
"mas,,, ibu ingin kamu menikahi Lidya."
"apa maksud perkataanmu?"
"ya, kemarin ibu mengatakannya padaku. tapi, ibu tidak ingin kamu membencinya. Jadi apapun keputusanmu, jangan pernah membenci ibu."
"apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"
"aku sadar. aku hanya menyampaikan pesan dari ibu. keoutusan ada ditanganmu"
"kamu tau aku tak akan pernah bisa!!!!"
"aku tau! tapi ibu tidak!"
"lalu,, apa yang kamu mau?"
"apapu keputusanmu mas. aku ikuti. aku tau kamu mengerti apa yang terbaik bagimu"
" jika aku terima keinginan ibu?"
"aku juga terima. aku akan bahagia untukmu" Sebuah desiran tajam seakan lewat tepat dihatinya. Perih yang mendera hingga tak lagi terasa.
Tama terdiam seketika mendengar jawaban Sila.
"apa kamu benar benar terima jika di madu?" tanya Tama lirih masih tak percaya pada jawaban istrinya baru saja.
"setidaknya aku tak lagi kau buat kelelahan tiap malam kan?" jawab Sila dengan senyum kecutnya.
Tama keluar kamar dan membanting pintu dengan begitu kerasnya. Sila menghela nafas dalam dan beranjak ke kamar mandi. Dia merendam tubuhnya dalam begitu lama. Berusaha membuang rasa sakit yang mendera hatinya. Dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir
,,, mungkin dengan begini aku bisa membahagiakan ibu. Seumur hidupku, aku tak pernah punya ibu selain ibu susu ku. dan sekarang biarlah aku membahagiakan ibundari orang yang paling kucintai,,,,
Malam sudah begitu larut dan Tama baru kembali entah dari mana. Dia menuju kamarnya dan tak menemukan Sila ada disana. Diapun membuka kamar mandi dan betapa terkejutnya melihat tubuh istrinya lemah terkulai dalam bathtup. Diangkat dan dibawanya keranjang.
"mengapa kamu lakukan ini padaku,, kamu tau betapa cintanya aku padamu. aku tak bisa membaginya dengan yang lain kamu tahu? kamu satu satunya. Bahkan jika aku harus meninggalkan semuanya untukmu,, aku rela."
Tama membalut tubuh istrinya dengan selimut tebal dan menggendongnya keluar. Dia tak ingin lagi berada ditempat itu.
"Tama,,, kamu mau kemana? kenapa Sila kamu bawa dalam keadaan seperti itu?"
Tanya Wijaya yang kebetulan keluar dari dapur.
"ayah,, maafkan kami. aku akan membawa Sila pulang. Dia depresi berada disini. Ditambah lagi debgan keinginan ibu. Tolong katakan padanya, aku menyayanginya. Tapi, bahkan bila harus keluar dari dunia ini, aku tidak bisa menyakiti hati istriku."
"apa maksud kamu?"
"ayah bisa bertanya pada ibu."
Tama berlalu meninggalkan ayahnya dan membawa tubuh Sila kemobil. Dia meminta sopir membawanya kerumah kecil.
*
*
Beberapa hari berlalu dari waktu itu. Tama tak mengizinkan Sila datang kerumah besar. Jika sang ibu atau ayah memangggilnya datang dia hanya datang bersama Natan.
__ADS_1
Sila berusaha sekuat hatinya menutupi rasa sedih yang terus membayang. Dia sudah bertekad, akan menerima pernikahan Tama dan Lidya.
"apa kamu sudah benar benar yakin pada keputusanmu?" tanya Arya di satu waktu Arya datang kerumah kecil.
"aku bisa apa lagi kak"
"kamu bisa menolaknya. tidak harus menerima begitu saja"
" aku tak pernah bisa membahagiakan ibu, jika dengan menikahnya mas Tama dengan Lidya ibu bisa bahagia,, kenapa tidak?"
"kenapa kamu selalu mementingkan kebahagiaan orang lain? Tama itu cintamu dia sangat mencintaimu. apa kamu benar benar rela membaginya dengan wanita itu?"
"apa kak Arya lupa, aku punya kalian. Ada kak Arya, kak Natan, kak Eri, kak Dodi, Kak Yohan, dan banyak yang sayang padaku. aku tidak merasa kekurangan perhatian kan?"
"tapi kami tidak bisa selalu ada buatmu. selama ini kamu sering menderita sendirian dan kami tidak bisa berbuat apa apa."
