
Sila membawa mobil dengan gesit menanjak dan meluncur naik turun jalanan. Dalam waktu 45 menit sudah sampai di perbatasan kota, mereka menuju ke sebuah kafe yang ditunjukkan Tama.
"Tuan,. bisakah Tuan memilih tempat yang mudah saya jangkau bila ada sesuatu yang mengkhawatirkan?" usul Sila
"maksud kamu? kamu tidak mau... "
""tidak tidak,,, maafkan saya. saya akan bekerja dengan baik." Sila memotong ucapan Tama. Diapun keluar mobil dan membukakan pintu untuk Tama. Tama memperhatikannya sebentar.
"kamu tunggu disini saja kalau tidak mau masuk" ucap Tama dan berlalu melangkah masuk ke kafe. Dengan ragu Sila pun masuk juga ke kafe tersebut namun mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari tempat Tama. Tama melihatnya sejenak.
"selamat malam tuan Tama.."sapa seseorang yang baru saja datang.
"Tama hanya membalasnya dengan senyum kecut"
"tumben tumbenan tanpa pengawal" lanjut orang tersebut.
" pastikan saja anda bersikap sewajarnya."jawabnya singkat. mereka memesan beberapa makanan. Dan Sila hanya memesan teh hangat
Setelah beberapa waktu, Tama pamit pada rekannya tak lupa membayar pesanannya begitu juga dengan teh Sila.
"bill nya, sekalian minuman nona itu" ucap Tama sambil menunjuk kearah Sila.
"wah,, "lelaki yang duduk bersama Tama menoleh kearah Tama menunjuk Sila dan belum sempat menanyakan sesuatu, Tama telah beranjak dari tempat duduknya. Di ikuti Sila. lelaki itu hanya tersenyum.
"katamu tidak mau masuk!" tanya Tama sesampainya di dalam mobil
"mmm .. nanti kalau tidak masuk malah dipecat karena tidak bekerja dengan baik" protes Sila
"lalu kenapa tidak mau masuk bareng. sesuai aturan kerja?"
"ya,,, pakaian saya yang seperti ini,, mana layak?." jawab Sila. Mobilpun melaju pulang kearah villa. Namun belum juga sampai di Villa mobil tiba tiba berhenti.
"ada apa?." tanya Tama
"tidak tahu tuan,," Sila mencoba menyalakan lagi dan lagi. namun tetap tak berhasil.
"em,, bahan bakarnya habis tuan" ucap Sila ragu.
"bagaimana bisa kehabisan bahan bakar?. kenapa tidak di cek dulu kesiapan kendaraan?" Tama marah.
"maaf tuan, ini mobil tuan Natan. Saya tidak tahu menahu."
"bagaimana bisa punya Natan?."
"mobil yang satunya sudah dibawa tuan Natan dan tuan Eri" jawab Sila
"hubungi mereka suruh jemput!"perintah Tama
"saya tidak membawa ponsel"
__ADS_1
"punyaku juga mati lagi.. coba cari powerbank di situ"
"maaf tuan,, tidak ada." jawab Sila setelah sibuk mencari.
"ya sudah kita jalan kaki saja." ajak Tama sembari keluar dari mobil. Sila mengamankan mobilnya dan segera keluar mengikuti langkah Tama.
"tuan kira kira jauh tidak letak villa dari tempat ini?" tanya Sila
"kemungkinan satu sampai satu setengah kilo meter." jawab Tama
"ow" jawab sila singkat
Jalanan itu sepi. hanya sesekali sepeda motor lewat mendahului mereka. di kiri kanan jalan juga hanya perkebunan.
"jalanlah disebelahku agar tak merasa jalan seorang diri saja" perintah Tama. Sila segera mensejajarkan langkahnya disamping Tama. Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia sangat bahagia, namun pandangannya hanya lurus kedepan dan sesekali menunduk. dia sama sekali tak berani menoleh kearah Tama. Terlalu canggung.
"barapa lama kamu kenal Eri?" tanya Tama memecah kesunyian
"emm. beberapa hari sebelum tuan Eri menawarkan pekerjaan ini." jawab Sila. Tama hanya mengangguk.
"dimana kamu latian bela diri?."
"itu,,, kakak saya yang mengajari. tidak latihan secara khusus".
Keduanya diam dalam waktu yang cukup lama.
"kamu sudah punya pacar?" tanya Tama menyelidik. Sila tersenyum.
"kenapa diam?."tanya Tama kemudian setelah beberapa lama tak mendapat jawaban.
"em,, saya sudah menikah"jawab Sila sedikit ragu. Langkah Tama terhenti sejenak, ia kaget atas jawaban pengawal cantiknya ini.
