
"Adrian, tolong aku cari tau apapun yang bisa kau dapatkan dari Shakira. Pengawalnya Aditama. apapun" perintah Aditya
"baik tuan" jawab sang detektif yang bekerja untuk Aditya
*
*
"Sha,,, bangun"
"uhg..."Shakira menggeliat malas matanya mengerjap pelan
"dimana aku"
"dirumahku" jawab Ria " cepetan bangun sebelum kakak kesini dan mencium bau alkohol dari mu. cepetan mandi"
"baiklah.. bagaimana bisa aku sampai mabuk seperti ini"
"kamu sombong,, untungnya manajer itu baik. memesankan taksi buat kita. kalau tidak kita pasti jadi santapan garangan jalanan"
"aku sudah sering minum sama papiku. aku kuat sampai 5 gelas kok"
"sudah jangan banyak ngomong. cepetan mandi. jangan menambah masalahku"
Shakira segera mandi dan mengikuti Ria ke dapur
"wah kak Eri sudah masak buat sarapan kita"
"memang kakakmu tau aku disini?"
"entahlah"
Tak lama Eri datang dengan seragamnya yang rapi.
"apa kakakmu tau kamu menginap disini?"
"semalam aku menelfonnya"
"ya sudah cepetan sarapan dan pulanglah"
"kak Eri mengusirku?"
"pantaskah seorang cewek tidak pulang semalaman?"
Shakira diam dan melahap sarapannya
"lain kali kalau mabuk jangan dibawa kesini" ucap Eri sambil berdiri dan berlalu dari keduanya.
Ria dan Shakira melongo.
,, darimana kakak tau dia mabuk?,,, pikir Ria
Shakira beranjak dan mengejar Eri kekamarnya
"ada apa?" tanya Eri tegas
"dari mana kamu tau aku mabuk?"
"ini rumahku. aku tau apa dan bagaimana semua yang ada dirumah ini."
kata Eri sambil berbalik dan berjalan mendekat kearah Shakira.
"maafkan aku." jawab Shakira menunduk
"kamu boleh berteman dengan Ria. tapi kamu jangan mengajarinya untuk urakan sepertimu."
"apa itu urakan?"
"urakan,,, bersikap tak tau aturan. seorang cewek pulang malam dalam keadaan mabuk."
"maaf, tidak akan terulang lagi"
"aku pegang janjimu."
" apa kak Eri mau jadi pacarku?" tanya Shakira semangat
"masih saja? apa yang kau lihat dariku sampai kau ngebet pengen jadi pacarku"
"karena kak Eri baik, ganteng, gagah pokoknya sempurna dimataku" Shakira bertambah semangat
Eri tersenyum kecut
"aku tak sebaik yang kau kira. jangan sampai menyesal"
"tidak,, tidak baik maksudnya?"
Eri tertawa kecil
"kamu masih kecil, masih panjang jalanmu kedepan. kamu akan bertemu lebih banyak orang yang lebih baik lagi"
"aku terlanjur cinta sama kak Eri"
"jatuh cinta?" Eri menyeringai dan mendorong tubuh Shakira keranjang hingga terlentan dengan kaki menjuntai ke lantai. Eri menindihnya dan mengunci kedua tangan Shakira ke atas kepala.
"apa yang kau lakukan?"
"buktikan kalau kau benar cinta padaku"
"tidak dengan begini kan?"
"kenapa?"
"bagaimana jika aku hamil"
"lahirkan anakku"
"aku tidak mau sebelum kamu menikahiku"
Tanpa menjawab Eri memaksakan ciuman kasarnya di bibir gadis bule yang cantik itu hingga nafasnya tersengal sengal
" uhmm,, uhmm"
Eri melepaskannya sebentar untuk bernafas dan mengulum nya lagi.
"apa yang kalian lakukan?" tanya Ria dengan nada tinggi saat melihat keduanya dari pintu kamar sang kakak yang tak tertutup.
__ADS_1
Eri mundur dwngan santai dan tersenyum puas
"tanyakan saja pada temanmu apa yang dia lakukan"
jawab Eri sambil mengangkat kedua bahunyadan memiringkan kepalanya kearah kanan. Kemidian dia mengambil kunci mobil dan ponsel dari nakas dan melangkah meninggalkan keduanya.
Shakira duduk dwngan wajah merona seperti udang goreng dengan peluh yang menetes
"kakakmu memperkosa ku"
Eri menghentikan langkahnya di luar pintu saat mendengar jawaban Shakira.
"haaah di perkosa kakak ku?" tanya Ria seakan meledek. Shakira mengangguk angguk manja
"hei,,, dimana mana ya,, kalau orang diperkosa itu teriak teriak minta tolong dan melawan, tapi tadi yang kulihat dan kudengar tidak seperti itu,,," komentar Ria sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
Shakira hanya diam memonyongkan bibirnya, mata nya melirik kesal kearah Ria.
