
Sinar matahari pagi menembus
tirai jendela kamar Andra dan Sila. Keduanya masih terlelap dan saling
berpelukan karena udar dingin yang menyeruak masuk meskipun tanpa AC. Perlahan mata Sila terbuka. Mendapati mereka
berdua dalam keadaan polos, Sila tersenyum. Ia senang karena telah melewati
malam yang panjang bersama Andra, setelah sekian lama tertunda.
Sila masih menyempatkan diri
memandangi wajah Andra. Rencananya, hari ini Sila ingin mengajak suaminya pergi
ke air terjun yang pernah ia kunjungi bersama dengan Affandi saat ia sedang mengunjungi padepokan
Mbah Kromo. Meskipun ia yakin telah banyak berubah karena telah beberapa tahun
lewat tidak pergi ke tempat itu, tetapi ia percaya, tempat itu masih seindah
dulu.
Senyuman Sila memudar saat Andra
membalik posisi tidur membelakanginya. Punggung lelaki itu mulus tanpa noda. Ia
tahu, itu bukan punggung milik suaminya, tetapi milik kakak iparnya, Andre.
Sila memegang erat, air matanya mengalir deras. Ia telah tidur dengan kakak
iparnya sendiri. Semakin lama, tangisan
Sila semakin menjadi, ia menyesali perbuatannya. Suara tangisan Sila membuat
Andre terbangun dan ia syok, saat mendapati dirinya tanpa sehelai benang.
“Kak, jelaskan padaku, kenapa kau
lakukan semua ini! Kenapa kamu menipuku! Dimana suamiku!” Sila menarik sebagian
selimutnya untuk menutupi dirinya, meskipun ia tahu, itu percuma, Andre sudah
menyentuhnya dan sudah melihat seluruh tubuhnya.
“Sila, maafkan aku, aku tidak
bermaksud melakukan semua ini padamu, aku...” Andre menarik rambutnya kuat, ia kesal karena telah melakukan hal
ceroboh itu. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan meniduri Sila yang tidak
lain adalah adik iparnya sendiri.
“Soal kejadian tadi malam, itu
adalah kesalahanku. Tidak perlu merasa bersalah, karena aku sendiri yang salah
kak. Tapi kesalahan kakak adalah, kenapa kakak harus menjadi Andra, dimana dia?
Jawab kak!” Sila sangat marah dan tentu
saja tidak bisa menerima kenyataan itu begitu saja. Ia bertanya-tanya, ada
dimana sebenarnya Andra? Apakah dia ikut andil dan mengetahui hal ini?
“Aku bisa jelaskan Sila, kalau
kamu ingin tahu dimana Andra, dia ada di Amerika. Aku akan mengantarkanmu ke
sana. Semua ini atas permintaan Andra,
aku sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi dia telah membuatku berjanji untuk
__ADS_1
melakukannya, Sila. Itulah kenapa aku selalu menghindarimu. Aku tidak bisa
menyalahkanmu juga, sebagai seorang istri, kamu juga berhak menuntut hakmu. Aku
yang salah di sini. Maafkan aku, meskipun kata maaf tidak dapat merubah
semuanya, aku akan bertanggung jawab, aku akan terima semua konsekuensinya.” Andre mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
Ia segera memakai kembali pakaiannya, Sila masih tersedu sambil menghadap ke ara lain.
“Aku tidak butuh tanggung
jawabmu, kak! Aku mau suamiku. Hari ini juga kita pulang. Aku mau urus
berkaskeberangkatanku ke Amerika hari ini juga.” Ucap Sila sedikit ketus. Sejujurnya,
ia sangat membenci Andre. Ingin rasanya ia mengumpat lelaki itu, tapi ia juga bersalah di sini. Dirinya sendiri
yang telah menyerahkan diri dengan bodoh pada lelaki itu.
“Baiklah. Aku tunggu di luar.”
Andre yang perasaannya sedang campur aduk antara kesal, kecewa, malu dan lain
sebagainya, segera bergegas keluar dari kamar itu. Meninggalkan Sila yang
berulang kali memukul kepalanya sendiri. Ia merasa sangat bodoh karena tidak
menyadari lelaki yang bersamanya selama ini adalah Andre.
Sila mengutuk dirinya sendiri
atas apa yang terjadi. Ia sekarang tidak bisa melakukan apapun, waktu sudah
bergulir, semuanya sudah terjadi. Sedalam-dalamnya perasaan bersalah yang ia
rasakan, itu juga tidak bisa mengubah keadaan. Sila merasa dirinya telah
ternoda. Apa yang bisa ia katakan di hadapan Andra? Mengapa Andra sampai
di dalam otaknya.
