Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
disana


__ADS_3

"kak Har, aku berangkat. jangan terlalu kangen aku ya?.." pamit Sila pada Har sebelum berangkat keluar kota mengikuti bosnya.


"haiss,, bakalan kesepian lagi nih selama seminggu" keluh Har


"makanya cepetan nikah biar g kesepian" goda Sila.


"kamu hati hati disana. apalagi tinggal serumah sama tiga cowok. Biarpun jago bela diri tapi jangan sampai terlena bujuk rayu. terlebih lagi sama si bos kacau Tama itu. kamu harus waspada. jangan sampai ngiler karena gantengnya" nasehat sang kakak yang cemburu.


"aduhh gimana ya?? aku sudah terlanjur terlena sama tuan muda,, kalau misalnya ada kesempatan pengen ku peluk ku dekap erat pokoknya" goda Sila sambil terkekeh. Sebenarnya itu adalah ungkapan hatinya yang sesungguhnya


"kamu ini kalau dinasehati!!!" Har pun kesal


kring kring..


ponsel Sila berbunyi. diraihnya


"kak Yohan "bisik Sila seraya menjawab telfonnya


"Sayang,, kakak dengar hari ini mau berangkat keluar kota?"tanya Yohan


"iya kak. ini Sila juga sudah siap."jawab Sila


"kamu hati hati,, tetap waspada. jaga diri dengan baik. kamu tidak tahu apa yang sudah menunggu di sana. jangan sampai lengah oke??." nasehat dari sang Kakak


"siap kapten!!" jawab Sila lantang


"o iya,, Tuan Eri memintaku menguruskan SIM untukmu."


"iya. nanti kakak ambil ketempat kakak Har saja. Sila sudah fotocopy yang kak Yohan butuhkan"


"hmm baiklah. kamu hati hati ya."


"oke" jawab Sila singkat sebelum menutup telpon.


Sila berangkat ke perusahaan untuk bertemu Eri dan rencana berangkat bersama. sesampainya di tempat Sila belum melihat Eri, dia berjalan ke arah kantin.


"pagi bu. teh hangatnya." sapa Sila


"eh nona Sha. tunggu sebentar." penjaga kantin pun membuatkan teh hangat untuk Sila. Sila menikmati pelan teh hangat yang disajikan. sampai dia mendengar suara ribut dari suatu tempat.


"suara apa sih bu?." tanya Sila pada penjaga kantin yang sedang ngobrol santai dengannya.


"kita lihat keluar dulu nona Sha"jawab penjaga kantin itu keduanya bergegas keluar. Mereka melihat ada dua wanita cantik sedang bertengkar dihalaman.


"itu Monica dan Sarah" gumam Sila. diapun mencoba melerai kedua wanita yang sedang memperebutkan Tama itu.

__ADS_1


"apa apan kalian bertengkar disini?!" gertak Sila yang seketika mendiamkan keduanya.dan juga beberapa orang yang sedari tadi hanya ribut dan menyaksikan saja.


"jika kalian ingin berkelahi cari arena yang lain! jangan ditempat kerjaku! atau kalian akan akan menyesal setelahnya!" lanjutnya lantang.


"eh kamu! kamu itu cuma pegawai rendahan. jangan mimpi menggertak ku!" tantang Monica sambil menjambak rambut Sila. Sila hanya diam menggeretakan giginya geram. tangannya terkepal kuat. Namun dia ingat dia tak bisa berbuat sesuka hati. Diapun menghela nafas dan menyunggingkan senyum dingin.


"hari ini moodku sedang bagus. sekuat apapun kau menarik rambutku, tak akan aku anggap apa apa..." Monica melepaskan cengkraman nya pada rambut Sila. ia merasa senyuman nya ini lebih berbahaya dari pada amarahnya yang tadi.


Sarah meninggalkan tempat itu begitu saja. Sementara Monica masih ngomel sendiri. Sila menenangkan amarah hatinya, tak disadarinya Eri sudah dibelakangnya


"pengendalian amarahmu bagus. tapi masih terpancing waktu di awal tadi." bisik Eri.


"eh tuan Eri sudah disini?" Sila kaget dan berusaha tersenyum.


"mohon bimbingannya untuk kedepannya" lanjut nya.


Mereka berangkat ke bandara, ternyata Natan dan Tama sudah sampai duluan.


"eh itu,, tuan ,, tuan muda dan tuan Natan malah sudah sampai duluan."


"tidak apa apa. tidak usah khawatir"


"maaf tadi ada sedikit pertunjukan seru yang sulit untuk aku tinggalkan begitu saja" sapa Eri pada Natan dan Tama.