"menikah?"Tama mengulangi jawaban Sila memperjelas kalau kalu dia salah dengar.
"hem." jawab Sila singkat sambil menunjukkan cincin yang terbalut benang yang melingkar di jari manisnya.
"kenapa cincinmu dibalut benang?."tanya Tama heran. Suaranya terdengar sedikit bergetar.
"iya,, agar tak terlihat aslinya, agar tak menambah sakit dihati."
"kenapa seperti itu? apa pernikahanmu tak bahagia?."
"entahlah. aku hanya tahu aku mencintai suamiku. tapi." Sila tak melanjutkan ucapannya. membuat Tama semakin penasaran.
"tapi kenapa? apa suamimu tak mencintaimu?. dimana dia sekarang? apa pekerjaannya?.kenapa kamu sampai bekerja sendiri?." karena saking penasaran, Tama memberondog beberapa pertenyaan pada Sila.
"saya tidak tahu tuan,, apakah dia mencintaiku atau tidak, dan sekarang entahlah. mungkin dia sedang bersama wanita lain. Pekerjaannya juga di kelilingi cewek cewek cantik." jawab Sila. Tama hanya diam. entah apa yang ada dalam benaknya.
"aku sendiri bahkan juga tidak tahu dimana istriku,, apakah dia juga sudah menikah lagi ataukah masih juga berharap bertemu denganku, yang aku tahu aku sangat mencintainya dan merindukannya,"
__ADS_1
"ssshhh" lamunan Tama buyar saat mendengar suara desisan disampingnya. terlihat Sila mendekapkan kedua tangannya dan mengelus lengan. Tama melepaskan jas nya dan memakaikan pada Sila
"salah siapa dipuncak pake pakaian seperti itu?." gumam Tama
"maaf, bukankah tadi saya ingin berganti tapi anda larang ya?." protes Sila.
Tama hanya diam tak menjawab.
"tumben tumbenan g marah" batin Sila. diapun memakai jas yang diberika Tama.
Tiba tiba Tama menarik lengan Sila dan merengkuhnya dalam dekapan dan berjalan beriring. Jantung Sila seakan melonjak. Dadanya bergemuruh dag dig dug tak karuan, tubuhnya terasa melayang ia hampir tumbang. Sebenarnya,, hal yang sama dirasakan oleh Tama.
"andainya waktu bisa berhenti,, aku ingin seperti ini selamanya. aku tak ingin sampai di villa. aku tetap ingin seperti ini." batin Sila terus memohon.
Namun,, hal itu harus selesai. tanpa terasa mereka sampai di depan gerbang villa. Langkah Tama terhenti, begitu juga Sila. keduanya terdiam begitu lama. rasanya tak ingin melepaskan pelukan itu, tak rela. Sila mendesah pelan. tangannya meraih tangan Tama, begitu lembut dan hangat. Dengan perlahan menurunkannya meskipun benar benar tidak rela. ia terus menunduk ia tak ingin Tama melihat kekecewaannya. kemudian melangkah cepat mendahului Tama. Merekapun masuk ke villa dan melupakan yang baru saja terjadi.
Sesampai di dalam, Sila terkejut melihat Natan dan Eri sudah berada di ruang tengah.
"kalian sudah kembali?"tanya Sila
"sudah,,kami tak mendengar suara mobilmu dan,,,," Eri tak melanjutkan hanya menunjuk kearah Sila yang mengenakan jas bosnya itu. Natan hanya senyum senyum senang.
"apakah kamu sengaja?" tanya Tama
ada Natan dan langsung berjalan cepat menalaki tangga menuju kamarnya.
"dia mengizinkanmu memakai jasnya?. "tanya Eri
"ya,,, mana mungkin tuan akan membiarkanku mati kedinginan"bela Sila.
"kemana mobilku?"tanya Natan.
"bagaimana bisa mobil tuan Natan kehabisan bakan bakar?."gerutu Sila.
"sampai sampai aku harus jalan sejauh 2kilometer. capek tau??" lanjut Sila lalu masuk ke kamarnya.
"mobilmu kehabisan bahan bakar??. bagaimana mungkin?" Eri
penasaran. Natan hanya tersenyum penuh makna.
"kau lihat?. aku bahkan bisa membuatnya jalan kaki." ucap Natan bangga
"jadi kau sengaja?. pantesan mau ikut belanja dan ngotot pake mobilku" gerutu Eri.
"lumayan,,, korban satu jas mahal" lanjut Eri
"siapa bilang.. kita lihat saja jas itu akan berakhir di tempat sampah atau tidak" tantang natan
"bukankah biasanya,,,," Eri tak meneruskan.
__ADS_1
"itukan biasanya, jas ini tak biasa,," Natan sambil tersenyum.