Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
kabur lagi


__ADS_3

"Tuan,,, nona Sha telah kembali,,,"


teriak Lusi sang sekretaris cantik sambil membuka pintu. Natan dan Dodi berdiri dari kursi kerjanya dan Tama berlari keluar dari ruangan pribadinya.


Mata ketiga lelaki ini fokus ke pintu mengharap gadis cantik yang mereka rindukan segera muncul dari balik pintu itu, Namun nyatanya tidak.


"dimana dia" tanya Tama tak sabar


"nona Sha meminta saya untuk mengisikan daftar hadir dan dia kembali. Katanya akan masuk ker,,," belum selesai bicara, ketiga lelaki itu berebut lari keluar mengejar Sila. Lusi bengong sendirian disana


*


Sila keluar dari lift dan berpapasan seorang karyawan


"nona Sha mau kemana?"


"eh ini mau balik. tadi cuma ngisi daftar hadir saja, takut dipecat."


"memangnya nona dari mana saja sih"


"ada urusan keluarga di kampung dan lupa g kasih kabar"


"tau gak sih,, selama nona g hadir presdir marah marah terus, apapun kerja kita g pernah ada yang bener. kita sudah hampir prustasi"


"maafkan ya,, mungkin tuan lagi banyak tekanan juga. kan tuan besar habis kena musibah, tuan Eri juga. jadi maafkan tuan muda ya"


" ya,, sekarang kan nona Sha sudah datang, pasti marahnya presdir udah reda. kita semua tertekan kalo presdir marah terus. Kerja yang harusnya sudah beres harus ngulang lagi,," Sila tersenyum


"ya sudah,, aku balik dulu. ini tadi juga baru datang buru buru kesini. jadi gak pake sragam juga. kalo gak cepetan balik ketahuan tuan muda pasti habis deh kena marah" ucap Sila dalam senyum manisnya.


" pantesan presdir sayang banget sama nona Sha, selain cantik, hebat, rajin dan baik, gak sombong juga sama karyawan kecil kayak kita"


"kamu ini ngomong apa?. presdir kan baik sama semua orang. cuma sikapnya saja yang agak cuek"


"tapi bener lo nona,, presdir itu kayaknya sayang banget sama nona, buktinya nona ngilang tiga hari presdir udah kalang kabut."


"kamu ini bisa saja. ntar aku geer lo,, sudah sudah malah ngegosip, ketahuan habis kita hihihi" ucap Sila mengakhiri obrolan dengan tawa kecilnya.


Sila melangkah menuju pintu utama perusahaan namun suara lantang menggeleger di seluruh penjuru ruangan menghentikan langkah kecilnya


"SILAAAAA!!!!!"


"BERHENTI DISANA!!!!"


Suara itu terdengar marah, geram dan bergetar hebat. Semua yang berada di sana mendadak berhenti bergerak, seolah detak jam dinding pun ikut terhenti. senyap tak ada suara gaduh yang baru saja terdengar, semua hilang lenyap bersama panggilan Tama yang keras dan penuh penekanan.


Sila menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dari mulut pelan. Matanya terpejam, mempersiapkan segala kemungkinan terkejam. mungkin tamparan atau pukulan keras, ia sudah mempersiapkan diri.


Namun,,


Sebuah pelukan tangan kekar mengalungi leher dan perutnya dengan begitu erat. Kecupan ganas mendarat bertubi tubi di bagian kepala belakang, leher dan telinganya.


"aku mencintaimu,,,


maafkan aku,,,,


jangan pergi lagi,,,,


aku mencintaimu,,,


sangat sangat mencintaimu...


Kata kata itu yang terus keluar dari mulut Tama. pelukannya pun semakin erat dan kuat.

__ADS_1


"mas,,,,"suara Sila lembut terdengar lirih seperti sebuah lenguhan kecil


" jangan bicara,, biarkan aku mencintaimu"


"mas,,, aku tidak akan pergi, tapi pasti akan mati. cintamu yang seperti ini akan membunuhku" suara Sila terdengar tercekat karena lehernya tercekik oleh pelukan Tama.


Tama segera sadar dan melepaskan pelukannya.


Sila berbalik menghadap kearah suaminya


"maafkan aku,," ucap Tama


Sila tersenyum dan diraihnya sang suami kedalam pelukannya.


"kita pulang,,,


Natan! Dodi! kita pulang,,, bereskan kerja kalian kita pulang!!!"


Teriak Tama disambut semua pegawai dengan sorak senang..


"Tam,,, hari ini ada pertemuan,,,,," Dodi mengingatkan


"Dodi kita pulang,,, persetan dengan pertemuan,, kita pulang!!!"


ucap Tama sambil melemparkan sembarangan kunci motor Sila. Dan Dodi mengangkat tangannya menangkap kunci itu karena mengarah ke dia.


