
"Tama,,, sekarang kamu sudah tidak berhuhungan dengan Monica, jadi,, bisakah kau pertimbangkan untuk bersama denganku?" Sarah bergelayut manja di lengan Tama. Tama hanya tersenyum sinis dan melepaskan pelukan wanita cantik itu.
"jangan pernah berharap terlalu tinggi" jawab Tama berlalu dari Sarah diikuti Natan.
"aku tidak akan menyerah!" teriak Sarah. Dia mendengus kesal dan berlalu menuju studio foto.
Sila yang baru saja datang berlarian saat melihat Tama dan Natan masuk ke lif exsecutif.
"tuan,,,!!" panggilnya seraya berlari mendekat. Natan dan Tama berhenti dan menoleh. Tangan Tama sibuk melepas kancing jas yang dipakainya. Natan menoleh sebentar dan menggelengkan kepala. Saat Sila sampai di pintu lif, tanpa sengaja kakinya terantuk dan iapun terhuyung ke kedepan tepat ke arah Tama. Dia menggenggam erat lengan Tama menjadikan sandaran agar tak terjatuh. Spontan Tama meraih dan merangkulnya.
"maaf tuan saya ceroboh" Sila melepaskan genggamannya dan berusaha mundur. Tama terkesan kecewa saat tangannya ditolak oleh Sila. Namun bibir Natan tersenyum seolah dia bahagia melihat hal itu. Sila segera menepi ke bagian kiri Tama, atau berseberangan dengan Natan.
"selamat lah kau jas baru" batin Natan yang sudah menduga bahwa nasib jas baru itu akan berakhir di tempat pembuangan
*
disiang hari
*
" tuan,, kenapa saya tak pernah dapat tugas mengantar tuan besar atau nyonya?. " protes Sila pada Natan. Dia sangat ingin menemui ibu mertuanya itu. Rasa kangen pada kasih sayang seorang ibu.
"beneran pengen mengawal mereka?"tanya Natan mencoba menyelami keinginan Sila
"iya!. kalau boleh,," Sila menunduk mencoba "dari pada disini cuma santai seperti sekarang. aku merasa makan gaji buta saja." gumam Sila sedikit keras dan terdengar baik oleh Natan ataupun Dodi. Saat yang sama Tama keluar dari ruangannya.
"tidak perlu. mereka sudah punya orang masing masing." sahut Tama merasa tidak senang jika gadis itu berusaha menjauh darinya. Sila cemberut kecewa.
"Sabtu malam ikutlah denganku." ajak Tama.
"kemana tuan?. " Sila begitu penasaran. ia menatap lekat kearah lelaki tampan itu. Tama tidak menjawab.
"sekarang ikutlah denganku, Natan kau juga. Dodi, kau urus disini" kata Tama sambil berjalan menuju pintu
"sekali kali aku juga mau lo diajak keluar" goda Dodi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Sesampai ketiganya di liff Tama mendekatkan tubuhnya ke arah Sila, hingga terpojok kedinding. Membuat Sila mengingat betapa gemetarnya dia dua tahun lalu saat ciuman pertamanya diambil oleh lelaki yang sama dengan yang berdiri tepat dihadapanya ini. Hatinya kembali bergemuruh, kakinya lemas, namun sekuat tenaga ia tetap harus bisa menopang tubuhnya.
__ADS_1
"kenapa jantungku berdegup lebuh kencang? ini seperti saat aku berada dekat dengannya" batin Tama. Matanya yang indah dan tajam bagai elang, tak sedikitpun ingin beralih darinya. Natan tersenyum penuh arti.
" ehem"dia membuat suara yang membuat kedua orang yang saling terkejut dan memalingkan wajah.
"sepertinya di lif ini banyak nnyamuk berlalu lalang" celoteh Natan. Tama melangkah mundur dan berbalik tepat ketika pintu lif terbuka.
Tama memerintahkan Natan membawa mobilnya ke Wijaya properti. Sesampainya mereka di perusahaan itu, mereka melihat Sarah berada diruang Presdir membicarakan sesuatu. Tama dan Natan masuk kedalam di ikuti Sila yang berjalan ragu dibelakang keduanya.
"apa yang kau lakukan disini?" hardik Tama pada Sarah dengan nada kasar
"Tama!, ini dikantor ayah jangan kau berbuat sesukamu.!" bentak Wijaya, sang ayah membela perempuan cantik yang kini tersenyum puas dan merasa menang. Seketika Tama diam.
"sudah lah om,, Sarah tidak apa apa kok!" perempuan itu mencoba meraih hati Tama dengan membelanya. Tama tersenyum sinis, tau apa maksud perempuan itu.
"kau bisa membodohi siapapun kecuaki aku,, " bisik Tama.
"kebetulan kamu kesini, ayah ada yang harus dibicaarakan padamu. kalian semua keluarlah" ucap Wijaya menyuruh semua keluar dari ruangan itu. Natan berbalik dann melangkah keluar di ikuti Sila. Sejenak Sila menatap kearah Tama dan beralih pada tuan Wijaya. dan pada saat yang sama mereka menatapnya juga. Wijaya nampak terkejut saat beradu pandangg dengan pengawal cantik itu.
"Sila?." gumam lelaki paruh baya yang begitu berwibawa itu. Sila segera berlalu dan berlari kecil mengejar Natan dan Sarah yang sudah keluar terlebih dahulu.
Wijaya menatap kearah putranya.
"ada yang ingin ayah bicarakan padamu." sang Ayah membuka pembicaraan.
