
Didalam kamar Tama.
Monica membaringkan tubuh Tama di ranjang, dia melepas kemeja Tama dan melemparkannya kelantai.
"jangan pergi,, jangn tinggalkan aku." Tama terus meracau dalam ketidak sadarannya.
"aku tidak akan meninggalkanmu sayang,," jawab Monica sambil membelai wajah Tama dengan lembut
"aku benar benar merindukanmu. aku mencintaimu"
"benarkah?. apakah kau benar benar mencintaiku?." Monica sangat kegirangan. Dia pun melepas minidres merah yang di kenakannya
Disaat yang sama di kamar Sila. Sila menggapai Ponselnya dan menyalakan layar. disana ada satu panggilan tak terjawab dari Tama,dan satu pesan suara. Sila membuka dan mendengarkannya. wajahnya seketika memerah marah. Diapun melemparkan ponselnya begitu saja di ranjang dan segera berlari sekuat tenaga menapaki anak tangga. Disana dilihatnya ponsel Tama tergelatak diraihnya dan melanjutkan berlari menuju kamar Tama. Dia membuka pintu dan melihat pemandangan yang membuatnya benar benar murka. Tama terlentang diranjang dengan telanjang dada dan celananya telah berada dibatas lutut. Sementara monica merangkak diatas kaki Tama dan hanya pakaian dalam yang menempel, berusaha melepas celana Tama.
"hei kau! dasar ******!! kau hanya pengawai rendahan beraninya kau menerobos masuk kamar majikanmu!," bentak Monica memarahi Sila.
Tanpa menjawab dan dengan tubuhnya yang gemetar karena marah, Sila melangkah dan tanpa basa basi lagi menjambak kasar rambut Monica dan menyeretnya keluar. Tama masih meracau.
"jangan pergi,,, tolong jangan tinggalkan aku." Sila kembali dan mengambil kemeja yang dilantai, menaruhnya di sudut ranjang. Sementara Monica kembali masuk untuk mengambil dresnya dan keluar dengan marah. Dia mengambil kunci yang menggantung dipintu dan menguncinya daru luar.
" kita lihat siapa yang akan keluar dari rumah ini." ancamnya s3belum menutup pintu.
Sila melangkah mendekati Tama, membenarkan posisi celana dan memakaikan selimut.
"sayang,,, aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku, "suara Tama terus terdengar meracau.
"'mas,, aku disini. aku disampingmu. aku juga merindukanmu" bisik Sila disamping Tama. Dalam keadaannya yang tak sadar, Tama merengkuh tubuh Sila dan mendekapnya erat. Sila pun tak melawan. Airmatanya merembes di sudut mata.
"mas,, aku benar benar mencintaimu. apakah cinta mu ini untukku atau yang lain?" tanya Sila lirih
"sayang,,, aku mencintaimu." racau Tama.
Sila tak mendengar kata cinta itu untuknya. Yang dia dengar hanya kata sayang, dan membuatnya ragu. Siapakah sayang itu?..
"Aku harus menghubungi tuan Eri, dan menyuruhnya membawakan dokter kesini." Sila menatap kearah ponsel yang ditemukannya di anak tangga tadi.
"ini milik mas Tama. dan layarnya di kunci. apa sandinya?. "
Sila mencoba membuka sandi ponsel Tama. Tanggal lahir? salah. Sila mencoba satu persatu nama nama yang mungkin penting untuk Tama begitu juga angka angka. Namun tak satupun bisa untuk membuka. Akhirnya dia mencoba dengan kata sandi yang digunakannya sendiri, tanggal pernikahannya dan itu berhasil. Sila sangat girang. Dia pun menghubungi Eri
__ADS_1
"ya Tam, ada apa. aku dan Natan sedang makan" suara Eri disebrang
"tuan,, ini saya. Tuan muda sakit cepat kembali" suara Sila panik. hingga membuat Natan dan Eri segera bergegas.
"sudahkah kau menghubungi dokter?."tanya Natan ikutan panik
"belum"jawab Sila terdengar suara isak tangis
"oke,, kamu jangan panik, aku akan menghubungi dokter, kamu tetap berada di sampingnya, jangan pergi" perintah Eri. Natan segera melaju mobil membali ke villa. Sebelumnya dia sudah menghubungi ishana, dokter muda yang dipercaya Tama untuk mengelola RS barunya.
"bagaimana saya pergi tuan,, tangan saya dicengkram terus sama Tuan muda...
au!! jangan tu,,an aduuuh.
aku mencintaimu,,, jangan pergi,,,,
ahh tuan muda,, lepaskan saya,,,"
terdengar dari ponsel Eri sesuatu sedang terjadi dan itu tidak biasa. Natan dan Eri saling berpandangan sejenak dan Natan menambah kecepatan
"tuan Eri !! cepetan!! tolong?"