"sepertinya seru"sahut Natan dengan senyum penuh arti.


mereka pun asuk kedalam pesawat pribadi keluarga Wijaya dan berangkat menuju kota tujuan. Sila tak tau ke kota mana mereka pergi. Sesampainya di kota tujuan mereka menuju ke sebuah restoran untuk sarapan dan mengunjungi beberapa perusahaan cabang milik keluarga Wijaya. Saat waktu hampir senja mereka menuju ke sebuah villa di puncak.


Sesampainya di villa itu Sila di kejutkan dengan keberadaan Monica


"dia disini tuan?."tanya Sila berbisik pada Eri. Eri hanya mengangguk.


Setelah mereka masuk, Eri menunjukkan kamar pada Sila.


kemudian mereka duduk santai di ruang tengah.


"nona Sha,, di sebelah kamar nona yang tadi adalah kamarku. kalau nona perlu apa apa bisa langsung menemui ku." kata Eri pada Sila. Mata Tama melotot tajam kearah Eri.


"kenapa kau memelototi aku seperti itu?. "protes Eri pada pandangan Tama.


Natan hanya tersenyum melihat hal itu


"ehrm ehrmm.. mohon nona Sha untuk waspada. " timpal Natan


"eh,, "Sila kaget saat ucapan Natan mengarah padanya

__ADS_1


"suhu udara disini sangat rendah jadi akan sangat dingin.. jangan sampai nona Sha salah memilih bulu domba, karena terkadang srigala juga menyamar" lanjut Natan sambil terkikik menahan tawa.


"dasar kamu!! tidak usah ikut ikutan atau aku laporkan pada Arya."' gerutu Eri kesal. Ya Arya adalah istri dari Natan.


" yakan ada satu lagi jomblo diantara kita" goda Natan sambil melirik kearah Tama. Namun hanya mendapat balasan seulas senyum singkat


"eh,, apa tadi aku lihat si monster ini senyum ?". tanya Eri mengagetkan


"wah,, jangan senyum sekarang bos,, aku pasti kalah melawan senyummu yang menggoda iman itu.,!!" celetuk Eri sekenanya. Membuat Sila merasa sedikit salah tingkah. Wajah nya sedikit memerah.


"wah wah belum belum sudah kalah telak aku !". suara Eri bertambah tinggi.


"hanya sekilas saja lo tadi senyumnya... kamu sudah kelabakan" goda Natan sambil meninju lengan Eri yang ada disampingnya namun pandangannya tak lepas dari Sila dan Tama.


"omong kosong" ucap Tama berdiri dan beranjak menapaki tangga menuju kamarnya dilantai atas.


Monica keluar dari kamarnya dengan dandanan yang begitu seksi memperlihatkan belahan dada dan pahanya yang mulus


" dimana Tama?" tanya Monica


"dia capek sedang istirahat."jawab Natan.


"nona Sha kamu juga beristirahatlah." perintah Natan. Sila pun beranjak dan menuju kamarnya


"baik tuan Eri." Sila masuk ke kamarnya dan mengganti seragamnya dengan hot jeans dan t-shirt ketat. pakaian santai Sila dirumah. Selesai ganti baju Sila meraih ponsel dan hendak menghubungi kakaknya, Har. Namun terdengar suara Tama memanggil manggil Eri dan Natan, Sila penasaran ada apa. Dia berjalan pelan keluar dari kamarnya. Dan melihat Tama berada diruang tengah memberi perintah pada Eri dan Natan.


"Er, kamu ajak dia belanja dulu stok dapur untuk seminggu. jangan lupa beli beberapa camilan dan buah buahan." perintah Tama pada Eri agar mengajak Sila.


"Tan kamu antarkan aku ada pertemuan mendadak di kafe dekat kota."


"emm,, kamu sama nona Sha saja. aku juga ada sedikit keperluan pribadi yang harus aku beli" usul Natan sambil menoleh kearah Sila.


" eh tuan Natan bagaimana bisa begitu?. " jawab Sila gugup. Natan mendekat


"aku mau beli celana dalem apa kamu mau memilihkan untukku?" bisik Natan


lalu bergegas mengikuti langkah Eri.


"-apa yang kau katakan padanya. kenapa wajahnya seperti kepiting rebus?'"


"aku bilang mau beli kolor. yang aku pake sudah sempit"


"dasar kau!" seru Eri sambil tertawa.


"ayo kita pergi sekarang" ajak Tama pada Sila

__ADS_1


"saya ganti baju dulu ."


"tidak ada waktu"jawab Tama melangkah keluar rumah. Sila berlari kecil mengejar Tama.


__ADS_2