
Satu minggu berlalu Natan tak lagi di izinkan datang ke rumah kecil.
"Er,, aku benar benar khawatir dengan Tama." ucap Natan lesu
"kamu ini apa yang g pernah khawatir pada nya. Dia sedih khawatir dia senang senang juga khawatir"
"apa menurutmu dia benar benar bersenang senang"
"kamu sendiri yang melihatnya"
"tapi aku sama sekali belum melihat wanita itu. ini mencurigakan bagiku. Selama ini, Tama tak pernah menyembunyikan apapun dariku. Dan sekarang dia bahkan mengusirku dari rumah kecil sebelum aku masuk."
"apakah sudah kau katakan kalau Sila hamil?"
"aku tak mau melihatnya lebih hancur lagi"
Keduanya terdiam
Dodi datang membawa laptonya.
"bagaimana kabar perusahaan Dod. "
"seperti yang kalian tahu, Permata semakin melambung dan Adijaya stay. masih stabil."
"dalam keterpurukan Adijaya kali ini Manggala sama sekali tidak ikut andil mengambil saham. "
"Manggala memang terkenal keras dan arogan. Tapi dia orang yang jujur dan tidak mencari kesempatan dalam kesempitan lawan."
"beda dengan adiknyal perangai mereka berbeda." jawab Eri
"ayah mereka berbeda" jelas Dodi.
"oh ya Tan,, beberapa hari ini cewek itu selalu cari muka didepan ayah dan ibu. Dia bilang pernah ada hubungan dengan Tama sewaktu kuliah di London. Kamu yang ikut ke London kenapa dia tidak kenal kamu."
"bukan tidak kenal. tapi aku hanya seorang pengawal, pelayan. Jadi dia tidak mau kenal. lagi pula Tama tak pernah menganggapnya juga"
"maksud kamu?"
"perempuan itu putri Hermansah. Lidya Hermansah. Saat kita kukiah dulu, Tama sedang memulai kontrak bisnis dengan ayahnya. Dan ayahnya minta tolong untuk menjadi temannya selama di London. apa boleh buat?"
"ealaaah begitu. lagaknya benar benar belagu tu perempuan."
*
*
Satu minggu, waktu yang cukup bagi Tama dan Sila berbagi kisah cerita saat kebahagiaan keduanya terpisah selama dua bulan.
Sila menceritakan bagaimana kesedihannya saat mendengar dokter mengaatakan janinnya tak dapat diselamatkan. Sementara tak ada suami daisampingnya yang akan mengatakan
__ADS_1
"jangn sedih,, lain kali kita pasti mendapatkannya lagi.."
yang ada hanyalah orang tang merawatnya yang selalu bilang
"sini aku peluk"
Saat Sila membutuhkan pelukan itu tapi bukan dari orang lain kecuali suami dan keluarganya.
Sila menceritakan agaimana dia diperlakukan seperti ratu, namun tak memiliki kebebasan karena ia harus tetap berpura pura hilang ingatan.
Sila juga memberitahukan bahwa yang coba untuk di lenyapkan adalah Tama dan yang melakukannya adalah Ricard. Namun baik Ricard atau putrinya yang membalas dendam sudah tidak perlu lagi dicari. Karena karma telah mereka terima.
Kini, Sila meminta Tama untuk bangkit, memulai lagi perjuangan yang telah ditinggalkannya.
"mas,, mengapa kamu menghancurkan usaha yang kamu rintis dari nol"
"semua itu tidaklah lebih berharga dari kamu"
"aku sudah kembali, bisakah kamu melanjutkan usahamu. bangkitkan semangat. ingat perusahaan menanggung kehidupan ribuan karyawan. apa kamu tega membuat mereka kehilangan pekerjaam?"
"aku akan kembali aku akan berjuang lagi"
"hhhh bagus. Bukan aku tidak mau menemanimu saat terpuruk. Tapi alangkah baiknya jika kamu sukses dan menjadi enyokong kebahagiaan banyak orang."