"kamu tenang Nona Sha, jangan panik!" hibur Eri.
"oke kami sudah dekat!" jawab Eri dan mematikan telpon
"sebenarnya apa yang terjadi!!!" teriak Eri.
Memerlukan waktu yang lumayan untuk sampai di villa hampir 10 menit. Dan saat bersamaan Natan dan Eri datang, dokter Ishana juga terlihat memarkirkan mobil nya. ketiganya langsung lari masuk kedalam villa. Namun mereka dicegat Monica diruang tengah.
"tuan,,tuan.. Shakira pengawal rendahan itu telah menjebak Tama. dia memberinya obat bius dan merayunya di kamar" lapor Monica.
"apa?, apa maksudmu?"bentak Eri.
"aku melihatnya membawa Tama masuk. dan aku berhasil menangkapnya. aku menguncinya di dalam kamar Tama."
Semua berlari ke arah kamar Tama. setelah pintu di buka, Nampak Tama sedang memeluk erat tubuh Sila di atas ranjang dan mencium seluruh wajah Sila. Eri dan Natan saling pandang begitu pula Dokter Ishana. Monica terlihat begitu kesal
"lihatlah apa yang dilakukan ****** itu!. usir dia dari sini!. pecat dia!." Monica kehilangan kesabaran melihat hal yang langka itu.
__ADS_1
"tuan,,, tolong,,,," suara Sila terdengar lirih dan lemah.
Eri dan Natan segera mendekat dan melepas dekapan Tama. Setelah terlepas,, Sila merasa begitu lega dan tiba tiba terkulai lemas kehabisan tenaga.
Dokter Ishana segera memberi pertolongan pada keduanya. Sila pingsan beberapa lama.
"bagaimana keduanya dok. sebenarnya apa yang terjadi?." tanya Natan khawatir.
"Tuan muda Dibius dengan obat yang membuat mabuk jadi, dia yang tidak pernah mengkonsumsi hal hal yang memabukkan tidak bisa menahan kerasnya obat itu"
"Dan nona Shakira kehabisan tenaga dan sesak karena tuan muda terlalu kuat mencengkeramnya. Jadi oksigen yang masuk ketubuhnya jadi terhambat." dokter Ishana menjelaskan.
"ini pasti ulah Monica"Eri geram. ia dan natan segera menemui Monica dan mengusirnya dari tempat itu dengan paksa.
Setelah beberapa waktu,, Tama akhirnya tersadar. Ia bangun dan kaget melihat dokter Ishana berada dikamarnya dengan Eri dan Natan. Ia memegang kepalanya. Kepalanya terasa nyeri. Dia bingung apa yang telah terjadi. Ia pun menoleh kearah mana Natan mengarahkan matanya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Sila terbaring lemas di sampingnya.
"ada apa ini? kenapa dia disini? " tanya Tama kebingungan
"harusnya kami yang bertanya. kenapa bisa begini?" Eri balik bertanya
"jika kami terlambat sedikit saja, nona Sha pasti sudah kehilangan nyawanya" imbuh Natan
"apa maksudmu?" Tama benar benar tak mengingat apapun.
"kau telah mendekap dan mencengkramnya dengan begitu kuat sampai sampai dia kehilangan kesadarannya karena kehabisan oksigen!." jelas Eri. Tama menatap kearah Sila. mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya Sila tersadar dan Dokter Ishana memapahnya ke kamarnya sendiri. Keesokan pagi, dokter Ishana bangun dan memasak untuk semua orang yang ada di sana.
Sila bangun, namun ia enggan untuk keluar kamar. Tama telah bangun dan bergabung dengan Eri dan Natan diruang makan.
"bagaimana keadaanmu?." tanya Natan,
"sudah tidak apa apa?" jawab Tama.
"ceritakan pada kami apa yang terjadi?". desak Eri
"semalem Monica memberikanku minum dan aku merasa badanku tiba tiba lemas kepalaku pusing. aku mengirim pesan suara pada anak itu, dan aku sudah tidak ingat apa apalagi." jelas Tama,
"kami mendapat telpon dari nomermu dan ternyata itu nona Sha. sepertinya kau begitu buas semalem.,, kami pikir,,, kau mencabik cabiknya" Eri sedikit terkekeh.
__ADS_1
"dan saat kami sampai kau mendekap tubuhnya dengan begitu kuat sampai,, kau lihat sendiri. " lanjut Natan
"seandainya semalam aku tidak panik, aku pasti mengambil gambarnya. Tuan muda kita yang begitu alergi pada perempuan,, dia mendekap erat pengawalnya." goda Eri. Natan pun ikut tertawa