Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
kecewa


__ADS_3

"Bukan kah itu Tama?" bisik Natan pada Eri yang berada dibelakang kemudi


"Bener. gak nyangka seorang Aditama yang terkenal sombong dan misophobia bisa naik ojek. hehehe" jawab Eri tak kalah lirih


"Apa yang kalian bicarakan kenapa bisik bisik?" tanya Lidya yang berada dibangku belakang


"Bukan urusanmu. "jawab Eri ketus


"Memang aku mau tau urusanmu?" Lidya tak kalah ketus


"Kalau begitu ini kesempatan kita masuk dan menyelidiki apa dan siapa yang ada dirumah kecil." ucap Eri mantap di jawab anggukan oleh Natan Eri melaju mobilnya menuju rumah kecil. Sensor yang dipasang disetiap mobil keluarga Wijaya membuat gerbang rumah itu membuka secara otomatis.


Lidya yang sudah tidak sabar bertemu Tama segera turun dan berlari. Dia menekan bel rumah dan menunggu beberapa saat sebelum pintu di buka. Natan dan Eri sengaja menunggu agak jauh dari Lidya untuk melihat siapa sebenarnya wanita yang disimpan Tama.


Pintu terbuka perlahan. Lidya begitu kaget melihat sesosok orang yang seminggu lalu menumpang di mobilnya, berada dirumah laki laki idamannya.


"Kau!! ngapain disini? apa kau mau menyabotase usahaku ? dasar jal*ng!"


umpat Lidya saat Sila muncul dari balik pintu.


Sementara Natan dan Eri juga terperanjat dan sontak keduanya berlari. Keduanya berebut memeluk tubuh tegap gadis pengawal itu.


"Sayang,,"


"Sila,,,,"


keduanya tak dapat menutupi kebahagiaan diwajah mereka. Lidya tersingkir begitu saja saat Eri menabraknya.


"Stop,,, lepaskan aku,,," berontak Sila yang berada dalam dekapan Natan. Natan melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah, kini giliran Eri yang merebut dan mendekapnya dengan tiba tiba. Membuat Sila tak sempat menghindar.


"Ahhh kalian apa apaan sih? lepaskan aku!"


Lidya hanya bengong melihat kelakuan para pegawai Tama itu.


"Wah,,, wah,,, wah,,, kalian, berani beraninya memeluk kesayanganku saat aku tidak ada!" bentak TAMA yang tiba tiba muncul dibelakang mereka.


"Hehehe ampun boss. Kita kan juga kangen sama kesayangan kita juga!" jawab Eri enteng tanpa rasa bersalah telah mendekap erat istri sang majikan


"Wah!! kalian benar benar,,, " Tama melangkah ke arah keduanya sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya.


"Eh ampun boss" teriak kedua pengawal itu sambil mengangkat kedua tangan. Sila hanya menggelengkan kepala dan tersenyum


Langkah Tama terhenti saat Lidya menghadang dan merangkulnya


"Tama,,,akhirnya kita bertemu lagi"


"Siapa kamu?" tanya Tama seraya mendorong pelan tubuh perempuan itu.


"Ini aku,, Lidya,,, dulu kita pernah ada hubungan apa kamu lupa?"


"Hubungan apa maksudmu? Aku tidak ingat pernah berhubungan dengan seorang perempuan!"


"Tama apa kamu lupa atau ,,," Lidya tidak melanjutkan dan menoleh kearah Sila.

__ADS_1


Sila mengerutkan keningnya seraya menurunkan tangan Eri yang masih merangkul pundaknya.


"Atau apa nona Lidya....?" Tanya Sila dengan senyum nya


"Kau,,, kau menikungku? Aku menceritakan padamu tentang keadaan Tama. Dan kamu langsung merayunya,,, dan bahkan apa kamu tidak ingat kamu sudah bersuami,,, aku kira, kamu sangat mencintai suamimu sampai sampai kabur dari keluargamu." kata kata Lidya sambil mendekat dan mendorong tubuh Sila. Eri yang berada di dekatnya langsung menarik Lidya dengan kasar


"Berani benar kamu?" hardik nya.


"hhhh bahkan kamu berpelukan juga dengan kedua lelaki lainnya"


Sila menghela nafas dalam


"kenapa menjadi urusan anda nona Lidya. Anda datang dari jauh untuk menghibur Tama kan? saya persilakan,,, mari,,, itu dia disitu silakan dihibur. Apa kamu lihat dia butuh hiburan? hmmm?"


"Mas Tama,,, apa kamu butuh hiburan?" Tanya Sila berlanjut pada Tama


Tama berjalan mendekat kearah Sila sambil senyum menyeringai


"Yang aku butuhkan,,,,,,,,? kamu!" jawab Tama sambil menggendong istrinya masuk.


" Heeeh Tama! Sialan kamu,, kamu sudah bersenang senang selama seminggu apa belum puas? " teriak Eri mengikuti langkah Tama yang berhenti di ruang keluarga. Diikuti Natan dan juga Lidya yang sedang kesal.


