Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 53


__ADS_3

Sinar matahari pagi menembus


tirai jendela kamar Andra dan Sila. Keduanya masih terlelap dan saling


berpelukan karena udar dingin yang menyeruak masuk meskipun tanpa AC.  Perlahan mata Sila terbuka. Mendapati mereka


berdua dalam keadaan polos, Sila tersenyum. Ia senang karena telah melewati


malam yang panjang bersama Andra, setelah sekian lama tertunda.


Sila masih menyempatkan diri


memandangi wajah Andra. Rencananya, hari ini Sila ingin mengajak suaminya pergi


ke air terjun yang pernah ia kunjungi bersama dengan  Affandi saat ia sedang mengunjungi padepokan


Mbah Kromo. Meskipun ia yakin telah banyak berubah karena telah beberapa tahun


lewat tidak pergi ke tempat itu, tetapi ia percaya, tempat itu masih seindah


dulu.


Senyuman Sila memudar saat Andra


membalik posisi tidur membelakanginya. Punggung lelaki itu mulus tanpa noda. Ia


tahu, itu bukan punggung milik suaminya, tetapi milik kakak iparnya, Andre.


Sila memegang erat, air matanya mengalir deras. Ia telah tidur dengan kakak


iparnya sendiri.  Semakin lama, tangisan


Sila semakin menjadi, ia menyesali perbuatannya. Suara tangisan Sila membuat


Andre terbangun dan ia syok, saat mendapati dirinya tanpa sehelai benang.


“Kak, jelaskan padaku, kenapa kau


lakukan semua ini! Kenapa kamu menipuku! Dimana suamiku!” Sila menarik sebagian


selimutnya untuk menutupi dirinya, meskipun ia tahu, itu percuma, Andre sudah


menyentuhnya dan sudah melihat seluruh tubuhnya.


“Sila, maafkan aku, aku tidak


bermaksud melakukan semua ini padamu, aku...”  Andre menarik rambutnya kuat, ia kesal karena telah melakukan hal


ceroboh itu. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan meniduri Sila yang tidak


lain adalah adik iparnya sendiri.


“Soal kejadian tadi malam, itu


adalah kesalahanku. Tidak perlu merasa bersalah, karena aku sendiri yang salah


kak. Tapi kesalahan kakak adalah, kenapa kakak harus menjadi Andra, dimana dia?


Jawab kak!”  Sila sangat marah dan tentu


saja tidak bisa menerima kenyataan itu begitu saja. Ia bertanya-tanya, ada


dimana sebenarnya Andra? Apakah dia ikut andil dan mengetahui hal ini?


“Aku bisa jelaskan Sila, kalau


kamu ingin tahu dimana Andra, dia ada di Amerika. Aku akan mengantarkanmu ke


sana.  Semua ini atas permintaan Andra,


aku sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi dia telah membuatku berjanji untuk

__ADS_1


melakukannya, Sila. Itulah kenapa aku selalu menghindarimu. Aku tidak bisa


menyalahkanmu juga, sebagai seorang istri, kamu juga berhak menuntut hakmu. Aku


yang salah di sini. Maafkan aku, meskipun kata maaf tidak dapat merubah


semuanya, aku akan bertanggung jawab, aku akan terima semua konsekuensinya.”  Andre mengucapkannya dengan penuh keyakinan.


Ia segera memakai kembali pakaiannya, Sila masih tersedu sambil  menghadap ke ara lain.


“Aku tidak butuh tanggung


jawabmu, kak! Aku mau suamiku. Hari ini juga kita pulang. Aku mau urus


berkaskeberangkatanku ke Amerika hari ini juga.” Ucap Sila sedikit ketus. Sejujurnya,


ia sangat membenci Andre. Ingin rasanya ia mengumpat lelaki itu, tapi  ia juga bersalah di sini. Dirinya sendiri


yang telah menyerahkan diri dengan bodoh pada lelaki itu.


“Baiklah. Aku tunggu di luar.”


Andre yang perasaannya sedang campur aduk antara kesal, kecewa, malu dan lain


sebagainya, segera bergegas keluar dari kamar itu. Meninggalkan Sila yang


berulang kali memukul kepalanya sendiri. Ia merasa sangat bodoh karena tidak


menyadari lelaki yang bersamanya selama ini adalah Andre.