"aku tidak merasa seperti itu. aku merasa sangat bahagia ada kalian yang selalu perduli tentangku. jika aku tak bahagia disini. aku bisa pergi dan mencari ditempat lain kan? apa kaka Arya percaya aku bisa melakukannya lagi?"
"jangan. aku mohon jangan. jika kamu pergi, kamu akan menghancurkan hati banyak orang."
"tidak tidak,,,"jawab Sila tertawa kecil
,,,bahkan dalam kehancuran hatinya dia masih bisa tertawa,,,
"kakak Arya maukah jalan jalan denganku.. aku bosan."
"mau kemana?"
"ke mall Kaisar yang di kawasan elit itu lo"
Keduanya berangkat menuju mall besar yang berada tepat didepan kediaman Manggala. Sila berharap bisa bertemu dengan orang itu, untuk mengucapkan terima kasihnya.
Sesampai di tempat tujuan, keduanya berjalan dan melihat lihat apa yang menarik perhatian mereka.
Sampai disuatu tempat yang lumayan ramai, Sila dan Arya tidak menaruh curiga pada siapapun hingga akhirnya ada sepasang tangan kekar yang mendekap tubuh Sila dari belakang. Kedua tangannya terkunci hingga tak bisa melakukan perlawanan. Arya yang mengetahui Sila dalam bahaya berusaha menyerang orang itu namun tak bisa berbuat apa apa juga karena orang itu mengancam engan menekan nadi leher Sila.
"jangan macam macam" ancam nya
"si tampan !!! " teriak Sila girang mengenali suara serak di telinganya. Tangan lelaki itu melepaskan tubuh Sila.
" bagaimana kamu bisa mengenaliku?"
"aku hafal suaramu!!"
"wah,,, ternyata kamu selalu mengingatku ya,,"
"ah mana ada? aku cuma ingat suaramu itu jelek"
" hmmm"
Akhirnya Aditya mengajak keduanya menuju tempat makan mewah yang ada di mall itu
"kalau saya tidak salah Aditya Manggala kan?" tanya Arya
"wah nona cantik tau saya?"
__ADS_1
"anda orang besar mana berani saya tidak mengenali anda"
"nona apakahs udah punya pacar?"
^
"kenapa memangnya"
"kalau belum saya bersedia lo jadi kepala rumah tangga anda" goda Aditya
"idiiiih playboy banget" ejek Sila
"siapa yang play boy?"
"sama aku panggilnya sayang sayang,, eh masih ngegombalin cewek lain"
"kau cemburu ni ceritanya,,, ingat biarpun aku sayang sayang sama kamu. kamu kan udah ada yang punya. apa,,, kamu mau sama aku?"
"ihh ogah"
" ehh,, pantesan aku dikibuli selama dua bulan,, hhh aku benar benar rugi lahir batin."
"apa maksudnya rugi lahir batin,, "
" bagaimana tidak,, aku udah nafkahi kamu secara lahir udah kasih kamu apapun yang kamu mau, , ehh batinku yang tersiksa. dipeluk saja gak mau. gimana gak rugi coba?"
"hehehehe maaf.."
pesanan mereka datang. Ketiganya ngobrol sampai makanan mereka habis
"ternyata tuan Aditya ini tidak seperti yang di rumorkan di luar ya."
"memangnya diluar ada rumot apa?"
"mereka bilang tuan Aditya ini adalaj orang yang angkuh dan sombong. tenyata suka bercanda juga."
"hmmm pasti tidak seperti majikan mu kan? Si Tama itu dia juga terkenal arogan juga. Pasti dia juga orang yang kasar. apalagi diakan misophobia. Aku hanya bingung saja, bagaimana dia memperlakukan istrinya yang imut ini. sampai sampai tidak mau melirik ku yang tak kalah ganteng. apa jangan jangan karena kamu takut?"
"siapa bilang aku takut. aku tidak mau yang lain karena suamiku itu romantis dan hangat"
"mana mungkin"
"kenapa tidak" Sejenak ketiga nya terdiam.
"oh ya, tampan,,, kebetulan kita bertemu. aku mau 7capin benyakmterima kasih atas pertolongannya waktu itu"
"sudahlah,, melihatmu selamat dan tersenyum bahagia bagiku merasa cukup"
"tuan Manggala, sebagai orang yang menjaga Sila saya mewakili keluarga besar Wijaya mengucapkan terima kasih banyak pada anda."
"tidak perlu sungkan nona,, bagaimana kalau berterima kasihnya dengan menikah dengan saya?"
" tampan kamu jangan sembarangan,, dia sudah menikah "
"haissh,,, kenapa sial sekali nasibku. naksir cewek kok sudah pada ada yang punya. hhhh"
__ADS_1