
"nona Sarah,, apakah malam ini ada acara?." tanya Natan pada model yang dipilih Sila unttuk menjadi partner Tama di jamuan makan malam dengan kliennya
"malam ini ada dua pemotretan di sebuah tempat tuan Natan" jawab Sarah dari sebrang telfon.
"oh ya sudah tidak apa apa. maaf mengganggu" jawab Natan kembali
"sebenarnya ada apa ya? sampai tuan Natan sendiri yang menghubungi saya?."
"ini nanti malam tuan muda ada acara jamuan makan malam dengan klien. dan ada yang menyarankan untuk mengajak nona Sarah, jadi saya berinisiatif untuk menghubungi anda.. " Natan menjelaskan sambil menoleh kearah Sila. Sila hanya tersenyum sekilas menyembunyikan kegetiran hatinya. Saat bersamaan Eri datang dan mengintip sekilas layar ponsel Natan yang di taruh diatas meja.
"Sarah??." gumamnya sambil menyeringai. "bakal ada yang seru ni" lanjutnya Sila meliriknya benar benar dibuat penasaran dengan kata seru yang dimaksud ketiga orang ini. Eri menghempaskan tubuhnya disamping Natan
"wah,, senang sekali. baiklah saya bersedia. Saya akan batalkan jadwal foto saya. " Suara di sebrang terdengar begitu bersemangat
"baiklah kalau begitu saya tutup telfonnya. saya rasa nona Sarah akan siap pukul 7 nanti malam, di hotel nilam" lanjut Natan.
"baiklah saya akan menunggu disana"
Telfon oun diakhiri. Eri, Natan dan Dodi saling pandang dan tiba tiba tertawa
Disini Sila melihat begitu jauh perbedaan karakter para pengawal ini. Dimana mereka yang selalu terlihat garang dan keras saat mengawal bosnya, dan disini,,, mereka sekumpulan orang orang iseng yang biasa tertawa lepas.
"sebenarnya apasih yang seru?." Sila dibuat tak sabar ingin mengetahui hal seru yang dimaksud ketiga orang ini.
"ada dehh..." jawab Eri sambil nyengir ke arah Sila. Sila hanya menghela nafas panjang dan tak ingin memperdebatkan lagi.
"Tuan,, apa kerjaan sebagai pengawal ya cuma gini gini saja?" tanya Sila terlihat begitu bosan
"ya,, kalau tidak ada acara diluar ya hal ini bisa kita gunakan untuk istirahat." jawab Eri
"tapi saatnya ada jadwal sibuk, jangankan untuk berbaring, bahkan untuk duduk pun g akan ada waktu." Natan melanjutkan penjelasan Eri.
"nona Sha,, apa nanti malam nona bisa mengawal tuan muda ke jamuan makan?." tanya Dodi. Sila kaget
"sa,,saya??. dengan siapa?" tanya Sila sedikit gugup.
"lah apa maksudnya dengan siapa?" tanya Eri menggoda
"ya kan tuan,, saya belum mengerti tugas saya seperti apa?. saya kan g ada sekolah jadi pengawal,, ya mana saya tau apa yang harus saya lakukan?. lagian kan tuan Eri tidak menjelaskan apa apa tentang tugas saya." bela Sila.
"lalu kamu belajar bela diri dari mana?. bukankah di pelatihan khusus?." tanya Dodi
__ADS_1
"pelatihan khusus apa? saya belajar dari kakak saya.. bukan juga untuk jadi pengawal. Untuk jaga diri saja!" jelas Sila. ketiganya hanya saling pandang
"nanti malam biar aku saja yang pergi" sahut Natan.
"Eri kamu beri pengarahan pada nona Sha tentang tugas dan aturan mnjadi pengwal keluarga Wijaya." lanjutnya memberi perintah Eri.
"hm"jawab Eri singkat.
suasana hening sejenak.
" oh ya Tuan,, saya kan bisa mengemudi mobil,, cuma,, saya belum punya SIM. adakah yang bisa bantu saya mendapatkan SIM?. jangan sampai saya malah merepotkan tuan muda lagi kedepannya" Sila merasa bersalah
ketiga orang itu saling menatap satu sama lain. terkejut. heran. tak percaya.
Sila memutar bola matanya menatap ketiga orang yang kebingungan didepannya ini bergantian.
"kamu belum punya SIM?" tanya Eri
"dan maksudmu menyusahkan tuan muda?" lanjut Dodi
"ma,,af. Tadi pas keluar belanja sama nona Monica, tuan muda yang mengemudikan mobil,," Sila merasa bersalah dan takut kalau kalau ketiga orang ini menyalahkan dan memarahinya.
Pada saat yang sama Tama keluar dari ruangan pribadinya. Tak ada yang menjawab ucapan Sila bahkan ketiga orang itu berpura pura sibuk melakukan sesuatu. Dodi kembali ke meja kerjanya, Natan merapikan foto foto para modek yang berserak di meja, Eri sibuk memainkan ponselnya.. Hanya Sila yang kebingungan d2ngan sikap orang orang disekitarnya ini. Tak ada yang bersuara bahkan sampai langkah Tama berada ditempat mereka. Sila hanya bisa menatap kearah Tama dan mencoba menerka guratan raut wajahnya. Tenang, dingin, datar. Tak ada yang bisa dibacanya. apakah marah?, atau,, entahlah.
