
"Sila, kita harus bicara," Andre mendatangi Sila yang sedang sibuk di dalam ruangannya.
"Bicara tentang apa Kak?" Sila merespon singkat sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Ini soal pernikahan kita, kita harus mempersiapkan segalanya. Aku butuh pendapatmu untuk beberapa hal," Andre duduk di hadapan Sila, meski tanpa di persilahkan.
"Aku percaya dengan pilihan Kakak. Silahkan urus saja. Apa persyaratan yang di butuhkan, kirim pesan padaku. Aku sedang Sibuk." Sila coba beralasan. Bukan itu alasan yang sebenarnya, wanita itu tidak ada keinginan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahannya dan Andre.
"Tapi ini pernikahan kita, tidak adakah keinginan untuk meluangkan waktu sedikit saja, Sila?" Andre sangat ingin mengurus persiapan pernikahan mereka bersama-sama. Tapi sepertinya, Sila tidak akan mengabulkan permintaannya.
"Pernikahan ini hanya formalitas Kak. Untukmu dan bayi ini, bukan aku." sahut Sila datar. Dia memang hanya terpaksa menikah dengan Andre. Hanya untuk bayi yabg ada di kandungannya sekarang.
"Tapi, Sila..."
"Sudahlah, Kak. Pekerjaanku menumpuk. Aku mohon jangan ganggu aku dulu. Silahkan saja Kakak urus semuanya. Aku tidak akan protes." Sila terpaksa harus mengusir Andre. Dia tidak suka berada di posisi ini. Hatinya menolak sentuhan Andre.
"Baiklah kalau itu maumu. Jangan lupa makan siang, atau perlu aku pesankan makan untukmu?" Andre mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sila. Tapi ia tifak akan pernah berhenti mrmperhatikan wanita itu sedikitpun.
"Tidak perlu, Kak. Aku akan makan siang nanti. Kakak juga," sekedar basa-basi, hanya itu yang bisa Sila lakukan sekarang.
Terkadang, gelombang kerinduan menghantui Sila. Sosok Andra masih membayang di pelupuk matanya. Bagaimana ia bisa senang, saat harus menjalin hubungan baru dengan kakak iparnya sendiri.
__ADS_1
"Tentu. Aku pergi," Andre meninggalkan Sila yang tidak terlalu merespon keberadaannya. Pria itu tidak marah, ia terima apapun perlakuan Sila terhadapnya. Keputusan wanita itu mengikuti permintaannya untuk mempertahankan janin di perutnya sudah lebih dari cukup untuk pria itu.
Setelah kepergian Andre, Sila menghentikan kegiatannya. Sebenarnya, ia tidak sesibuk itu. Hanya saja butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Wanita itu meraba perutnya yang masih datar, kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bagian belakang kursi kerjanya, sedikit menerawang ke langit-langit.
"Mas, apa kamu rela, membiarkan aku menikah dengan kakakmu sendiri? Apalagi di perutku kini tumbuh darah dagingnya. Aku telah mengkhianati pernikahan kita, Mas. Maafkan aku..." Bisiknya, seakan sedang berbicara pada mendiang suaminya. Sila tidak menyangka, akan mengandung anak Andre. Semuanya karena kebodohannya sendiri. Ia yang telah mengumpankan diri pada lelaki itu.
"Akankah suatu hari, aku bisa menerimanya seperti aku menerimamu, Mas? Apakah setiap hari aku hanya akan menyakitinya? Sungguh aku tidak bisa memaksakan perasaan ini. Aku tidak lagi mencintai kakak," bisiknya lagi, itu yang kini ada di dalam hati Sila. Perasaannya tidak menentu. Ia tidak bisa melihat Andre menderita, tapi ia juga tidak bisa mencintai Andre untuk sekarang.
"Apa aku terlalu jahat? Aku terlalu mengabaikan perasaannya? Aku harus apa sekarang Mas? Aku bahkan tidak yakin, akan bisa sayang dengan anak ini saat dia lahir nanti," Sila terus berkata-kata seorang diri. Ia memang menginginkan seorang anak, tapi bukan dari orang lain selain suaminya. Kenyataan ini membuatnya bimbang, bagaimana harus bersikap.
