
Jauh di tempat lain. Sila turun dari sebuah bus antar provinsi. Dia berjalan keluar terminal dan menuju ke arah parkiran tukang ojek. Dia menghampiri seseorang dan bernegosiasi.
"pak bisakah mengantarkanku ke daerah P?"
"sebenarnya tidak apa-apa neng. Tapi ini sudah malam untuk ke sana. Sebaiknya neng caari penginapan dulu untuk semalam. baru besok pagi ke tempat itu"
"tidak pak. saya ingin sampai ke tempat itu secepatnya." Sila berfikir jika dia segera sampaai di tempat itu maka dia tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penginapan
"baiklah kalau begitu mari saya antar."
"terima kasih banyak pak."
Sila pun di antar tukang ojek menuju daerah yang disebutkannya. Sebenarnya daerah itu agak lumayan jauh. 30 menit perjalanan. Di sepanjang jalan tukang ojek tersebut mengajaknya ngobrol untuk mengusir sepi. Sekaligus menanyakan alamat atau rumah yang ingin di tuju Sila. Namun Sila tidak tau di mana alamatnya. Dia hanya tau nama daerah itu. Sesamoainya di perbatasan daerah yang di maksud, ojek itu berhenti.
"neng, kita sudah sampai di perbatasan daerah P. sekarang kemana saya harus mengantarkanmu?." sang sopir ojek bertanya.
Sila hanya diam karena tidak tahu harus kemana. Disekitar perbatasan itu nampak beberapa rumah warga. Namun karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam jadi suasana begitu sepi. lampu -lampu rumah itu juga sudah padam yang menandakan penghuninya sudah beranjak tidur. Hanya terlihat beberapa titik lampu jalan yang meremang di tambah pohon pohon besar di pinggir jalan menambah suasana semakin lengang.
" emmm. aku tidak tau rumaahnya pak. Tapi tidak apa-apa. saya turun di sini saja. mungkin sambil jalan saya bisa menemukan rumah yang saya cari."
"apa benar -benar tidak apa-apa neng?. ini sudah sangat malam. apa tidak sebaiknya neng cari tampat bermalam dulu?.
"tidak apa apa pak. terima kasih atas kebaikannya.'" Sila mengeluarkan satu lembar uang seratus ribu dan menyerahkan pada tukang ojek.
" masih kembali 25 neng."
"sudah buat bapak saja."
"oh terima kasih neng."
"sama sama pak.."
Sebenarnya tukabg ojek itu ragu untuk meningalkan Sila ditempat itu sendirian. Tapi dia tak punya pilihan lain dia juga harus pulang. Dan tak mungkin juga dia mengajak penumpang perempuan pulang kerumahnya.
Sila berdiam diri sejenak. menenangkan hati dan pikirannya dan juga perutnya yang sedari tadi terasa sakit karena dari kemarin dia tidak menjaga pola makannya, serta obatnyapun ia tinggalkan dirumahnya. Keringat dingin dan badan yang mulai lemah, dengan sedikit terhuyung dia melangkahkan kakinya. menggendong tas dalam dekapannya. Dari depan nampak 3 orang yang kelihatannya sedang mabuk. Langkah mereka terlihat sempoyongan. Semakin lama smakin dekat dari tempat Sila berjalan. Tidak tahu harus berbuat apa dan menghindar kemana, Sila hanya mempercepat langkah kakinya. Namun ketiga orang mabuk itu malah menghentikan langkahnya dan mengepungnya.
"cantik,, mau kemana? kenapa terburu buru?" tanya salah seorang yang sedang memegang botol minuman, sembari tangannyaa berusaha mengusap pipi Sila. Namun Sila berhasil menghindar. Rasa takut dan bingung Sila semakin menjadi hingga dia panik. Tak bisa berfikir apapun, dan itu menbuat rasa sakit di perutnya pun semakin luar biasa. Dia merasa seluruh tubuhnya lemas dan lunglai. Ketiga pemabuk itu menyeret tubuh Sila dan membawanya ke balik semak2. Sila berusaha memberontak. Namun tak mampu melawan ketiga lelaki itu. Sayup sayup Sila mendengar siara deru motor dari kejauhan.Dia mengumpulkan sisa sisa tenaganya untuk berusaha meminta pertolongan. Saat suara motir itu terdengar dekat Sila pun berteriak sekuat dan sekencang dia bisa
"toloooong!!!,"
"diam sialan!" bentak salah satu dari pemuda mabuk itu
Sementara motor yang sedang lewat dan menjadi harapan terakhir Sila , berhenti. pengemudi nya mematikan mesin motor yang dikendarainya dan menoleh ke kenan dan kekiri mencari. Namun tak ada siapapunm pandangannya tertuju pada semak yang bergerak. mungkin hanya binatang pikir nya. Dia pun menyalakan lagi mesin motor nya itu.
__ADS_1
Pupus sudah harapan Sila
"haruskah aku berakhir seperti ini?. maafkan aku mas Tama."batin Sila
Pengendara motor itu hendak memutar gas ditangannya. Namun sekali lagi dia menoleh untuk memastikan tidak ada apa apa. Hingga pandangannya tertuju pada seonggok sesuatu di kegelapan. Mesin motor itu di matikannya lagi , dia turun dan berjalan menuju sesuatu yang menarik pandangannya. Sebuah tas, sebuah tas yang lumayan besar.
" kenapa ada tas disini?. pasti ada yang tidak beres." gumamnya. Dia menoleh lagi kearah semak yang tadi dilihatnya bergerak. Dan dia pun melangkah mendekat. sayup masih terdengar suara minta lotong lirih dan hampir tenggelam di kesunyian malam.
"tolong,,m tolong...."
