Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
pengen pacaran


__ADS_3

Tama merasa menjadi seorang yang bodoh semenjak bertemu gadisnya.


Pagi yang cerah


Sepasang kekasih masih lelap dalam posisinya.


Sila membuka mata, didapati tubuhnya dalam dekapan hangat sang suami.


"mas,,, bangunlah, sudah pagi."


"biarkan seperti ini sebentar lagi"


Sila berusaha meronta


"jika kamu terus bergerak ada yang akan terganggu"


"siapa "bisik Sila


"yang selalu sembunyi,, dia sudah bangun jangan mengganggunya, atau dia akan mengamuk" jawab Tama tak memindahkan tangan ataupun kepalanya.


Sila melirik dan sedikit menoleh kearah suaminya. Sehingga pipinya berada tepat didepan hidung. Sila berusaha memberontak lagi


"sudah kubilang jangan bergerak,, atau kau sengaja menggodaku? apakah sekarang sudah siap?" Sila menggeleng dan cemberut,


"kalau begitu diamlah"


Waktu merambat dan beranjak siang,perlahan lahan Sila melepaskan dekapan Tama dan berhasil berguling dan segera bangkit.


"mas,,bangunlah. "


"aku masih ingin bermalasan dengaanmu"


"kemarin tuan Dodi bilang ada pertemuan penting kan?"


"biarkan saja Dodi yang menanganinya. aku masih tidak ingin beranjak dari sini. kemarilah".pinta Tama sambil mengulurkan tangannya.


"baiklah,,, jika kamu masih tetap ingin disitu. maka aku yang akan menemani tuan Dodi. jika dalam kesepakatan bisnis ini ada kerugian akan ditanggung perusahan. Tapi jika mendapat keuntungan maka itu akan menjadi milikku dan tuan Dodi. dan jika aku sudah mengumpulkan uang yang banyak aku bisa pergi kemanapun yang aku mau dengan siapapun. kamu tetaplah disitu saja!"


ucapan Sila kali ini mampu membangunkan Tama.dann seegera bergegas mandi


"baiklah nyonya,, aku akan laksanakan tugas darimu. menghasilkan uanng yang banyak dan akan membawamu jalan jalan keliling dunia...


padahhal uangku sekarang sudah lebih dari cukup untuk mengajakmu keliling dunia." gerutu Tama


Keduanya telah siap berangkat kerja.


"Sila,,, kamu mau kemana?"


"Sila harus ikut kerja ibu,,hari ini mas Tama dan ayah ada pertemuan penting"


"iya ibu,, nanti Sila akan pergi mengawal Tama dan Naatan akan bersama ayah."


"kemana Eri."


""Eri belum begitu pulih. jadi dia yang akan menghendel dikantor"


"ya,,, baiklah. Ibu akan menunggu saja kapan pun ada giliran ibu buat kangen kangenan sama putri ibu,"

__ADS_1


"jangan ngambek begitu dong,," bujuk Tama.


*


Diperjalanan menuju tempat pertemuan, Tama terus saja nempel pada perempuan gagah itu


"kelihatannya semalem tak ada perang" goda Natan yang sedang mengemudikan mobil


"diam sajalah kamu. konsentrasi saja kejalan."


Natan tersenyum mendengar jawaban Tama.


"memangnya kenapa non,, tuan muda yang tidak mampu atau non yang terlalu galak"


Sila tersenyum manis atas pertanyaan Natan


"kenapa kamu senyum senyum? apa sedang menggodaku"


"mana ada?"


"jadi kamu mau bilang kamu senyum buat Natan"


"kenapa tidak, selama ini tuan Natan lebih peduli padaku, dari pada seseorang"


Tama melepaskan pelukannya.


"jangan bilang kamu pengen cari pacar sebenarnya mau pacaran sama Natan? berani beraninya kamu?"


""jadi non Sila pengen cari pacar?apa tuan muda tidak cukup mampu?" goda Natan.


Tiba tiba Tama mendorong tubuh Sila dan mennindihnya.


"apa mau dicoba sekarang? aakan aku buktikan kemampuanku"


"ah,, tidak tidak. tidak perlu, aku percaya kaamu mampu"


"tidak usah sungkan non,, anggap saja saya disini seperti boneka dasbor yang bergoyang goyang itu saja"


"bukan bukan begitu tuan. cuma saya memang belum siap. sayakan masih pengen cari pacar."


