
Natan melajukan mobil menuju hoyel NA. Mereka menemui Yuni yang pada saat itu memang sedang bekerja. Mereka menanyakan keberadaan Sila. Namun Yuni tidak m3ngetahui. Karena kesibukannya akhir akhir ini membuat mereka jarang betemu. Yuni juga mengaku bahwa mereka terakhir bertemu pada 10 hari yang lalu untuk makan siang di resto hotel NA. Dia juga mengatakan bahwa mereka bertemu Ryan dan makan bersama.
Setelah beberapa lama berbincang dan mengorek informasi dari Yuni, tanpa hasil. Mereka meluncur mencari Ryan di kafe Asri. Benar saja Ryan memang ada dikafe tersebut.
"Ryan" sapa Tama
"ya.. eii bukankah ini tuan muda Aditama?. Kesini sendiri?. Dimana Sila?". Ryan membrondong beberapa pertanyaan kepada Tama
"jaga sopan santunmu, bagaimana bisa kau menyebut nona dengan namanya saja?." hardik Natan. Tama mengangkat tangannya memberi isarat agar natan tenang
"kenapa tidak?. aku sudah menganggap Sila sebagai adikku sebelum dia menjadi istri tuan muda kalian". balas Ryan.
"sudah! tidak perlu memperpanjang masalah kecil.. Kedatanganku mencarimu untuk menanyakan keberadaan Sila, mungkin saja kau tau. tapi sepertinya tidak seperti itu." lanjut Tama
"apa maksudmu? menanyakan keberadaan Sila? memang apa yang terjadi?. Dia hilang?." runtut pertanyaan Ryan. Raut wajahnya begitu khawatir
"Dia pergi dari rumah." Natan menjawab
"apa?!. apa yang terjadi?. apa kau benar benar berselingkuh???."Ryan berdiri dan mendekatkan wajahnya ke arah Tama. Natan geram dan berdiri meraih kerah baju Ryan.
" jaga sikapmu!" Tama mengangkat tangannya lagi untuk menghentikan Natan.
"apa kau tau tuan muda... seberapa besar Sila mencintaimu?. Dia sangat mencintaimu. dia tak rela ada seorang yang menjelekkan mu. bahkan saat dia merasa kau tak menyayanginya, dia tak rela ada yang mencurigaimu selingkuh. Tapi apa? pada akhirnya dia yang tersingkir kan?. Dia yang di buang kan?..
Dia rela dimarahi dan kadang dipukul ayahnya karena sering ke kafe ini. Untuk apa? untuk melihat anda.. anda tau mengapa di selalu mengambil tempat duduk ini? disini?. Hanya agar bisa mencuri pandang senyuman anda yang di pojok sana.. Dan pada akhirnya dia terbuang.. Ya dia terbuang.."
Ryan begitu kesal pada Tama dan berlalu meninggalkannya begitu saja.
"tunggu! mau kemana kau?"cegah Natan. Sementara Tama tak bergeming dari tempat duduknya. Dia krmbali syok mendengar kenyataan bahwa istrinya begitu mencintainya.
__ADS_1
"aku akan mencarinya.." Ryan berlalu meninggalkan keduanya.
"Natan,, bagaimana? apakah belum ada kabar dari Eri?"
" belum. kami telah memerintahkan 200 orang untuk menyebar ke seluruh kota."
"hubungi komandan Lukman. Minta dia mengirim video cctv lalu lintas seluruh kota ke padaku."
"baik"
keduanya pun bergegas meninggalkan tempat itu
"kita kerumah ayah"
"baik"
"bagaimana sayang,, apakah kau sudah menemukannya?" tanya sang ibu
" belum bu"
"bagaimana ini? kemana dia?. Tama,, kerahkan orang orangmu untuk mencarinya keseluruh kota"
"sudah bu.."
"Tuan muda komandan sudah mengirimkan rekaman cctv lalulintas kemarin ke email saya." Natan melapor.
Mereka segera memeriksa dan mengikuti kemana arah Sila pergi. Disana terlihat Sila dan mbok Nah keluar dari rumah sakit.
"Sila sakit?. kenapa dia keluar dari rumah sakit?. kenapa ibu tidak tahu?. sakit apa dia?." nyonya Wijaya khawatir
__ADS_1
ketika waktu menunjukkan pukul 1 siang terlihat Sila dibonceng sepeda motor di lingkungan rumah tempat tinggal mereka. Dan mereka menuju ke arah kediaman Wijaya, dan itu adalah kemarin saat Sila berpamit. Mereka mengira setelah dari rumah itu Sila akan pulang kerumahnya. Tapi ternyata ojek yang di naikinya tidak berbelok di perempatan di mana seharusnga dia berbelok ke kiri. Ojek itu terus lurus. Jika dia akan pergi menggunakan pesawat seperti yang di katakan mbokNah tadi pagi harusnya dia belok ke arah kanan. Mereka terus memperhatika kearah mana ojek itu membawanya. mungkinkah ke stasiun? tidak karena letak stasiun berbeda arah jika dari kediaman Wijaya.
Dan ternyata ojek itu masuk ke area terminal. Sila terlihat turun dan berjalan ke arah pojok terminal dan duduk disebuah bangku menghadap ke gerbang terminal. Lama,, dan begitu lama Sila duduk disana, kepalanya sering terlihat melongok kearah gerbang seakan akan menantikan kedatangan seseorang. Begitu lama Sila tak beranjak dari tempat itu. Hingga hari berganti petang. Ketika lampu lampu kota mulai dinyalakan, terlihat Sila berdiri dari tempat duduknya. Namun bukan menuju ke loket karcis ataupun masuk ke salah satj bus, tapi dia berjalan keluar terminal dengan langkah gontai. berjalan dan terus berjalan hingga tak terlihat lagi dari cctv..
"kemana dia? Natan cek cctv berikutnya."
" itu cctv terakhir, di sepanjang 2 km dari tempat itu sudah tidak adalagi cctv nya."
"kerahkan orang orangmu menyisir tempat itu."
"baiklah"
.
Tama berlari menapaki tangga menuju ke kamarnya. Dia tak tahan lagi. Dia berteriak sejadi jadinya di kamar yang kedap suara itu. Diluahkan segala emosi hatinya. Kemarahan, kesedihan, bimbang, resah, penyesalan, ketakutan., seluruh rasa yang bercampur tak terbendung lagi.
image gagah, dingin dan sangar yang di sandangnya kini telah hilang di kamar itu. Kini dia lemah, dia payah, dia hancur. Sosok yang keras dalam dirinya kini luntur mengalir bersama deras airmata penyesalannya.
Kekhawatiran juga terlihat dirumah Rudi ayah Sila.
"kemana anak liar itu bisa pergi? dasar anak tak tau diuntung"
"ayah jangan seperti itu. mungkin ada masalah yang kita tidak tau. jangan menyalahkan Sila"
"lalu salah siapa?. he?. apakah salah ayah? atau ayah harus menyalahkan keluarga Presdir?."
"ayah,, jangan dipermasalahkan lagi. sekarang kita pikirkan kemana Sila pergi? dia tak punya siapa siapa di luar sana. Dia sendirian. Dia gadis lemah ayah, bagaimana jika terjadi sesuatu?."
Tak seorangpun tau kemana Sila pergi. Bahkan orang orang yang dikerahkan Natan dan Eri pun tak ada yang bisa menemukannya. Dia hilang tak berjejak.
__ADS_1