Sila juga tak melupakan pertemuannya dengan seorang perempuan yang mengaku pernah punya hubungan dengan Tama. Seorang yang mengaku pernah menjadi istimewa. Lidya.
"mas tau gak? waktu aku kabur dari mall. aku ditolong tiga cewek. yang dua adalah orang ornpang yang ingin mengadu nasib dengan mencari pekerjaan di kota ini. sementara yang satunya lagi,,,, "
"dia bilang,, dulu pernah istimewa bagimu, saat kuliah di luar negri"
jawab Sila sedikit ragu
"istimewa?siapa?" aku tidak pernah punya hubungan istimewa sebelumnya. kamulah yang teristimewa" jawab Tama memeluk dang istri. sepertinya ia merasa istrinya ini sedikit cemburu.
"tapi dia sendiri kok yang ngomong"
"siapa sih? aku tidak merasa pernah ada hubungan yang seperti itu"
"namanya Lidya. Dia teman kuliahmu"
Tama terdiam, seakan mengingat ingat sesuatu. Dia mengerutkan kening dan tersenyum
"kamu cemburu?"
"cemburu itu sifat manusia mas, tapi tidak harus cemburu buta kan,, aku percaya sama kamu. jika kamu mau menjelaskan. penjelasan darimu yang akan aku percaya"
"baguslah. beruntungnya mas telah jatuh cinta padamu."
"hmmm tapi tidak segampang itu juga aku akan memberi mas kebebasan. Biar bagaimana pun aku juga perempuan. hatiku juga sensitif. Kalau mas berbuat yang mencurigakan,,,, hhhmmm"
__ADS_1
Sila mengarahkan kepalan tangan ke pada Tama.
"biar bagaimana pun aku pernah jadi pengawal. aku juga masih kuat"
"iya iya mas tau.. mas akan selalu cinta sama kamu, hanya kamu seorang. oke?"
"terima kasih mas,,"
Tama mengecup kepala istri didekapannya itu.
" kamu selalu membuatku bergairah. Maukah lagi?".
"ahhh gak mau.. aku udah capek. masa gak ada istirahat nya. tenaga kamu ini kok gak ada habisnya sih mas"
Tama kembali menyeringai.
*
*
"sayang,, aku akan keluar sebentar kamu dirumah saja. istirahat"
"mas aku sudah di rumah dan istirahat selama satu minggu. masa masih dikurung juga"
"mas bukannya mau ngurung kamu terus, tapi kalau sampai kepulanganmu ketahuan mereka, maka kamu akan direbut oleh mereka."
"mas,,, masa iya cemburu sama orang sendiri."
"aku akan membiarkanmu bersama mereka setelah aku puas melepaskan rinduku"
"sampai kapan?kayaknya mas gak pernah deh?"
Tama trrsenyum menyeringai.
"sampai kapanpun aku tidak akan pernah puas"
Goda Tama sambil beranjak dan keluar rumah. Dia memanggil tukang ojek yang mangkalnya tidak jauh dari rumahnya.
Rumah keci, mereka memang tidak berada dikawasan mewah. Rumah itu terletak di sebuah gang pemukiman warga dipinggir kota.
*
*
"Er,,, aku gak peduli Tama marah. aku benar benar tidak tahan lagi. aku harus kerumah kecil menemui mereka. aku ingin tahu siapa wanita itu"
ucap Natan saat melihat Eri keluar dari dapur kediaman Wijaya.
"kamu mau menemui Tam?"
__ADS_1
"ya,, aku benar benar hhhhrrrggr" jawab Natan terlihat begitu kesal. Dia memang sangat menyayangi Sila dn merasa tidak rela jika gadis itu dihianati oleh suaminya.
" aku juga mau ikut menemui Tama"tiba tiba suara seorang perempuan mengagetkan perbincangan antara Natan dan Eri.