
“Auuw...pelan-pelan,Sayang...” Andra
berteriak saat Sila menekan luka bekas gigitannya yang membiru, padahal tujuan
Sila adalah untuk menempelkan plester di bagian yang terluka.
“Maaf, maaf... pasti sakit
banget, ya, Mas?” Sila merasa iba melihat Andra yang kesakitan.
“Habisnya kamu,seperti kucing
saja, pagi-pagi sudah gigit,” Andra
meledek Sila sambil meringis dan memegangi lukanya.
“Kalau aku jadi kucing, aku
adalah kucing yang paling imut, lagipula
tadi maksudku hanya bercanda, kok. Aku tidak menyangka ternyata lukanya akan
sedalam ini, Mas.” Sila tampak menyesali perbuatannya yang telah menggigit
Andra sampai terluka sedikit serius seperti itu.
“udahlah, aku tidak apa-apa kok,
hanya luka seperti ini, aku bukan anak cengeng. Aku hanya manja saja. Lagipula rasa
sakitnya udah hilang karena mandi bersamamu tadi,” Andra tersenyum dengan
manisnya. Ia memandang Sila dengan tatapan teduh.
“Kalau sakit, bilang aja, Mas. Aku
tadi memang terlalu kuat menggigit kamu.” Ujar Sila sambil mencari pakaian yang
akan di kenakannya di lemari. Lalu mulai
memakainya.
“Serius, aku nggak apa-apa, kok. Aku
baik-baik, saja.” Sahut Andra sambil
memakai celana panjangnya.
“Mas, aku khawatir pada kakak,
aku takut kejadian yang sama, yang pernah menimpamu, juga akan menimpa dia,”
Tentu saja Sila khawatir, kenangan buruk Andra dengan kakeknya yang sangat
kelam, masih membayanginya.
“Memangnya kenapa? Bukankah kakak ikut dengan kakek? Jadi
apa yang perlu di khawatirkan?” Andra yang sedang menyisir rambutnya menoleh ke
arah Sila karena sangat tertarik dengan pembahasan ini.
“Mas, kamu dulu juga ikut
kakek, beliau memanfaatkan ketampananmu
untuk meraup keuntungan. Kakek menjadikanmu lelaki bayaran tante-tante. Kalau kamu
tidak melakukannya, kamu akan di kurung dan di cambuk sampai kamumeminta ampun
kepada kakekmu. Makanya saat kakek minta maaf, kamu menolaknya,” Sila
__ADS_1
menceritakan kembali apa yang pernah di lakukan kakek terhadap Andra. Sebagai orang
yang hanya melihat bekas cambukan itu saja sudah membuat Sila nyeri,
membayangkan penderitaan yang harus dialami oleh Andra.
“Kakekku sejahat itu? Padahal aku adalah cucunya, tapi kenapa dia
bisa begitu kejam? Mendengar ceritamu itu, pasti kakekku sudah tidak punya
hati,” Andra tampak sangat kesal, di matanya terlihat sorot kebencian.
“Sudahlah, jangan kamu memikirkan
hal yang membuat pagi kita jadi tidak baik. Aku hanya bisa mendo’akan kakak,
semoga kakek tidak sekejam itu pada kakak,” Sila yang telah rapi mendatangi
suaminya. Ia memegang kedua pipi lelaki tampan itu, lalu mendaratkan kecupan
sekilas padanya. Ia takut pembicaraannya mengenai kakek mengganggu pikiran
Andra.
“Apakah Nyonya Sila sedang menyogokku
dengan sebuah kecupan?” Andra balas memegang kedua pipi istrinya. Ia paham,
jika apa yang di lakukan Sila adalah bentuk pengalihan pemikirannya terhadap
kakek.
Sekelam apapun masalalunya, Andra
bahagia karena Sila mau menerimanya apa adanya. Kalau aja ia bia mengingat semuanya
dengan baik, tentu saja ia tidak akan membiarkan kakaknya pergi menyusul kakek
menimpanya.
“Aku hanya tidak ingin Tuan
Tampan kesayanganku memasang muka menyeramkan seperti itu. Kembalilah ceria
sayang. Aku justru berharap kamu lupa ingatan selamanya, supaya kamu tidak bisa
mengingat lagi hal-hal buruk yang pernah terjadi di dalam hidupmu. Asal kamu
masih mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup,” Sila melepaskan pegangan tangan
Andra di pipinya, lalu mendekap suaminya erat. Ia benar-benar tidak perduli, apabila
suaminya tidak bisa mengingat semuanya. Asalkan masih mengingatnya, semuanya
tidak menjadi masalah besar.
“Iyakah? Wajahku seram? Apakah aku
semenakutkan zombi?” Andra melangkah kesana-kemari, hingga mereka tampak
seperti sedang berdansa.
“Mana mungkin seramnya yang
seperti itu. Kalau kamu, seramnya hanya seperti pangeran-pangeran vampir yang
ada di komik-komik,” Sila tersenyum manis sambil memandangi wajah Andra
lekat-lekat. Sila berharap tidak akan ada yang merusak momen manis yang sedang mereka ukir setiap harinya.
“Seperti apapun, semua terserah
__ADS_1
padamu. Aku bahagia menjadi apapun, asal
Sila-ku bahagia,” Andra memang sengaja memberikan yang terbaik untuk Sila. Ia
hanya ingin wanita itu bahagia. Lelaki itu juga ingin menebus kesalahannya
karena telah membiarkan Sila susah hingga bertahun-tahun.
“Mas, jangan terlalu memanjakan
aku, nanti aku semakin manja sama kamu,” Sila menyentuh ujung hidung Andra.
“Sila, kita sepertinya terlalu
lama romantisan, coba lihat, jam berapa sekarang,” Andra panik saat melihat jam yang tertempel
di dinding kamar mereka.
“Wah, iya. Kita terlalu lama
saling berbicara, ayo kita turun dan sarapan, mana aku belum lihat si
kembar, semoga dua mbak itu bisa di
andalkan, deh,” Sila mengambil tasnya, lalu segera turun di susul oleh Andra.
Sila memilih untuk membungkus
bekal makanan dari rumah, ia teringat kebiasaannya dulu saat hamil si kembar,
selalu membawa bekal dari rumah demi mendapatkan makanan sehat selama
kehamilan.
Sepanjang perjalanan mereka
tertawa jika mengingat kekonyolan mereka sepanjang pagi ini, sampai mereka
hampir telat bahkan terpaksa harus sarapan di jalan. Tapi mereka senang
menjalani hari itu, rasanya sangat seru. Kapan lagi bisa terburu-buru,
sementara melewati pagi dengan santai.
“Mas, hari ini gokil abis, kita
smpai seperti di kejar setan, buru-buru nggak karuan,”
“Gapapa, Sila. Yang penting pagi
ini kita lewati dengan romantis,”
“Untung bukan kerja sama orang,
udah kena sp kita berangkat kesiangan , Mas.”
“Siapa bilang, kamu tetap dapat
sp,”
“Loh, kok aku dapat sp?”
“Iya, surat peringatan karena
terlalu romantis di pagi hari,”
Sila mencubit lengan Andra, tidak
sengaja pas area bekas gigitannya. Otomatis Andra berteriak. Setelah itu mereka kembali
tertawa.
__ADS_1