"apa yang kau dengar?"
"aku dengar tadi kau mendesah menikmatinya,,, apa benar kakak ku memperkosamu? apa gak kebalik tu?"
"eeeh,,, apa iya aku mendesah?" ucap Shakira menutup mulutnya d2ngan telapak tangannya.
Eri tersenyum geli mendengar pembelaan adiknya. Dia pun berlalu dan erangkat bekerja.
"sudah sudah, yuk aku antar pulang."
keduanya keluar dari kamar Eri.
"kak Eri gak marah saat tau aku mabuk.. eh lagian dari mana dia tau aku pulang mabuk semalem?"
"entahlah. aku juga kaget." jawab Ria mengangkat kedua bahunya
*
*
*
"Tam nanti malam Heru mengajak Reunian di bar hotel Permata." ucap Natan
"kau ikut?"
"tidak. aku terlanjur menjanjikan keluar malam ini sama Arya"
"aku juga ada janji pada Niko" jawab Dodi. Niko putra Dodi
"baiklah aku akan pergi dengan Eri."
"kamu harus hati hati dengan Heru. Dia sangat licik. jangan sampai dia tahu kelemahanmu atau dia akan menyerang Adijaya grub dengan memanfaatkan kelemahanmu." nasehat Dodi.
"aku mengerti" jawab Tama
"itu Eri." ucap Natan saat melihat Eri masuk ruangan
"ada apa?" tanya Eri
"nanti malam Heru mengadakan reunian di bar hotel permata. Kamu pergi dengan Tama, aku ada acara begitu pula Dodi."
"oke,, baiklah. Bagaimana dengan non Sila. eh dimana dia."
"hah!,,. aku yakin bahkan sampai saat ini kamu tidak punya kesempatan buat tidur sama bini kamu itu hahahahah!" gelak Eri meledek Tama
Tama yang merasa kesal memukul Eri dengan berkas berkas yang ada di meja depannya
"pasti dimonopoli nyonya besar!" lanjut Eri masih terkekeh. Tama hanya diam
"emang bener Tam?" Tanya Dodi
"bukan begitu,,, ah sudahlah!"
Tama beranjak meninggalkan ketiga sahabatnya menuju ruang pribadinya.
"Er,, kamu harus hati hati sama Heru. jangan sampai dia tau informasi apapun tentang kelemahan Tama, kamu tau sendiri kelicikan Heru."
"aku pikir dia sudah berubah."
"orang seperti itu mana bisa berubah"
"sayang,,, nanti mas pulang ya malam tidak perlu nunggu makan malam"
kata Tama setelah berhasil m3nghubungi Sila
"memang ada acara mas?"
"iya. temen mas ngadain reunian. mas pergi sama Eri. kamu baik baik dirumah ya. bilang sama ayah sama ibu gak usah nungguin"
"oke,, eh mas, Shakira sama Ria ngajak keluar apa aku boleh ikut mereka?"
"kemana?"
"gak tau. katanya mau karaokean gitu"
"ya sudah hati hati"
"terima kasih mas,,,"
*
Sila berada di sebuah toilet saat mendengar dua orang perempuan membicarakan tentang sesuatu yang membuat Sila merasa khawatir
"bagaimana obat itu sudah kamu masukkan?"
tanya salah seorang
"beres,,,"
"tidak akan tertukarkan?"
"tidak mungkin, disana hanya Tuan Tama yang minum jus buah. Cuma dia yang tidak mau minum minuman keras, pasti tidak akan tertukar"
"baguslah. malam ini kita akan makan makan enak setelah nona itu memberikan bayaran buat kita"
"iya. ayo kita pergi"
__ADS_1
Sila merasa ada yang akan mencelakai suaminya. Dia tidak tahu kalau acara reuni suaminya diadakan ditempat yang sama dengan tempat dia datang bersama Shakira dan Ria.
Dia segera menghubungi ponsl suaminya
"ya ,, ada apa?"
"mas dimana?"
"kenapa? kan tadi sudah kubilang ada reunian sama temen"
Eri menoleh
,, pasti non Sila,, pikir Eri.
"mas,, ada yang mau ber,,,,, tut tut tut" belum sempat Sila menyelesaikan kalimatnya ponsel Tama sudah ditutup
"yah,,, "kesal Tama karena ponselnya mati daya.
"ada apa Tam"
Tama hanya menunjukkan ponselnya yang mati pada Eri
"siapa yang telpon?"
"nyonya!" bisik Tama
"dasar anak mami" cibir Heru pada Tama dan ditanggapi gelak Tawa.