"sudah dua tahun istrimu tidak kembali,, tidakkah kamu ingin menikah lagi?. ingat umurmu,, bukan lagi remaja. kami juga sudah semakin tua, kami ingin segera menimang cucu. jika kamu seperti ini terus,,," Wijaya tak meneruskan perkataannya.
Tama mendengus kesal "apakah jika ibu yang pergi,, ayah akan segampang itu untuk menikah lagi?". pertanyaaan Tama mampu membuat Wijaya tertegun.
"bukan seperti itu nak, kamu masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Dan kami sebagai orang tuamu ingin kamu bahagia, menjalani hidup berkeluarga" seakan harapan telah hilang dari sikap putranya
"kalaupun aku menikah lagi,, bisa dijaminkah kabahagiaanku?." tanya Tama pada sang ayah.
"ayah lihat Sarah sangat mencintaimu. dia mungkin bisa memberikan kebahagiaan padamu."saran Wijaya
"aku akan berusaha menemukan cintaku sendiri ayah. Jikalaupun aku terpaksa harus menikah lagi, tapi aku tidak ingin orang lain menentukan pilihan untukku." Tama mulai kesal dengan bahasan ayahnya tentang pernikahan
"Tapi apa salah nya kamu mencoba dekat dengan Sarah. Dia gadis baik, sopan." sang ayah mulai memuji gadis yang baru saja menemuinya tadi
"ayah,, ini kehidupanku. aku sendiri yang akan memutuskan." jawab Tama sembari berdiri dari duduknya. dan beranjak pergi. "ayah tidak perlu repot repot menguruskan untukku"
"baiklah, ayah hormati keputusanmu." jawab sang ayah menatap putra semata wayangnya melangkah keluar ruangannya.
__ADS_1
Diluar ruangan, Tama tak menemukan kedua pengawal setianya. yang dilihatnya adalah Sarah yang duduk seorang diri di sofa ruang tunggu. Gadis itu segera berdiri dan menghampiri Tama saat melihatnya keluar dari ruangan Presdir
"Tama,, sabtu malam kamu pergi denganku ya ke acara pernikahan temanku.." rayu Sarah sambil berusaha bergelayut di lengan Tama.
"aku punya acara sendiri" jawab Tama sambil menghempaskan lengannya. Dia menoleh menyapu setiap sudut pandang yang mampu dijangkau oleh penglihatannya."kemana mereka?" gumamnya.
"kamu cari pengawalmu ya? mereka paling kencan. tadi mereka terlihat sangat mesra saat keluar." Sarah mencoba memprovokasi hati Tama. Tama hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Sarah.
"kamu pikir aku sebodoh itu pecaya padamu? cih,!" Tama menjawab dengan angkuh. Dia bergegas ke resepsionis
" dimana ruangan manajer pemasaran?." tanya Tama pada resepsionis disana.
"anda lurus kemudian belok kanan. ruangan kedua setelah ruang rapat" jawab pegawai itu sopan
"hm" Tama langsung menuju kearah yang ditunjukkan. Sarah berjalan mengikuti langkah Tama. Belum sampai Tama ke ruangan yang ditujunya, dari depan nampak kedua orang yang dikenalnya bersama seorang lelaki tampaan lainnya. Nampak Sila bergelayut manja pada lelaki asing itu. mata Sarah pun terpelalak. Tama berhenti begitu pula langkah Sarah yang mengekorinya.
"seandainya kamu bisa bersikap seperti itu padaku?" batin Tama
"apa urusanmu sudah selesai?" tanya Natan.
"ya. ayo kita kembali."ajak Tama seraya berbalik.
"kamu mengajakku aku pikir ada sesuatu yang harus kukerjakan." protes Natan
"aku mengajakmu untuk menjaga gadis cantik ini agar tak lepas dariku" batin Tama bergolak saat memikirkan tentang pengawal cantiknya
"tadinya aku memang berencana mengajak ayah pergi dan menyuruhmu bersama nya. tapi aku membatalkannya"jawab Tama pada Natan.
"apakah ini kakakmu?"tanya Tama pada Sila sambil menoleh kearah Har. Har yang sedari tadi menatap tajam kearah Sarah terkejut dan menatap tidak suka pada Tama.
"hhm. aku kakaknya," sahut Har dan kembali menatap benci kearah Sarah.
"dan inikah orang yang membuatmu membuangku?. kuakui aku memang tak sebanding dengannya. tapi setidaknya dulu cintaku tulus. dan ternyata terbuang percuma saat dihadapkan dengan wajah tampan dan kekuasaan" hardik Har pada model cantik yang berdiri di samping Tama dengan congkaknya. Tama melirik Sarah dan mengangkat satu sudut bibirnya dengan jijik.Sarah berlalu begitu saja dengan kesal.
"tuan Natan,,, bisakah kita makan siang dulu sebelum balik. aku lapar" ajak Sila pada Natan. Tama menoleh kearahnya dan berganti menatap Natan tajam. Natan yang mendapat tatapan dingin itu tersenyum
"kamu harusnya bertanya pada tuan muda. Kita sekarang dalam bertugas segala keputusan ditangan big bos." jawab Natan lembut pada Sila.
"ehem baiklah kita makan dulu" jawab Tama tak kalah lembut. Natan tersenyum menahan tawa sementara Har dan Sila terkejut mendengar suara lembut sang bos garang dan terkenal kasar itu.
"kau mau sekalian ikut?" tanya Tama dengan nada datar pada Har.
__ADS_1
"tidak tidak terima kasih. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan cepat" jawab Har penuh hormat. Akhirnya Sila mengikuti langkah tegap kedua lelaki gagah itu.