Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 21


__ADS_3

“Auuw...pelan-pelan,Sayang...” Andra


berteriak saat Sila menekan luka bekas gigitannya yang membiru, padahal tujuan


Sila adalah untuk menempelkan plester di bagian yang terluka.


“Maaf, maaf... pasti sakit


banget, ya, Mas?” Sila merasa iba melihat Andra yang kesakitan.


“Habisnya kamu,seperti kucing


saja, pagi-pagi sudah gigit,”  Andra


meledek Sila sambil meringis dan memegangi lukanya.


“Kalau aku jadi kucing, aku


adalah kucing yang paling imut,  lagipula


tadi maksudku hanya bercanda, kok. Aku tidak menyangka ternyata lukanya akan


sedalam ini, Mas.” Sila tampak menyesali perbuatannya yang telah menggigit


Andra sampai terluka sedikit serius seperti itu.


“udahlah, aku tidak apa-apa kok,


hanya luka seperti ini, aku bukan anak cengeng. Aku hanya manja saja. Lagipula rasa


sakitnya udah hilang karena mandi bersamamu tadi,” Andra tersenyum dengan


manisnya. Ia memandang Sila dengan tatapan teduh.


“Kalau sakit, bilang aja, Mas. Aku


tadi memang terlalu kuat menggigit kamu.” Ujar Sila sambil mencari pakaian yang


akan di kenakannya di  lemari. Lalu mulai


memakainya.


“Serius, aku nggak apa-apa, kok. Aku


baik-baik, saja.”  Sahut Andra sambil


memakai celana panjangnya.


“Mas, aku khawatir pada kakak,


aku takut kejadian yang sama, yang pernah menimpamu, juga akan menimpa dia,”


Tentu saja Sila khawatir, kenangan buruk Andra dengan kakeknya yang sangat


kelam, masih membayanginya.


“Memangnya  kenapa? Bukankah kakak ikut dengan kakek? Jadi


apa yang perlu di khawatirkan?” Andra yang sedang menyisir rambutnya menoleh ke


arah Sila karena sangat tertarik dengan pembahasan ini.


“Mas, kamu dulu juga ikut


kakek,  beliau memanfaatkan ketampananmu


untuk meraup keuntungan. Kakek menjadikanmu lelaki bayaran tante-tante. Kalau kamu


tidak melakukannya, kamu akan di kurung dan di cambuk sampai kamumeminta ampun


kepada kakekmu. Makanya saat kakek minta maaf, kamu menolaknya,” Sila

__ADS_1


menceritakan kembali apa yang pernah di lakukan kakek terhadap Andra. Sebagai orang


yang hanya melihat bekas cambukan itu saja sudah membuat Sila nyeri,


membayangkan penderitaan yang harus dialami oleh Andra.


“Kakekku sejahat itu?  Padahal aku adalah cucunya, tapi kenapa dia


bisa begitu kejam? Mendengar ceritamu itu, pasti kakekku sudah tidak punya


hati,” Andra tampak sangat kesal, di matanya  terlihat sorot kebencian.


“Sudahlah, jangan kamu memikirkan


hal yang membuat pagi kita jadi tidak baik. Aku hanya bisa mendo’akan kakak,


semoga kakek tidak sekejam itu pada kakak,” Sila yang telah rapi mendatangi


suaminya. Ia memegang kedua pipi lelaki tampan itu, lalu mendaratkan kecupan


sekilas padanya. Ia takut pembicaraannya mengenai kakek mengganggu pikiran


Andra.


“Apakah Nyonya Sila sedang menyogokku


dengan sebuah kecupan?” Andra balas memegang kedua pipi istrinya. Ia paham,


jika apa yang di lakukan Sila adalah bentuk pengalihan pemikirannya terhadap


kakek.


Sekelam apapun masalalunya, Andra


bahagia karena Sila mau menerimanya apa adanya. Kalau aja ia bia mengingat semuanya


dengan baik, tentu saja ia tidak akan membiarkan kakaknya pergi menyusul kakek


menimpanya.


“Aku hanya tidak ingin Tuan


Tampan kesayanganku memasang muka menyeramkan seperti itu. Kembalilah ceria


sayang. Aku justru berharap kamu lupa ingatan selamanya, supaya kamu tidak bisa


mengingat lagi hal-hal buruk yang pernah terjadi di dalam hidupmu. Asal kamu


masih mencintaiku, itu sudah lebih dari cukup,” Sila melepaskan pegangan tangan


Andra di pipinya, lalu mendekap suaminya erat. Ia benar-benar tidak perduli, apabila


suaminya tidak bisa mengingat semuanya. Asalkan masih mengingatnya, semuanya


tidak menjadi masalah besar.


“Iyakah? Wajahku seram? Apakah aku


semenakutkan zombi?” Andra melangkah kesana-kemari, hingga mereka tampak


seperti sedang berdansa.


“Mana mungkin seramnya yang


seperti itu. Kalau kamu, seramnya hanya seperti pangeran-pangeran vampir yang


ada di komik-komik,” Sila tersenyum manis sambil memandangi wajah Andra


lekat-lekat. Sila berharap tidak akan ada yang merusak momen manis yang  sedang mereka ukir setiap harinya.


“Seperti apapun, semua terserah

__ADS_1


padamu. Aku  bahagia menjadi apapun, asal


Sila-ku bahagia,” Andra memang sengaja memberikan yang terbaik untuk Sila. Ia


hanya ingin wanita itu bahagia. Lelaki itu juga ingin menebus kesalahannya


karena telah membiarkan Sila susah hingga bertahun-tahun.


“Mas, jangan terlalu memanjakan


aku, nanti aku semakin manja sama kamu,” Sila menyentuh ujung hidung Andra.


“Sila, kita sepertinya terlalu


lama romantisan, coba lihat, jam berapa sekarang,”  Andra panik saat melihat jam yang tertempel


di dinding kamar mereka.


“Wah, iya. Kita terlalu lama


saling berbicara, ayo kita turun dan sarapan, mana aku belum lihat si


kembar,  semoga dua mbak itu bisa di


andalkan, deh,” Sila mengambil tasnya, lalu segera turun di susul oleh Andra.


Sila memilih untuk membungkus


bekal makanan dari rumah, ia teringat kebiasaannya dulu saat hamil si kembar,


selalu membawa bekal dari rumah demi mendapatkan makanan sehat selama


kehamilan.


Sepanjang perjalanan mereka


tertawa jika mengingat kekonyolan mereka sepanjang pagi ini, sampai mereka


hampir telat bahkan terpaksa harus sarapan di jalan. Tapi mereka senang


menjalani hari itu, rasanya sangat seru. Kapan lagi bisa terburu-buru,


sementara melewati pagi dengan santai.


“Mas, hari ini gokil abis, kita


smpai seperti di kejar setan, buru-buru nggak karuan,”


“Gapapa, Sila. Yang penting pagi


ini kita lewati dengan romantis,”


“Untung bukan kerja sama orang,


udah kena sp kita berangkat kesiangan , Mas.”


“Siapa bilang, kamu tetap dapat


sp,”


“Loh, kok aku dapat sp?”


“Iya, surat peringatan karena


terlalu romantis di pagi hari,”


Sila mencubit lengan Andra, tidak


sengaja pas area bekas gigitannya. Otomatis  Andra berteriak. Setelah itu mereka kembali


tertawa.

__ADS_1


__ADS_2