
Dikediaman Sarah
Para pengawal yang babak belur diberikan cuti oleh Aditya.
"sebenarnya apa yang sudah terjadi disini? dan siapa mereka?" tanya Aditya kepada seorang tukang kebun.
"maaf tuan,, nona Sarah menyekap Eri, salah seorang pengawal pribadi Aditama semalam"
Aditya terperanjak dengan penjelasan tukang kebun itu.
"bagaimana mungkin?. kenapa pengawal Aditama bisa sampai kesini?."
"di garasi dalam ada mobil Perusahaan Adijaya tuan" bisik dari pengawalnya
"maaf tuan,, selama tuan berada diluar negri beberapa minggu ini, nona mengejar Aditama dan tuan Wijaya merencanakan pertunangan mereka. Saat tuan Wijaya datang kesini untuk membicaraka masalah pertunangan, nona mengatakan kalau tuan sudah setuju"
"aku tidak pernah mendapat kabar apapun, bagaimana Sarah membuat keputusan seperti ini?"
Aditya selama ini memang tidak pernah sejalan dengan pemikiran Sarah adiknya.
"lalu bagaimana pertunangannya?"
"maaf tuan. sebenarnya acaranya diadakan tadi malam. Tapi karena sebuah insiden, ada yang mencelakai tuan Wijaya. Akhirnya sebelum pertunangan berlangsung acara sudah bubar"
"insiden apa?"
"ada yang menyerang tuan Wijaya dan membuatnya masuk rumah sakit.
Dan tadi malam pengawal Eri datang kesini untuk mengantarkan nona pulang."
"lalu kenapa dia malah di sekap?"
"maaf, saya tidak tahu"
"baiklah.
*
ketika Sarah pulang dia begitu kaget saat melihat kakaknya ada diruangan tengah
"ka,,kakak! kapan kau pulang?."
"saat orang orangku kau jadikan babak belur"
"apa maksut ka kak?" tanya Sarah ketakutan
plak,,,
Sebuah tamparan keras mendarat dipipiinya hingga memberi Souvenir di pipi mulus itu
"berani nya kau membuat masalah untuk ku!" bentak sang kakak
"apa maksud kakak aku tidak mengerti!"
"tidak perlu berpura pura. apa yang sudah kau lakukan pada pengawal Aditama?"
Sarah langsung lemas saat kakaknya tahu perbuatannya.
"kenapa
kenapa kau menyekap pengawal Tama!" teriak sang kakak penuh kemurkaan
Sarah gemetar, bukan hanya karena kemarahan kakaknya tapi dia takut jika Eri membertahu keluarga Wijaya tentang rahasianya. dia harus membuat alasan,, ya alasan
"karena dia mencoba memperkosaku!" jawab Sarah
ya ini adalah alasan tepat. Kakak tidak akan marah lagi dan pasti membelaku. Dan akan aku habisi Eri si brengs*k itu ,, pikir Sarah.
sang kakak memang diam, mendekat dan plak,,, satu kali lagi tamparan keras di pipinya yang masih nyut nyutan.
"kakak!"
"kamu pikir kakakmu bodoh sehingga begitu mudah untuk kamu bohongi?"
"apakah kakak sudah bertemu dengan Eri,, apakah dia sudah mengatakan pada kakak. oh tidak!! cctv!" batin Sarah. matanya melotot saat ingat kakaknya memasang cctv disetiap ujung pekarangan. Dia ingat, kemarin malam, Eri belum sempat masuk ke dalam saat dia memanggil para pengawal untuk mengeroyoknya.
"habislah aku! habislah aku!" pikir Sarah.
"kakak! maafkan aku,,, aku salah,, aku tahu aku salah maafkan aku,,"
"masuk kau ke kamarmu!" perintah sang kakak
"tapi kak! aku lakukan ini karena aku mencintai Tama!"
" masuk kamar mu sekarang juga!" bentak Aditya.
"aku akan mengirimmu keluar negri secepatnya!"
__ADS_1
"kak! aku tidak mau keluar negri!. aku mencintai Tama!"
