
"sayang,, ayo lah jangan sedih terus."
"bukankah aku hanya amnesia, aku tidak kehilangan hati dan perasaanku. Bagaimana mungkin aku tidak sedih mendengar dokter bilang tak bisa menyelamatkan janinku"
"iya,, tapi kamu harus menerima kenyataan. suatu saat nanti kamu bisa hamil lagi."
"tapi aku masih sedih sekarang jangan ganggu aku."
"sudahlah. kamu harus memikirkan dirimu juga. jangan terus terusan bersedih. kamu juga harus sehat. sini biar aku peluk"
"gak mau."
satu minggu yang lalu
"kapan dia akan sadar dok,"
"sabar lah tuan. "
"sebenarnya bagaimana keadaannya"
"kami masih belum bisa memastikan. selain keguguran itu, apakah dia hilang ingatan atau tidak kami masih belum bisa memastikan."
"apakah dia akan hilang ingatan"
"kami juga belum tau tuan, saat ini kami hanya bisa mengatakan ada gegar otak. Tetapi kadang itu tidak berpengaruh pada ingatannya"
,,,"amnesia juga lebih baik",,, gumam Aditya
Tiba tiba terdengar isak tangis. Aditya segera menghampiri tubuh Sila yang tergolek lemas.
"sayang kamu sudah sadar?"
"siapa kamu?"
"aku? apa kamu lupa padaku?"
"aku tidak ingat kamu siapa? aku dimana? dokter bilang aku keguguran. apakah itu artinya aku kehilangan anak ku"
"maaf, kecelakaan itu merenggut kandunganmu"
"kecelakaan? kecelakaan apa? siapa yang kecelakanaan?"
"kamu lupa kecelekaan itu"
Sila bengong
"sudah sudah tidak usah diingat ingat. yang penting sekarang kamu harus segera sehat oke" Aditya tersenyum berusaha menenangkan Sila
"kenapa kamu tersenyum,, jangan tersenyum seperti itu"
"kenapa?"
"apa kamu tidak tahu kalau kamu tersenyum kamu itu tampan. jadi jangan tersenyum padaku"
"kamu itu ya,, masih sakit sudah pintar ngegombal"
Aditya tertawa begitu pula dokter yang merawat Sila.
"jangan tertawa. kalian tidak punya perasaan, aku keguguran kalian malah tertawa tawa." sungut Sila
*
*
Natan dengan langkah gontai berjalan mendekati istrinya yang duduk di sudut ranjang.
terlihat betapa lelah dan kusut wajah tampan itu.
__ADS_1
"maafkan aku Arya,"
"untuk apa kau minta maaf"
"aku,, aku mengacuhkanmu sejak kejadian itu. aku terlalu larut dalam masalah ini"
"Natan,, aku tau. Sejak pertama menyukaimu aku sudah tau. Tama adalah prioritas utamamu. aku bahkan tau, jika mengharuskan, aku rela mengorbankan diriku untuk tuan muda."
"Arya, terima kasih. Tapi kalian sama sama penting dalam hidupku"
"aku tau Natan. Istirahatlah. selama beberapa hari ini kamu tidak istirahat dengan benar"
Natan merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Arya. Dengan lembut Arya mengusap kepala sang suami hingga terlelap.
Sejak kejadian naas itu Arya dan Natan pindah kekediaman Wijaya. Begitu pula Dodi dan Eri hanya pulang sekali waktu saja.
Dimalam itu, Eri pulang.
Natan tertidur dipangkuan sang istri di kamarnya dalam rumah itu
Diruang tengah, terlihat tuan besar Wijaya merebahkan tubuh tuanya di sofa besar. Dodi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa juga. Di meja didepan mereka, laptop masih menyala. Mereka masih terus berjuang untuk perusahaan Adijaya.Nyonya Wijaya merebahkan diri di sudut ranjang sang putra.
Aditama, menghela nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. Dengan langkah kakinya ia membawa tubuh lemahnya keluar kamar dan terus berjalan hingga keluar dari rumah mewah itu. Dia susuri jalanan yang mulai sepi. Hembusan angin dingin tak menghentikan langkah gontainya.
Dia terus berharap, Sila berada dilangkah selanjutnya
,,,Dia di depan., dia menungguku di depan,,,
keyakinan itu terus membawanya melangkah dan melangkah
Tubuhnya yang lemah tak lagi kuat menahan. Dia jatuh terkulai di pinggir jalan. Menggigil, meringkuk kedinginan. Tak ada yang peduli.
Sampai sesosok lelaki tua melihatnya dan membawanya pulang.
Arya merasa haus dan hendak mengambil air di dapur. Saat dilihat pintu kamar tuannya terbuka, dia beranikan diri mengintip kedalam. Hanya terlihat sang nyonya yang tertidur di sudut ranjang. Arya berjalan menuruni tangga dan di lihatnya dua sosok lelaki yang sama lelahnya dengan suaminya. Hilang rasa hausnya karena penasaran tentang keberadaan sang tuan muda. Dicarinya ke ruang ruang yang mungkin tuan mudanya berada. Namun dia melihat pintu depan juga terbuka. Arya kembali kekamar dan meninggalkan pesan untuk sang suami.
Arya meninggalakn pesan di meja di bawah ponsel Natan. Kemudian ia pergi mencari majikannya. Dilihatnya semua mobil masih lengkap di garasi.
,,, ini berarti tuan masih belum jauh,,, pikirnya
*
Tama membuka matanya, suasana disekitarnya sangat berbeda. sebuah kamar kecil dengan cat dinding berwarna hijau pudar dan hampir hilang. hanya ada sebuah meja kecil disamping ranjang yang juga kecil dan kasur yang sedikit keras. sebuah lemari kecil berada di sudut. Dia bangun dengan tubuh yang lemah tergolek diranjang sendirian berselimut dua buah sarung usang. Dan bau wangi dari sabun deterjen.
