautan dan orang-orang


yang mengumpat karena kecerobohannya, tidak ia perdulikan.


Semuanya terjadi hingga puluhan


menit lamanya. Ia akhirnya sadar saat ada sebuah mobil polisi yang membunyikan


klakson berulang.  Ia mendapat kode untuk


menepi. Sila menepuk jidatnya sendiri karena merasa telah ceroboh di jalanan.


Ia segera menepi, seseorang keluar dari mobil tersebut dan mengetuk kaca mobil


Sila.


Sila membuka kaca mobilnya, orang


yang ada di luar sana adalah Robby, setelah beberapa saat ternyata ia bisa di


pertemukan kembali dengan lelaki itu. Tetapi sayangnya, mereka bertemu di saat


yang mengejutkan bagi Sila.


“Robby...”


“Sila... kamu, kamu kenapa


ugal-ugalan di jalan seperti ini? Apakah kamu paham, kalau perbuatanmu  itu justru membahayakan dirimu sendiri? Ada


apa denganmu?”  Robby merasa  ada yang tidak beres dengan psikologis Sila.


“Maaf, Robby, aku benar-benar


tidak sadar, kalau keadaanya seperti ini.  Pikiranku sedang kacau, seharusnya aku pergi dengan supirku. Kejadian seperti


ini tidak akan terjadi, “ Sila menyandarkan kepalanya ke kemudi. Tubuhnya


sedikit gemetar  karena panik.


“Kamu butuh teman bicara? Aku


akan menjadi supirmu. Kamu tidak bisa menyetir dengan kondisi seperti ini,


sepertinya badanmu juga gemetar. Sebentar, ya..” Sila hanya mengangguk, Robby


mendatangi mobilnya, bicara sesuatu pada temannya, lalu mobil itu


meninggalkannya pergi. Robby berbalik arah dan bertukar tempat dengan Sila


untuk menyetirkan mobilnya.


“Antarkan aku ke kafe terdekat,

__ADS_1


Robb. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau mentraktirmu minum sebagai tanda


terima kasihku,”  Sila berkata dengan


sangat pelan, badannya masih gemetar. Kalau nasibnya tidak baik, dia bisa saja


menabrak siapapun yang ada di hadapannya.


“Baiklah, tapi biar aku saja yang


traktir. Coba cerita padaku, apa yang terjadi, sampai kamu jadi seperti ini?


Apa suamimu menyakitimu?”  sebenarnya


Robby tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain, tapi, ia iba


dengan keadaan Sila yang sepertinya terpukul itu.


“Suamiku berubah Rbby, aku juga


tidak tahu apa yang membuat dia jadi seperti ini. Sebelum ia pergi ke Amerika,


dia baik-baik saja, tapi setelah dia kembali, sikapnya padaku berubah total,


Rob. Dia seperti orang asing. Aku tidak bisa mengenalinya sebagai suamiku, dia


seperti orang asing yang berwajah suamiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa,


agar dia bisa kembali seperti dulu,” Sila menumpahkan air matanya.  Sejak tadi ia ingin melakukan ini, tapi ia


belum menemukan saat yang tepat.


“Kapan suamimu kembali? Mungkin


dia hanya sedang kelelahan, jangan berpikir negatif dulu. Perjalanan jauh


biasanya membuat orang terlalu lelah dan stres. Kamu seharusnya bisa sedikit


memahami suamimu, jangan berprasangka buruk,”  Robby mencoba jadi penengah dalam permasalahan yang sedang dialami oleh


Sila. Dia juga tidak tahu bagaimana kronologis sebenarnya, takut salah memberi


“Baru kemarin, sih. Tapi aku


sangat mengenal suamiku, meskipun dia lelah atau apa, dia tidak akan seperti


ini. Dia pasti bisa membuat aku tetap merasa nyaman saat di dekatnya.  Aku malah berpikir, dia sudah memiliki


kekasih di luar sana, Rob.” Curhat Sila lagi. Mungkin saat ini ia hanya bisa


menumpahkan isi hatinya pada Robby, setidaknya lelaki itu juga pernah


membantunya saat itu.