"cinta? setelah kelakuanmu seperti ini apa kau pikir dia akan membalas cintamu? entah apa yang akan dilakukannya pada keluarga kita setelah melihat keadaan pengawalnya"
"apakah kakak sudah melepaskan Eri?"
" apa kau tuli?. apa selain membuatmu gila, cinta mu itu juga membuat telingamu tuli? orang orangku babak belur dan harus masuk rumah sakit karena ulahmu."
"maksut kakak apakah mereka menyerang rumah kita?"
"hahahahahahaha.... mereka? kau bilang mereka? kau tahu,,, hanya dua orang yang datang dan pengawalku babak belur semuanya! apa jadinya jika mereka mengirimkan orang lebih banyak?" amarah Aditya semakin tak terkendali
"sekarang masuklah kemakar mu"
Sarah pun tak lagi berani melawan. saat ini dia tahu Eri sudah dibebaskan. Sesampainya dikamar, dia menelon seseorang
*
Pagi hari,, Sila bangun dan merentangkan tangannya menggeliat. Dipautkann ke sepuluh jemarinya dan ditariknya ke atas, kedepan,,,,, Dia terperanjat saat tak melihat cincinnya. Begitu panik dicarinya diseluruh tempat tidurnya. tidak ketemu.
"kakak,,, kakaak,,," panggilnya keras membuat kakaknya datang dan masuk ke kamarnya
" ada apa pagi pagi sudah bikin ribut?"
"cincinku mana? cincinku hilang!" teriaknya panik
"bagaimana bisa? sejak kapan?"
"aku tidak tahu,, tahu tahu sudah tidak ada"
"sudah dicari"
"ditempat tidur tidak ada"
"kemarin kamu kemana saja?"
" apa mungkin saat menyelamatkan tuan Eri kemaren ya?" gumam Sila
"kamu tenang dulu,, sambil dipikir lagi dimana kemungkinan bisa jatuh"
Sila masih merasa cincin itu jatuh saat di kediaman Sarah
Setelah Sila tenang, Sila siap dengan seragamnya
"mau berangkat dek,, "
"em,, iya kak!"
Sila menghela nafas panjang,,
"maaf,, kakak g tau harus bantu gimana?"
"mungkin lepas saat aku berkelahi kemaren" jawab Sila lemas.
"sudahlah,, jika memang tidak ketemu,, anggap saja dia bukan jodohmu lagi"
"kak, aku masih mencintainya"
"sebenarnya seperti apa sih mantan suamimu itu. sampai sampai kamu tidak bisa melupakannya?"
Sila hanya tersenyum
" kamu masih sangat belia, cari yang lain saja. pasti banyak yang mau sama kamu.. andai saja kau bukan adik susuku. aku juga akan mengejarmu"
"kakak ah! cinta itu tidak bisa dipaksakan, "
Har tersenyum. " sudah sudah yuk berangkat"
"aku kerumah sakit g kekantor" jawab Sila.
*
Sesampainya Sila dirumah sakit dia menuju ke kamar Eri. ada seorang gadis imut sedang duduk menyuapi Eri.
"selamat pagi.." sapanya
Keduanya menoleh dan tersenyum. Sila pun tersenyum penuh arti kearah Eri namun matanya melirik gadis yang sedang menyuapinya itu.
"apa? dia adikku jangan pikir macam macam" sergah Eri sebelum ada ucapan dari mulut Sila
gadis itu tersenyum dan Sila membalasnya.
"apa dia pacar kakak?"
"bukan,,"jawab Sila lembut dan duduk di sofa.
"kakak sama seperti kakakmu, bekerja untuk tuan Tama"
__ADS_1
"wah,, beruntung sekali jadi kakak, bisa liat tuan Tama setiap hari."
Sila hanya tersenyum menanggapi ucapan Adik Eri
"Siapa nama kamu?"
"Ria" jawabnya sambil menyuapi sang kakak.
"sepertinya aku pernah lihat kakak tapi dimana aku lupa" lanjut Ria. Sila tersenyum kembali.
"bagaimana keadaanmu tuan Eri."