Perlahan ia bangkit, memakai
kembali pakaiannya. Membereskan koper pakaiannya lalu membawanya keluar
perlahan. Andre telah duduk di belakang
kemudi, Sila lebih memilih duduk di jok belakang. Mereka berdua tidak saling
bicara. Kejadian itu, membuat mereka canggung satu sama lain.
Sila memijit keningnya, ia merasa
sedikit tidakenak badan. Emosinya seperti terkuras pagi ini. Ia sudah melupakan
semuanya, termasuk keinginannya pergi ke air terjun. Seperti cermin yang
terjatuh, gambaran keseruan saat mereka pergi berdua musnah. Semuanya hancur
berkeping-keping.
Dia merasa terhianati, ia kecewa
pada dirinya, pada suaminya dan saudara iparnya sekaligus. Rasa kecewa itu
tertumpuk dan menggunung begitu saja. Ia
merasa menjadi korban dalam sandiwara ini. Ia berada dalam situasi yang sangat
rumit. Ia tidak habis pikir, kenapa suaminya tega membiarkan dia tidur dengan
__ADS_1
lelaki lain, bahkan, lelaki lain itu di izinkan untuk menjadi dirinya.
Ia sekarang harus marah pada
siapa, itupun masih tidak jelas. Marah pada dirinya sendiri , itu yang paling
pasti. Ia yang biasanya peka, sampai tidak menyadari kalau yang di hadapannya
itu bukan suaminya. Apa dia yang terlalu mengabaikan, sudah banyak keanehan
terjadi, ia tetap menganggap lelaki itu adalah Andra.
Andre hanya diam membisu. Lelaki
itu tidak tahu harus berkata atau bertanya apa pada Sila. Ia merasa bersalah,
ia juga menyesal mengikuti kemauan adiknya. Perasaan bersalahnya semakin terasa
saat bayangan wajah Febbi membayang di matanya. Ia tidak tahu harus berkata apa saat bertemu dengan gadis itu. Ia
merasa dirinya telah memberikan harapan palsu pada dokter muda itu.
Ia harus bertanggung jawab dengan
apa yang terjadi antara dia dan Sila. Entah, apakah dia masih punya muka untuk
menampakkan dirinya di hadapan Febbi. Sebenarnya, perlahan ia telah mengalihkan
perhatiannya pada gadis itu. Perasaannya yang hitam putih mulai sedikit berwarna sejak kehadirannya.
“Kak, kamu berhutang penjelasan
padaku. Sampai rumah, jelaskan semuanya padaku, tanpa ada yang terlewat. Aku
mau tahu bagaimana ceritanya, kalian berdua mempermainkan aku.” Ujar Sila dingin. Ia tidak habis pkir, kenapa
semua ini terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya. Sangat konyol. Bagaimana
ia tidur satu ranjang dengan lelaki lain dan suaminya menyetujuinya, permainan
macam apa ini? Sungguh memalukan.
“Sepulang dari Amerika, aku janji
akan menceritakan semuanya padamu. Aku
minta maaf atas semua yang terjadi. Aku sudah melakukan hal yang tidak pantas
untuk aku lakukan.aku tidak tahu harus
berbuat apa agar aku bisa menebus kesalahanku padamu. Aku sangat menyesal,
Sila.” Andre tahu, saat ini akan tiba, ia harus menjelaskan semuanya. Beban
berat terpikul di bahunya sekarang. Ia juga paam, setelah ini, mungkin Sila
akan membencinya, Febbi juga mungkin akan menjauhinya.
“Baiklah, Kak. Aku mennggu semua
penjelasan darimu. Aku sangat kecewa padamu. Jangan lagi tidur di kamarku, aku
tidak percaya, kakak bisa melakukan ini padaku. Aku tahu, kakak sangat mencintaiku dan selalu menjagaku. Tapi dulu,
kakak tidak pernah membohongiku.” Tentu saja Sila kecewa. Ia tidak habis pikir
dengan semua hal yang telah telah terjaddi.
Keduanya kembali diam seribu
bahasa. Hanya keheningan yang
__ADS_1
menyelimuti perjalanan mereka. Sila memandang keluar melalui celah kaca mobil
yang terbuka, air matanya meleleh. Ia telah terkhianati.