"Eri,, kamu urus untuk SIM nya.. Natan kamu atur untuk jadwalnya. aku tidak ingin ada hal yang menyalahi aturan hukum" ucap Tama tanpa mengubah ekspresinya.
"hm.. tak masalah". jawab Natan sambil meratakan tumpukan foto, dan sengaja dia tinggalkan satu foto yang dipilih Sila. Tama meliriknya sebentar dan sekilas terlihat satu sudut bibirnya terangkat sinis. Sila tak sedikitpun mengalihkan pendangannya dari Tama. Natan menyadari hal itu dan meliriknya, seakan ada seberkas bahagia dihati Natan melihat tatapan gadis dihadapannya itu pada bossnya. Tama melangkah meninggalkan mereka dan kembali ke ruangannya. Tatapan Sila mengikuti setiap gerak Tama, bahkan sampai tubuh kekar itu hilang di balik pintu. Iapun menjatuhkan pandangannya dan melirik kearah foto sang model cantik. Dengan sangat berat dia menghirup nafas panjang dan dengan sangat pelan ia hembuskan melalui mulutnya. menahan segala emosi dan membuangnya diam diam.
" oh ya tuan Eri,, apa saya boleh menggunakan treetmel itu??". tanya Sila sambil menunjuk ke pojok ruangan.
"emm,, kamu mau lari?." tanya Eri balik.
"saya bosen ga ada yang bisa dikerjakan." desah Sila
" boleh.. pakailah"Natan menjawab tanpa ragu sambil berdiri dan melangkah meninggalkan tempat itu.
"kamu mau kemana Tan?"tanya Dodi.
"kantin.. aku lapar!." jawab Natan tak menghentikan langkahnya. Dodipun mengikutinya.
"bawakan aku sofdrink dan beberapa camilan" teriak Eri sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
Sila melangkah ke arah alat olah raga dipojok ruangan sambil mellepaskan jaket yang sedari tadi melekat ditubuhnya dan mulai menyalakannya alat itu.
Tiga puluh menit kemudian
Natan dan Dodi kembali dari kantin, Eri tidur di sofa dan Sila masih berlari di treetmel dengan kecepatan sedang.
Dodi dan Natan saling pandang. Natan menggoyangkan tubuh Eri yang seketika membuka mata dan bangun.
"berapa lama dia melakukan itu?." tanya Natan sedikit berbisik. Eri menoleh dan kaget.
"sejak kalian keluar tadi" jawab Eri tak menambah volume suara Natan. Dodi mengangkat lengannya dan melirik jam tangan yang melingkar dinpergelangan tangannya.
"hampir 45 menit" jawab Dodi. Disusut ruang sana terlihat Sila yang masih berlari diatas treetmel dengan mata terpejam dan tubuh basah kuyub oleh keringat bahkan sampai kaos yang dikenakannya melekat erat ditubuhnya yang proposional.
Tama keluar dari ruangannya dan mendekati ketiga temannya yang sedang memperhatikan Sila dari tempat mereka.
"apa yang dilakukannya?" tanya Tama tetap menatap ke arah Sila. Natan hanya menoleh Eri mengangkat kedua bahunya dan Dodi tak bereaksi
" sudah berapa lama dia melakukan itu?"
"45 menit"jawab Dodi.
"apakah dia akan baik baik saja?" ketiga Sahabatnya serentak menoleh kearah Tama seolah mempertanyakan pertanyaan Tama barusan.
"apakah dia benar benar sudah terlatih sekeras itu? hingga tak akan menjadi masalah bagi jantungnya?.". Tama yang menyadari aksi Sahabatnya langsung mengganti sudut pertanyaannya.
"benar juga!" Eri menyahut kaget
Natan yang juga menyadari hal itu bergegas menghampiri Sila dan mulai menurunkan tonasi kecepatan alat itu. Sila merasa ada yang berubah langsung membuka mata dan kaget melihat Natan disampingnya.
"eh tuan kok sudah balik?." tanya Sila sambil menunggu alat itu berhenti. Dia turun dan berjalan menuju ke Sofa. Eri beranjak dari tempatnya dan mempersilakan Sila duduk di sofa panjang.
"luruskan kakimu" perintah Eri sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"terima kasih tuan"Sila menerimanya dan tersenyum
Harum khas aroma keringat segar dan sedikit manis, menyeruak, menjalar pelan dari hidung ke otak Tama membuat lelaki itu serasa ingin mendekap dan mengendus dekat.
"lihatlah bajumu sudah basah seperti itu. pergilah ke toilet dan gantilah dengan seragam itu."perintah Eri.
Ada sekelebat rasa kecewa dihati Tama. Namun ia menepis jauh perasaan itu.
__ADS_1