"sudah lebih baik. Terima kasih kamu telah menyelamatkanku"
"sama sama, oh ya ngomong ngomong,, mengapa Sarah sampai menyekapmu?"
"Sarah? apakah Sarah foto model cantik itu" Eri mengangguk
"ha? dia yang menyebabkan kakak jadi seperti ini? mengapa?"
"Dia punya rahasia, dan aku mendengarnya."
"Rahasia apa?".
"kita bahas lain kali nona Sha" jawab Eri. Sila mengerti dan tak melanjutkan pertanyaannya.
"rahasia apa sih kak!kasih tau aku dong,,,"
"ini bukan urusanmu,, kamu kuliah aja yang bener, tidak usah ikut ikutan urusan kerja kakak"
Ria memonyongkan bibirnya
"kamu kuliah?" tanya Sila
"iya,, kakak gak kuliah?" tanya Ria sambil meletakkan mengkuk di meja
Sila tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ria.
Tiba tiba pintu terbuka dan nampak Tama muncul dari balik pintu. Ria ternganga melihat lelaki tampan pujaannya berjalan masuk keruangan itu.
"woa,,,,, tu,,tuan muda Aditama,,,!" gumam Ria dengan mulut menganga.
Ya karena selama ini, baru dua kali ini dia melihat Tama secara langsung. Pertama di kampusnya saat Tama melakukan kunjungan dan kali ini begitu dekat. Dia mengibas ngibaskan kedua tangannya, kemudian menampar lirih pipinya dan diulanginya lagi dan lagi untuk memastikan bahwa itu bukan mimpi.
"Sini kakak tampar yang keras biar lebih berasa" goda Eri melihat kelakuan adiknya.
"kakak ah! aku seneng banget,,,,"
Tama tersenyum. Tambah girang si adik Eri
Eri mengerutkan keningnya. " Apa barusan Tama tersenyum?" gumamnya tak bersuara.
"pagi tuan,," sapa Sila
"pagi Sha,,,"jawab Tama lembut tak membuang senyumnya.
"tunggu tunggu,,, apa yang terjadi?" tanya Eri penasaran dengan perubahan sikap Tama
"harusnya aku yang bertanya, apa yang sudah terjadi sampai kamu babak belur seperti ini?" Tama balik bertanya.
"tidak usah mengalihkan pembicaraan!" sergah Eri. Ria menatap kedua orang itu bergantian
Tama mengerutkan kening. Sila hanya diam saja duduk tenang ditempatnya.
"aku yang dipukuli sampai babak belur dan kau yang gegar otak begitu?" ucap Eri sinis sambil memiringkan kepalanya mencari penjelasan.
"apa maksutmu"tanya Tama tenang.
Eri memutar bola matanya dan pandangannya terhenti pada gadis cantik yang duduk disofa sibuk dengan ponselnya. Matanya sedikit memicing danmbibirnya mengembang senyum penuh arti.
Tama yang memperhatikan perubahan ekspresi Eri, ikut menoleh kearah mata Eri menatap.
Langsung saja Tama mengusap kasar wajah Eri dan berbalik melangkah menuju pintu.
Ria yang sedari tadi menatapnya kagum merasa kecewa saat tau Tama akan pergi.
"hei! mau kemana kau, jelaskan padaku dulu apa semua ini?" Eri berteriak membuat Sila yang sibuk dengan ponselnya mendongak dan melihat Tama berjalan keluar.
"tuan muda mau pergi?" tanya Sila.
"aku akan sarapan. mau ikut?" Sila tersenyum girang dan segera beranjak dari duduknya.
"tuan Eri saya sarapan dulu ya?" pamitnya pada Eri
"wah wah kalian,,, sama sama kurang ajar ya?. jelaskan dulu padaku ada apa ini. si gunung es beneran meleleh kah?" Tama tersenyum menyeringai sebelum akhirnya menutup pintu
Eri tersenyum sendiri.
__ADS_1
"akhirnya,, ada juga yang bisa mengembalikan senyum itu" batin Eri.
"nona Sha,, kamu hebat!!" ucapnya penuh semangat membuat adiknya terheran heran dengan sikap kakaknya itu.