Sila mengutuk dirinya sendiri


atas apa yang terjadi. Ia sekarang tidak bisa melakukan apapun, waktu sudah


bergulir, semuanya sudah terjadi. Sedalam-dalamnya perasaan bersalah yang ia


rasakan, itu juga tidak bisa mengubah keadaan. Sila merasa dirinya telah


ternoda. Apa yang bisa ia katakan di hadapan Andra? Mengapa Andra sampai


di dalam otaknya.


Perlahan ia bangkit, memakai


kembali pakaiannya. Membereskan koper pakaiannya lalu membawanya keluar


perlahan.  Andre telah duduk di belakang


kemudi, Sila lebih memilih duduk di jok belakang. Mereka berdua tidak saling


bicara. Kejadian itu, membuat mereka canggung satu sama lain.


Sila memijit keningnya, ia merasa


sedikit tidakenak badan. Emosinya seperti terkuras pagi ini. Ia sudah melupakan


semuanya, termasuk keinginannya pergi ke air terjun. Seperti cermin yang


terjatuh, gambaran keseruan saat mereka pergi berdua musnah. Semuanya hancur


berkeping-keping.


Dia merasa terhianati, ia kecewa


pada dirinya, pada suaminya dan saudara iparnya sekaligus. Rasa kecewa itu


tertumpuk dan menggunung begitu saja.  Ia


merasa menjadi korban dalam sandiwara ini. Ia berada dalam situasi yang sangat


rumit. Ia tidak habis pikir, kenapa suaminya tega membiarkan dia tidur dengan

__ADS_1


lelaki lain, bahkan, lelaki lain itu di izinkan untuk menjadi dirinya.


Ia sekarang harus marah pada


siapa, itupun masih tidak jelas. Marah pada dirinya sendiri , itu yang paling


pasti. Ia yang biasanya peka, sampai tidak menyadari kalau yang di hadapannya


itu bukan suaminya. Apa dia yang terlalu mengabaikan, sudah banyak keanehan


terjadi, ia tetap menganggap lelaki itu adalah Andra.


Andre hanya diam membisu. Lelaki


itu tidak tahu harus berkata atau bertanya apa pada Sila. Ia merasa bersalah,


ia juga menyesal mengikuti kemauan adiknya. Perasaan bersalahnya semakin terasa


saat bayangan wajah Febbi membayang di matanya. Ia tidak tahu harus  berkata apa saat bertemu dengan gadis itu. Ia


merasa dirinya telah memberikan harapan palsu pada dokter muda itu.


Ia harus bertanggung jawab dengan


apa yang terjadi antara dia dan Sila. Entah, apakah dia masih punya muka untuk


menampakkan dirinya di hadapan Febbi. Sebenarnya, perlahan ia telah mengalihkan


perhatiannya pada gadis itu. Perasaannya yang  hitam putih mulai sedikit berwarna sejak  kehadirannya.


“Kak, kamu berhutang penjelasan


padaku. Sampai rumah, jelaskan semuanya padaku, tanpa ada yang terlewat. Aku


mau tahu bagaimana ceritanya, kalian berdua mempermainkan aku.”  Ujar Sila dingin. Ia tidak habis pkir, kenapa


semua ini terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya. Sangat konyol. Bagaimana


ia tidur satu ranjang dengan lelaki lain dan suaminya menyetujuinya, permainan


macam apa ini? Sungguh memalukan.


“Sepulang dari Amerika, aku janji


akan menceritakan semuanya padamu.  Aku


minta maaf atas semua yang terjadi. Aku sudah melakukan hal yang tidak pantas


untuk aku lakukan.aku tidak  tahu harus


berbuat apa agar aku bisa menebus kesalahanku padamu. Aku sangat menyesal,


Sila.” Andre tahu, saat ini akan tiba, ia harus menjelaskan semuanya. Beban


berat terpikul di bahunya sekarang. Ia juga paam, setelah ini, mungkin Sila


akan membencinya, Febbi juga mungkin akan menjauhinya.


“Baiklah, Kak. Aku mennggu semua


penjelasan darimu. Aku sangat kecewa padamu. Jangan lagi tidur di kamarku, aku


tidak percaya, kakak bisa melakukan ini padaku.  Aku tahu, kakak sangat mencintaiku dan selalu menjagaku. Tapi dulu,


kakak tidak pernah membohongiku.” Tentu saja Sila kecewa. Ia tidak habis pikir


dengan semua hal yang telah telah terjaddi.


Keduanya kembali diam seribu


bahasa.  Hanya keheningan yang

__ADS_1


menyelimuti perjalanan mereka. Sila memandang keluar melalui celah kaca mobil


yang terbuka, air matanya meleleh. Ia telah terkhianati.


__ADS_2