Pengendara motor itu mencari asal suara dan menemukan sesosok tubuh tergeletak lemas dengan pakaian yang kelihatan tercabik cabik. Dia memapah Sila keluar dari semak itu dan tubuh Sila pun jatuh tak mampu lgi kakinya menopang. Lelaki itu melepas jaket dan memakaikannya di tubuh Sila. Dia menelpon seseorang dan tak lama berselang sesbuah mobil warna silfer datang, pengemudinya turun dan membantu lelaki itu memapah Sila masuk.
"bawa kerumah bu Darmi"
"tapi ini sudah malam tuan"
"lalu mau dibawa kemana? tubuhnya sangat lemah. Bawa mesana ssaja. aku juga akan kesana."
"baiklah"
mobil itu melesat ke sebuah rumah sederhana dan terlihat nyaman dengan taman bunga di halaman.
tok tok tok.
Tak sampai tiga kali lelaki itu mengetuk pintu pun terbuka dan seorang wanita yang usianya kira kira 50 thunan keluar.
"ibu ada yang butuh bantuan!!"
" siapa?."
pemuda yang dipanggil Yohan itu kembali kemobil. Dibantu si sopir dia memapah tubuh Sila dan membawanya masuk. Wanita itu membukakan sebuah kamar yang letak nya paling dekat dengan pintu masuk. Tubuh Sila di rebahkan di sebuah ranjang.
"Dia siapa Yohan?" tanya wanita yang bernama Bu Darmi ith penasaran
"entahlah. aku menemukannya di balik semak semak di jalan. hampir jadi korban pemerkosaan. kelihatannya masih aman,." ucap Yohan sambil mengintip kearah tubuh Sila.
Bu Darmi menoleh dan memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama.
"Yohan,, liahtlah!" ucap bu Darmi sambil sekilas menoleh kearah Yohan dan kembali mengamati wajah Sila. Diikuti Yohan
"jika dilihat dengan seksama.. wajahnya mirip Shakira.. atau mungkin aku .."
"bu Darmi benar. Wajahnya mirip sekali dengan Shakira, cuma dia ini gendut" sahut Yohan sedikit terkekeh
__ADS_1
" hust. Jangan seperti itu" tukas bu Darmi sambil melirik kearah Yohan.
Bu Darmi memegang tangan Sila dan meraba perutnya, meletakkan tangan kirinya dan mengetuknya perlahan.
"Dia mengalami gangguan di lambungnya. mungkin dalam beberapa hari terakhir tidak terjaga pola hidup dan makannya. kelihatannya perutnya juga dalam keadaan kosong." bu Darmi menjelaskan. Dia adalah seorang yang sering di mintai bantuan untuk terapi dan seorang ahli herbal di daerah itu.
Setelah beberapa lama
"mas Tama,,, tolong aku.."lirih terdengar suara Sila sambil menggerakkan kepalanya.
"kamu sudah sadar?" tanya bu Darmi lembut. dan segera beranjak dari twnoatnya duduk. Yohan berusaha menolong Sila duduk dan bersandar. Tak lama bu Darmi datang membawa sebotol madu dan sendok di tangannya.
"minumlah madu ini beberapa teguk." sambil menyuapkan tiga sendok madu berturut turut.
"katakanlah siapa namamu, dari mana dan mau kemana? agar kami bisa mengantarkanmu besok setelah kamu pulih." tanya Yohan
"aku Sila. aku ingin ke daerah P dan mencari ibuku. namanya bu Darmi."
Bu Darmi dan Yohan kaget dan saling pandang.
" nak,, sekarang kamu ada di daerah P. dan namaku Bu Darmi. apakah aku yang kamu cari?."tanya bu Darmi pelan. Tanpa menjawab Sila langsung memeluknya erat dan menangis
"e " Yohan hendak mengatakan sesuatu. Tapi bu Darmi menghentikannya dengan mengangkat telunjuknya. Setelah tangis Sila agak mereda. Bu Darmi melepaskan pelukan Sila. dan bertanya dengan lembut
"ceritakan dengan jelas maksudmu anakku.,,"
"aku Sila bu,,, aku yang tumbuh bersama Shakira. aku Sila cucu kakek Mun. Kakek Munarko alm." Sila menjelaskan
" ya ampun anakku,,,, Sila,,,"kini ganti bu Darmi yang memeluk Sila dengan erat dan mengelus lembut rambut Sila. Seolah olah ia menemukan kembali anaknya yang telah lama hilang. Air matanya pun tak terbendung lagi.
"apa kabar kamu nak,,, sudah besar dan cantik kamu... anakku..." bu Darmi kembali merengkuhnya dalam pelukan. Yohan yang menyaksikan hal itu hanya bisa bengong.
"bagaiman kabarmu selama ini? kenapa sampai jadi seperti ini?.."
"aku selama ini baik ibu,," jawab Sila enggan. Bu Darmi merasa seakan ada sesuatu yang mengganjal pikiran gadis itu
"baiklah baiklah.. sekarang kamu istirahatlah. ini sudah terlalu larut. besok saja kamu ceritakan semuanya pada ibu ya?. oh ya ini nak Yohan yang telah menolongmu tadi." bu Darmi berdiri dan memperkenalkan Yohan.
"terima kasih kak!" ucap Sila pada Yohan. Yohan hanya tersenyum dan mengangguk.
" oh ya bu,, karena sudah larit Yohan pulang ya.. besok pagi aku akan kesini lagi."pamit Yohan
"iya nak Yohan. sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
"tidak apa apa bu,, " Yohan pun keluar. Tak lama suara motor berbunyi dan melesat hilang dalam kesunyian.
"kamu cepatlah tidur. Besok kita kerumah pak Rt untuk menginformasikan kedatanganmu disini." ucap buDarmi seraya mebgusap lembut rambut Sila. Dan Sila hanya mengangguk.