"sudah kubilang tidak usah cari pacar lagi, aku saja yang jadi pacarmu"


"kalau begitu duduklah yang benar" pinta Sila. Seketika Tama mundur dari posisinya"


"sekarang aku kan pacarmu?"


"lihat kedepannya saja. jika kaamu membuatku marah aku akan pacaran sama tuan Eri"


"lah kenapa Eri?. dari pada sama Eri sama Natan saja., gaak papa"


,,, Tam tam, kemanna dirimu yang arogan dulu, kamu yang begitu dingin langsung saja meleleh sama non Sila. luluh lantak sudah kesombonganmu Tam,, pikir Natan dalam senyumnya


"enggak lah mas. kamu ini"


"bagaimana kalau kedepannya kamu jadi sekretaris pribadi ku saja?"


"g mau,, aku gak suka seragam sekretaris , aku suka seragam ini. lebih baik aku berkelahi dari pada ngurusi dokumen dokumen kayak gitu."

__ADS_1


"bukankah kamu sudah banyak belajar dari Dodi dan Natan"


"tapi aku tetep g suka"


"oke oke baiklah"


Sesampainya di gedung pertemuan Sila berjalan tegap di belakang sang suami dan asisten pribadinya Dodi. Sementara Natan berada di samping tuan besar. Dari belakang mereka nampak Aditya bersama dua pengawalnya buru buru mengejar langkah Sila, Dia berhenti di sampingnya.


"hai gadis gagahku,," Sila menoleh dan tersenyum sekilas.


"apakah cincin mu sudah ketemu?"


"belum" jawab Sila singkat, Aditya tersenyum penuh arti


Tama yang mendengar sapaan seseorang pada gadis gagahnya langsung melirik dan menarik tangan Sila supaya berjalan dekat dengannya.


Natan dan tuan besar yang memperhatikan dari jauh hanya menggeleng kan kepala


"Tan,, apakah itu benar benar Tama kita? selama ini dia tak pernah peduli tentang apapun, dan saat ini dia begitu posesif."


"ya tuan, sikap Tama semenjak jatuh cinta pada nona Sila berubah 180 derajat. Dia berubah seperti anak kecil, saat nona meninggalkannya. Dia menjadi sosok yang benar benar lebih angkuh,arogan, dingin, dan tak peduli tentang apa atau siapapun. Namun, saat dia sendiri rasa sakitnya tak bisa dia tahan. Dia sering menangis sendirian di rumah kecilnya. Jadi, jika saat ini dia begitu posesif, saya bjsa maklum tuan."


Wijaya hanya bisa menghela nafas panjang saat Natan menceritakan tentang kesedihan Tama. Karena selama ini tak pernah dia melihat sisi rapuh sang putra


Sesampainya di ruang pertemuan. Hanya para Direktur dan sekretarisnya berada mengitari meja yang besar ditengah ruangan itu. Sementara para pengawal harus berdiri di belakang berbaris rapi dan tegap di pinggir ruangan.


Selama pertemuan berlangsung, mata Aditya tak pernah bisa lepas dari gadis gagah, pengawal dari rival bisnisnya itu.


Tama menyadari bahwa Aditya tidaklah fokus pada pertemuan kali ini, jadi hal ini menjadikan keuntungan bagi Tama.


Selesai Rapat, Aditya bergegas ketempat para pengawal itu berdiri. Namun langkahnya bukan pada orang orangnya sendiri tetapi malah pada Sila. Dia berencana mengajak Sila makan siang.


Saat sampai didepan Sila, Aditya mengulurkan tangan dan Sila berencana hendak menyambut tamu,


" nona,,, sadarlah,,"pikir Natan


Tiba tiba Tama datang dan menyambut tangan Sila dan menyeretnya pergi


"wah wah,, siapa ini? " tanya Aditya dengan nada mengejek


"aku suaminya,,, mau apa kamu." hardik Tama


"wah ! sejak kapan tuan muda Wijaya punya selera seorang pengawal? bukankah anda orang yang perfec? penuh dengan kesempurnaan"


Tama tak menjawab dan hanya berlalu begitu saja.


"tunggu nona Sha, aku akan membawamu pergi dari Tama yang playboy itu"


*


*


*


*


mohon untuk kritikan dan sarannya dong,, imajinasi nya lagi g on nih...

__ADS_1


__ADS_2