Sementara itu...
Sesuai permintaan Sila, Andre mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Sekian tempat yang dia kunjungi mempertanyakan dimana calon pengantin wanitanya, Andre hanya beralasan bahwa, calon pengantinnya tengah menjalani berbagai perawatan kecantikan sehingga tidak dapat ikut mempersiapkan pernikahan mereka.
Sertelah memastikan semuanya selesai, Andre bergegas menemui Febbi. Bagaimanapun, ia harus menjelaskan semuanya pada wanita itu. Untuk memberikan pengertian padanya membutuhkan waktu yang tepat dan itu bukan sekarang.
Seharusnya saat ini Andre senang karena akhirnya akan segera memiliki wanita yang ia sukai, tapi sekali lagi, ia belum dapat merasakan bahagia itu. Meskipun raga Sila akan segera menjadi miliknya, ia paham, hati wanita itu bukan miliknya.
Entah harus memakan waktu berapa lama untuk membuatnya jatuh hati.Dia sendiri tidak yakin untuk itu. Semua ini, hanya untuk bayinya. Ia akan mencoba bertahan dalam keadaan apapun. Mengasihi wanita itu setulus mungkin.
"Abang! Disini!" Febbi melambaikan tangannya saat melihat Andre yang tiba di Bandara. Gadis itu berlari kecil sambil menarik koper minimalisnya menyongsong Andre.
__ADS_1
"Febbi rindu Abang." Febbi memeluk Andre dan di balas peluk pula oleh Andre. Bagaimanapun, ia juga merindukan wanita itu. Setidaknya, itu adalah pelukan terakhirnya sebelum menikah dengan Sila.
"Apa kabar Feb? Kamu sehat?" Andre memandang seksama gadis itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Sepertinya dia baik-baik saja.
"Febbi sehat bang. Abang juga kan? Bagaimana pekerjaan Abang?" Febbi melepaskan dirinya dari Andre lalu memilih berjalan beriringan menuju mobil.
"Pekerjaanku baik. Kuliahmu juga lancar, kan?" Andre balik bertanya.
"Baik, Bang. Lagi liburan, makanya pulang. Pengen ketemu Abang. Kita sering jalan-jalan yuk, Bang. Aku nggak lama di indo soalnya." Rengek Febbi sedikit manja. Dia memang tidak akan lama berada di Indonesia, karena pendidikannya masih panjang.
"Boleh. Aku akan mengajakmu berkeliling jika ada waktu senggang. Mau pergi kemana? Aku akan menemanimu." Di dalam hatinya, Andre mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berjanji, padahal.ke depannya, ia akan di sibukkan berbagai hal persiapan pernikahan.
"Terima kasih banyak. Aku akan memanfaatkan waktu pertemuan kita, Bang. Abang sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan bareng? Febbi traktir Abang, deh." ujar gadis itu ceria. Dia swperti hujan di hatinya yang gersang, sangat menyejukkan.
"Kebetulan aku belum makan. Baiklah, kita makan. Aku yang traktir. Rasanya aneh kalau cewek yang traktir cowok." Andre tersenyum simpul seraya membuka pintu mobilnya untuk Febbi, memasukkan koper gadis itu dan meluncur menuju tempat makan.
"Bang, perasaan Febbi, Abang agak kurusan. Sering lupa makan, ya?" Selidik Febbi. Faktanya, Andre memang sering lupa dengan jam makannya karena sibuk dan banyak pikiran.
"Iya, akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk sampai lupa untuk makan. Maklum, belum punya istri, jadi suka lupa." candaan Andre di sambut tawa renyah Febbi.
"Kode nih? Makanya, cepat halalin aku dong, Bang. Biar setiap hari aku bisa masakin dan ngingetin Abang buat makan." goda Febbi.
__ADS_1
"Kayaknya yang ngode kamu deh, minta di halalin. Kalau ternyata yang halalin kamu bukan aku gimana?" Andre balik melemparkan candaan pada Febbi.
"Mengharapnya sih, Bang Andre. Tapi kalau Abang bukan jodohku, mau nggak mau aku harus lupakan Abang," raut wajah Febbi berubah. Ada apa dengan Febbi?