Diangkatnya tubuh Sila dalam gendongannya dan Sila pun mengalungkan tangan ke leher Tama. Natan yang tersenyum bahagia segera berlari hendak mengambil mobil dalam parkiran, namun dari arah depan dilihatnya mobil Eri baru saja memasuki area kantor dan Natanpun menyuruhnya untuk putar ke depan pintu.


Dibukakannya pintu belakang untuk Tama dan dia pun duduk disamping Eri.


Dalam mobil,, tangan Tama tak pernah lepas dari pinggang sang istri. Didekapnya erat seperti seorang anak kecil yang tak mau melepaskan mainannya. Sesekali di kecupnya kening dan wajah Sila yang merona malu.


"maafkan aku yang tak mengenalimu,,,"


"semua ini salah Natan, dia yang salah"


"eh,," ,,, kok aku yang disalahkan,,, gumam Natan


Eri tersenyum kaku menahan geli


Sila hanya tersenyum


"maafkan aku. jangan pergi lagi, kumohon jangan pergi lagi aku mencintaimu benar benar mencintaimu"


kata kata cinta dan permohonan agar tak ditinggalkan terus terucap. Terus menerus sepanjang jalan. Dan kedua orang yang didepan sana tak ada yang ingin berkomentar. Hanya sesekali saling tatap dan tersenyum.


"maafkan aku maafkan aku"


Kata kata itu terus terdengar seperti menjadi sebuah lagu yang mengiringi perjalanan mereka hingga sampai dikediaman Wijaya.


Tama mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam rumah


"mas,, aku bisa jalan sendiri,"suara Sila tak terngar oleh Tama. Bukan kurang jelas tapi memang tak mau didengarkan.


" ikuti saja kemauannya non" celoteh Natan.


" dia takut kamu tiba tiba hilang lagi" tambah Eri


Tama tetap berjalan lurus menuju tangga bahkan saat melewati kedua orang tuanya di ruang tengah


"anakku," sang ibu menyambut kedatangan menantunya yang dalam gendongan sang putra tunggalnya, namun Tama tak mau berhenti.


"mas,, turunkan aku"pinta Sila. tetapi Tama masih tetap berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.

__ADS_1


" ayah,, kenapa tak kau hentikan anakmu,,"


" biarkan saja dulu ibu,,"jawab Sang suami.


Natan dan Eri yang mengikuti masuk kedalam hanya saling tatap dan tertawa geli


" tapi ayah,, ibu kangen sama Sila." rengek sang ibu


"ayah harus bagaimana? dia suaminya, dia yang berhak."


"ayah,,"


Natan dan Eri mendekati kedua orang tua itu.


"biarkan Tama melepas kangennya dulu nyonya. Siapa tahu kita akan segera mendapatkan Tama junior,," goda Natan pada sang nyonya.


Eri makin tertawa tak lagi dapat menahan rasa yang menggelitik dihatinya


"Baru kali ini aku lihat Tama begitu, seperti anak kecil yang menemukan mainannya"


"kamu ini.." sang nyonya ikutan tersenyum


"wahhh mereka ngapain ya?.." tanya Eri


"kamu pikir?"jawab Natan dengan pertanyaan.


*


Saat sampai dikamar, Tama menurunkan Sila di ranjangnya yang empuk dengan sangat hati hati, kembali diciumnya sang istri dengan sangat mesra. Dari kening, hidung, pipi, telinga hingga berpagutan bibir dan saling lum*t


"mas mandilah dulu biar lebih segar."ucap Sila


Seolah enggan dan takut ditinggalkan, Tama tak segera beranjak dari tubuh istrinya.


"mas,," kedua kalinya suara sang istri terdengar


"jangan pergi, aku turuti semua keinginanmu. jangan tinggalkan aku."Tama memelas. Sila tersenyum manis.


"jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu. aku mohon." Tama mendekap erat tubuh sang istri yang kini berada dibawah kuasaannya. Sila mengangguk dan masih tersenyum.


Dengan perlahan Tama turun dari atas tubuh istrinya dan turun dari ranjang. Ditolehnya lagi Sila yang masih terlentang manis dengan kedua tangan disamping kepala dan sebelah lutut ditekuk keatas.


Tama melepas dan melemparkan jas dan kemejanya begitu saja. Dia berjalan kearah kamar mandi namun, saat dia berada didepan pintu Sila bangkit dan melompat dari ranjang


"ibu,,,,, aku kangeeennn," teriaknya sambil berlari keluar kamar yang pintunya masih terbuka.


Dengan cepat dikejarnya, namun sang gadis telah menuruni tangga dan berhambur kedalam pelukan sang ibu mertua yang berdiri kaget mendengar teriakannya.


Tama berlari mengejar dengan hatinya yang ketakutan akan kehilangan. Dia berdiri diam diatas anak tangga yang dipijaknya. Hatinya lega, gadis itu bukan kabur tapi berada dalam pelukan sang ibu yang juga merindukannya.


Eri dan Natan diam terpaku dalam keterkejutan


*


*


*


*


...kayaknya kok agak lebay...


,,,,sarannya dong,,,

__ADS_1


__ADS_2