Tama meletakkan tubuh istrinya di sofa dan menciumnya mesra. Eri mengambil dan melemparkan sebuah bantal ke arah Tama.


"kau sengaja pamer!"


" Nona Lidya apa anda tahu? Sila mengatakan dia mencintai suaminya. begitupun suami nya juga sangat mencintai Sila,,, anda lihat sekarang?" kata Natan menunjuk kearah Tama dan Sila.


"Tidak mungkin,,, bukankah istri Tama mati dalam kecelakaan?"


"Sudah sudah,,, ini hanya kesalah pahaman saja. Aku hargai niat anda nona Lidya. Dan sekarang anda sudah tahu,,, jadi saya harap kedepannya tidak terjadi kesalah pahaman lagi ya,," ucap Sila lembut dengan senyum manisnya


"Maafkan aku, maafkan aku,,, "


"Sudah tidak apa apa." jawab Sila "kalian sudah sarapan?"


"Sayangnya sudah." jawab Natan


"Sekarang ceritakan bagaimana sampai kamu bisa hilang,, cepat ceritakan" desak Eri.


Akhirnya Sila menceritakan semua pengalaman nya selama berada dalam kehidupan tuan muda Manggala.


"Dia menahanmu dan tidak menyentuh sedikit pun perusahaan Adijaya. ada motif apa sebenarnya?" gumam Natan


"Cinta,,mungkin karena dia mencintai Sila. Bukan ingin menghancurkan Tama tapi hanya ingin memiliki Sila." tebak Eri.


"Kemungkinan Eri benar. Mengingat saat pertemuan di gedung Permata waktu itu, bagaimana cara dia melihat Sila. Sepertinya memang,,," dukung Natan pada pendapat Eri


" Sudah sudah,, kalian ini. ingin memanas manasi ku? Pulang saja kalian semua"


Hari itu berlalu dengan obrolan obrolan seru. Lidya juga ikut didalamnya. kelihatannya dia menerima kenyataan bahwa Sila adalah istri Tama. Diapun berusaha untuk lebih akrab dengannya.


Waktu terus berlalu, kehidupan terus berjalan dengan alur yang semestinya. Kebahagiaan kembali pada keluarga Wijaya. Tama pun kembali menyetir kemudi Adijaya dan membawanya merangkak naik perlahan lahan. Adijaya kembali sukses dan meroket digenggaman tangan dinginnya. Topik tentang sikapnya yang arogan dan dingin kembali menggema di setiap sudut pandang orang orang yang sebatas mengenalnya sebagai bos perusahaan besar.

__ADS_1


Namun bagi orang yang dekat dengannya tahu bahwa Tama adalah orang yang romantis dan hangat dan sangat mencintai istri dan keluarganya.


Sila akhirnya bisa memberikan pekarjaan pada dua orang yang sudah membantunya kabur. Rena dan Yuki. Dan menjadi teman Lidya yang kaya. hhhhh teman....?


"Mas,, ?"


"hm"


"Apa aku boleh bekerja lagi?"


Tama yang sedang fokus pada laptop dipangkuannya menoleh


"Apa kamu kekurangan uang?"


Sila menggeleng


"Tidak,, bukan itu,, aku bosan dirumah terus"


"Kalau begitu kerumah ibu saja."


Sila kembali menggeleng.


"Dirumah ibu ada Lidya. Aku,,, aku gak suka lihat dia terus."


Tama meletakkan laptopnya dan melangkah keranjang dimana istrinya duduk bersila memperhatikannya.


"Apa ini protes cemburumu? "


" Siapa yang cemburu? Hanya bosen saja lihat dia yang selalu berusaha merebut perhatian ayah dan ibu." Sila bersungut mengerucutkan bibirnya dan langsung disergap oleh Tama.


"uuummgh"


"Kamu pasti cemburu. Tenang lah sayang,, cintaku ini hanya untuk kamu. Kamu tau,, hatiku sudah penuh dengan dirimu. Tidak ada lagi tempat untuk orang lain"


Sila mengalungkan lengannya ke leher Tama


"Mas,, kenapa Lidya sering kerumah ibu?"


"Mana mas tau?"


"Bahkan ibu sekarang juga sedikit berubah. Setiap kali aku kesana sepertinya ibu agak cuek padaku. Apa apa Lidya, apa apa Lidya"


"Hmmm,, kalau ayah?"


"Ayah sih jarang dirumah. Tapi ayah makin sayang padaku"


"Baguslah,, ya,,, mungkin ibu karena akhir akhir ini lebih sering bersama Lidya jadi ya,, kebawa suasana. Makanya kamu harus sering sering bersama ibu. Biar ibu sayang terus sama kamu"


"Aku maunya disayang kamu"


"Mulali deh,, menggoda mas ya? Hmm pasti mau kasih jatah lagi kan?"goda Tama


"Enggak,, Hari ini sampai minggu depan gak ada jatah" jawab Sila cepat

__ADS_1


"Apa sudah jadwalnya? cepet bener?"


Sila tersenyum nakal.


__ADS_2