“Sabar, Sila. Segala sesuatu


bisa  di bicarakan. Hanya perlu kepala


yang dingin untuk melakukan itu. Kalau pikiranmu panas, semuanya tidak akan


bisa di selesaikan. Yang ada, salah paham di antara kalian akan meluas dan


semakin rumit.”  Robby terus memberi


masukan. Dia tahu, karena perasaan Sila yang begitu dalam pada suaminya, itu


membuat ia merasa tertekan jika terjadi perubahan padanya sedikit saja.


“kamu benar, Robby. Aku mungkin


harus membicarakannya lagi dengannya di saat yang tepat. Rasanya, bila aku


bicara dengannya di saat pikiran kacau begini justru membuat jadi semakin salah


paham. Terima kasih sudah memberiku saran, Rob.”


“Sama-sama, Sila. Itu gunanya

__ADS_1


teman,  tidak perlu sungkan. Aku akan


membantu jika ada yang bisa di bantu. Kalau tidak bisa membantu, aku hanya akan


jadi pendengar yang baik.  Kalau kamu


memendamnya seorang diri, justru tidak akan baik hasilnya.”


“Orang yang biasa jadi tempatku


berkeluh kesah tidak ada lagi di sini, Rob. Untung ada kamu yang mau


mendengarkan ocehanku.  Maaf kalau


curhatanku membuatmu jadi tidak nyaman,”  Sila sedikit segan menceritakan masalah hidupnya pada Robby. Tapi


keterbukaan lelaki itu membuatnya merasa di hargai saat menceritakan


masalahnya.


“Kamu bisa mejadikanku


penggantinya sebagai teman curhat, Sil. Aku malah senang jika ada yang mau


membagi masalahnya denganku. Aku merasa sebagai orang yang bisa di percaya.


Meskipun aku memang tidak selalu bisa di andalkan untuk masalah hati,”  salah satu alasan Robby tidak kunjung


menemukan pengganti istrinya ialah, dia agak payah mengerti hati  wanita. Bisa di bilang sedikit kurang peka.


“Terima kasih, Rob. Aku merasa


beruntung mengenalmu. Tanpa sengaja malah bisa jadi teman, ya.” Sila tersenyum


tipis. Sebenarnya curhat dengan Robby bukanlah solusi yang paling tepat, tapi


sudahlah, semuanya sudah terjadi.


“Betul juga, kita hanya bertemu


secara kebetulan di jembatan itu,  memang


banyak hal-hal yang tidak terduga yang terjadi karena ketidak sengajaan.


Sekarang, perasaanmu apakah jauh lebih baik?” Robby memandang wajah Sila dengan


sedikit teliti, sepertinya beban pikirannya sedikit berkurang. Beda saat


pertama kali mereka bertemu beberapa menit yang lalu.


“Ya, perasaanku sudah jauh lebih


baik di bandingkan tad               i.  Aku jauh lebih tenang karena bebanku


berkurang sedikit. Sekali lagi terima kasih. Ngomong-ngomong,  bagaimana dengan kisah asmaramu? Apakah kamu


sudah menemukan sosok yang menggantikan istrimu?”  Sila memandang ke arah luar mobil, hujan


gerimis mengguyur tanah.


“Kisah asmaraku? Masih


begini  saja, Sila. Tidak ada hal spesial


yang menghampiri dan mampir ke ruang hatiku yang kosong. Aku sedang mencari,


belum ada seseorang yang tepat dan pas di hati.” Robby masih konsen menyetir.  Pandangannya lurus ke depan. Gerimis yang


turun seolah mewakili perasaan Sila yang sedang sendu.


“Aku do’akan semoga kamu segera


menemukan seseorang yang mengisi hatimu, Rob.”


“Terima kasih, Sila.”


Mereka berdua meneruskan

__ADS_1


perjalanan mereka sambil terus berbincang banyak hal. Mereka bertukar


pengalaman tentang kisah hidup mereka masing-masing.


__ADS_2