,,dimana aku?,,,gumam nya
Seseorang membuka pintu dan muncul sesosok lelaki tua membawa sebuah nampan berisi bubur diatasnya
"tuan muda sudah bangun,, sarapanlah dulu"
"pak Parjo, bagaimana aku sampai disini?"
"tuan muda pingsan dipinggir jalan dan saya membawa anda pulang."
Tama terdiam. Bayangannya tentang kejadian siang itu muncul lagi. Ia melihat tubuh istrinya melayang terpelanting saat mobilnya meledak. Seketika wajahnya muram dan air mata meengalir pelan
"tuan muda,,""
"Sila dimana Pak Parjo"
"tuan, dimana pun nona sekarang berada.Yang pasti nona tidak mau tuan sakit daan sedih seperti ini."
"dia pasti kembali kan pak"
"kita harus yakin tuan. sekarang makanlah, tuan harus tetap sehat. coba tuan pikir lagi, jika nona kembali sementara keadaan tuan seperti ini, apa yang akan di pikirkan nona."
"benar, dia akan sedih, aku akan sehat untuknya"
__ADS_1
"ya anda harus tetap sehat dan menunggunya datang. saya dengar, tuan Natan dan Eri sudah mengerahkan orang untuk menyisir setiap rumah sakit. pasti nona akan segera ketemu"
"iya pak. aku sangat merindukannya"
"tapi,, tuan muda menghancurkan perusahaan Adijaya. kenapa?"
"aku merasa sudah lelah pak Parjo. begitu banyak yang ingin menghancurkan dan menyingkirkan ku, dan sekarang istriku yang menjadi korban.. katakan padaku pak, apa yang bisa aku lakukan?"
"saya ini cuma seorang kuli, mana bisa memberi solusi masalah perusahaan, saya sama sekali tidak mengerti. yang saya sarankan,, sekarang tuan harus bangkit. setidaknya, sehatlah. jika nona kembali, dia tidak akan sedih"
Mencerna setiap ucapan pak Parjo. Tama menerima bubur buatan lelaki tua itu dan memakannya.
*
Arya dan seluruh keluarga kelabakan karena menghilangnya Tama, sampai pada akhirnya ada seorang tukang ojek yang dimintai tolong oleh pak Parjo untuk menyampaikan pesan. Bahwa Tama berada dirumah kecil bersama pak Parjo. Dan mereka merasa sedikit tenang setelah melihat sendiri bahwa Tama sudah bersedia beraktifitas dirumah kecil itu. seperti merawat bunga, masak untuk dirinya sendiri,
Sekali waktu saja para pengawalnya datang melihat keadaan sang tuannya. Kecuali Natan yang memang tak pernah bisa meninggalkan tuan mudanya begitu saja. Dia selalu datang setiap hari walau hanya menemaninya duduk di ayunan depan.
"Natan,,, apakah Sila akan menyalahkanku?"
"mengapa, menyalahkan apa?"
"apakah Sila akan memaafkanku?"
"pasti,Sila pasti memaafkanmu?"
"apakh dia masih mau menerimaku, Adijaya sudah bangkrut. aku sekarang miskin bukan? apakah dia akan mencari lelaki kaya untuk menggantikanku?"
"kamu ini bilang apa?. Kamu sendiri yang membuat Adijaya bangkrut. jika kamu mau bangkit dan mengurus Adijaya semua akan baik baik lagi."
"biarkan saja. Semua ini pasti karena Adijaya. ada yang ingin menghancurkannya maka biarlah itu hancur."
"kenapa kamu jadi seperti ini? dulu kamu. bisa dengan mudah menyerang balik orang orang yang ingin menghancurkanmu. Tapi sekarang, kamu menyerah begitu saja."
"sekarang aku kehilangan hidupku. keberanianku, semangatku. tersisa apa untuk meneruskan semuanya"
"harusnya,, kamu menjadikan ini cambuk dan semakin melejit"
"untuk siapa Tan? bahkan cintaku yang menjadi korban. sekarang untuk siapa lagi aku berjuang."
Tama beranjak dari ayuan dan berjalan melangkah masuk kerumah. Natan mengikutinya dari belakang.
" biarlah aku disini menunggunya. kalian uruslah urusan kalian."
"asalkan kamu baik baik saja, kami sangat senang. kami akan berusaha melakukan yang terbaik yang kami bisa."
*
*
*
Sila berada di sebuah Villa milik Manggala yang berada di luar kota.Aditya Manggala memang sengaja membawa Sila keluar kota agar tidak ditemukan oleh Tama dan anak buahnya. Disamping dia juga terus memburu Ricard yang sudah kabur keluar negri karena sudah tahu bahwa rencananya membunuh Tama gagal dan di ketahui.
"sayang,, kamu tidak ingin keluar jalan jalan?"
"tampan,,! apa kamu sedang memberiku kebebasan?"
"apa kamu merasa tidak bebas selama bersama dengan ku."
"mana aku ingat selama sadar aku selalu dirumah saja. kamu tidak mengizinkan aku keluar. dan sekarang?"
"maafkan aku. aku hanya ingin kamu tidak sedih lagi."
"aku tidak tau apa tujuanmu. kamu siapa juga tidak jelas. mana bisa aku mempercayaimu."
"yang jelas aku adalah orang yang sangat menyayangimu. dan kamu harus tau itu."
__ADS_1
"hmh entahlah. "