Sila yang khawatir pada suaminya berlari ke lobi dan mencari informasi tempat reunian suami dan teman temannya
"di ruang VIP no. 15" jawab seorang petugas.
Sila segera berlari ke tempat yang di tunjukkan petugas tadi. Tanpa ragu dia membuka pintu dan melihat Tama dan teman temannya sedang asik minum minum dan berkaraoke.
Melihat Sila di depan pintu, semua mata menatap kearahnya dengan penasaran.
"wah,, siapa nona ini, cantik sekali. apa dia bonus untuk kita malam ini?" iceh salah seorang teman Tama
"nona Sila?"pekik Eri.
Tama hanya terhenyak tak dapat berkata apa apa. Dia tak ingin siapapun yang berada ditempat itu tau kalau Sila istrinya. terlebih Heru orang yang diwaspadainya.
"waw, siapa nona cantik ini?"tanya Heru
"mari sini nona gabung dengan kita" lanjutnya.
"dia salah satu pengawal Tama" jawab Eri cepat.
"ada apa kamu kemari. bukankah sudah kubilang aku ibgin ditemani Eri saja!" suara Tama kesal, karena merasa di tak dipercaya oleh Sila
"maaf tuan, tapi saya hanya khawatirpada tuan muda saja"
"wah wah,, sudah sampai disini. sekalian ikut kita berpesta malam ini" ajak teman teman Tama.
"tidak terima kasih."jawab Sila.
"pulanglah"
perintah Tama sambil mengambil gelas berisi jus buah yang sedari tadi ada di meja dihadapannya
Sila melihatnya jus itu masih utuh.
,,, belum terlambat,, pikirnya
"tuan, ada seseorang yang memasukkan obat di minuman anda"
Tama mengernyitkan kening, suara gelak tawa menggema di ruangan itu
"kita semua ini teman sayang,,, tidak ada yang berniat jahat pada siapapun termasuk majikanmu itu,,," suara salah satu teman Tama.
"sudahlah pergilah dari sini atau kau akan terus jadi bahan ledekan mereka" ucap Tama hendak meminum jus itu.
Sebekum gelas itu menyentuh bibirnya. Sila merebut dan meminumnya habis.
"akan kutanggung apa pun demi tuan muda" bisik Sila
Setelah gelas itu kosong Sila bergegas keluar diikuti salah seorang twman cewek Tama yang berpamit ke toilet.
Sila berjalan sedikit goyah, cewek di belakangnya tersenyum menyeringai
"nona tidak apa apa?" tanya nya basa basi sambil mendekat
"saya sedikit pusing"
"nona bisa istirahat ditempat saya" tawarnya
"tidak terima kasih saya ke tempat teman saya saja"jawab Sila. Namun kepalanya semakin berat.
"nona istirahat saja ditempatku. kebetulan saya menginap di hotel ini nona bisa menempati kamar saya untuk istirahat sebentar, jika nona sudah baikan bisa ketempat temanmu"
"baiklah terima kasih"
perempuan itu memapah Sila yang merasa semakin pusing masuk kedalam lift.
Tama yang merasa khawatir menyuruh Eri menemui Sila. Eri bergegas keluar namun tak menemukan keberadaan Sila
"dia sudah tak terlihat mungkin sudah pulang" lapor Eri
"dia tadi pamit mau keluar dengan Shakira. mungkin sekarang dia ketempat nya.
*
Sila memasuki sebuah kamar hotel dipapah teman cewek Tama.
"nona, istirahatlah, aku tinggal dulu. nanti kalau sudah enakan kamu boleh ketempat temanmu, tidak usah menungguku." ucap perempuan itu meninggalkan Sila yang tergeletak di ranjang.Sesampainya di luar pintu perempuan itu menelpon seseorang
" datanglah ke kamarku. aku punya hadiah buatmu." dia menutup telpon dan kembali ketempat teman temannya
Didalam kamar, Sila memencet ponselnya. Menghubungi entah siapa. Dia hanya sembarang menekan ponselnya karena rasa berat di kepalanya membuatnya enggan membuka mata.
"ada apa non Sila" suara dari sebrang adalah suara Natan
"eh,, tuan Natan. maaf mengganggu. aku tadi mendengar ada yang memasukkan obat diminuman mas Tama dan malah aku yang meminumnya,,," suara Sila terdengar semakin berat dan terputus putus
"sekarang ,,,, aku,, ditolong orang,, dan istirahat di kamar,,,nomor 309,,,,ah,,, badanku terasa,,, tidak enak." Sila menjatuhkan tangan yang menggenggam ponselnya karena merasa seluruh tubuhnya lemas.
__ADS_1
"wah,,,, hadiah besar! cantik pula " terdengar suara laki laki.
Natan pun panik dan segera menghubungi Tama. Namun tak bisa tersambung.