Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
Terkejut


__ADS_3

Sesampainya di tempat kerja, Sila langsung menuju ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan seragamnya. Setelah selesai ia keluar. Pagi itu memang agak sepi, hanya beberapa orang saja yang dilihatnya.


"hari ini tak seramai biasanya." gumam Sila


"Shakira!!" panggail salah satu temannya.


"eh iya?. selly ada apa?." tanya Sila saat temannya itu sudah didekatnya.


"ntar pulang kerja ikut aku yuuk" ajak sahabatnya itu sambil mebgulurkan sebotol minuman pada Sila


"mau kemana" Tanya Sila penasaran


"ke Adijaya entertainment" sahut Selly


"Ngapain?" Sila kaget mendengar tujuan temannya itu mengajaknya pergi


"aku mau mencoba keberuntunganku. katanya ada casting untuk model salah satu produk. kamu juga bisa ikutan sekalian" ajak Selly penuh semangat


"aku sama sekali tidak tertarik" Senyum Sila seakan menyembunyikan sesuatu


"ya sudah anterin aku aja!." Sila hanya tersenyum dan mengangguk


"akankah aku bertemu dengannya?. ahhh aku hanya ingin melihatnya saja."pikir Sila


Ditempat lain


Seseorang dengan tergesa gesa menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman cafe. Dari dalam mobil turun seseorang yang tak lain adalah Eri.


"bagaimana?. apakah kamu berhasil mendapatkannya?." tanya Eri antusias.


"ayo kita masuk dan memesan kopi dulu." lanjut Eri mengajak orang itu


setelah memesan kopi. Orang tersebut mengeluarkan sebuah kamera kecil dan mengeluarkan sebuah cip. kemudian memasang ke filedisk dan memasangnya ke laptop. dan menyalakan

__ADS_1


"tuan pasti akan tercengang." ucap orang tersebut


Di dalam video tersebut terlihat seseorang yang memakai jaket hoody masuk ke sebuah tempat dan menuju ke bilik ganti, selang beberapa lama keluar seorang gadis cantik dengan rambut panjang di kuncir biasa dibelakang leher. menggunakan seragam office girl. berjalan berpapasan dengan senyum ramah. Eri yang melihat itu matanya benar benar bulat, melotot tak percaya


"Shakira!!?,, ba,,bagaimana mungkin??" suara Eri seakan melompat begitu saja. membuat orang orang disekitarnya menoleh. Eri benar benar tak menyangka


"tuan kenal?." lelaki itu ikut kaget melihat ekspresi Eri.


" ya.. " jawabnya singkat. "apakah ini benar?" Eri masih belum percaya.


Setelah beberapa waktu tertegun dan bengong dengan apa yang dilihat, akhirnya Eri menyalin dan menggabungkan kedua video yang di dapatkannya sendiri dengan video dari orang suruhannya ke sebuah chip. Kemudian dia meluncur ke arah kantor Tama.


Ternyata disana sudah ada Natan dan Dodi,


"wah wah,, pada kumpul kumpul nyantai disini, sedangkan aku harus bergelut mencari orang. hebat sudah!!" celoteh Eri ketika melihat ke tiga sahabatnya ini berkumpul


"aku memberimu tugas apa sudah selesai sampai kamu berani lagi?." sergah Tama


" belum belum sudah menginginkan bonus" goda Natan.


"awas saja bila tak memuaskan. aku potong gajimu lima bulan"ancam Tama


"yakin kamu suka. "jawab Eri sambil menyerahkan chip ke pada Tama. Dan Tama menerima serta memutarnya di laptopnya. Saat melihat sebuah perkelahian yang tak seimbang itu mata Tama terlihat berbinar ekpresi nya terlihat puas. Begitupun ketiga sahabatnya ini nampak senang akhirnya ada yang bisa membuat Tama puas.


"wow. memang hebat "celetuk Tama


"kau akan lebih tercengang saat tau siapa dibalik hoody itu." ungkap Eri.


"apakah dia lebih Tampan?" tanya Dodi. Namun mata Tama tak pernah lepas dari layar,Eri hanya tersenyum


setelah beberapa saat, ketiga orang ini terperanjat kaget tak dapat bicara apapun


"tidak mungkin?. itu tadi cowok kan yang sedang berkelahi?. bagaimana mungkin jadi cewe?. cantik banget" oceh Dodi.

__ADS_1


Tak terdengar komentar Tama. Matanya terlihat bagai bendungan yang sudah overload. Nafasnya terlihat berat dan mulutnya benar benar terkunci.


"Tama,, kau tak apa apa?." tanya Natan khawatir. Airmata Tama meluncur tak lagi terbandung. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa keluar apapun kalimat. Ia menjambak rambutnya sendiri seperti seorang yang depresi, tapi tidak, ada senyum dibibirnya. ada kebahagiaan dimatanya.


"jangan baper dulu,,, namanya Shakira. bukan Sila." tiba tiba Eri sadar kenapa sahabatnya ini berubah tingkah. dia mengambil laptop itu dan menutupnya


"apa maksudmu?. " sikap Tama berubah seketika. penuh amarah, penuh kesedihan.


"ya.. aku sudah kenalan sama tu cewek. sebelum aku tau klo dia orang yang aku kejar." Eri nampak kesal


"berhari hari aku ngejar tu cowok,,, aku kira sebelumnya,, sampe dia masuk ke club gym aku masuk juga kesana dan g ketemu. malah ketemunya dia . dia kerja di club gym itu sebagai office girl. aku kenalan semalem. trus pagi ini aku nyuruh orang2ku nyerang tu orang yang pake hoody sampe babak belur semua orangku. eh pas tau dia perempuan... nyesel aku." Eri menerangkan


"dimana alamatnya?. rekrut dia. aku g mau tau diaa harus bekerja padaku." perintah Tama


"egois benar ni orang" gerutu Eri.


"aku tidak mau berdebat" suara Tama rendah namun penuh penekanan.


"aku tidak tau alamatnya. semalem aku ketemu dia di rumah makan paman jack." Eri merebahkan tubuhnya di sofa dan hendak menyandarkan kepalanya di pangkuan Dodi. Namun Dodi memilih menghindar.


"oh ya.. dia adik dari manager pemasaran di perusahaan properti ayahmu" lanjut Eri


"aku ingin besok sudah ada persetujuan kerja dia." Tama masih bersikukuh


Ketiga sahabatnya hanya menghela nafas panjang


Sore hari sepulang kerja, Sila menemani Selly untuk ikut casting di perusahaan Tama. Debaran hati Sila terus menjadi jadi, dia bahagia, takut, dan berharap biisa melihat Tama tanpa dikenali.


"aku merindukanmu mas,,, bisakah aku melihatmu?aku benar benar ingin melihatmu. sekejap juga tidak apa apa.." batin Sila trus bergejolak mengharap bisa bertemu Tama.


sesampainya ditempat, mereka langsung menuju ke bagian informasi untuk menanyakan tempat casting. setelah mendapat info mereka bergegas menuju keruangan yang di maksud. Saat mereka hendak masuk ke pintu ruangan itu Tama dan ketiga sahabatnya lewat di sekitar mereka. Selly begitu antusias untuk melihat sang Direktur, namun Sila begitu kebingungan dan segera menutupkan hoodynya. sekelebat Dodi melihatnya namun Sila sudah masuk ke ruangan sembari menyeret tangan temannya. Sejenak Dodi berhenti namun ditepiskan angan nya.


"ah mungkin salah orang" pikirnya dan segera menyusul ke tiga sahabatnya

__ADS_1


__ADS_2